part 6

986 Kata
Bangunan tinggi dengan warna putih dan cream mendominasi keseluruhan rumah sakit terbesar yang berada di pusat kota Surabaya ini, aroma obat yang kuat sangat terasa bagi panca indra penciuman bagi siapa saja yang memasukinya. menaiki lift menuju lantai 8 di ujung koridor dengan ruangan kamar untuk pasien VIP, ruangan cukup luas dilengkapi dengan tv dan kulkas. Fahri memasuki ruangan pasien memberi salam di ikuti Mika. "Nak, kamu kenapa gak besok saja kesini nya, udah malem pula dingin kasian Mika" Sukma bertanya sembari menjabat uluran salam dari menantunya. "tidak apa-apa bu, mika juga tidak sedang repot. lagi pula tempat ini dekat dengan tempat kerja Mika" balas mika. "Bapak bagaimana bu, kenapa tidak lagsung hubungi Fahri saja. aku kan bisa lagsung anter kesini" Fahri bertanya dengan pelan terasa jelas bagaimana kekawatiran di sela-sela kalimat yang di ucapkannya. mika yang sedikit kaget dengan perubahan sang suami hanya bisa diam melihat interaksi ibu dan anak itu, Fahri tampak pria yang hangat tidak seperti Fahri yang di nikahi nya dua minggu yang lalu Fahri yang di ketahui nya pria yang dingin, sangat acuh dan seenaknya sendiri. "Ibu sudah makan, ibu mau apa. Fahri mau keluar cari makanan sebentar" sambung Fahri. "Udah kamu aja le, ibu tadi udah ngabisin makanan Bapak, lagi pula tadi mba Siti kesini ngambilin baju-baju bapak sekalian cemilan buat ibu kok, kamu saja dan Mika, ya" tolak sukma halus. aku, coba liat apa yang akan pria dingin ini lakukan batin Mika. "Kamu disini saja temani ibu, menunya aku share lewat what'sApp" usul Fahri lembut. Mika mematung mendengar sang suami berAkting seolah mereka membina rumah tangga yang ideal. tanpa di sadari keduanya Sukma mengamati anak dan mantunya terlihat hangat tanpa tau yang sebenarnya terjadi dengan senyum bahagia dan rasa syukur. "Ibu, mika kupasin apel nya ya" tawar mika sembari mengambil sebuah apel di tangannya. sukma hanya memanggut melihat menantunya yang perhatian. Sukma yang memperhatikan mika yang tengah fokus mengupas, berinisiatif untuk menggali info tentang pernikahan putranya. "nak.. boleh ibu tanya sesuatu?" tanya sukma , sembari duduk mensejajarkan dirinya dengan sang menantu agar lebih enak mengobrol. membuat mika menghentikan aktifvitasnya mengupas apel lalu di amatinya sang ibu mertua dengan netra hitam besar dan bulat sempurna yang menjadi pesona Mika. dengan hati-hati Mika mencoba mendengarkan seksama sesuatu yang ingin di utarakan sang mertua. "bagaimana Fahri, kalian baik-baik saja?" tanya Sukma penuh kehatian. karena fahri yang diketahui adalah anak yang sedikit keras kepala dan sulit di atur, karena memang anak semata wayang kehidupanya penuh dengan kasih sayang dan semuanya tercukupi . Mika yang kikuk mencoba mencari jawaban yang pas agar tidak menyakiti sang mertua yang kini terlihat rambut putih nya menjuntai keluar dari balik rambut hitam legamnya persis seperti Fahri, tak sengaja menemukan kesaamaan sang suami dan mertuanya. lalu ia tersenyum tipis. "Mas Fahri baik-baik saja bu, kami juga baik-baik saja. ya terkadang sedikit keras tapi mas Fahri sangat perhatian dan hangat orangnya" tutur Mika mencoba menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. "yang sabar ya sayang, Fahri anak semata wayang kami karena begitu di manja dia jadi seenaknya sendiri, tapi ibu jamin dia pria yang bertanggung jawab" hibur sukma. "iya bu, saya juga kan mecoba sebaik mungkin" balas mika pelan. kecanggungan di antara ibu mertua dengan sang mantu di alihkan dengan dering ponsel mika yang berada di dalam tas, tertera Fahri di panggilan masuk,mencoba tidak menngaggu Budiman yang tengah terlelap mika meminta izin menerima telpon di luar ruangan. "Assala----" salam mika yang belum sempurnya kalah dengan bentakan dari ujung telepon. "kamu kemana aja sih, sudah saya beritahu untuk mengecek pesan, bukan?" balas Fahri dengan penuh ketidak sabaran. "Aku lagi ngobrol sama ibu mas, maaf" balas Mika pelan. karena mika sadar api tidak bisa di balas dengan api, karena itu akan mejadikanya habis terbakar api amarah. "jangan berani ngomong aneh-aneh ya kamu, saya peringatkan sekali lagi" ancam fahri. "baik" mika hanya bisa menghela nafas lega karena tidak lagi mendengar omelan sang suami, mengingat perlakuanya pada sang ibu sangat hangat kenapa dengannya begitu dingin, seakan ada tembok tebal yang sulit di gapai. sebelum memasuki kembali ruangan kamar mika membalas menu yang di pesannya. "Bapak sudah bangun" mika tersenyum ramah ketika memasuki kamar melihat bapak mertunya tengah bangun dari efek obat. "Sudah, bapak tiba-tiba denger suara mantu bapak habisnya" canda Budiman, seketika tawa renyah menghiasi kamar VIP yang luas itu. obrolan demi obrolan dan candaan memenuhi ruangan yang terdengar riuh sampai luar ruangan dikarenakan pintu yang tidak tertutup sempurna. sosok Fahri mematung di balik pintu mendengarkan sekilas apa yang tengah terjadi di dalam ruangan melati bernomer III itu. sedikit ingatan tentang bagaimana ia dan sang istri sepakat untuk berpura-pura menjadi pasangan yang serasi ya meskipun itu tidak sepenuhnya kesepakatan melainkan perintahnya pada sang istri agar tidak memperburuk kondisi Budiman yang mengharap perjodohan ini berahir bahagia. "Saat kita sudah sampai sana, kamu jangan berani ngomong hal yang gak perlu, berpura-puralah jadi istri yang baik di depan Ibu khusunya Bapak" celetuk Fahri mencoba mengatasi sebaik mungkin hal yang terjadi sesuai skenario menjadi sepasang sumai istri yang serasi. Mika tidak bergeming, hanya menatap sang suami dengan tatapan yang sulit di jelaskan, ada setitik kecewa hinggap di relung hatinya. "Apa jawaban mu?" Tanya Fahri dingin, menuntut jawaban. "Bagaimana berakting sebagai pasangan serasi, sedangkan aku tidak pernah mengalami nya dalam pernikahan ini mas?" sekilas di tatapnya Fahri, Fahri yang paham arah pembicaraan ini secara tak acuh berdecak sinis membuang muka lalu kembali menatap tajam sang istri yang berada di sampingnya. "Katakan saja iya apa susahnya sih" gertak Fahri yang terdengar kesal. "Baik, tapi dengan syarat anterin aku kerja besok pagi. karena akan nanggung kalo harus pulang dan pergi lagi sedang kan tempatnya dekat dengan Rumah Sakit , bawa motor juga gak masalah. tapi bagaimana pendapat orangtua mas nanti" balas mika tak mau kalah, Fahri yang tak kalah terkejut dengan tawaran mika mencoba menolak tapi kalimat mika selanjutnya membuat Fahri tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. "kalau Mas Fahri gak takut gak apa-apa kok" sambung mika sembari menghardikan bahunya. . . . bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN