Part 5

999 Kata
Gemercik suara air di pagi ini, seolah memecah keheningan di dalam kamar mandi berukuran 3x4 meter. Dengan mata sembab dan bengkak sehabis menangis lagi semalam. Mika mematung di depan kaca kamar mandi dengan wajah yang masih basah, aura yang sedikit kacau meski sudah di basuh terpantul jelas di kaca di depan dengan tinggi sejajar. sungguh kacau sekali aku. . . "ada apa? apa kurang jelas penjelasan saya" ucapnya dingin. Mika yang masih tidak begitu mencerna dengan situasi yang terjadi saat ini, tiba-tiba saja sang suami menjelaskan bahwa kami akan tidur terpisah. Mika membelalakan matanya dengan sempurna saat mendengar penjelasan Fahri. "Apa harus saya jelaskan haissh.., intinya saya tidak dalam keadaan dengan suka rela melakukan pernikahan ini. begitu pula denganmu, kan" "kita bagai orang asing yang coba di kawinkan dengan standart yang mereka mau" Mika mencoba mengatur ritme jantungku yang seakan mau meledak ini. "Saya juga tidak bisa menyentuh orang lain, tanpa dasar rasa suka. jadi saya memilih untuk tidak tidur denganmu" Fahri yang berencana menjelaskannya dengan sehalus mungkin gagal karena dirinya telah dikuasi amarah yang sejak lama ia tahan sampai saat ini. Cukup lama Mika diam ahirnya pun bersuara dengan suara parau karena menahan air matanya yang sudah sampai di ujung bulu matanya. "Jadi Mas Fahri membohongi pernikahan yang sakral ini, Orang tua mas, Orang tuaku, terlebih saya?" tanyanya putus asa. "Saya tidak akan mencampuri urusanmu , begitu juga denganku. ini rumah pemberiann orang tuaku jadi pakailah semau mu , tapi jangan sekali-kali mengaturku" "Dan setelah Ayah saya sembuh dengan sakitnya saya pastikan perceraian kita, kamu akan mendapatkan uang kopensasi penuh" Fahri mengatakannya dengan begitu lancar seolah ia mendapatkan script untuk adegan tadi, tanpa menunggu respon Mika selanjutnya. ia beranjak pergi menuju ruangannya bukan karena ia lelah tapi hanya saja Fahri tidak menginginkan respon apapun dari Mika. Sudah seminggu semenjak Mika menempati rumah ini, terasa sepi seolah hanya ia seorang penghuninya. menuruni tangga menuju dapur untuk membuat sarapan pagi, karena hari ini Mika sudah mulai bekerja kembali sebagai pengajar di LBB milik Romi yang berjarak sekitar 35-40 menit dari rumah barunya ini. Sama-sama berjarak setengah jam lebih dari rumah yang ia tempati dulu dengan orang tuanya. jadi total akan satu jam lebih ketika harus mengunjungi mereka. Mika yang sudah berdandan rapi membuka garasi lalu teralihkan dengan sebuah motor baru berwarna putih biru dengan merk V**io. bukan tanpa sebab, Mika yang kemari tanpa membawa motor untuk bekerja ahirnya di belikan sebuah sepeda motor oleh sang suami dengan uang bulanan yang diterimanya, di tambah kartu kredit untuk di pegangnya sebagai jaminan untuk tidak merepotkan Fahri di segala macam. Mika yang mengingat nya pun tersenyum miris. Aku tidak bisa bilang aku bahagia, aku juga tidak mengatakan aku menderita, aku cukup menderita dan cukup bahagia. setidaknya huh. . . . "MIKKKKAAAAA....." teriak seorang gadis dengan keras sembari berlari menuju sang sahabat yang sedang menuju ruang kantornya untuk absen kembali, maklum sebelumnya Mika meminta izin libur selama seminggu pikirnya menikmati manisnya pernikahan ternyata hany makan asam garam. Brukk... Di peluknya sang sahabat yang di rasa sangat di rindukanya. "sakit ah, ta" ringis Mika mengelus bahu yang di tabrak Sinta. "Duh kemanten baru, gitu aja udah letoy " goda Sinta. "Apaan sih udah ayoo keburu telat nih". Setibnya istirahat Sinta begitu penasaran dengan sahabatnya, ia begittu mengercoki Mika sampai di jengkel di buatnya. Sinta beralasan tidak menghubunginya di karenakan takut mengganggu bulan madu sang sahabat. setelah mendapattkan penjelasan palsu dari Mika Sinta menjadi lebih tenang, ya tentu saja cerita manis yang palsu. bagaimana aku memberitahumu tentang yang sebernarnya terjadi, sedangkan aku juga berharap pernikahan yang selalu ku dambakan adalah penuh kebahagiaan. Tanpa di sadari kedua gadis ini, benar gadis [tidak ada sebuah malam yang membuatnya menjadikan wanita seutuhnya oleh sang suami]. sepasang mata itu mengamati dari kejauhan, mengamati dalam diam dengan expresi yang sulit di jelaskan namun cukup jelas bahwasanya ia sedang terluka. Bahkan jika itu orang lain mengatakan tidak, jika aku mengatakan cinta, maka artinya CINTA. . . Setiba pulang terlihat Mika menentang sebuah tas plastik berisikan bahan makanan untuk beberapa hari kemudian. dengan segera ia memasuki kediamannya, ia mengamati sekitaran rumah yang terasa sunyi sepi. selatan selesai membersihkan diri Mika turun ke bawah untuk menata barang belanjaan yang sore tadi ia bawa dan bersiap untuk membuat makan malam. Jika orang lain menghiasi aktivitasnya dengan mendengarkan musik, lain halnya dengan Mika ia nampak mengerjakan kegiatan di rumah dengan keheningan sedikit bersenandung, begitulah sedikit sifat dari gadis dia puluh dua tahun itu menghabiskan hari harinya. tack.. tack. . Suara piring dan sendok bersautan, memecah keheningan malam ini, terdengar suara mobil memasuki garasi, Degh..Degh..Mas Fahri pulang. seraya melihat jam dinding menunjukan pukul delapan. huh .. Kami sama-sama terhenyak sesaat, karena ini adalah pertemuan sejak empat hari yang lalu. tentu saja setiap saat Fahri berada luar ruangan Mika mengunci diri di kamar, ada perasaan malu dan kecewa dengan perjalanan hidup yang baru saja ia mulai. "Kenapa kamu tidak siap-siap dan malah enak enak menikmati makanan mu, hah" Fahri yang terlihat murka mendapati Istrinya terlihat santai di meja makan. "huh.. apa maksudnya" bertanya-tanya dengan maksud perkataannya yang tiba tiba Fahri lontarkan. "Saya mengirimimu text 10 menit yang lalu untuk bersiap-siap kerumah sakit karena Bapak masuk ICU, kamu pikir ini candaan" Fahri dengan Suara meninggi. tidak terima di tuduh demikian adanya, mika berlari menuju kamar segera untuk mengambil ponselnya yang berada di kamar dan mengecek adanya Pesan masuk atau tidak sebagai bentuk pembelaan. "aku ga main Hp dari tadi" balas mika tidak terima sembari meletakan ponsel di depan sang suami. "saya tunggu kamu lima menit, atau tidak saya tinggal, dasar apasih yang kamu kerjakan" omel Fahri seraya meninggalkan ruang makan menuju kamarnya. . . Dan disini lah Mika sudah lebih dari sepuluh menit menunggu Fahri yang membual akan memberi waktu padanya lima menit, membuat Mika merasa jengkel di buatnya. di tambah lagi ketika melihat Mika sudah berada di mobil ia tanpa sungkan hanya memandang Mika sekilas dengan kalimat yang membuat bara api emosinya sudah mencapai ubun-ubun, baguslah kalo kamu tepat waktu, dengan entengnya. . bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN