part 4

883 Kata
Adzan subuh berkumandang, Aku terbangun mendapati Fahri tidak ada di ruangan kamar, setelah menunaikan salat subuh. ku lihat Fahri tak kunjung kembali. "Saya dan kamu berada di situasi yang sama, menikah dengan orang yang baru kita kenal pasti canggung, bukan?" "jadi untuk menghindari hal yang seperti paksaan, aku tidak akan memintanya sekarang juga" kami memulai obrolan ketika aku tak sengaja menghindar ketika tk sengaja bersentuhan. aku lupa kalau dia suami ku sah, apa Mas Fahri marah karena semalam. pintu terbuka, muncul Fahri dengan baju Koko di lengkapi sarung dan kopyah. "kamu sudah bangun?" "iya, ku pikir mas Fahri kemana, dari masjid toh?" barusan ku pikir mas fahri kabur, dasar aku. Tapi Entah mengapa Mas Fahri selalu terlihat dingin, dia tidak kasar atau berkata buruk. hanya saja dia terlihat jarang sekali menatapku atau berbicara panjang lebar, atau memang sifatnya seperti ini. . . . Pagi ini Fahri membantu merapikan rumah yang masih berserakan sehabis acara kemarin bersama Sabar dan sang kaka Akbar, sedangkan Rumini di bantu Mika dan Nia istri Akbar. Karena terhalang pekerjaan jadilah Akbar dan Nia melewatkan hari spesial adiknya yang kemarin melangsungkan pernikahan, ya walau sederhana. "Mbak nia kapan pulang, semalem kayaknya aku ga lihat kalian" tanyaku seraya mempersiapkan makanan di dapur bersama Nia. "Jam satu dek, rumah juga udah gelap banget. mas akbar di suruh besok aja ga mau ngeyel mau kesini cepet-cepet ,maklum adek kesayanganya mau nikah" "Kemarin aku emang nungguin sih mbak, tapi gak apa-apa namanya kerjaan, kan bentar lagi ada yang mau keluar" tunjuk mika pada perut buncit sang kakak ipar. mereka pun tertawa tanpa sadar ada sepasang mata sedang menatap nya. "Dia memang sedikit manja, kadang kadang bikin orang lain kawatir. tapi ku jamin dia akan melakukan yang terbaik" celetuk Akbar ketika ia memergoki sang ipar mengamati adiknya. "ah iya mas, gak apa-apa saya maklum kok" dalihnya. sebernanya Fahri sedikit kagum dengan keluarga ini yang sangat rukun satu sama lain, maklum karena Fahri anak tunggal. acara makan siang bersama juga tak kalah ramai, obrolan demi obrolan, yang membuat mikaila senang adalah bagaimana sikap Fahri yang terlihat sangat akrab dengan keluarganya membicarakan ini itu sampai soal bisnis nya, yang tentu saja mikaila belum tahu bisnis apa yang sedang di jalani nya. hingga sebuah kalimat meluncur bebas dari mulut Fahri yang membuat Mika sedikit mengejutkan. "karena saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama, kemungkinan saya akan memboyong mika bersama saya ke rumah baru kami, pak" "benarkah, hmm ... kapan itu" tanya bapak sedikit kaget. "nanti malam pak insyaAllah" . . Mika yang masih tak percaya ia akan meninggalkan tempat dimana ia besar dan melakukan aktivitasnya keseharian. air matanya tak dapat ia bendung tak kala merapikan baju-baju kedalam kopernya. Fahri yang mengetahui itu Lalu membuang muka tak acuh, yang ada di fikiranya adalah agar cepat pergi dari tempat ini sesegera mungkin. Di tempat lain Sabar yang sedang menenangkan sang istri untuk lebih legowo, karena memang Hak fahri lah untuk membawa anak perempuan mereka untuk mengikuti kemanapun suaminya pergi. Akbar dan Nia hanya diam melihat kedua orang tuanya bersedih karena akan berpisah dengan sang putri kesayanganya. "Tampaknya Fahri pria yang baik, pasti mika akan baik-baik saja, pak" ahirnya Akbar bersuara. "lagi pula biarkan Mika mengerti kehidupan pernikahannya seperti apa, bukan berarti Bapak sama Ibu ga punya hak untuk bertemu dengannya, kan ?" sambungnya. Nia menatap sang suami dengan penuh arti, karena sejauh yang ia rasakan suaminya memang Pria yang sangat dewasa dan tentunya bahagia karena sang suami di didik dengan ahlak yang baik pula dari keluarga ini, tanpa sadar ia mengukir senyuman manisnya. Fahri turun dari lantai atas menjinjing koper ukuran medium di susul Mika di belakangnya sambil menenteng tas pribadinya. Para keluarga mengantarkan mika sampai depan di ahiri pelukan dan tangisan Mika dengan ibunya. ketika berangkat Akbar memberikan sebuah pesan pada Fahri yang membuatnya semakin frustasi karena tekanan di berbagai pihak . Mika yang masih bersedih karena berpisah dengan orang tuanya membuat Fahri sedikit jengkel, tapi ia harus berpura-pura menjadi baik untuk pernikahan konyol menurutnya. "Mau sampai kapan kamu akan menangis, huh?" seraya memberikan tisu kepada mika. "Habisnya ini pertama kalinya aku pergi jauh dari rumah mas" "Kamu bisa mengunjungi mereka setidaknya sebulan sekali atau dua minggu sekali" hibur Fahri. ketika mendengar tuturan sang suami mika sangat senang. "benarkah mas, boleh ya" mika dengan antusias setelah mendapatkan Izin dari suami. Fahri yang mulanya tanpa expresi tanpa sadar tertawa karena tingkah istrinya hanya karena mendapatkan izin tapi reaksinya seperti mendapatkan jackpot besar. Gitu doang udah seneng, aneh banget. batin Fahri. Mika menatap sekilas sang suami yang terlihat tertawa, membuat mika tertegun. MasyaAllah ganteng banget kalo lagi senyum gitu. Detak jantung yang tiba-tiba tak beraturan membuat mika malu sendiri, takut jika Fahri akan mendengarnya karena saking kerasnya. di pejamkan matanya agar mudah mengatur ritme detakan jantunganya. . . "Mika...sudah sampai" di bangunkanya Mika yang terlelap ketika di perjalanan. Mika yang sedikit terhuyung karena masih mengantuk. di hadapkan dengan bangunan semi modern berlantai dua dengan perpaduan warna peach dan coral di lengkapi dengan ayunan di samping taman. Ketika memasuki rumah, furniture dan perabotan semua lengkap seakan sudah di persiapkan sebaik mungkin untuk di tinggali. sampai sebuah kalimat meluncur bebas dari mulut Fahri. Fahri menunjuk dua ruang kamar secara bergantian, membuat Mika kebingungan. "Disini kamar kamu, lalu di sana kamarku" jelasnya tanpa basa basi. "kamar ku" bukan KITA. . . . . bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN