Seminggu sudah berlalu. aku juga kembali beraktivitas seperti biasa mengajar di tempat bimbingan belajar OTAK KANAN milik Romi seniorku, aku sedikit menghindarinya dan mulai menjaga jarak dengannya, semanjak malam kedatangan keluarga Fahri ke rumah, aku jadi semakin membatasi pergaulanku dengan yang bukan muhrimku.
Aku MIkaila Rahayu yang menginjak umur dua puluh dua tahun ini menerima tawaran Bapak untuk menikah dengan anak sahabat karibnya waktu sekolah dulu. tentu saja aku tak mampu menolak setelah ku lihat wajah sumringah kedua Orang Tuaku.
Ting ... sebuah pesan masuk di HP ku.
Untuk pilihan kemarin saya rasa ini cocok untuk kamu. tebak siapa pengirimnya, yups benar Fahri dan kami mulai bertukar nomor telfon untuk sedekar meluruskan perkenalan lebih dekat. aku sedikit malu dengan pembahasan kami karena membahas tentang mahar dan seserahan untuk minggu depan, ya benar.
"cieh ada yang senyum-senyum sendiri nih ye...." goda Sinta saat memergoki ku menatap nama pengirim pesan barusan.
"apaan sih enggak kok"
"makin deket aja ya kayaknya, inget ga boleh sampai terbuai, masih belum halal" sambungnya
"tapi, Ta" keraguan muncul di benakku ktetika mengingat expresi dingin terpancar darinya.
"semoga pilihan kamu adlah yang terbaik ya--"
"siapa yang akan menikah" Romi memotong percakapan di antara kami , ku lihat tampak tterkejut dengan apa yang di dengarnya barusan, memastikan benar atau tidaknya.
aku dan Sinta saling memandang satu sama lain. seakan kami sedang berkomunikasi melalui bahasa kalbu, Sinta yang meanrikku pergi setelah berpamitan ke toilet, dengan romi yang masih menanga tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
sepulang dari mengajar aku memutuskan untuk menunggu Sinta, karena memang dia ingin nebeng pulang. sesorang duduk mensejajarkan dirinya denganku, Romi.
"Kamu akan menikah, mik?" tanyanya tanpa basi-basi, aku pun kaget dengan pertanyaan yang di lontarkanya barusan, karena yang ku tahu Romi adalah orang yang amat menjaga sikap dan kata-katanya.
"Iya" jawakbku singkat.
"kenapa, bukankah Kamu bilang tidak ingin berpacaran dan sejenisnya" "kenapa tidak menungguku" ucapnya lirih.
"kami sama sekali tidak pacaran kak, kami di jodohkan"
"jaman sekarang, huh" balasnya tak percaya.
"maaf kak" perasaan campur aduk menghinggapiku, bukan perasaan bersalah. tapi mengingat dulu aku mengetahui perasaannya untukku.
"sakit banget, mik" ujarnya lemah.
.
.
.
"Hari ini pulang jam berapa?" tanya mahasiswa senior sembari duduk di depanku.
"agak telat kak, ini masih banyak harus dikerjain" balasku.
"mau ku antar pulangkah?" tawarnya tanpa basa-basi.
"terima kasih banyak kak, tapi nanti ad yang lihat di sangkanya ada apa-apa hehe" jawabku setengah jujur.
"kalau ada apa-apa aku juga gak keberatan" sambil meliriku, mengecek expresi apa yang ku berikan.
Aku sedikit kaget dengan apa yang barusan meluncur tajam dari bibir kemerahannya. kami saling pandang tanpa berucap satu kata pun, kami sama-sama tertegun dengan vibes saat ini.
dengan canggung aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela samping kiri, mengatur perasaan aneh ini.
"Aku tidak berpacaran kak, dan sampai ahir sepertinya tidak terlintas sama sekali untuk mempunyai hubungan semacam itu"
hembusan angin menerpa wajah kami yang sedang menatapi pemandangan dari arah dalam.
"jadi maukah kamu menungguku .. hehe aku mencoba mendapatkan warranty " candanya canggung, namun entah kenapa terasa aneh ku rasakan saat itu. namun aku hanya membalas nya dengan senyuman tulus di ikuti olehnya.
.
.
***
Pagi ini sudah mulai ramai tamu berdatangan di rumah kami, kami mengadakan acara sederhana di kediaman ku.
"ak...mbakk...." panggil mbak Mua yang tengah meriasku. karena gugupaku begitu teralihkan, tak dapat kusembuyikan kecanggunganku. aku akan menikah.
Aku menuju ke ruang tamu dimana ada modin dan wali para hadirin menungguku dengan antusiasnya ,tak luput Sinta hadir di antara keluargaku yang datang. Ku amati pria berjas hitam di padu padankan dengan kopyah dilengkapi rangkaian bunga melati melingkar di lehernya, degh..degh..
apa kabar hatiku?
ini seperti bayanganku ketika meilhat mas Akbar menikah dulu.
Seusai ijab kabul , kami di pajang sebentar untuk menyalami para tamu. aku mencoba mencuri pandang melihat seperti apa wajah suami ku saat ini, yang sejak tadi hanya diam.
Kami berada di kamar yang selama ini ku tempati, dengan keheningan kami sama-sama membersihkan diri melepaskan gaun dan jas yang melekat sejak pagi tentu saja aku berada di kamar mandi dan Fahri di ruangan.
"Mas Fahri, aku udah selesai" ucapku seraya membuka pintu kamar mandi. di susul Fahri yang bergantian memakai kamar mandi untuk mandi.
perasaan tak karuan , gugup campur malu merajami ku sepanjang hari. Ini pertama kalinya aku seruangan dengan pria yang sekarang bahkan sudah menjadi suami ku.
Tapi aku begitu penasaran dengan diam nya Fahri sedari tandi dia hanya menjawab singkat dan tersenyum tipis, entah aku tak bisa menerka apa yang ada di sedang ia fikirkan.
semoga Allah memberkahi pernikahan ini dengan kebahagiaan.
pintaku selepas ijal kabul tadi.
.
.
Fahri pov.
"Pernikahan konyol ini, apa yang harus ku lakukan untuk mengahirinya segera.
aku berkutat dengan amarah semenjak pagi ini, bagaimana tidak perkenalan pertama berujung melamarnya tanpa sepengetahuanku. dua minggu kemudian menikah.
arrghhh....
bisa gila aku, bagaiman ini bisa terjadi.
seharusnya aku sudah menikah dengan Salma dan sekarang jika kami menikah pastilah kami dia sudah mengandung anakku.
sial .. kenapa gadis itu terus tersenyum konyolnya sampai ahir acara, apa dia tidak punya jalan hidupnya sendiri apa, huh ?
Sebelum berkunjung kerumah teman Bapak, dokter menyarankan untuk tidak sampai kelelahan atau banyak pikiran. dengan pasrah aku tk bisa menolak bahkan tak mampu memprotes mereka dengan seenaknya menikahkan ku mendadak dengan gadis pilihannya.
ketika memasuki ruang kamar, lihat lah expresinya seperti kepiting rebus wjahnya semerah tomat, apa ini pertama kali seruangan dengan pria, pekikku.
meski begitu, aku tidak boleh goyah. karena di hatiku hanya Salma seorang.
.
. bersambung