part 2

1680 Kata
"Pagi mik.." Sapa laki-laki jangkung bermata sedikit sipit namun terlihat rupawan. "Oh hai kak, pagi" sapaku balik Ia Romi widyantara senior ku waktu kuliah di UBAYA dulu, ia juga yang menawari ku untuk menjadi pengajar di Bimbel yang di kelola nya. kami terkenal akrab bahkan ketika ia sudah lulus tiba-tiba ia menawariku perkerjaan disini, memang rezeki itu datang di saat aku lagi kepayahan mencari pekerjaan. kami tidak memiliki hubungan apa-apa meski sahabat ku kerab mengatakan Romi selalu curi pandang terhadapku. Aku tidak pernah berpacaran tentu saja ada peran Bapak yang menentang hal itu di kehidupan Putrinya, namun selain itu bukankah Allah memang melarang umatNya melakukan hal yang menjerumuskan kita dalam keburukan. Entah bukan bermaksud pacaran adalah hal yang negatif namun banyak sekali contoh yang membuatku menyadari jika apa yang memang dilarang ada hal baik di baliknya. "Ini kisi-kisi yang kamu minta kemarin" balasnya sambil memberikan beberapa lembar fotocopy an kertas HVS yang di bungkus rapi dalam plastik. "maaf ya kak, sudah mau direpotin" kikuk ku. memang setelah mendengar godaan Sinta tentang Romi aku lebih menjaga jarakku agar tidak ada hal yang di inginkan terjadi, meski ku akui aku begitu kagum dengannya apakah ini rasa suka aku pun tak bisa menyimpulkan sedemikian rupa. "hari ini aku ada rezeki lebih nih, barangkali kalau kamu mau...aku traktir makan, mik?" pintanya sembari mengusap tengkuk lehernya yang kutahu tak segatal itu atau dia sedang malu, lucunya. "maaf kak, hari ini aku di jemput sama Bapak" tolakku halus "ah gitu......." nampak jelas kecewa di wajah manisnya, namun ketika ia sadar aku sedang mengamatinya ia langsung memberikan senyuman tanda ia baik-baik saja, toh memang apa yang sedang ku harapkan sih dasar aku. "kalau kamu punya waktu luang aku harap punya sedikit waktu kamu ya" ungkapnya perlahan. "iya InsyaAllah .." . . . Aku bergegas merapikan buku-buku kedalam tas jinjingku dengan perasaan malas dan campur aduk tentunya , karena apa lagi. mereka temannya Bapak akan bertamu selepas magrib nanti. Aku menapakkan kakiku menuju gerbang karna Bapak sudah menunggu ku di pinggir jalan raya dengan sepeda motor bebeknya. sebelum pulang Sinta memastikan agar aku benar memilih jawaban yang gak akan membuat diriku menyesal kelak, aku pamit pulang di iringi pelukan hangat darinya untuk memperjelas bahwa apapun pilihan ku Sinta akan selalu ada untuku. "Bapak kenapa senyum-senyum sediri?" basa basiku saat ki dapati Bapak tersenyum sendiri saat aku mendekati Beliau. "Enggak nduk, Bapak lagi seneng aja temen bapak mau berkunjung nanti" nampak bungah terpancar di raut wajah Beliau, aku pun tak tega melihatnya. emang anak temennya Bapak mau aja gitu dikenalin disuruh nikah sama orang yang gak kita kenal. setiba di rumah aku lihat Ibu mulai mempersiapkan makanan ringan sebagai suguhan untuk tamu nanti , aku bergegas ke kamar dan mandi lalu turun untuk membantu beliau, meski aku kurang menyukai konsep ini namun bagimana lagi kalau untuk urusan Orang Tua mereka di level berbeda. Baju semi gamis berwarna tosca cerah nampak cocok untukku pakai, cantik sekali. Ibu menyiapkan gaun untukku pakai, Beliau membeli nya dari toko yang ku tebak hari minggu kemarin yang tak kudapati Beliau tak berada di rumah, aku memakai nya dengan penuh hati-hati tak kala ingat Ibuku yang membelikanya untuku. . . Suara terdengar ramai di lantai satu, sahabat karib Sabar yang di tunggu-tunggu ahirnya sampai juga mereka berempat tampak bahagia menyambut pertemuan yang sebenarnya mereka sudah bertemu enam bulan lalu di acara reuni SMA. tampak laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan kulit bersih alis dan rambut yang berwarna hitam legam menambah aura maskulin terpancar darinya. "Assalamu'alaikum Bu, pak" sapanya kala menjabat Sabar dan Rumini. "Waalaikum'salam " jawab mereka serempak. "ini nak Fahri ya, sudah besar dan tampan " sanjung Sabar. aku tidak ingat pernah bertemu dengan beliau? di jawabnya hanya dengan senyuman oleh Fahri, ia nampak mengibaskan kemeja yang sedang di pakai nya terlihat jelas seperti banyak tekanan yang sedang di pikulnya saat ini. *** flasback "Bapak ga bisa seenaknya meminta Fahri untuk menikahi gadis yang bahkan fahri ga kenal, pak" di gebraknya meja makan sambil berdiri karena shock dengan permintaanya sang Ayah. Sukma yang menyadari sikap sang putra membuatnya dilema mana yang harus di bela antara perdebatan Ayah & Anak yang sama-sama keras kepala itu. "Bapak mau kamu menikah dengan Mika karena itu janji yang sudah Bapak buat sama Bapaknya Mika, lagi pula Dia adalah gadis baik-baik, punya keluarga yang baik dan tentunya terjaga dengan baik" balas sang Ayah yang tak mau mengalah. "Fahri sudah melamar anak gadis orang lain, dan Fahri mencintainya setulus hati Fahri" jawabnya frustasi "Mau sampai kapan kamu akan ngenyel dengan pilihanmu, selama ini kami sungguh-sungguh memberikan yang terbaik bagi kamu dan masadepan kamu" "Fahri tidak akan pernah menikah dengan siapapun kecuali Salma, jika kalian tetap pada pendirian sama Fahri akan angkat kaki dari sini" ancamnya, sambil melirik sang Ibu yang seakan tidak bersungguh-sungguh berucap demikian, sukma yang mendengar itu mulai menangis dan menenangkan sang suami yang tiga bulan lalu terkena serangan jantung. Fahri yang kehilangan kesabaran mulai meninggalkan ruang makan terlilat belum tersentuh sama sekali makannanya, Sukma yang menatap punggung sang Anak dengan rasa iba. Sukma mengetahui jika sang anak sudah lama menjalin kasih dengan gadis yang bernama salma karena memang pernah di perkenalkannya padanya. Fahri menenteng tas besar nya dengan cepat menuju mobil dan beranjak pergi , yang sama sekali tak menghiraukan Budiman dan Sukma yang mencoba menghentikannya, walau tak berhasil. . . Satu bulan berlalu fahri mendapati kabar bahwa sang ayah yang masuk rumah sakit akibat penyakit jantungnya yang kambuh, sudah pasti ini adalah akibat pertengkaranya dengan nya. Fahri yang putus asa ahirnya pulang meski masih menolak tawaran sang Ayah . **** Fahri Pov Keluarga nya nampak rukun dan telihat dari keluarga baik-baik. kenapa gadis muda mau saja menerima permintaan dari keluarga nya untuk menikahi pria yang tidak kamu cintai. terlebih kamu belum pernah melihatnya. kulihat pesan yang masuk tidak ada sama sekali, pasti Salma sedang menangis sekarang. Aku tidak punya pilihan lain selain menceritakan situasi yang sedang ku hadapi, dia perempuan satu-satunya yang aku cintai setelah Ibuku dan aku juga sudah berjanji menikahinya setelah mendapat restu dari Bapak. namun apa yang sekarang ku lakukan saat ini, meninggalkan tunangan ku sendirian menangis lalu pergi untuk menemui wanita lain, Yaa Allah kejam sekali aku padanya. berkali-kali ku telfon sebelum datang kemari tak juga kamu angkat kemana kamu salma? jika memang tidak ada jalan keluarnya , setelah aku menyelesaikan ini aku pasti akan mencari dan menikahimu. . . nampak gadis bergaun panjang berwarna tosca turun dari lantai atas, ku tebak pasti dia yang selama ini meracuni Bapakku untuk menikahkan ku dengannya. aku tertegun sesaat mendapati gadis yang sekarang duduk di hadapanku adalah gadis muda cantik nan jelita, menambah ketakjubanku karena mengapa gadis sepertinya mau menikah dengan orang yang tidak di kenalnya. "Saya Fahri" memperkenalkan diriku terlebih dulu sebagai tanda menghormati perempuan, lalu di balasnya Saya Mikaila dengan anggukan dan lagi ia sedikit malu atau entah bagimana Lantai terasa lebih menarik ketimbang melihatku pikirku, ada rasa kagum yang ku tujukan padanya, karena mampu menjaga pandangannya, benar benar di jaga ya. Pujian bertubi-tubi yang di layangkan Ibuku dan Bapak padanya setelah bertemu beberapa menit yang lalu membuatku seakan tertekan entah aku sangat membenci pandangan mata di depan ku saat ini . "Nak mika sudah lulus dengan predikat Cumlaude di kampusnya pak ternyata" puji Sukma yang kagum dengan Anak sahabat suaminya itu. "Alhamdulillah bude, ini berkat doa Ibu sama Bapak" jawab nya bijak . ah .. dia pintar ternyata. apa dia ini kuper di lingkungan. cibirku yang merasa tak suka dengan kedekatan kedua orang tuanya dengan Mika. . . . Mika Pov Yaa Rabb , aku gugup sekali sekarang ini bagaimana tidak ini pertama kalinya aku mengalami situasi yang serius seperti pernikahan ataupun perjodohan. Kulihat sosok pria bisa di bilang idaman para wanita dengan perawakan yang maskulin dengan mata yang tajam alis dan rambutnya terlihat tidak ada kekuarangan pada fisiknya. tapi siapa yang tau isi hati seseorang kan . ketika ada kebahagian sendiri mengenal bude Sukma dan Pakde Budiman yang ramah dan tak henti-hentinya memuji ku, sampai aku merasa sangat malu. namun di lain sisi aku mengamati pria di depanku hanya tersenyum tipis seakan itu hanyalah senyuman formalitas, entah apa yang sedang ia fikirkan ia hanya diam dan hanya menjawab singkat pertanyaan dari Ibuku atau Bapak. seakan satu-satunya yang sangat antusias di sini hanyalah kedua Orang tuanya. aku tidak bisa menebak apa yang sedang ia fikirkan saat ini dia terlihat ramah namun begitu dingin dan ada jarak di antara kita yang tk dapat di tembus. entahlah apapun itu. "Nduk Mika, begini pakde mau bertanya sesuatu" hati-hati dengan pertanyaannya. raut muka Fahri dan Mika sama-sama tegang untuk sesaat, detak jantung mika seakan mau loncat mendengar pakde Budiman seperti sedang di skakmat di pojokan gak ada jalan keluarnya lagi. "Apa nak mika sudah punya pacar?" tanya Budiman "tidak pakde" balasku sambil menundukan pandanganku. "Alhamdulillah " antusias para orangtua mendengar jawaban dariku. "Begini to the point saja ya nduk, pakde datang kemari mau menanyakan apakah kamu berkenan sama Anak Pakde Fahri dengan Tujuan Ta'aruf...." "Apa kamu bersedia?" tanya beliau tanpa basa basi. sebelum aku menjawabnya ku amati dulu pria yang di maksudkan untuk ku menjalani Ta'aruf dengannya. lalu beranjak ku pandangi kedua Orang Tuaku dengan seksama menuntut jawaban agar tidak salah menjawab. "....." aku tak mampu mengatakan apa-apa untuk di berikan, aku sungguh takut apa yang akan terjadi padaku jika aku memilih untuk menerima tawaran mereka. "Mika ikuti saja apa yang sebaiknya dilakukan pakde,bude, bapak sama ibu" jawabku lemah. "ALHAMDULILLAH......" sorak riang menggema di penjuru rumahku malam ini, tampak sinar bahagia terpancar dari masing-masing wajah mereka. gak yakin jawaban apa yang seharusnya di pilih , namun aku merasa setiap apapun di dunia ini adalah atas izin-Nya . dan pasti ada hal yang kita manusia tahu apa itu. aku ingin melihat expresi apa yang ada padanya setelah mendengar jawabanku, perlahan ku dongakakn kepalaku untuk mencuri pandang karena penasaran. namun tak kalah terkejut nya aku mendapati Fahri menatapku dengan sangat tajam dan tatapan yang begitu dingin membuatku bergedik ngeri. ku palingkan wajahku untuk mengatur detak jatungku yang seakan mau copot dari tempatnya, Expresi apa itu tadi. . . "Kenapa aku begitu siall, arghhhh" batin Fahri frustasi. Bersambung .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN