part 1

1368 Kata
Hmm Manis ?. Madu alami memang tiada duanya rasa dan aromanya, bukankah memang seharusnya madu itu manis, bukan. "Madu asli dari NTT mahal nih, mik" ucap gadis berambut pendek itu tak lain bernama Sinta cestani sahabat karib Mikaila Rahayu. "Kamu dapat ini dari mana, Ta? " tanya mika yang mulai penasaran karena dari sepengetahuan Mika Sinta berasal dari kota kendal jawa tengah yang mana sangat jauh dari tempat tinggal maupun tempat perantauanya di Surabaya saat ini. "Dari mas Bayu." jawabnya sambil tersipu malu dengan centilnya. "Cieh ada kemajuan nih ye" goda mika. "Baik banget kan, duh mas bayu yang hitam manis kayak brownies" celetuk Sinta yang sedang di mabuk asmara. Mika hanya menatap sahabat nya dengan diam entah apa yang ada di benaknya saat ini. ***** "Assalamu'alaikum, Mika pulang bu" salam Mika ketika memasuki rumah dengan penuh tanaman hias yang menyejukan bagi setiap yang melihatnya. "udah pulang nduk? gimana tadi ngajarnya" tanya Rumini dengan penasaran. "Alhamdulillah banyak kemajuan bu, Anak didik mudah mengerti sama pelajaran yang Mika ajarin" balas dengan sumringah di wajah sang putri yang tak bisa di tutupi, di balasnya dengan senyuman penuh arti dari sang ibu. Diketahui sekarang Mika sedang bekerja sebagai guru pengajar di tempat bimbingan belajar yang di operasikan salah satu senior waktu Kuliah. Waktu sudah menujukkan pukul tujuh malam, Mika membantu ibunya seperti biasa menyiapkan makan malam keluarga, bertiga seperti biasa dengan tenang menyantap makanan di iringi candaan di sela-sela obrolan malam itu. "Nduk, nanti ke ruang tamu ya bapak mau bicara sama kamu "Perintah Sabar pria paruh baya yang jarang sekali mengatakan hal-hal sedemikian hanya untuk mengobrol dengan anak kedua dari dua bersaudara itu. di rapatkan nya bibir rumini mendengar permintaan sang suami tanpa mengucapakan sepatah kata, seperti mengetahui situasi yang akan terjadi. ada apa, tumben sekali? deg.. deg .. "Apakah ini pilihan satu-satunya atau Mika bisa memilih sendiri, pak?" ucap Mika pasrah nampak masih shock setelah mendegar pernyataan sang Ayah. ***** Di lihatnya mie ayam yang tengah di hadapan Mika tanpa semangat untuk menyantapnya. "Dari tadi Aku perhatiin kamu gak nyentuh sama sekali mie yang kamu pesen, ini mie nya pak parto loh makan favorit kita mik" cerca Sinta yang sebernanya sudah mengamati Mika sejak mengajar beberapa jam lalu, dengan inisiatif nya membawa Mika ke tempat makan favorit nya barangkali ia dapat menceritakan keluh kesahnya padanya. ini anak kenapa sih , kesambet apaan? tebak Sinta. "Ta, lu gue tinggal nikah gimana?" ucap Mika yang sedari tadi memutuskan berdiam diri tanpa sepatah kata apapun. "..bruuuttt " jawab Sinta yang dengan kaget nya menyemburkan es teh yang sedang di nikmati nya. "Duhh.. jorok ih" protes Mika tak kalah shock dengan semburan Sinta yang secara tiba-tiba membuyarkan lamunan sedari tadi. "Eh busyet... ada yang mau ya sama lu" "Entahlah.. huhh" dengan pasrahnya. "Terus Romi gimana?" "Aku gak ada hubungan apa-apa sama Kak Romi , Ta" tukas Mika. Dengan hati-hati Mika mencertikan permohonan sang Ayah tempo hari kepada sahabat baiknya, dengan raut tak percaya setelah mendengar cerita sang sahabat. Setelah di antarnya pulang barulah Sinta memberikan komentar kepada sahabatnya tentang apa yang sedang di hadapinya. "Mik, kamu bener-bener harus mikirin nya dua kali .. engg ... gak 100 kali" "Itu bukan masalah sepele, mika!!" tampak raut muka yang khawatir akan pilihan sang sahabat. "Iya insyaAllah" mika mengahiri percakapannya dan pamit untuk pulang. Brughh .. suara tas yang di lempar ke lantai. Kulihat jam tangan ku menunjukan pukul 7 aku masih tak bisa mengalihkan perhatian ku untuk sesuatu yang lain setelah mendengar Bapak mengutarakan niatnya untuk menikahkan ku dengan anak sahabat nya di sekolah dulu. Apa aku kabur saja? Kemana mau kabur? Apa ini zaman Siti nurbaya? Aku masih tak bisa mengendalikan air mata yang mulai menetes sejak malam itu namun aku bisa menahan nya ketika sedang mengajar, aku ingin berbakti kepada kedua orang tuaku yang begitu mengasihiku sampai ahir ini tak pernah meminta apapun dari ku atau dari Mas Akbar. tok..tokk suara ketukan berasal dari pintu membuyarkan lamunan ku. "Nduk, turun dulu makan malam" pinta Rumini. "baik bu" . . . Saat makan malam aku mulai diam membisu, seperti aku ingin memprotes atas kejadian tempo hari dengan bapak. sepertinya ibuku memahami atas diam ku malam ini, namun enggan menyinggung nya di hadapan bapak. "Nduk" sapanya. Aku tak sadar beliau masuk tanpa sepengetahuan ku, bukan. aku terlalu fokus dengan apa yang ku kerjakan saat ini . "Loh .. ibu ada perlu sesuatu ya, mika ga denger" dalihku. "Kamu marah sama ibu sama bapak nduk?" tanyanya dengan senyum tulusnya. "Ibu, engga sama sekali kok, ini.. ini mika lagi ngisi kisi-kisi buat percobaan anak didik Mika bu" sesalku setelah mendengar ibu yang tampak merasa bersalah. "Ibu mau ngomong sebentar bisa?" "..." ku ikuti ibu yang menuju kasur untuk duduk agar kami sejajar. cukup lama diam, entah apa yang sedang beliau pikirkan barangkali memikirkan kata-kata yang pas untuk di utarakan kepadaku. "Dulu Bapakmu sama Sahabatnya pernah membuat janji kalo sama-sama punya anak perempuan dan laki-laki mereka akan menikahkannya" di raihnya tangan ku yang sedari tadi mengeratkan jari jemariku karena saking gugupnya, dan beliau hafal dengan itu semua. maklum aku adalah anak gadis yang di sayangi oleh beliau. "Ibu tidak memaksa kamu untuk memenuhi janji Bapakmu, tapi tidak ada salahnya mencoba kan nduk" aku masih memilih untuk diam seraya mendengarkan keseluruhan penjelasan ibu. "yang ibu dengar, nak Fahri adalah anak yang baik dari keluarga baik-baik juga tentunya" Jadi namanya fahri? "Beberapa waktu lalu mereka ketemu lagi, dan entah dari mana tiba-tiba saja mereka mengusulkan untuk menjadikan nyata janji yang sudah bertahun-tahun lamanya mereka buat" sambungnya. "Kamu tau kan nduk, lingkungan dari bapakmu adalah orang-orang yang baik sama halnya temanya bapakmu! " jelasnya. sepertinya beliau sudah selesai menjelaskan situasi yang rumit ini, kami sama-sama diam untuk beberapa saat sembari menunggu jawaban ku ibu menatapku dengan penuh arti. "Kamu sudah punya pacar ya, nduk?" tanya ibu yang tengah mencairkan keheningan ruang kamarku saat ini. "Eh, mika ga punya bu, gak ada sama sekali kok" jawabku asal, yah memang benar adanya, bukan?. "Besok lusa mereka datang mau bertamu kesini, coba saja temui mereka ya" ujar nya. Aku bermimpi menikahi orang yang aku cintai. Punya keluarga besar nan bahagia. Apa yang harus aku lakukan Yaa Rabb-ku. . . Sinar mentari mengintip dari sela-sela curtain pagi hari ini, aku dengan malasnya menyusuri rumah dengan hati-hati entah apa yang ku takutkan, bapak atau ibu kah?. Sepi sekali , kemana bapak sama ibu ? Hari ini mereka belanja buat besok kan, huh ! Sejak subuh aku begitu malas untuk melakukan aktivitas lain selain menunaikan ibadah lima kali sehari tentunya, sebagai muslim kita wajib melaksanakan kewajiban kita. aku dengan rakusnya meminta pertolonganNya untuk hari esok apakah aku sanggup. ***** Seorang yang terlihat putus asa berlari dengan penuh amarah yang tak dapat di lampiaskan jalan satu-satunya hanyalah dengan berlari mengitari komplek perumahan pagi ini. "hah .. ha.. ha.." nafasku kian berat sambil ku seka keringat yang kian menetes "Sial .. kenapa hah .. ha.." kesal ku lemparkan botol minuman ku kedalam tong sampah. Kesambet apa sih bapak tiba-tiba ingin aku menikah dengan putri temannya. dengan kesalnya aku menuju ruang kamar bapak untuk memperotes tawaran nya untuk menikahkan ku dengan gadis yang bahkan tak ku cintai. ku tatap kamar itu hati-hati punya maksud ingin marah dan menolak perintahnya, aku mulai iba dengan keadaannya saat ini Bapak tiba-tiba sakit jantung mendadak sekitar satu tahun yang lalu. pertemuan dengan sahabat karibnya waktu SMA membawaku kedalam malapetaka yang sesungguhnya, bagaimana tidak dengan lemas putus asanya aku diminta menikahi putri orang lain dan di suruh bertamu kesana dalam waktu beberapa hari lagi. "Pak, gimana keadaanya?" tanyaku basa basi. "Bapak sudah mendingan, fahri....." jedanya "Bagaimana usul bapak, kita akan bertamu kesana lusa ya" Aku tak sanggup melawan jika di lihat dari keadaan beliau saat ini, aku cukup merasa bersalah karena pertengkaran ku tempo hari membuat penyakit beliau kambuh, pikirku jika aku mampu menolaknya aku akan pergi dari rumah ini ancamku pada mereka. Sekarang semakin tak yakin apa yang sedang aku lakukan selain pasrah, Aku hanya memberi anggukan sebagai jawaban ku atas ajakan bapak. Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri pikirku supaya agar kembali rasional, dering handpone di atas nakas meja menandakan ada panggilan, tertera nama Salma di panggilan. ku tatap sendu namanya tanpa ku angkat, takut. Dasar pengecut kamu. . . . Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN