salma pov.
bugh...
Bahuku terasa seperti mau patah, apa aku sedang bersenggolan dengan tembok apa?. aku mendongak bersiap memaki orang tersebut tapi justru aku malah terdiam karena pesona orang tersebut.
"Maaf, kamu gak apa-apa?" tanya cowok itu. aku terkesiap sadar dengan fantasy ku. namun aku tetap harus menunjukkan amarahku agar orang lain tidak semena-mena meski bermodal tampang yang tampan.
"Kalau lari-larian jangan disini. hargain mahasiswa lain dong" aku berpura-pura kesal, aku merasa tidak enak melabrak seseorang yan bahkan tak kukenal, di lihatin banyak orang.
"Sungguh saya minta maaf, ini nomer saya. hubungi saya jika kamu membutuhkan sesuatuatau pergi kerumah sakit saya akan membayar ganti rugi" kata cowok itu dengan entengnya lalu buru-buru pergi. aku melongo kaget dengan sikapnya dia pikir dia siapa ganti rugi. Harga diriku serasa di injak.
Moodku seharian rusak karena kejadian pagi hari, untung saja ini kelas terakhir. aku masih kesal ingin marah tapi kalau lagi bayangin wajah tampanya aisshhhh.. sia-sia punya wajah ganteng kalau attitude nya nol.
"Ngapain sih muka di tekuk mulu, kasian tuh sedotan sampek mau ancur kau gigitin" kata dinar seraya mengambil duduk di sebelahku. aku mengembuskan nafas kesal berulang kali sampai gadis berambut pendek berkulit putih di sampingku ini risih, ya. dinar dan aku adalah sepupu dari adik ibuku tetapi karena umur kami sepantaran kedekatan kami pun patut di acungi jempol persahabatan di antara kami pun tak lagi di ragukan. kami berbagi kesedihan kesenangan bersama. tidak ada rahasia yang kami sembunyikan tentu saja.
"nih liat, cowok kurang ajar. abis nabrak ngasih nomer katanya mau ganti rugi, emang tampangku minta duit dia" kataku kesal sambil memberikan kertas pada dinar. lalu kembali memakan gorengan dengan rakus rakus. sepertinya energiku habis karena ini.
"Fahri, anak jurusan teknik" jawab dinar terkejut. apa yang namanya fahri itu memang seterkenal itu, sampai dinar melotot saking shocknya. aku hanya mengangguk.
"dia satu club fotografi sama aku, dia udah terkenal cakep kaya raya pula" mata dinar tampak berbinar ketika menjelaskan sosok fahri. aku serasa muak dengar pujian yang berlebihan bagi orang yang berkuasa karena karena dia punya wajah yang tampan dan punya uang, mereka pasti semena-mena. aku berideologi demikian meski aku belum kenal dengan kepribadian cowok yang di gadang-gadang oleh dinar sebagai cowok paling tampan di angkatan kami.
"coba saja, dia baik banget loh. sueerrr gak bo'ong" dinar menyakinkan. aku menggeleng cepat.sebal rasanya jika harus semua orang menyukai orang yang sama. tapi aku menatap lagi nomer yang sudah di tuliskan nama Fahri adhitama wijaya, bahkan namnaya juga keren.duhh!!
entah bagaimana setelah satu bulan berlalu setelah pertemuanku denganya dia menraktirku di kafe. sejak saat itu kami mulai dekat, kami sering mengirim pesan bergantian. atau dia akan menraktirku sepulang dari kampus obrolan kami berdua sangat nyambung. aku jadi merasa bersalah sudah menilainya buruk belum lama ini, dia lebih baik dari yang aku duga. dia sangat gentle, perhatian namun juga terkesan seperti pangeran es jika orang-orang tidak mengenalnya.
"ma..salmaaa. heiii" lamunanku buyar ketika ku dapati cowok sudah berada di depanku mengendarai motor besarnya berwarna merah. wah ganteng banget. pasti yang jadi pacarnya beruntung banget. Aku hanya menurut ketika fahri mengajakku hangout sore ini, aku sengaja tidak bertanya kemana kami akan pergi, sama halnya dengan fahri yang juga tetap diam fokus pada jalanan di depan kami. aku mengeratkan peganganku melingkarkan peganganku pada pinggangnya, entah sejak kapan aku mulai berani melakukan ini.
Kami sampai di dermaga surabaya NOrth Quay. tempat dimana para pemuda pemudi sering menghabiskan sore mereka untuk menangkap cahaya jingga kemetrahan yang mempesona bagi siapa saja yang memandang. Fahri terus saja berjalan tanpa sedikitpun menjawab pertanyaanku aku mulai kesal denganya, kenapa sih dengan dia. apa dia sedang pms. aku sungguh jengkel.
"Fahri.. " aku memanggil-manggilnya berulang kali namun tak ku dengar jawaban darinya. aku sudah akan menyerah namun sebuah tangan mencekram lenganku mencegahku melangkah lebih jauh. aku tidak menoleh bahkan tidak bertanya juga tidak melawan, aku sungguh kesal dengan sikapnya kali ini.
"Sejak aku bertemu dengannya, aku tidak tau bagaimana aku aku harus memulainya. hari-hariku selalu berfikir kapan dia akan meresponku aku juga tidak tahu namanya,dimana tinggalnya. aku sungguh frustasi aku tidak pernah mempunyai perasaan seperti ini sebelumnnya. sampai ahir aku mengenalnya bertemu denganya mengobrol denganya" kata Fahri lembut. aku terkejut setengah mati mendengar fahri mengutarakan masalah pribadinya padaku, aku tidak pernah menyinggungnya atau penasaran denganya , bukan karena aku tak peduli, jauh dari itu aku takut jika kau mengetahui dia bersama gadis lain menyukainya lalu aku tak dapat bertemu dengannya lagi.aku tak sanggup menahan cairan bening membasahi pipiku, menggigit bibir bawahku agar tidak terdengar isakan tangisku.
"Aku ingin mengatakan jika aku menyukainya , namun kami tidak punya kesempatan itu" belum sempat Fahri menyelesaikan penjelasannya aku menghempaskan tanganya kasar tanpa menoleh padanya,
"Terus apa hubungannya denganku, seharusnya kau ngomong saja sama dia. bukan cerita omong kosong denganku" aku terdengar emosional aku tidak mau dia melihatku begitu bodoh hanya karena menangisi orang yang hatinya bukan punyaku, namun fahri tidak lagi menahanku aku merasa begitu jatuh saat ini , namun kata-kata fahri selanjutnya membuatku membeku seketika.
"Maka dari itu, maukah kamu jadi pacarku. salma" ucap farhi begitu lembut. aku menutup mulutku yang melongo karena sungguh ini diluar ekspetasiku. aku baru sadar jika fahri sedang menceritakan tentang kami. aku menangis tersedu-sedu mengangguk berulang kali. aku merasakan tubuhku sudah berada di dekapan fahri.
Sejak hari itu kami terkenal sebagai pasangan kampus yang ideal, kami jarang sekali bertengkar kami benar-benar mengisi kekurangan satu sama lain. aku begitu bahagia kami berdua sama-sama menjaga satu sama lain. sampai suatu hari ada gelagat aneh ketika Fahri mengenalkanku pada kedua orang tuanya. ibu fahri terlihat ramah menyambutku baik namun tidak dengan ayahnya. kecanggungan kami terasa setiap aku di bawa pulang fahri, pak budiman entah tidak mau menemuiku atau membalas sapaanku meski hanya tersenyum tipis. keringat dingin terasa di telapak tanganku namun tangan fahri selalu menggengamku dengan erat seperti tengah memberiku kekuatan.
Entah sudah berapa lama kami berusaha untuk meminta restu, sampai hari jika Bapak budiman tidak mnyetujui kami menikah karena menurutnya fahri masih terlalu muda, aku mengerti saat itu. namun tahun berganti dan hubungan kami sangat rentan kami mulai kehilangan keyakinan untuk tetap bersama, aku sungguh lelah namun perasaanku masih dipenuhi fahri. suatu hari Fahri datang dengan ide yang bar-bar, menikah tanpa seizin orangtuanya . bahkan fahri merasa jika ia melakukanya suatu hari mau tidak mau mereka akan memberikan kami restu bahkan akan lebih mudah memnbujuknya ketika memiliki momongan, itu semua semata-mata hanyalah rencana putus asa kami berdua.
"Fahri kamu gak capek begadang terus" kataku khawatir karena sudah dini hari fahri masih sibuk dengan laptopnya. Fahri hanya menatapku dengan senyuman. sudah hampir satu bulan fahri pergi dari rumah .
Pagi hari fahri buru-buru pergi setelah mendapatkan panggilan dari ponselnya yang kemudian ku ketahui jika pak budiman sedang kritis karena serangan jantung. manatap kepergian fahri dengan perasaan campur aduk. hempasan angin menerpa daun telingaku seolah memberitahuku jika semua ini karena kami yang memaksa untuk bersama, namun aku juga tidak tahu bagaimana caranya untuk melepaskan fahri pergi.
.
. tidak sampai disini ujian kami, setelah aku mendesak kejujuran fahri yang belakangan ini lebih banyak diam , aku baru mengetahui jika fahri akan di jodohkan dengan anak sahabat orang tuanya saat menempuh pendidikan SMA, bahuku merosot kakiku terasa lemah tak berdaya aku terjatuh ke lantai yang dingin. menyadari seuatu jika selama ini restu yang tak kami dapatkan bukanlah tentang umur kami atau status sosial seperti dugaanku, melainkan Orangtua fahri sudah menyiapkan istri untuk anaknya di masadepan. tubuhku terasa di timpa puluhan kilo membuatku tak mampu berdiri, karena keterkejutanku bahkan air mata tak mau keluar entah karena aku sudah kehabisan air mata atau sesuatu yang besar menghalangiku untuk menangis. satu-satunya kekuatanku adalah cinta dari fahri, ia memelukku erat seeratnya yang bahkan tak pernah kurasakan sebelumnya, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. sampai pernikahan orang yang ku cintai itu, di mana aku jadi sering jatuh sakit aku merasa tubuhku semakin ringan apa karena berat badanku menyusut aku tertawa sumbang karena selama ini aku begitu sulit untuk menurunkan berat badanku namun sangat mudah setelah fikiranku yang menjadi penyebabnya.
"Dwelling on a disappointing situation is like walking through drying cement. eventually you will get stuck"
.
.
bersambung...