"Ibu, bapak" sapa Mika menyalami sukma dan budiman.
"Kalian kenapa telat begini" tanya budiman kemudian.
"Ibu pikir kalian telat, masa yang punya acara datengnya belakangan. pasti kamu kerepotan ya karena Fahri" terka sukma pada menantunya. Fahri pun tidak terima terkaan sang ibu.
"wanita saja yang dandannya lama sekali" protes fahri. membuat ketiganya tertawa. Ahirnya acara pun di berlangsung dengan baik dan meriah. Fahri menyapa para tamu undangan sati persatu lalu berbincang-bincang sedikit untuk berbasa-basi. namun Fahri dibuat terkejut oleh salah satu tamunya yang tak lain adalah Salma, dengan gugup fahri tersenyum canggung. netranya buru-buru mencari keberadaan orangtuanya beserta istrinya yang ternyata mereka bertiga sedang asik bercengkrama, Fahri menatap salma dnegan tatapan penuh tanya, salma yang sudah hafal dengan sikap fahri pun merogoh susuatu dari dalam slim bag milikknya mengeluarkan invitation card yang ditujukan kepada dirinya. Fahri nampak bingung dia merasa tidak berniat mengundang kekasihnya itu alih-alih menjaga perasaan pada gadis pujaannya itu . tiba-tiba ingatanya terlintas ketika sakit asisten yang ia percaya bertanya tentang siapa saja yang di undang fahri hanya menimplainya dengan jawaban bahwa investor harus datang, dan salma adalah salah satunya. Fahri pun menyadari keteledoaranya.
Di balik kerumunan mika menangkap siluet pria yang tidak asing sedang berjalan berdampingan dengan seorang perempuan dengan tinggi sempai ,meski mika hanya melihat dari punggunya saja mika akui mereka sangat cocok jika bersandingan. snap... sesuatu seperti serangan jantung mendadak. mika pun mengelus dadanya yang terasa perih dari dalam tetapi tidak mengetahui perasaan apa yang sebernarnya ia rasakan saat ini. untuk menghilangkan kegelisahannya mika pamit pergi ke toilet.
.
.
"dia cantik ya.." kata salma terdengar putus asa, sepasang lengan kokoh memperdalam pelukannya merangkup erat tubuh sang wanita dalam dekapanya, mengecup kepala sang gadis untuk menenangkanya.
"kamu tetap orang yang paling aku cintai" jawab fahri tegas. kedua sudah berada di ruangan fahri setelah berhasil mengendap-endap agar tidak ada yang menyadarinya. Salma membalas pelukan fahri menenggelamkan kepalanya pada d**a bidang sang kekasih. netra keduanya bertemu terpancar cinta dari keduanya tak membutuhkan waktu lama untuk keduanya saling memangkas jarak, memperdalam ciuman yang dimulai dari sebuah kecupan singkat menjadi sesuatu yang menuntut lebih. nafas yang terengah-engah tak menghentikan hawa nafsu yang kini sedang menguasai keduanya. pancaran gairah dari sorot mata Fahri membuat siapa saja terlena untuk menginginkan lebih. entah sudah berapa lama mereka saling mengecap bibir satu sama lain, sampai pada suara pengeras menyadarkan mereka.
"ri--bapak fahriiii...yah sepertinya beliau sedang di kamar mandi ya mohon ditunggu sebentar untuk sambutan terahir dari bos kita" terdengar riuh sampai ke tempat Fahri berada. Fahri dan salma saling menunduk karena canggung bisa-bisanya meraka lepas kontrol disituasi saat ini. Fahri pun berpamitan duluan pada salma agar pulang lebih dulu, ia tidak ingin salma merasa salah paham dengan sesuatu yang tidak bisa jamin tentang hubungannya dengan mika di depan khalayak ramai. sepeninggal Fahri Salma pun tersenyum senang karena ia masih merasakan perasaan fahri begitu melimpah untuknya seorang. aku kangen kamu fahri sebuah text teruntuk fahri terkirim dari salma dengan senyumnya yang merekah.
.
Mata mika memindai sekeliling memperhatikan orang-orang yang sedang merapikan tempat acara yang berahir setengah jam yang lalu. Mata mika otomatis mencari sosok fahri yang masih sibuk memberi intruksi kepada pegawainya terlihat fahri sudah melepas jas yang di pakainya dan hanya memakai kemeja dengan kancing atas yang di buka dengan lengan yang di gulung ke atas terlihat mempesona, Mika tersadar akan bayang-bayang suaminya. ia menepuk pipinya beberapa kali bisa-bisanya ia membayangkan hal senonoh kalau pria itu tahu bayangkan ia akan di ledek habis-habisan atau kurang lebih dia akan menendang aku keluar dari rumah.
"aww.." mika mulai merasa sakit karena tamparan kecil yang memang di tujukan untuk dirinya itu, lalu ia mengusapnya pelan.
"Kak.. ini cokelat panas untuk kakak" seseorang pegawai lekai-laki menghampiri mika sambil menyodorkan cangkir putih dalam genggamanya. Mika berpikir keras ia merasa tidak memesan apa-apa padanya. pegawai cafe itu pun menyadari jika istri bosnya itu merasa bingung, lalu pegawai menjelaskan jika bosnya menyuruh membuatkan minuman hangat untuk dirinya. Mika yang mengerti mengangguk kikuk "terimakasih ya" ucap mika canggung.
mika pun memperhatikan sang suami dari jarak jauh dengan tatapan sendu. jangan mempelakukanku baik mas, kalau pada ahirnya hanya aku sendiri yang merasakannya.
.
.
Mika dan Fahri sudah sampai di rumah, di liriknya sekilas pukul sebelas malam. mereka berdua berjalan memasuki ruang tamu namun terdengar suara gemuruh yang berasal dari perut fahri. mika menghentikan langkahnya lalu berbalik arah dengan tatapan menyidik,m Fahri hanya memalingkang muka sambil menggaruk tengkuknya dengan kikuk.
"Mas, Kamu lapar?" tanya mika.
"yah.. karena sebelum pulang saya masih ngurusin banyak hal jadi makananya hangus" jawab fahri asal.
"ayoo, sini ikut aku" mika menarik ujung lengan kemeja fahri, Fahri tampak bingung tapi ia hanya mengikuti tanpa protes sedikitpun.
sepuluh menit berlalu, mika kembali dengan membawa baki yang di atasnya sudah di atasnya berisi dua mangkuk mie dengan kuah. aromna tercium dari tempat fahri, matanya tertuju pada apa yang di bawa mika, kemudian Fahri meraih kancing manset kemejanya lalu di lipat lebih ke atas untuk memudahkanya barangkali.
"ini dia... hemmmm" ujar mika sambil menyodorkan mangkuk mie panas. Fahri terlihat tergoda dengan menu dadakan ini.
"makasih" jawab fahri tulus. mika hanya tersenyum dan mengangguk. fahri tampak bingung dengan mika yang malah kembali ke dapur tidak langsung menyatap makanannya, terdengar berisik di dapur entah apa yang di lakukanya.
"cabe , kamu nambahin cabe seger ke situ?" Fahri sedikit terkejut dengan cara istrinya makan, namun ikutan penasaran dengan rasa yang berbeda.
"Mas fahri mau?" mika menunjukkan 2 buah cabe segar berwarna orange dan merah itu.
"boleh" fahri mendekatkan mangkuknya agar kebih dekat dengan mika yang memotongnya dengan gunting kecil-kecil.
Keduanya pun menikmati pengganjal perut dengan keirngat yang bercucuran terlebih fahri, keringatnya mulai menetes dari pelipisnya. namun malam ini mie yang di makannya terasa lebih nikmat entah karena lapar atau karena cabe yang membuat rasanya berbeda atau karena hal lain. Fahri merasakan sesuatu mendarat di dahinya, ya. terlihat mika mengusap keirngat fahri denga tisu.
Fahri mematung seketika, tidak bergeming meski mika saat ini jugameledeknya dengan sebutan seperti anak kecil yang makan makanan pedas.
"Kalau nanti kita sudah resmi berpisah, saya harap kamu menemukan seseorang yang baik padamu. tentu saja yang penting dia mencintai kamu" ujar Fahri. seketika tangan mika membeku seperti es, retakan di d**a kian terasa.
"hmm" bibirnya kelu menahan sesuatu yang akan keluar. mika pun kembali ke posisinya duduk menghabiskan mie nya dengan buru-buru tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya. fahri menatapnya diam-diam memperhatikan seksama bagaimana mika yang sedari tadi tersenyum manis kini berubah datarlebih terlihat kekecewaan di raut mukanya namun fahri tidak mengerti kenapa mood istrinya berubah sedemikian. ia tidak ingin berkomenttar atau merespon apapun yang di lihatnya saat ini. dia sudah berjanji tidak memasuki dunia gadis yang kini terlihat murung itu.
"Kamu tatruh saja di bajan, besok aku cucinya mas. aku mau istirahat dulu karena besok pagi-pagi sekali berangkat kerja" jelas mika, mika menatap lurus ke depan tanpa menoleh atau menatap fahri ketika berbicara. fahri diam sejenak sebelum menjawab istrinya tetapi mengiyakan setelahnya. Fahri menatap sekilas punggung mika yang kini sudah beranjak menaiki tangga menuju kamarnya.
.
Mika berjalan menaiki tangga degan perasaan gundah , matanya kini sudah berkaca-kaca yang seakan-akan tak sabar untuk melewati kelopak mata untuk terjun bebas.
itu artinya kamu tidak mencintaiku mas. aku sudah mengetahuinya namun kenapa rasanya sakit sekali.-
.
.
bersambung..