Ketakutan terbesarku adalah, gagal. Sungguh sebuah ketakutan yang bodoh. Seperti pagi ini, tepat pukul tujuh aku sudah stand by di depan mading sekolah menunggu guru piket menempelkan kertas yang berisi nama siswa yang lolos untuk ikut turnamen sepak bola di Singapura. Dan aku berharap namaku ada disana. Di acara seleksi kemarin, aku melewatinya dengan sangat baik. Dan hari ini aku optimis akan lolos, aku juga menaruh banyak harapan pagi ini. Kalau ku presentasikan, tingkat keberhasilan ku 80% Turnamen ini begitu penting untukku, karena aku ingin mempersembahkan sebuah kemenangan untuk Almarhum Ayahku. Ayah adalah sosok yang begitu berpengaruh dalam kehidupanku menuju masa depan yang gemilang, menjadi seorang pesepak bola yang hebat. Dulu Ayah yang selalu menemaniku latihan bola hing

