Mempunyai anak yang penurut mungkin menjadi salah satu keinginan Ibuku. Tapi rasa-rasanya, anak penurut itu bukanlah aku. Ibu selalu memintaku bangun pagi, menata jualan di warung, lalu berangkat sekolah sembari membawa beberapa bungkus roti atau apapun untuk di jual di kelas. Selepas sekolah, Ibu menyuruhku untuk ikut ekstrakulikuler KIR, kebetulan aku menyukainya jadi tidak masalah. Bukan hanya KIR, aku ikut ekstra sepak bola, voli, basket, bahkan jurnalistik juga aku ikuti. Semua itu karena permintaan Ibu dan aku tidak sanggup menolaknya. Meski sering kali tubuhku lemah dan berakhir di UKS, Ibu tak pernah tau kesusahanku, yang dia tau hanyalah aku harus bisa hidup dengan produktif. Kata Ibu, karena tidak punya banyak uang aku harus memanfaatkan fasilitas yang sudah disediakan oleh sek

