Mungkin karena mendengar suara isak tangisku, tangan Kyo yang memelukku dari belakang kini terlepas. Suara lenguhan orang baru bangun tidur, tertangkap indera pendengaranku. Aku tahu Kyo sudah terbangun dari tidurnya meski aku tak melihatnya karena posisiku tengah membelakanginya.
“Kenapa kau menangis?” Suara seraknya mengalun merdu di telingaku tapi belum cukup mampu menghiburku yang tengah dilanda penyesalan yang amat besar.
Kurasakan Kyo menyandarkan wajahnya di bahuku, “Apa aku menyakitimu? Maafkan aku. Aku tidak bisa menahan diri tadi.”
“Ini kesalahan. Seharusnya kita tidak melakukan ini. Ibuku pasti kecewa jika mengetahuinya.”
Helaan napas beratnya menerpa kulit leherku. “Aku minta maaf. Kau benar, seharusnya aku bisa menahan diri.”
Aku merubah posisi, kini berbaring miring menghadapnya. “Aku takut. Bagaimana jika aku hamil nanti?”
Kyo mengernyitkan dahi, “Hm, kurasa itu tidak mungkin terjadi. Kita hanya melakukannya satu kali. Masa kau langsung hamil?”
“Tidak ada yang tahu. Aku benar-benar takut sekarang.”
Kyo terdiam, tampak sedang berpikir. Sebelum tiba-tiba dia tersenyum tipis, aku tahu dia sedang berusaha menenangkanku. “Jangan khawatir. Aku tahu cara mengatasinya.”
“Bagaimana caranya?”
“Akan kuberi tahu secepatnya. Kau tenang saja ya.” Satu tangannya terulur dan mendarat di puncak kepalaku. Dia mengusapnya berulang kali.
Menatap wajahnya seperti ini membuatku kembali teringat pada percintaan kami yang panas sekitar satu jam yang lalu. Kyo terlihat begitu ahli saat melakukannya seolah dia sudah sangat berpengalaman. Dan lagi-lagi aku merasa kesal karena bagiku ini adalah pengalaman pertama. Sedangkan untuknya ... entah pengalaman yang keberapa kali.
“Kau sudah sering melakukan itu ya dengan mantan-mantanmu dulu?” Pertanyaan ini, sungguh tanpa sadar terlontar sendiri dari mulutku.
“Menurutmu?”
“Jangan menggodaku. Aku serius bertanya.”
Kyo tertawa seolah pertanyaanku sebuah lelucon baginya. “Harus ya aku menjawabnya?”
Aku memutar bola mata, “Tentu saja. Itu alasan aku bertanya karena aku ingin mengetahui jawabannya.”
“Kau ingin jawaban jujur atau bohong?”
Aku menggeram kesal walau aku tahu dia sedang mencoba menghiburku agar tak lagi meneteskan air mata. Tapi sungguh, sekarang aku menjadi sangat kesal padanya.
Dia kembali tertawa sebelum tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telingaku, “Percayalah, ini juga pengalaman pertamaku.” Aku memicingkan mata, tentu saja tak percaya. “Aku tidak pernah mengambil resiko sekecil apa pun saat berhubungan dengan gadis lain.”
“Tapi kau terlihat sudah berpengalaman tadi?”
Kyo mendengus, “Kau tidak tahu saja pria sepertiku sebelum mempraktekannya pun sudah tahu lebih dulu caranya.”
“Hah, kenapa bisa?”
Saat Kyo tertawa lantang, kurasa aku bisa menebak jawabannya. “Jangan bilang kau sering menonton video p***o?”
“Itu tahu,” jawabnya santai. Dia tiba-tiba mengecup lembut bahu telanjangku sebelum beranjak bangun dari ranjang. Kuperhatikan dia yang dengan gesit memungut pakaiannya yang berserakan di lantai lalu mengenakannya dengan cepat.
“Kau mau pergi?”
Kyo mengangguk, “Ya. Aku harus pergi atau ibumu akan memergoki kita. Kau tidak ingin itu terjadi, kan?”
Aku menggigit bibir bawah, rasa takut dan penyesalan itu kembali menghantam hatiku begitu teringat pada ibu.
“Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan masalah ini. Percaya saja padaku, semua akan baik-baik saja.” Kyo melambaikan tangan sebelum kedua kakinya melangkah mendekati pintu. “Kau cepatlah membersihkan diri sebelum ibumu pulang. Sampai jumpa besok di sekolah.”
Aku tak mengatakan apa pun bahkan hingga sosoknya menghilang di balik pintu.
***
Kyo tak berbohong, sebelum bel tanda pelajaran dimulai berbunyi, dia menemuiku. Kami sedang bertemu di samping kelasku yang sepi sekarang.
“Ini,” katanya tiba-tiba sambil mengulurkan sebuah pil padaku.
Aku menerimanya dan menatap bingung pada sebutir pil obat yang sedang kugenggam di tangan. “Ini apa?” Tanyaku, meminta penjelasan.
“Pil pencegah kehamilan.”
Aku seketika terbelalak, “Dari mana kau mendapatkan obat ini?”
“Jangan banyak bertanya, pastikan saja kau meminumnya. Aku yakin masalah kita akan selesai setelah kau meminumnya.”
Menatap ragu sejenak pada pil itu, pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk. “Aku akan meminumnya di rumah saat sedang sendirian.”
“Terserah kau saja. Yang penting kau harus meminumnya.”
“Pasti,” jawabku tegas.
“Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu.”
Sebelum melangkah pergi, dia menepuk bahuku pelan. Kini yang bisa kulakukan hanya berharap semoga benar yang dikatakan Kyo, semuanya akan baik-baik saja.
Hari itu, seharian aku tidak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran. Kejadian kemarin serta penyesalan yang kurasakan terus berseliweran di kepalaku. Hingga tiba saatnya jam pulang sekolah, aku lega bukan main.
Setibanya di rumah, hal yang pertama kali kulakukan adalah masuk ke dalam kamar. Bahkan kuabaikan sapaan ibu. Tanpa mengganti seragam sekolah yang masih melekat di tubuh, aku duduk di kursi. Kembali kutatap pil yang tadi diberikan Kyo padaku. Benar, aku harus meminum pil ini agar hidupku bisa kembali tenang tanpa perlu khawatir hal tak diinginkan terjadi padaku.
Aku pun berniat memasukan pil itu ke dalam mulut namun urung saat tersadar aku belum mengambil air untuk membantuku menelan pil yang ukurannya cukup besar ini. Kumasukkan pil itu ke dalam bungkus camilan yang belum sempat kubuang, di atas meja. Lalu aku keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil air minum.
“Hanna, ada telepon untukmu!”
Teriakan ibu di ruang tengah, bisa kudengar dengan jelas. Sambil membawa serta gelas yang telah terisi air putih, aku menghampiri ibu. Aku pun menerima telepon yang diulurkan ibu padaku.
“Hallo,” sapaku begitu telepon itu sudah menempel di telingaku.
“Hanna, bagaimana?”
Suara ini, tanpa perlu bertanya pun aku tahu siapa pemiliknya. “Apanya yang bagaimana?”
“Kau sudah meminum pilnya?” tanya Kyo.
Aku menggeleng di sini walau tahu dia tak akan melihat responku ini. “Belum. Ini aku baru mau meminumnya.”
“Oh, aku pikir kau sudah meminumnya. Tadi kenapa kau pulang duluan? Kau tidak menungguku.”
Yang dia katakan memang benar, aku sudah tidak sabar ingin secepatnya pulang ke rumah dan meminum pil itu. Itu satu-satunya alasan aku memilih menaiki taksi alih-alih menunggu Kyo seperti biasanya.
“Maaf, aku hanya ingin cepat-cepat pulang tadi.”
“Aku menelepon ponselmu tapi tidak kau angkat.”
Aku meringis, baru ingat seharian ini tidak mengeluarkan ponsel dari dalam tas. “Aku tidak memegang ponsel seharian ini,” jawabku, memilih jujur.
“Kau baik-baik saja, kan, Hanna?”
Sekarang aku harus menjawab apa? Faktanya aku sama sekali tidak baik-baik saja. “Aku baik. Jangan khawatir.” Dan akhirnya aku memilih berbohong agar Kyo tak mengkhawatirkanku.
“Apa aku perlu datang ke rumahmu untuk menemanimu?”
Aku kembali menggeleng-gelengkan kepala, “Tidak perlu. Sungguh, aku baik-baik saja. Kita bertemu besok saja di sekolah. Hari ini aku ingin istirahat.”
“Baiklah. Setelah meminum pil itu, kau tidur saja.”
“Aku mengerti.”
Setelah itu, tak terdengar lagi suara Kyo karena sambungan telepon telah terputus. Aku menghela napas panjang sebelum melangkah menuju kamarku.
Hal mengerikan terjadi saat aku tiba di kamar, bungkus camilan yang tergeletak di atas meja tiba-tiba menghilang. Aku panik bukan main, kucoba mencari bungkusan itu hingga aku memeriksa bawah meja maupun kursi. Tapi nihil, bungkusan itu benar-benar hilang.
Dengan kepanikan yang mengendalikan diri, aku berlari meninggalkan kamar dan menghampiri ibu yang baru saja masuk ke dalam rumah sambil menentang tempat sampah yang sudah kosong.
“Ibu, barusan masuk ke kamarku, ya?”
Ibu mengangguk, “Ya. Ibu memeriksa kamarmu untuk mengambil sampah. Hari ini jadwal pengangkutan sampah.”
Aku semakin panik sekarang, “Bungkusan bekas camilan di meja, apa ibu membuangnya?”
Untuk kedua kalinya, ibu mengangguk. “Ya. Camilannya sudah habis, kan? Makanya ibu buang.”
Dan tanpa mengatakan apa pun lagi, aku berlari keluar rumah. Berharap sampah yang dibuang ibu belum diangkut oleh mobil pengangkut sampah. Namun, yang kudapati semuanya sudah terlambat. Mobil pengangkut sampah itu baru saja pergi bahkan sosoknya mulai menjauh dari pandangan.
Kini yang kulakukan hanya menahan mati-matian agar air mataku tidak tumpah ruah atau ibu akan curiga dan banyak bertanya. Jadi, sekarang aku harus bagaimana?