Ingin tahu perasaanku saat ini? Rasanya campur aduk antara senang dan takut. Aku sangat senang karena perlahan telah berhasil merubah Kyo. Seperti yang aku perkirakan, setelah perubahan penampilan Kyo, sekarang dia semakin diidolakan para wanita. Bahkan sekarang mereka akan berteriak histeris setiap kali Kyo melintas di depan mereka. Memang Kyo belum sepenuhnya menuruti aturan sekolah, dia masih tidak mengenakan dasi. Namun, setidaknya kini dia tidak lagi menggulung lengan kemejanya, dan rantai yang terpasang di celananya sudah tak ada lagi. Dia juga tidak pernah datang terlambat lagi. Dia selalu mengikuti pelajaran di kelasnya dengan tepat waktu. Bukan hanya itu, dia juga tidak pernah membolos lagi.
Aku semakin senang ketika mendengar dari Kak Chika bahwa Kyo tidak pernah datang lagi ke tempat balapan. Itu artinya Kyo memang mengabulkan semua permohonanku padanya. dia benar-benar memenuhi semua janjinya padaku.
Akan tetapi di sisi lain, aku juga takut. Takut karena tiga hari berlalu semenjak kami melakukan hubungan intim dan hingga detik ini aku belum meminum pil yang diberikan Kyo karena ibu tanpa sengaja membuangnya. Aku belum menceritakan hal ini pada Kyo. Belakangan ini dia sangat sibuk karena kelasnya akan mewakili sekolah mengikuti pertandingan basket persahabatan dengan sekolah lain. Setiap hari dia selalu berlatih basket bersama teman-temannya, terutama di jam istirahat sehingga kami jarang bertemu bahkan tidak lagi makan siang bersama di tempat favorit kami.
Di mini market tempatku bekerja juga semakin sibuk, pengunjung ramai berdatangan akhir-akhir ini sehingga aku sangat kelelahan belakangan ini dan pasti akan langsung tidur begitu tiba di rumah. Alhasil, aku tak sempat menghubungi Kyo melalui telepon, padahal aku sangat ingin menceritakan perihal pil yang dibuang ibu itu padanya.
Hari ini merupakan hari sabtu dan seperti biasa aku mengikuti latihan karate. Aku ingin sekali segera menyelesaikan latihan ini, alasannya karena aku ingin segera menemui Kyo. Tadi pagi Kyo mengirimkan pesan padaku dan dia mengajakku pergi ke suatu tempat. Entah tempat apa itu? Yang pasti aku ingin segera menemuinya, sudah kuputuskan akan menceritakan perihal pil itu hari ini juga.
Begitu latihan kami selesai, aku bergegas mengganti pakaian.
“Kau buru-buru sekali, Hanna?” tanya Kaori yang memang sedang bersamaku di ruang ganti.
“I-iya, aku ada perlu,” jawabku seramah dan senormal mungkin. Aku tidak ingin memberitahunya bahwa aku akan pergi dengan Kyo. Walau Kaori sudah putus dengan Kyo, tapi aku berpikir untuk menjaga perasaannya karena mungkin sebenarnya Kaori masih menyukai Kyo. Aku bahkan belum menceritakan tentang hubunganku dan Kyo yang telah resmi menjadi sepasang kekasih pada Kaori.
“Pasti kau akan pergi dengan Kyo, ya?”
Aku terbelalak, rupanya dia bisa menebak dengan tepat. “B-begitulah, dari mana kau tahu?” Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berkata jujur, tak enak hati jika harus membohongi Kaori yang sudah kuanggap sebagai teman baikku.
“Terlihat dari keceriaan di wajahmu,” jawabnya sambil menunjuk wajahku dengan telunjuknya. Spontan aku menundukan kepala. Benarkah sejelas itu terlihat di wajahku bahwa aku sedang senang karena akan pergi dengan Kyo hari ini? Ah, rasanya sangat memalukan. Aku tidak pernah bisa menyembunyikan perasaanku jika sudah berkaitan dengan Kyo.
“Oh, iya. Aku lihat Kyo banyak berubah sekarang. Dia terlihat lebih baik semenjak berpacaran denganmu. Aku sangat senang melihatnya, kau berhasil melakukan hal yang tak dapat dilakukan wanita lain.”
Sekali lagi aku terbelalak, dari mana Kaori mengetahui hal ini padahal aku belum menceritakan apa pun?
Kaori tiba-tiba mengulum senyum melihat kediamanku. “Jangan memasang ekspresi terkejut begitu. Kabar kalian yang sudah resmi berpacaran sangat ramai dibicarakan di sekolah seperti wabah penyakit saja. Mana mungkin aku tidak tahu. Kenapa kau tidak cerita padaku?”
“A-aku tidak bermaksud merahasiakannya darimu. Hanya saja aku takut …”
“Takut kenapa?” tanya Kaori tampak penasaran. Namun, aku hanya terdiam dengan kepala tertunduk, entah kenapa aku bingung menjelaskan alasanku tetap bungkam di depannya.
“Hah, Hanna, Hanna. Biar aku tebak, kau tidak cerita padaku karena takut aku sakit hati ya mendengar kau dan Kyo sekarang pacaran?” Kaori lantas tertawa. “Kau ini polos sekali, ya? Aku tidak apa-apa. Aku dan Kyo kan sudah putus, jadi dia berhak menjalin hubungan dengan wanita mana pun termasuk denganmu. Aku tidak marah atau sakit hati.”
“Benar kau tidak marah atau sakit hati padaku?”
Suara tawa Kaori semakin mengalun keras. “Ya, tidaklah. Kenapa aku harus marah dan sakit hati? Kecuali kalau kalian selingkuh di belakangku saat statusku masih kekasih Kyo, baru aku akan marah. Kau ini ada-ada saja, Hanna. Lain kali kalau ada apa-apa antara kau dan Kyo, jangan ragu cerita padaku, ya. Aku ikut senang melihat kalian bersama. Apalagi berkat dirimu, Kyo jadi banyak berubah.”
Aku mengulum senyum, lega mendengarnya. Sepertinya pemikiranku tentang Kaori memang terlalu berlebihan. “Aku hanya berusaha semampuku. Aku sangat menyayanginya, aku ingin memberikan yang terbaik untuknya.”
Kaori mengangkat ibu jari. “Bagus, teruslah berusaha, Hanna. Tidak mudah berpacaran dengan Kyo. Kau harus berusaha keras dan jangan pernah menyerah.”
Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Kaori. Namun aku mencoba menarik kesimpulan mungkin dia mengatakan itu karena Kyo sangat populer sehingga aku harus berusaha keras mempertahankannya agar tetap di sampingku.
Setelah berpamitan pada Kaori, aku pun pergi meninggalkan ruang club karate. Aku segera menghampiri Kyo ketika di tempat parkir aku lihat dia sedang duduk di atas motornya menungguku.
Motor ninja merah Kyo pun melaju dengan cepat membawa kami meninggalkan area sekolah.
***
Kyo tidak memberitahukan tempat yang akan kami tuju ketika aku menanyakannya dan itu membuatku semakin penasaran. Namun, aku tak mampu berkata-kata lagi ketika kami tiba di tempat itu. Entah bagaimana caraku menggambarkan keindahan tempat ini dengan kata-kata. Tempat ini sepeti sebuah taman di mana sekelilingnya dipenuhi bunga bougenville yang bermekaran dengan indah. Bougenville yang bermekaran berwarna-warni. Kyo menggandeng tanganku berjalan memasuki taman itu.
Baik di bagian samping kiri dan kanan ataupun di bagian atas semuanya dipenuhi bunga bougenville. Pagar yang menyerupai pintu dipenuhi bunga bougenville yang melilit pada pagar besi berwarna putih bersih. Aku terus berjalan mengikuti langkah Kyo tanpa sedikit pun mengalihkan tatapan dari bunga-bunga yang memanjakan indera penglihatanku itu.
Hingga kami tiba di sebuah tempat yang terletak di tengah-tengah taman bougenville ini. Di sini sangat teduh dan nyaman. Ada kursi yang mengelilingi tempat yang aku sebut saja sebuah pavilliun. Mataku masih tak dapat berpaling sedetik pun dari banyaknya bunga bougenville di taman ini.
“Indah sekali, banyak sekali bunganya.”
“Ya, tempat ini memang indah,” jawab Kyo yang sedang menatap bunga-bunga bougenville sama sepertiku.
“Kenapa di sini hanya ada bunga bougenville?” Aku menelisik sekitar taman dan memang kupastikan tak ada bunga lain yang tumbuh di sini selain bougenville.
“Ya, karena tempat ini bougenville garden.” Kyo duduk di kursi, aku pun mengikutinya.
“Aku tidak tahu ada tempat seindah ini. Terima kasih sudah mengajakku kemari, Kyo.” Kyo hanya terdiam, dia sama sekali tidak menanggapi ucapanku. Terlihat raut sedih di wajahnya, entah apa yang dia pikirkan saat ini? Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.
“Tempat ini merupakan tempat kesayangan ibuku. Ibu sangat menyukai bunga bougenville. Sebenarnya ayahku sengaja membangun taman ini untuk ibu. Dulu ketika aku masih kecil, ibu sering sekali mengajakku ke tempat ini. Taman ini menyimpan banyak kenangan tentang ibu. Karena itu semenjak ibu meninggal, tempat ini menjadi tempat kesayanganku.”
Aku terperanjat mendengar cerita Kyo, aku baru mengetahui bahwa ibu Kyo sudah meninggal. Itu artinya dia sama denganku. Ayahku pun sudah meninggal.
“Kapan ibumu meninggal, Kyo? Maaf aku tidak tahu ibumu sudah meninggal,” ucapku tulus, sekarang aku mulai memahami makna dari raut wajahnya yang terlihat sedih itu.
“Ketika aku berusia 11 tahun. Ibu sangat lemah, dia mengidap penyakit kanker. Aku ingat tubuh ibu sangat kurus dan wajahnya pucat. Sering sekali aku melihatnya terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur. Aku bahkan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri ketika ibu mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Ibu selalu terlihat menderita karena itu aku tidak ingin melihat orang lain menderita seperti ibu karena penyakit kanker yang mereka derita.”
Kyo tiba-tiba menjeda ucapannya. Dia menundukan kepala dan kembali berkata, “Kau tahu. Hanna, dulu aku sempat berpikir ingin menjadi seorang dokter agar bisa mengobati orang-orang yang menderita penyakit kanker seperti ibuku.”
Aku hanya terdiam mendengarkan curahan hati Kyo. Di balik sosoknya yang selalu terlihat kuat, inilah pertama kalinya aku menyadari dia memiliki sisi yang rapuh.
“Tapi aku segera melupakan keinginan itu, aku tahu keinginanku itu sesuatu yang sangat mustahil untukku.”
“Kenapa mustahil? Tentu saja kau bisa mewujudkan keinginanmu itu, Kyo,” ujarku antusias. Aku tidak ingin dia menyerah pada impiannya.
“Ayahku pasti tidak akan mengizinkan.”
“Kenapa? Bukankah menjadi dokter itu pekerjaan yang mulia? Seharusnya ayahmu bangga.”
Kyo mendengus, aku jadi penasaran ada apa dengan ayahnya?
“Ayahku selalu ingin menjadikan aku sebagai penerusnya. Aku ini anak tunggal jadi hanya aku yang bisa menjadi penerus ayah.”
“Tapi bukan berarti kau harus menyerah pada impianmu. Jika kau menjelaskannya pada ayahmu, aku yakin dia akan mengerti.”
Kyo tersenyum mendengar perkataanku. “Jangan samakan ayahku dengan orang tua normal yang akan mendukung keinginan anaknya. Ayahku sangat keras, tidak ada seorang pun yang berani melawan keinginannya. Selain itu, perlu kau tahu alasan ibuku menyukai bunga bougenville.”
“Memang ada alasannya? Aku pikir karena indah makanya ibumu menyukainya,” tanyaku mulai penasaran.
“Ibu selalu merasa hidupnya mirip dengan bunga bougenville. Mekar dengan berwarna-warni, sangat indah. Memanjakan setiap mata yang memandangnya. Tanpa mereka ketahui dibalik keindahannya bunga itu sangat rapuh. Bougenville ... bunga yang indah tapi sangat rapuh. Mudah sobek dan layu. Seperti halnya ibuku, dia terlihat ceria padahal sebenarnya dia sangat menderita. Bukan hanya karena penyakitnya, tapi ibu sangat menderita karena perlakuan suaminya. Ibu tidak bisa melawan sedikit pun keinginan suaminya, dia selalu memendam keinginannya sendiri dan hanya memenuhi dan menuruti perintah suaminya. Ibu hidup bagai di dalam sangkar emas, begitu pun denganku. Hidupku tidak jauh berbeda dengan ibu. Karena itu, sama seperti ibu, aku juga sangat menyukai bougenville karena bunga itu serupa dengan kehidupanku dan ibu.”
Inilah pertama kalinya aku melihat Kyo seperti ini. Aku bahkan tidak menyadari selama ini dia memendam kesedihan sebesar ini padahal aku sudah cukup lama bersamanya. Bahkan setiap hari aku menghabiskan waktu bersamanya.
“Sama seperti ibu, aku juga tidak memiliki keberanian untuk melawan ayah. Kau tidak bertanya ke mana aku pergi ketika tidak masuk sekolah selama dua minggu?”
Sebenarnya aku memang penasaran akan hal itu, tapi aku selalu mengurungkan niat untuk menanyakannya.
“Sebenarnya aku selalu ingin menanyakannya padamu, tapi aku pikir mungkin kau ada urusan pribadi yang sangat penting,” jawabku mengutarakan alasan tidak menanyakan hal itu padanya.
“Aku pergi menemani ayah. Untuk bertemu dengan rekan-rekannya. Aku tidak berani melawan ayah sedikit pun, Hanna. Sekarang kau mengerti kan kenapa aku merasa keinginanku untuk menjadi dokter itu mustahil?”
“Tidak. Aku tetap tidak setuju dengan pemikiranmu.” Aku menyahut dengan tegas. “Bahkan batu sekeras apa pun dapat berlubang jika air terus menetesinya. Jangan menyerah, Kyo. Aku yakin jika kau tidak menyerah pada impianmu maka jalan untuk mewujudkannya akan terbuka untukmu. Aku percaya suatu hari nanti ayahmu akan mengerti dan mendukung keinginanmu. Kau tidak sendirian, Kyo, aku akan selalu mendukungmu. Jadi berjanjilah kau tidak akan menyerah dengan impianmu.”
Tiba-tiba Kyo menarik tubuhku dan memelukku dengan erat.
“Terima kasih Hanna. Berkat kau, aku merasa tidak kesepian lagi. Kau sangat mirip dengan ibu. Dia juga sangat baik hati sepertimu. Hanya dia yang selalu mendukungku selama ini. Semenjak dia meninggal, aku merasa kesepian, tapi sekarang tidak lagi karena ada kau di sampingku.”
Aku membalas pelukan Kyo seerat yang kubisa. “Jadi, ibumu juga mendukung impianmu ini, kan?”
“Ya,” sahutnya. “Ibu selalu menyemangati aku.”
“Kalau begitu kau memang tidak boleh menyerah. Demi mendiang ibumu dan aku, kau harus berjanji akan memperjuangkan impianmu itu. Jangan menyerah, aku percaya kau pasti bisa mewujudkannya.”
Kurasakan Kyo mengangguk dalam pelukanku. “Aku berjanji akan memperjuangkan impianku, aku tidak akan menyerah.”
Aku sangat senang mendengarnya, aku ikut menganggukkan kepala dalam pelukannya, memberinya isyarat bahwa aku menyetujui dan sangat mendukung keputusannya ini.
Kyo melepaskan pelukannya, lalu ...
Hal yang beberapa hari terjadi di kamarku kini terjadi di bougenville garden ini. Kyo menciumku dengan lembut. Ciuman yang terasa hangat dan lembut perlahan menjadi menuntut sehingga membangkitkan gairah terpendam kami. Di sini tak ada siapa pun selain kami berdua dan dengan disaksikan banyak bougenville di taman ini, kami pun mengulangi kesalahan yang sama padahal masalah pil yang belum sempat kuminum saja belum kuceritakan padanya.
Hah, katakan aku bodoh, tapi godaan Kyo … aku tak pernah bisa melawannya.