Janji Untuk Selalu Bersama

1776 Kata
Hal yang membuatku membuka mata karena semilir angin menerpa kulit polosku yang tak tertutupi sehelai benang pun, meski begitu aku tak merasa kedinginan karena kedua tangan Kyo tengah memelukku dengan posesif. d**a bidangnya kujadikan sebagai bantalan, rasanya sangat nyaman sehingga entah sudah berapa lama kami tertidur di pavilliun ini. Hanya dengan beralaskan jaket Kyo yang kami jadikan untuk tidur dan jaketku yang dijadikan selimut untuk menutupi tubuh kami yang sama-sama tak mengenakan busana. Aku mengembuskan napas pelan, lagi-lagi kesalahan yang sama telah kami lakukan, padahal masalah yang kemarin saja belum selesai, kini bertambah dengan kejadian hari ini, aku semakin dilanda ketakutan. Bagaimana jika sesuatu yang tidak kami harapkan terjadi padaku? Bagaimana jika aku hamil? Dengan cepat aku menggelengkan kepala untuk menampik pemikiran itu dan mungkin karena gerakan mendadakku itu, membuat Kyo terbangun karena kedua matanya yang sejak tadi terpejam kini perlahan mulai bergerak hinggaa akhirnya terbuka dengan sempurna. Dia tersenyum saat mata kami saling beradu pandang. “Kau sudah bangun?” tanyanya. Aku mengangguk. “Ya. Kyo, seharusnya kita tidak melakukan ini, kan? Kesalahan seperti ini seharusnya tidak perlu terulang lagi. Kenapa kita melakukan ini lagi?” “Kesalahan?” Satu alis Kyo terangkat naik saat berkata demikian seolah dia tak suka karena aku menyebut apa yang kami lakukan ini sebagai sebuah kesalahan. “Ya, ini kesalahan. Tidak seharusnya kita melakukannya karena kita bahkan belum lulus sekolah.” Kyo mendengus. “Memang apa masalahnya kalau kita belum lulus sekolah? Toh, pasangan lain juga banyak yang melakukan apa yang kita lakukan ini di usia yang bahkan lebih muda dari kita. Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir, Hanna. Ini zaman yang sudah modern jadi apa yang kita lakukan ini sesuatu yang wajar dilakukan pasangan kekasih.” Aku mengerutkan wajah, begitukah pemikiran Kyo? Jujur aku kecewa karena aku tak sependapat dengannya. Aku tetap menganggap ini sebagai kesalahan yang tidak seharusnya dilakukan oleh kami. Setidaknya ini belum saatnya, kami masih berstatus sebagai pelajar, yang terpenting kami juga belum menikah. Ibu pasti sangat kecewa jika mengetahui apa yang sudah kulakukan ini. Aku seperti sudah mengkhianati kepercayaannya. Aku yang sedang melamun ini tersentak kaget karena merasakan usapan lembut di wajahku, tentu saja pelakunya adalah Kyo. “Kau kenapa jadi diam begini, hm? Apa yang sedang kau pikirkan, Hanna?” Dia bertanya sambil menatapku lekat. Kurasa ini saat yang tepat untuk mengutarakan apa yang mengganggu pikiranku beberapa hari ini. Sesuatu yang membuatku sangat takut jika memikirkannya. “Sebenarnya ada masalah yang sedang kita hadapi, Kyo.” “Masalah?” “Ya,” sahutku cepat. Aku pun menundukan kepala karena tak berani menatap wajahnya, aku takut dia akan memarahiku jika kuceritakan kecerobohan apa yang sudah kulakukan. “Memangnya ada masalah apa? Ceritakan padaku.” “Pil pencegah kehamilan yang kau berikan padaku waktu itu … aku belum meminumnya.” “Oh, ya? Kenapa kau tidak langsung meminumnya?” Tanpa ragu kuceritakan kejadian yang terjadi saat itu di mana gara-gara aku yang ceroboh menyimpan pil di bungkus snack yang sedang kumakan sehingga ibu pun membuangnya. “Maaf ya, Kyo. Aku benar-benar ceroboh,” ucapku disertai kedua mata yang berkaca-kaca. Kupikir Kyo akan memarahiku, tapi yang terjadi justru suara tawanya kini mengalun. “Aku pikir ada masalah apa, ternyata hanya hal sepele seperti itu. Sudahlah, Hanna, ini masalah kecil, kau tidak perlu sampai ketakutan begitu.” “Masalah kecil?” gumamku mengulangi perkataannya. “Ini masalah serius, Kyo. Aku tidak langsung meminum pil itu padahal sangat penting untukku. Bagaimana jika aku hamil karena tidak meminumnya? Aku takut sekali, Kyo. Sungguh aku takut.” Air mataku kini berjatuhan, refleks kututup kedua mata dengan telapak tanganku. Aku tak ingin Kyo melihat air mataku ini. Namun, kurasakan Kyo memelukku dengan erat, dia juga mengecup puncak kepalaku berulang kali. “Sudahlah, Hanna. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Memangnya kenapa jika kau hamil?” Ucapannya itu refleks membuatku menyingkirkan kedua tangan dari mataku. Aku menatapnya tak percaya karena dia bicara seenteng itu. “Tentu saja itu akan jadi masalah yang serius kalau aku sampai hamil, Kyo.” “Menurutku bagus kalau kau hamil.” Kedua mataku melebar sempurna, benar-benar tak percaya dengan jalan pikirannya. “Dengan begitu aku bisa secepatnya menikahimu.” Kali ini aku tertegun mendengar kelanjutan ucapannya. “Tidak ada alasan lagi untuk menunda pernikahan kita jika kau sedang mengandung anakku. Benar, kan?” “Tapi sekolah kita, bagaimana?” Kyo terkekeh. “Masa bodoh dengan sekolah. Aku tidak peduli.” “Kita mungkin akan dikeluarkan dari sekolah.” “Aku sudah bilang tidak peduli. Walau tidak lulus sekolah, aku masih bisa menghidupi kita bertiga. Aku, kau dan bayi kita. Percayalah padaku, jadi tidak ada yang perlu kau takutkan.” Ucapan Kyo terdengar sangat meyakinkan, tapi benarkah akan semudah itu hidup kami seperti yang dia katakan jika benar aku sampai hamil dan menikah muda dengannya? Melihat aku yang masih melamun dan meragukan perkataannya, Kyo mengusap-usap puncak kepalaku dengan lembut. “Sudah, Hanna. Berhenti berpikir yang tidak-tidak. Lagi pula, belum tentu kau akan hamil. Jangan terlalu mudah menyimpulkan, Ok? Kalau kau hamil pun itu bukan masalah, aku pasti akan bertanggungjawab.” “Benar kau akan bertanggungjawab?” tanyaku memastikan sekali lagi. Kyo memutar bola mata. “Kau pikir aku bohong? Ternyata kau masih tidak percaya padaku, ya?” “Bukan begitu, aku hanya takut semua tidak semudah seperti yang kau katakan tadi.” Kyo mengulas senyum yang sangat menenangkan, dia juga kembali memelukku erat. “Jangan banyak berpikir. Kau cukup percaya saja pada semua yang kukatakan. Semua pasti baik-baik saja.” Aku memejamkan mata, dan sepertinya aku akan mempercayai perkataannya. “Baik, aku percaya padamu. Tapi agar aku tenang, berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkanku, Kyo. Kau akan selalu bersamaku dalam kondisi apa pun. Kita akan selalu bersama seperti ini selamanya.” “Tentu saja, aku janji,” sahutnya cepat dan tanpa keraguan. Keraguan dan rasa takutku sirna sepenuhnya. Aku merasa tenang sekarang dan aku pun membalas pelukannya beserta air mataku yang berganti menjadi senyuman. Selama ada Kyo di sampingku, tidak ada yang perlu kutakutkan. Ya, aku harus percaya padanya. *** Setelah menghabiskan waktu cukup lama di bougenville garden, Kyo mengantarkanku pulang. Namun, sesampainya di rumah, aku dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang mengerikan. Pagar rumah terbuka lebar, selain itu pintu rumah pun dalam keadaan terbuka. Aku segera masuk ke dalam rumah diikuti Kyo di belakangku. Keadaan di dalam rumah sangat berantakan seakan-akan baru saja ada orang yang mengubrak-abrik rumahku. Aku semakin takut, tubuhku gemetaran ketika kulihat ibu tergeletak di lantai dengan keningnya yang berdarah. Dia kehilangan kesadarannya. Aku hanya berdiri menatap ibu, tidak sanggup memercayai apa yang aku lihat ini. Mengapa ada orang yang tega melakukan ini? Mungkinkah perampok telah memasuki rumah ketika aku sedang bersama Kyo di bougenville garden? “Hanna, kita harus segera membawa ibumu ke rumah sakit. Cepat hubungi taksi!” teriak Kyo. “Kenapa kita tidak menelepon rumah sakit meminta ambulan datang ke rumahku saja?” ucapku memberi saran. “Terlalu lama menunggu ambulan datang. Entah apa yang mereka lakukan pada ibumu. Kita harus segera memeriksakannya.” Aku pun segera menuruti perkataan Kyo. Setelah sebuah taksi datang, kami bergegas memasukkan tubuh ibu ke dalam mobil. Taksi yang kami tumpangi melaju dengan cepat membawa kami menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, pihak rumah sakit bergerak cepat menangani ibu. Tubuhku masih gemetaran bahkan ketika kutatap ibu masuk ke dalam ruang UGD. Kyo memelukku dengan erat sambil mengelus lembut kepalaku mencoba untuk menenangkan. “Ibumu pasti baik-baik saja.” Aku hanya menganggukkan kepala dalam pelukan Kyo. “Kenapa perampok itu tega menyakiti ibuku?” “Entahlah, mungkin ibumu berusaha melawan perampok itu,” jawab Kyo mencoba mengutarakan pemikirannya. Tak lama kemudian, seorang dokter dan perawat keluar dari ruang UGD di mana ibu dirawat. Aku dan Kyo segera menghampirinya. “Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” tanyaku panik. “Pasien mengalami pukulan yang keras di keningnya dan menyebabkan gegar otak ringan. Tapi anda tidak perlu khawatir, pasien baik-baik saja. Sebentar lagi beliau akan sadar.” Kelegaan tak terkira kurasakan saat ini. Aku bersyukur karena luka ibu tidak terlalu parah. “Silakan kalian menemui pasien,” kata dokter itu sebelum pergi meninggalkan kami. Dengan ditemani Kyo, aku pergi ke ruang UGD untuk melihat keadaan ibu. Air mata tak hentinya mengalir ketika kutatap ibu terbaring lemah di atas tempat tidur berwarna putih dengan perban yang melilit keningnya. Aku memegangi tangan ibu yang terasa sangat lemas. Kyo mencoba menenangkanku dengan mengusap lembut punggungku. Drrrrrt ... Drrrrrt ... Drrrrrt ... Sebuah bunyi getaran terdengar. Aku tahu suara itu berasal dari ponsel Kyo karena kini dia sedang memegang ponselnya. “Maaf, Hanna. Aku keluar sebentar,” ucapnya yang kujawab dengan sebuah anggukan. Cukup lama waktu berlalu semenjak Kyo keluar untuk menerima telepon dan dia masih belum kembali. Aku sangat heran karena itu aku pergi keluar untuk melihat keadaannya. Aku melihat Kyo sedang duduk di kursi tunggu, aku pun menghampirinya. “Kyo sedang apa di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam?” tanyaku. Aku ikut duduk di sampingnya. “Tidak apa-apa, bagaimana ibumu? Apa dia sudah siuman?” Aku menggelengkan kepala menanggapi pertanyaannya. “Kau tidak perlu khawatir, ibumu pasti akan baik-baik saja.” “Iya, terima kasih Kyo. Beruntung ada kau. Jika aku sendirian mungkin aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika melihat ibu tergeletak di lantai. Aku sangat takut, aku tidak bisa berpikir.” “Aku mengerti perasaanmu. Oh, iya. Hanna, bagaimana latihan karatemu?” Aku terkejut tiba-tiba dia menanyakan hal itu. Tentu saja aku tetap menjawabnya. “Baik-baik saja. Ada beberapa jurus yang sudah aku kuasai. Aku juga sudah berteman dekat dengan Kaori. Dia sangat baik, aku senang bisa berteman dengannya.” Kyo tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatapku dengan tajam. “Baguslah, kau harus giat berlatih. Kau harus jadi wanita kuat agar kau bisa melindungi dirimu sendiri dan ibumu.” Keningku mengernyit mendengar ucapannya ini. “Apa maksudmu? Aku punya pelindung sepertimu, jadi tidak akan ada yang berani menyakiti atau menggangguku lagi.” Sekali lagi Kyo hanya terdiam sambil memandangku tajam. “Oh, iya. Hanna, karena ibumu sudah baik-baik saja, aku pulang dulu, ya.” Aku terkesiap mendengar ucapannya. Aku tidak menyangka dia akan pulang di saat ibu masih belum sadarkan diri. Namun, aku memahami Kyo pasti sangat lelah hari ini. Dia juga pasti sama terkejutnya denganku setelah melihat kejadian ini. “Baiklah. Kau pulanglah, Kyo. Terima kasih untuk hari ini. Aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu,” balasku yang ditanggapi sebuah anggukan olehnya. “Selamat tinggal, Hanna,” ucapnya sesaat sebelum dia melangkahkan kaki meninggalkanku. Entahlah aku merasakan sesuatu yang aneh dengan sikap Kyo, tidak biasanya dia mengucapkan ‘selamat tinggal’, bukankah seharusnya dia mengatakan ‘sampai jumpa’? Aku yakin ini hanyalah perasaanku. Aku tepis semua pemikiran aneh ini, lalu aku kembali memasuki ruang UGD untuk menemani ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN