Dia Mengabulkannya

1643 Kata
Hingga kini aku masih tidak mempercayai kejadian semalam. Masih bagaikan sebuah mimpi bagiku, hubunganku dengan Kyo kini sudah berubah. Dia bukan lagi hanya sekedar seseorang yang berbaik hati menawarkan diri menjadi pelindungku, melainkan kini dia adalah pacarku. Senyumanku tersungging dengan sendirinya setiap kali mengingat hal itu. Aku ingin segera bertemu dengannya, tapi aku masih harus bersabar karena besok tepatnya aku bisa kembali bertemu dengannya. Di hari minggu ini, aku putuskan untuk berhenti sejenak membaca buku pelajaran. Ada hal lain yang ingin aku lakukan, dan di sinilah aku berada sekarang. Di sebuah tempat yang tidak terlalu luas di mana di dalamnya dipenuhi dengan perlengkapan memasak. Ya, aku sedang berada di dapur. Aku teringat Kyo pernah memintaku untuk membawakan bekal makan siang untuknya, tentunya bekal makan siang yang aku siapkan sendiri. Karena itulah hari ini kuputuskan untuk menghabiskan waktu dengan belajar memasak. “Hanna, tumben sekali pagi-pagi begini sudah di dapur?” tanya ibu yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, tentu saja suaranya itu membuatku terkesiap, terkejut bukan main. “I-Ibu, selamat pagi. Hari ini aku yang akan menyiapkan sarapan kita. Boleh, kan, Bu?” tanyaku sambil menundukan kepala. Tampaknya ibu merasa heran karena memang tidak biasa aku menawarkan diri untuk menyiapkan sarapan. Ibu memicingkan mata penuh curiga sambil memiringkan kepala menatapku, sebelum tiba-tiba dia terkekah dan berkata, “ Tentu saja boleh,” ucapnya sambil tangannya mengelus lembut punggungku. Ibuku orang yang sangat ramah dan baik. Dia juga selalu tersenyum meskipun aku tahu beban yang ditanggungnya sangat berat. Semenjak ayah meninggal, ibulah yang mencari uang untuk menghidupi kami. Sering sekali ibu harus lembur di tempat kerjanya padahal terlihat jelas raut kelelahan di wajahnya. Aku ingin sekali bisa segera lulus sekolah dan bekerja, untuk menggantikan ibu mencari uang. “Waah, telur dadar buatanmu ini enak sekali, Hanna.” Ibu mengatakan itu setelah mencicipi telur dadar buatanku yang sudah terhidang di atas meja makan. Mendengar ibu memuji, aku merasa tidak ragu lagi untuk membuatkan Kyo bekal makan siang. Ibu mengatakan masakanku enak, tentu aku berharap Kyo akan mengatakan hal yang sama. “Ternyata putri ibu sudah pandai memasak, ya.” Ibu kembali memujiku yang sukses membuatku tersipu malu sekaligus sangat senang dan percaya diri untuk membuatkan bekal makan siang besok untukku dan Kyo. “Tidak sepandai ibu,” jawabku. Tentu saja aku mengatakan yang sebenarnya karena keahlian memasakku belum seberapa jika dibandingkan dengan ibu. Salah satu yang membuatku kagum dan salut pada ibu adalah kemampuan memasaknya yang luar biasa. Rasa makanannya tidak pernah mengecewakanku. “Ibu tidak menyadari kau sudah dewasa.” Aku hanya menyunggingkan senyuman. Tak berapa lama, aku pun menyelesaikan aktivitas memasak. Memang tidak banyak yang aku masak, hanya membuat nasi goreng, telur dadar dan menggoreng sedikit kerupuk. Dalam keheningan ... aku dan ibu melahap sarapan kami. “Bagaimana sekolahmu, Hanna?” Ibu memulai pembicaraan dan memecah keheningan di antara kami. “Baik-baik saja, Bu. Oh, iya, mulai besok ibu tidak perlu menyiapkan bekal makan siangku lagi, ya.” Ibu terbelalak mendengarnya, lagi-lagi ucapanku membuatnya heran dan terkejut. “ Lho kenapa?” tanya ibu, meminta penjelasan. “Aku sendiri yang akan menyiapkannya.” “Kenapa? Tumben sekali? Apa kau sudah bosan masakan ibu?” Dengan cepat kugelengkan kepala sebagai bantahan. “ T-tentu saja tidak, Bu. Aku sangat menyukai masakan Ibu. Hanya saja ...” ucapanku terhenti, aku nyaris mengatakan bahwa aku ingin menyiapkan sendiri bekal makan siang untuk Kyo. Aku ragu, haruskah mengatakannya pada ibu? “Hanya saja ... kenapa Hanna?” Namun, pertanyaannya membuatku mengambil keputusan untuk menceritakan semua yang terjadi pada ibu. Aku pikir tidak seharusnya merahasiakan hal ini dari ibu, setelah semua hal di sekolah yang selama ini aku sembunyikan darinya. Sekarang aku gugup bukan main, tak berani menatap wajah ibu yang tatapannya menyiratkan sangat menantikan jawabanku, aku pun menundukan kepala. “S-sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan pada Ibu. A-aku sudah memiliki pacar sekarang, Bu. Aku ingin menyiapkan sendiri bekal makan siang untuknya.” Aku benar-benar malu menceritakan hal ini meskipun pada ibuku sendiri. Tak terdengar suara ibu menyahuti sehingga kuberanikan diri mengangkat kepala dan menatap wajahnya. Kupikir ibu akan melarangku, tapi wajahnya itu terlihat begitu sumringah dan tiba-tiba saja dia mengulas senyum lebar. “Hoo, begitu. Pantas saja tumben sekali pagi-pagi kau sudah memasak. Jadi kau sedang latihan, ya?” kata ibu dengan nada mengejek, membuatku merasa semakin malu. “B-begitulah. Ibu tidak melarangku berpacaran, kan?” Ibu terkekeh sambil mengibaskan tangan sebagai respons. “Tentu saja tidak, wajar saja di usiamu sekarang ini kau mulai berpacaran. Ternyata kau memang sudah dewasa, ya.” “T-tidak kok, Bu.” “Masakanmu enak kok, Ibu yakin dia akan menyukainya.” Tanpa sadar aku mengulas senyum. “Iya, semoga saja,” ujarku sambil kembali melahap makananku yang belum habis. Ibu pun kembali melahap makanannya. Aku sangat beruntung memiliki ibu sebaik ibuku, dia selalu mendukung apa pun keputusanku. “Oh, iya. Hanna, pacarmu itu pria seperti apa?” Aku nyaris tersedak makanan yang sedang kukunyah begitu mendengar pertanyaan ibu. Haruskah kuceritakan sosok Kyo pada ibu? Akan bagaimana tanggapannya jika mengetahui pria seperti apa Kyo? Tiba-tiba saja aku jadi gugup dan takut. Sempat berpikir untuk tidak menceritakan tentang Kyo di depan ibu, tapi aku tahu itu percuma. Ibu tipe orang yang akan terus melontarkan pertanyaan yang sama jika aku tak memberikan jawaban. Aku pun mengembuskan napas pelan, mau tak mau harus kuceritakan sedikit tentang Kyo pada ibu agar dia tidak merongrongku dengan pertanyaan yang sama. “D-dia ... sangat tampan. Dia juga sangat populer di sekolah, hampir semua siswa wanita di sekolah mengidolakannya.” Kedua mata ibu terbelalak sempurna. “Benarkah? Hebat sekali kau bisa memiliki pacar sepopuler itu. Tapi kau harus berhati-hati, jangan biarkan ada wanita lain mendekatinya.” Aku tidak menyangka ibu akan menasihatiku seperti ini, tapi syukurlah dia tak menanyakan hal yang lain tentang Kyo. Tanpa ragu aku mengangguk setuju. “Tentu saja, Bu. Lagi pula, aku menyukainya bukan karena kepopulerannya. Dia sangat baik dan sering membantuku. Bahkan berkat dia aku semakin betah menuntut ilmu di sekolah.” Setelah itu, aku menceritakan semua kebaikan Kyo tanpa sedikitpun menceritakan keburukannya. Rasanya belum tiba saatnya ibu mengetahui di balik ketampanan dan kepopuleran Kyo, dia pun memiliki penampilan yang urakan dengan rambutnya yang dicat merah. Aku takut ibu akan melarangku berpacaran dengannya terutama jika ibu mengetahui dia sering melanggar peraturan sekolah. Mungkin suatu saat aku akan menceritakan keburukan Kyo pada ibu, tapi bukan sekarang. “Hm, baguslah. Ibu senang kau sudah menemukan pria yang kau sukai, dan dia juga bisa menjagamu. Ibu jadi tenang mendengarnya. Lain kali ajak dia main ke rumah ya, ibu ingin bertemu dengannya.” Aku hanya mengangguk, mungkin saat itulah ibu akan mengetahui penampilan Kyo tanpa perlu aku katakan padanya. Ketika nanti aku mengajak Kyo ke rumah. *** Senin yang panjang dimulai, seperti biasa aku berangkat pagi setelah sebelumnya mempersiapkan bekal makan siang untukku dan Kyo. Sudah kuputuskan untuk menunggu Kyo di depan gerbang. Sesampainya di sekolah, setelah menaruh tas di kelas, aku pun berdiri di dekat gerbang untuk menunggu kedatangan Kyo. Aku menyandarkan punggung pada dinding tak jauh dari gerbang utama sekolah. Banyak siswa yang mulai berdatangan, aku memperhatikan mereka satu per satu, tapi tak ada sosok Kyo di antara mereka. Awalnya, aku biasa saja, tapi lama-kelamaan mulai gelisah karena sosok Kyo tak kunjung datang. Jangan katakan dia kembali datang terlambat hari ini atau jangan-jangan dia tidak masuk sekolah hari ini? Jika benar dia tidak masuk sekolah, itu pasti sangat mengecewakan mengingat aku sudah bersusah payah menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Aku juga terlalu merindukannya, tak tahan lagi ingin bertemu dengannya dan memastikan hubungan kami yang sekarang merupakan sepasang kekasih bukan sebuah mimpi, melainkan kenyataan. “Hei, sedang apa kau berdiri di sana?” Di tengah-tengah kegelisahanku, sebuah suara terdengar dari arah belakang. Bukan suaranya yang tiba-tiba terdengar yang membuatku terkesiap, tapi karena aku yakin sangat mengenal suara ini. Aku pun segera menoleh ke arah sumber suara itu. Dia sedang berdiri di depanku dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Terlihat tampan dan gagah seperti biasa. Detik itu juga jantungku berdetak sangat cepat. “K-kau sudah datang, Kyo?” Jangan lupakan kegugupan yang mendadak kurasakan. Ya, si pemilik suara yang mengejutkanku itu adalah Kyo yang entah kapan datang ke sekolah sehingga tiba-tiba muncul dari arah belakang. “Tentu saja aku sudah datang dari tadi. Justru kau yang nyaris terlambat.” Aku tak sanggup menahan rasa senang ini, dia mengabulkan permohonanku agar tak lagi datang terlambat ke sekolah. Tiba-tiba saja kedua mataku memanas, air mata memberontak meminta pembebasan. Sungguh air mata ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata karena terlalu bahagia melihat Kyo mau mengabulkan salah satu permohonanku. Kyo membungkukan badan untuk menyamakan tinggi badan kami yang memang berbeda jauh. Tubuh Kyo sangat tinggi, tinggiku hanya mencapai bahunya. “Hei, apa kau menangis?” tanyanya. Dia mengulurkan satu tangan yang mendarat di salah satu pipiku. “Ya ampun, kenapa kau menangis? Aku sengaja datang cepat hari ini karena tidak ingin terlambat. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Aku juga sudah memikirkannya semalam, dan sepertinya aku akan mengabulkan semua permohonanmu.” “Benarkah?” Kyo menganggukkan kepala. “Ya, aku sudah memutuskannya semalam.” Air mata yang sempat kutahan ternyata tak terbendung lagi sehingga berjatuhan dengan sendirinya. “Kyo, terima kasih. Aku senang sekali.” Aku menutup wajah dengan kedua tangan, rasanya malu Kyo melihatku yang menangis bagai orang bodoh dan cengeng seperti ini. Kupikir, Kyo akan mengejekku seperti biasa, tapi tindakannya setelah itu benar-benar membuatku tercengang. Tiba-tiba saja dia menarik tanganku dan membenamkan tubuhku dalam pelukan hangatnya. “Aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu senang. Aku sayang sekali padamu, Hanna.” Mendengar ucapannya itu, tanpa sadar aku membalas pelukannya, meskipun saat ini aku sadari semua pasang mata tengah menatap ke arah kami. Bahkan aku yakin semua siswa wanita yang melihat kami, kini sangat iri padaku. Aku tak peduli apa pun tanggapan mereka karena yang ingin kulakukan hanyalah memeluk pria yang telah resmi menjadi kekasihku ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN