Hubungan Yang Terungkap

1425 Kata
Aku tahu seharian ini semua pasang mata selalu tertuju padaku, tidak hanya di luar kelas, melainkan di dalam kelas juga. Penyebab hal seperti ini bisa menimpaku tidak lain karena aku dan Kyo yang berpelukan di dekat gerbang. Kuakui itu kesalahan, tidak seharusnya kami mempertontonkan kemesraan di tempat umum di mana semua orang bisa menyaksikannya. Ini sebuah kecerobohan fatal yang telah aku dan Kyo lakukan, sekarang mau bagaimana … semua orang pasti mencurigai ada sesuatu dengan hubungan kami. Namun, tadi aku tidak bisa menahan diri. Aku terlalu senang mendengar Kyo yang bersedia mengabulkan semua permintaanku. Walau aku tak menyangka Kyo akan memelukku seperti itu. Jika mengingat kejadian tadi tiba-tiba saja senyuman terulas di bibirku. Bisa dikatakan tadi itu pertama kalinya kami berpelukan semenjak meresmikan hubungan kami. Saat ini, aku sedang berada di kelas, mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. Meskipun fokusku tertuju sepenuhnya ke arah depan, pada papan tulis lebih tepatnya, tapi aku tahu persis teman-temanku secara diam-diam terus melirikku. Mereka akan membuang muka saat aku tanpa sengaja menatap ke arah mereka juga. Hah, sudah bisa kuperkirakan, jika kelas ini bubar, mereka akan mengerumuniku dan merongrongku dengan banyak pertanyaan. Yang kulakukan sekarang hanyalah mencoba mengabaikan mereka dan tetap fokus pada pelajaran bahasa Inggris yang sedang disampaikan Pak Tanaka. Hal yang sudah kuprediksi benar-benar terjadi ketika bel istirahat akhirnya berbunyi. Begitu Pak Tanaka keluar dari kelas, seketika mejaku yang kosong kini dikelilingi teman-temanku. “Hanna, ceritakan pada kami. Ada apa antara kau dan Kyo?” “Hanna, tadi aku lihat kau dan Kyo berpelukan mesra sekali di depan gerbang. Kenapa bisa begitu? Apa kalian pacaran sekarang?” “Ayo Hanna jelaskan pada kami.” “Iya, kami penasaran sekali ini.” Aku hanya mengembuskan napas pelan, suara teman-temanku terus mengalun memekakan telinga. Mereka bicara secara bersamaan membuatku pusing saat mendengarnya. “Hanna, jangan diam saja. Ayo cerita.” “Benar ya kau dan Kyo sekarang pacaran?” Mereka terus mendesakku agar bicara, bahkan ada di antara mereka yang mengguncang tubuhku, mungkin gemas karena aku terus terdiam. “Hm, teman-teman. Maaf ya aku harus pergi.” Aku berpamitan karena tak tahan lagi dengan mereka yang terus memaksa. Aku berencana menemui Kyo dan mengajaknya makan bersama di tempat favorit kami. Aku sudah tidak sabar ingin dia mencicipi makanan buatanku dan melihat bagaimana reaksinya. Aku berniat bangun, tapi belum sempat berdiri dari kursi, salah seorang temanku mendorong bahuku dengan kasar hingga aku pun kembali duduk. “Heh, mau ke mana kau? Kau belum menjawab pertanyaan mereka?” Itu suara Akemi, dia juga yang tadi mendorongku dengan kasar. Orang yang selalu memusuhiku itu kini menatap begitu tajam padaku disertai kedua tangannya yang bertolak pinggang dengan angkuh. “Apa susahnya menjawab pertanyaan mereka? Ada hubungan apa antara kau dengan Kyo sampai berani mengumbar kemesraan di depan umum?” Aku rasanya ingin membalas ucapan Akemi, tapi di sisi lain aku takut jika melakukan tindakan nekat seperti itu akan memicu terjadinya pertengkaran di antara kami. Kami sedang berada di kelas dan disaksikan seluruh teman sekelas, aku tidak ingin menimbulkan keribuatan di sini. Aku pun memilih mengalah, aku kembali berniat bangun tapi kali ini Akemi kembali melakukan tindakan kasar dengan menekan kedua bahuku pada kursi dengan kedua tangannya sehingga aku tak bisa beranjak ke mana pun. “Lepaskan aku, Akemi,” pintaku dengan nada ketus. “Kau tidak boleh pergi sebelum menjelaskan semuanya pada kami! Ada hubungan apa antara kau dengan Kyo sekarang, hah?!” Akemi membentak dengan suara yang amat keras, refleks aku meneguk ludah karena melihat dari wajahnya yang memerah, aku tahu persis dia serius sedang dilanda amarah. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Benarkah harus kukatakan di depan mereka semua bahwa aku dan Kyo kini berpacaran? Tidak. Kurasa ini bukan ide yang bagus karena jika sampai hubungan kami tersebar, mungkin kehebohan akan terjadi mengingat Kyo begitu populer di sekolah. “Cepat jawab! Apa kau tidak memahami bahasaku atau telingamu itu sudah tidak bisa mendengar lagi?!” Untuk kedua kalinya Akemi membentak, aku semakin kebingungan sekarang. “Jangan berani bersikap kasar pada kekasihku.” Seketika aku terbelalak begitu mendengar sebuah suara dari arah belakang kerumunan. Suara itu sudah tidak asing lagi bagiku, melainkan terdengar sangat familiar karena aku yakin itu suara Kyo. Teman-teman sekelasku yang semula mengerumuni meja, kini mulai menyingkir seolah memberikan jalan untuk Kyo yang sedang berjalan mendekat. Akemi sama terkejutnya melihat kedatangan Kyo yang tiba-tiba, dia dengan cepat menjauhkan tangannya dariku lalu melangkah menjauh karena takut pada Kyo yang sudah berdiri tepat di sampingku. “Kalian bertanya ada hubungan apa antara aku dengan Hanna, bukan? Apa kalian sebegitu ingin tahunya sampai memperlakukannya dengan kasar?” Saat mengatakan ini, tatapan Kyo begitu tajam penuh amarah, dia menatap teman-temanku secara bergantian, tak ada yang berani balas menatap Kyo karena mereka dengan serempak menundukan kepala. Tatapan Kyo kini berhenti tepat pada Akemi. “Terutama kau. Ternyata kau masih berani bersikap kasar pada Hanna, ya? Entah hukuman seperti apa yang harus aku berikan padamu agar kau jera dan berhenti mengganggu Hanna.” Tubuh Akemi menegang, ancaman Kyo sepertinya membuat gadis itu ketakutan. “B-bukan begitu. Aku hanya bertanya tadi.” “Hanya bertanya kau bilang?” Kyo mendengus. “Padahal jelas-jelas kau bersikap kasar dan membentaknya tadi.” “A-aku minta maaf. Tadi aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud membentaknya.” “Huh, masih mengelak rupanya. Sepertinya kau memang harus diberi hukuman setimpal agar jera dan berhenti mengganggu Hanna.” Entah apa yang akan dilakukan Kyo karena dia kini berniat menghampiri Akemi yang berdiri ketakutan di tempat. Aku tak ingin Kyo melakukan tindakan kasar pada Akemi, terlebih saat suasana kelas seramai ini dan semua teman sekelasku menyaksikan kami. Bergegas aku menahan tangan Kyo, mencoba menghentikannya. “Sudahlah, Kyo. Lupakan saja kejadian tadi. Akemi benar, dia sama sekali tidak menyakitiku. Dia hanya bertanya saja tadi.” Kyo memiringkan kepala, bibirnya memasang seringaian yang tampak mengerikan di mataku. “Kau masih membelanya walau dia sudah sering menyakitimu, Hanna? Entah kau ini bodoh atau terlalu baik. Tapi sayangnya hatiku tidak sebaik itu. Aku sudah muak dengan sikapnya yang selalu mengganggumu. Dia harus diberi pelajaran agar kapok.” Karena Kyo yang bersikukuh berniat menghampiri Akemi, dengan gigih aku pun mencoba menghentikannya. Aku berdiri dari duduk, masih kutahan tangannya. Kali ini kupeluk lengan Kyo agar tak bisa pergi ke mana pun. Kyo mendelik tajam padaku, aku tahu dia kesal dengan tindakanku ini. Namun, keputusanku sudah bulat. Tak akan kubiarkan Kyo mengacau di kelas ini dengan bersikap kasar pada Akemi di depan teman-teman sekelasku. “Aku mohon, Kyo. Jangan diteruskan. Lebih baik kita pergi saja dari sini.” “Kau serius menyuruhku melepaskan wanita itu?” Aku mengangguk. “Ya, aku mohon padamu.” Kyo berdecak, sebelum dia mengembuskan napas pelan dan sepertinya memilih mengalah. “Kau ini memang terlalu lembut, Hanna. Tapi baiklah, mana bisa aku menolak jika sudah mendengarmu memohon seperti itu.” Detik itu juga aku mengulas senyum lebar, lega bukan main karena berhasil membujuknya. “Ayo, kita pergi dari sini,” ajakku seraya bergegas mengambil paperbag berisi bekal makanan yang sudah kusiapkan. “Tunggu, Hanna. Sebelum kita pergi, aku akan menjelaskan pada teman-temanmu yang sepertinya sangat penasaran ingin tahu tentang hubungan kita.” Aku panik bukan main, Kyo sepertinya berniat mengumumkan hubungan kami yang sebenarnya di depan teman-teman sekelasku. Entah kenapa aku merasa ini bukan tindakan yang tepat, aku sudah membuka mulut hendak menghentikannya. Namun …. “Aku dan Hanna sudah resmi berpacaran sekarang. Karena itu mulai sekarang kalian tidak perlu heran jika melihat kami bermesraan di depan umum. Dan lagi camkan baik-baik perkataanku ini, bagi siapa pun yang berani mengganggu Hanna, maka dia akan berurusan denganku.” Kyo mendelik pada Akemi saat dia menjeda sejenak ucapannya. “Aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman berat pada siapa pun yang berani mengganggu apalagi menyakiti kekasihku. Tidak peduli sekalipun orang itu seorang wanita. Apa kalian paham?” Kyo lebih dulu berkata demikian sehingga aku pun kembali mengatupkan mulut. Bicara pun percuma karena Kyo sudah mengumumkannya dengan lantang bahwa kami telah resmi menjadi sepasang kekasih. Dengan serempak teman-teman sekelasku menganggukan kepala, sedangkan Akemi hanya diam membisu dengan kedua mata yang terbelalak sempurna. Pasti dia sangat terkejut mendengarku yang sudah resmi berpacaran dengan Kyo, bahkan Kyo sendiri yang mengumumkannya langsung. Kami pun melangkah pergi setelah itu sambil tangan kami saling bergandengan. Hah, setelah semua kekacaun yang terjadi barusan, entah kejadian apa yang akan menimpaku nantinya? Apalagi mereka sekarang sudah mengetahui hubunganku dengan Kyo. Sepertinya hidupku tak akan pernah damai, orang-orang yang memuja Kyo di sekolah ini pasti akan semakin memusuhiku. Ya, semoga saja aku tidak akan mengalami kejadian mengerikan lagi. Untuk saat ini aku hanya bisa berharap dan berdoa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN