Kyo menyandarkan punggung pada batang pohon, sedangkan aku duduk di sampingnya. Seperti biasa kami berada di tempat favorit kami. Setelah insiden yang sempat terjadi di kelas, akhirnya kami bisa menenangkan diri di tempat ini. Ya, walau setelah kembali ke kelas, aku yakin kondisinya tidak akan sama lagi. Aku masih penasaran bagaimana teman-teman sekelas menatap dan bersikap padaku nanti setelah mengetahui aku dan Kyo berpacaran.
“Hei, Hanna. Mana makanannya? Kenapa tidak cepat dibongkar? Aku sudah lapar ini.”
Ucapan Kyo membuyarkan semua lamunanku. Aku lantas tak membuang waktu lagi, aku membongkar isi bekal makan siang yang sudah kusiapkan tadi pagi dengan tanganku sendiri dan kini menyajikannya di depan Kyo. Kedua mata Kyo tampak berbinar senang saat melihat menu makan siang kami. Sebenarnya ini hanya menu biasa, nasi berserta lauk pauknya. Hanya saja aku mencoba berkreasi sehingga lauk pauk yang kubuat seperti telur, sosis, dan lauk lainnya, kuhias sedemikian rupa agar terlihat menggemaskan. Aku menggambar karakter di makananku, seperti wajah beruang, kucing dan hewan lainnya yang menurutku mudah untuk dibuat.
“Wow, menu makan siang kita kali ini seperti untuk anak sekolah dasar. Apa ibumu sengaja menyiapkan ini untukmu? Sepertinya kau masih dianggap sebagai anak kecil oleh ibumu, ya?”
Kyo tertawa lantang setelah mengejek makanan yang kubuat karena berbentuk karakter wajah hewan, berpikir ibu yang membuatnya karena terlalu memanjakan dan menganggapku masih anak kecil. Jujur aku tersinggung karena bukan seperti ini yang kuharapkan. Kupikir Kyo akan kagum dan menyukainya.
“Kau tidak suka?” tanyaku ketus, tak menyembunyikan sedikit pun kekesalan yang sedang kurasakan.
Kyo masih tertawa dengan satu tangannya yang dikibas-kibaskan seolah sedang menjawab pertanyaanku dengan gerakan tangannya itu. “Bukan aku tidak suka, hanya saja ibumu lucu sekali. Masa putrinya sudah remaja, tapi dibuatkan bekal makan siang untuk anak-anak. Biasanya ibumu tidak begini, tumben sekali. Ternyata kau masih dianggap anak kecil oleh ibumu, ya?”
Kyo kembali tertawa, sedangkan aku hanya cemberut karena sebal bukan main dengan semua ejekan dan caranya menertawakan bekal makan siang yang susah payah kubuat.
“Tapi ini manis juga, aku jadi tidak sabar ingin memakannya, pasti rasanya enak seperti biasa.” Tanpa meminta izin padaku, Kyo mengambil makanan dan memasukannya ke dalam mulut tanpa ragu.
Tiba-tiba aku menjadi gugup, kupandangi wajahnya yang sedang sibuk mengunyah karena ingin mengetahui bagaimana reaksi dan pendapatnya tentang rasa makanan yang kubuat.
Gerakan Kyo yang sedang mengunyah makanan melambat, keningnya mengernyit seperti sedang merasakan sesuatu yang aneh pada makanan, aku jadi semakin gugup dan takut rasanya tak sesuai dengan lidah Kyo. Jangan katakan usahaku bangun pagi-pagi tadi sia-sia karena Kyo tak menyukai makanan yang kubuat.
“Kenapa? Kau tidak suka dengan rasanya, ya? Tidak enak, ya?” tanyaku tak sabar karena dia tak kunjung mengatakan sesuatu, padahal aku ingin segera mengetahui pendapatnya.
“Hm, rasa makanannya berbeda dengan makanan yang biasa ibumu buat.”
Aku mengerjapkan mata, tak kusangka dia menyadari rasanya berbeda dengan masakan ibu. “T-terus bagaimana menurutmu? Enak, tidak?”
“Hm, bagaimana mengatakannya, ya? Ibumu sepertinya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja saat memasak ini, antara dia masih mengantuk atau sedang tidak fokus. Rasanya ….”
Kyo kembali menjeda ucapannya, tapi tak perlu mendengar kelanjutannya, aku sudah bisa menebak pendapat Kyo. Dia memang tidak menyukai masakanku dan karena aku tidak ingin dia mengejekku lebih dari ini, dengan cepat aku berniat membereskan semua makanan yang sudah kusajikan.
Tanganku sudah bergerak untuk membereskan makanan yang sudah kubongkar, tapi tangan Kyo tiba-tiba menangkap tanganku, dia mencoba menghentikanku.
Aku memicingkan mata tak suka. “Lepaskan aku. Kau tidak suka dengan makanan ini, kan? Jadi, aku akan membereskannya.”
“Siapa bilang aku tidak suka?” tanyanya yang membuatku bingung.
“Tadi kau bilang rasanya aneh. Artinya kau tidak suka dengan rasanya, kan? Aku tidak ingin memaksamu memakannya, jadi akan kubereskan saja.”
“Aku sedang menggodamu, Hanna. Kau serius sekali.”
Gerakan tanganku yang mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Kyo seketika terhenti, aku menatap wajahnya tak paham.
“Rasanya memang aneh karena berbeda dengan masakan ibumu yang sudah beberapa kali aku makan, tapi rasanya cukup enak kok. Aku hanya menggodamu tadi.”
“Menggodaku?” Seketika aku melebarkan mata. “J-jangan bilang kau tahu kalau makanan ini aku yang membuatnya?”
Kyo terkekeh, kepalanya terangguk beberapa kali. “Tentu saja aku tahu. Lauk yang dibentuk karakter wajah hewan, mana mungkin ibumu yang membuatnya. Pasti kau yang buat, melihat sekilas juga aku sudah tahu. Hah, ternyata kau ini mudah tersinggung, ya. Tidak bisa diajak bercanda lagi. Payah.”
Aku gemas sekali mendengar semua yang dia katakan, refleks aku memukuli bahunya. Alih-alih melawan atau mencoba menghentikan gerakan tanganku, dia justru tertawa lantang.
“Issh, kau menyebalkan sekali, Kyo,” ucapku masih dengan tanganku yang sibuk memukuli bahunya. Saat itulah tiba-tiba dia menangkap salah satu tanganku dan menariknya kencang sehingga tubuhku jatuh ke depan, tepat menabrak dadanya. Posisi kami sekarang sangat dekat, terutama wajah kami. Tangannya juga dengan posesif merangkul pinggangku, sungguh jantungku berdetak bagaikan siap melompat keluar sekarang.
“Ternyata selain cerdas dalam hal pelajaran, pacarku ini juga sangat handal memasak. Aku semakin beruntung karena bisa memilikimu.”
Wajahku terasa memanas mendengar dia yang tiba-tiba memuji, aku yakin wajahku sudah memerah bak kepiting rebus saat ini.
“Aku tidak akan membiarkan ada orang lain yang mengganggu apalagi menyakitimu lagi, entah di sekolah ini maupun di tempat lain. Aku akan melindungi dan menjagamu, Hanna. Akan kupastikan kau aman dan bahagia saat bersamaku.”
Aku terharu mendengarnya, sorot matanya tak memperlihatkan kebohongan sedikit pun, hanya ada kejujuran di sana.
“Kalau ada teman sekelasmu, terutama yang bernama Akemi itu mengganggumu lagi, kau harus menceritakannya padaku. Jangan diam saja seperti tadi.”
Sekarang aku jadi teringat kejadian di kelas, dan kurasa ini waktu yang tepat untuk membahasnya. “Kenapa tadi kau mengatakan pada semua orang di kelas kalau kita berpacaran sekarang?”
“Karena itu faktanya, kan? Untuk apa ditutup-tutupi? Kau sendiri kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya di depan mereka? Kau malah diam saja walaupun ditindas Akemi.”
Aku menundukan kepala, tak berani menatap wajah Kyo yang sepertinya kesal dengan kediamanku tadi. “Aku hanya tidak ingin menimbulkan keributan. Kau ini sangat populer, aku takut semua orang akan heboh dan histeris kalau tahu kita berdua berpacaran sekarang.”
Kyo mendengus, lagi-lagi sepertinya ucapanku membuatnya kesal. “Aku tidak peduli apa pun pendapat orang lain. Kebenaran tidak seharusnya disembunyikan. Lagi pula, bagus jika mereka tahu hubungan kita sekarang, dengan begitu tidak akan ada lagi yang akan mengganggumu. Aku juga bisa menepati janji padamu hari itu, aku akan menjadi pelindungmu.”
Aku terdiam detik itu juga, tak mengeluarkan suara sepatah kata pun untuk menyahutinya. Aku tengah mencerna maksud ucapan Kyo dan sebuah pemikiran pun kini terlintas di benakku.
“Hei, Kyo, kau benar-benar tidak sedang mempermainkanku, kan? Alasanmu memintaku menjadi kekasihmu bukan karena kau sedang berusaha menepati janji untuk melindungiku, kan? Kau mengajakku berpacaran memang karena menginginkannya, bukan karena ini caramu untuk menjadi pelindungku?”
Satu alis Kyo terangkat naik dan dia menatapku dengan tajam. Tak lama setelah itu dia tertawa terbahak-bahak membuatku heran sekaligus kesal.
“Hei, jawab!” kataku kesal.
“Menurutmu?” Dia balik bertanya dengan ekspresi wajah yang terlihat sedang mengejekku.
Aku mendengus keras. “Sepertinya kau memang sedang mempermainkanku.”
“Hahaha ... bagaimana ya mengatakannya ... aku memang ...”
Kedua mataku melebar sempura karena sudah bisa kutebak apa yang akan dia katakan. “Jadi, benar kau hanya mempermainkanku saat mengajakku berpacaran? Kau ...”
Tadi aku memotong perkataannya dan kini dia membalasku. Sebelum aku menyelesaikan ucapan yang masih menggantung, Kyo semakin merapatkan rangkulannya pada pinggangku sehingga tubuhku jatuh ke pelukannya.
“Haah, dasar bodoh. Tentu saja aku serius. Mana mungkin aku mempermainkanmu. Apa yang harus kulakukan supaya kau percaya padaku?”
Aku segera menjauhkan tubuh darinya, kutatap kedua matanya dengan seksama. Sekali lagi tak terlihat kebohongan di sana, hanya ketulusan yang dapat aku lihat. Mungkinkah aku telah salah paham?
“Maaf, aku hanya heran kau bisa jatuh cinta padaku padahal kau dikelilingi banyak wanita yang lebih cantik dan lebih segala-galanya dariku. Rasanya bagai mimpi,” ucapku pelan, mengutarakan apa yang kurasakan dan kupikirkan.
“Kau ini unik, Hanna. Aku belum pernah menemukan wanita sepertimu sebelumnya. Kaulah wanita pertama yang membuatku tertarik. Entah mengapa aku ingin sekali melindungimu. Selain itu, aku merasa kesal sekali setiap kali melihatmu disakiti orang lain. Perasaan seperti ini, baru sekarang aku merasakannya.” Salah satu tangan Kyo tiba-tiba terangkat dan mendarat di pucak kepalaku. Dia lalu mengusapnya lembut, terasa sangat menenagkan dan nyaman bagiku.
“Hanna, sepertinya kau cinta pertamaku.”
Jantungku tak mungkin masih berdetak dengan normal setelah mendengar perkataannya ini. Jika memang yang dikatakannya benar, tentu aku senang sekali karena bagiku dia pun cinta pertamaku.
Hah, jadi seperti ini indahnya jatuh cinta? Aku harap hubunganku dengan Kyo akan bertahan seperti ini selamanya. Tidak ada hal yang bisa memisahkan kami kelak.