Hari minggu ini, aku tidak menghabiskan waktu untuk belajar seperti minggu-minggu sebelumnya. Dulu setiap hari minggu aku pasti menghabiskan waktu untuk belajar, tapi tidak demikian dengan sekarang. Hari ini aku pergi berkencan dengan Kyo. Sebenarnya ini kencan pertamaku dengannya. Kami pergi ke taman hiburan, tentu saja aku yang mengajaknya. Pada awalnya Kyo menolak dengan lantang, tapi beruntung aku berhasil membujuknya meskipun sepertinya dia menyetujui ajakanku dengan terpaksa.
“Bagaimana kalau kita naik wahana itu?” ajakku sambil menunjuk ke arah kincir raksasa.
Kyo memicingkan mata ke arah kincir angin yang kumaksud sebelum hembusan napas pelan keluar dari mulutnya. “Haah? Untuk apa naik itu?” tanyanya malas.
“Ayolah, kita bisa melihat pemandangan indah dari atas sana.”
“Kau saja sendiri yang naik, aku akan menunggu di sini.”
Aku mendengus mendengar sarannya itu. Tentu saja aku tak mau menaikinya seorang diri. Aku harus bisa membujuk Kyo bagaimanapun caranya. “Tidak mau. Kau juga harus ikut bersamaku.”
Aku menarik tangannya agar mengikutiku. Seperti biasanya pada akhirnya akulah yang memenangkan perdebatan di antara kami. Dia pun mengikutiku tanpa perlawanan. Meskipun ketika kutatap wajahnya, terlihat dia sangat kesal.
Ketika kami sudah menaiki wahana kincir raksasa, Kyo tidak terlihat senang. Dia hanya menatap ke sekeliling dengan malas. Berbanding terbalik denganku yang begitu heboh dan histeris menikmati pemandangan indah yang disuguhkan untukku. “Lihat, lihat, bagus sekali kan pemandangannya?” kataku segirang mungkin.
“Hm.” Namun, dia menanggapi dengan dingin membuatku kesal dibuatnya.
“Kyo, sepertinya kau tidak senang kencan denganku. Apa kau lebih senang kencan bersama mantan-mantanmu?” Ungkapku yang ditanggapi raut keterkejutan di wajahnya.
“Bodoh, tentu saja bukan begitu. Aku senang berkencan denganmu, tapi kenapa harus di tempat seperti ini? Menurutku tempat ini lebih cocok untuk bermain anak kecil.”
Aku berdecak tak setuju. Kugulirkan mata ke sekeliling untuk mencari sesuatu yang bisa menampik pemikirannya itu dan akhirnya kutemukan apa yang kucari. “Coba lihat itu, banyak juga pasangan kekasih yang datang kemari. Tempat ini bukan hanya untuk anak kecil, orang dewasa juga banyak yang berlibur ke sini,” tegasku seraya menunjuk ke beberapa pasangan yang sedang menaiki wahana kincir raksasa ini seperti kami.
“Padahal aku selalu menunggu dan berharap bisa datang ke tempat ini bersamamu. Aku kecewa sekali melihat sikapmu.” Aku menundukan kepala sehingga tak bisa melihat raut wajahnya sekarang.
“M-maaf, Hanna.” Sekali lagi kudengar dia mengembuskan napas pelan. “Baiklah, aku akan menikmati kencan kita di tempat ini. Aku janji tidak akan mengeluh lagi.”
“Benar, ya?”
“I-iya.” Aku tersenyum dengan riang. Sekali lagi aku berhasil membujuknya.
Seperti yang dikatakan Kyo tadi, dia menepati janjinya. Kini wajahnya tidak terlihat malas, ketus ataupun dingin seperti tadi. Dia terlihat mulai menikmati kencan kami di taman hiburan ini. Dia juga mulai mengajakku menaiki beberapa wahana pilihannya. Tentu saja aku tak mungkin menolaknya.
Bagiku hari ini merupakan hari yang paling membahagiakan, aku harap Kyo pun merasa demikian.
“Hei, aku lapar. Kita makan yuk.”
Dia yang mengajak sambil menarik tanganku. Melihat arah yang kami tuju sepertinya dia akan membawaku ke sebuah restoran mewah yang berada di taman hiburan ini, tapi dengan cepat aku mencegahnya.
“Aku akan membawamu ke tempat langgananku. Aku yakin kau akan menyukai makanannya.” Kini keadaannya berbalik, akulah yang menarik tangannya agar mengikutiku.
Kami berjalan sambil bergandengan tangan. Kutangkap ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kami. Tentu saja sebenarnya Kyo yang menarik perhatian seperti biasa. Namun, aku bangga karena seharusnya begitu melihat kami berjalan sambil bermesraan seperti ini, semua orang tahu bahwa kami sepasang kekasih.
“A-aku harus makan di tempat ini?” tanyanya dengan reaksi terkejut setelah kami tiba di tempat yang kami tuju.
Tempat ini memang hanyalah sebuah tenda kecil yang disediakan untuk para pembeli. Aku mengajak Kyo untuk memakan ramen di sini yang letaknya berada di luar taman hiburan. Dulu ketika masih duduk di bangku junior high sechool, aku sering makan di sini bersama teman-temanku. Aku tidak menuntut ilmu di sekolah yang elit, teman-temanku yang dulu pun bukanlah anak-anak orang kaya seperti di sekolahku yang sekarang. Mereka hanyalah anak orang biasa sama sepertiku. Letak sekolahku tidak terlalu jauh dari taman hiburan ini. Tentu saja kami tidak memiliki cukup banyak uang untuk memasuki taman hiburan sehingga aku dan teman-temanku sering datang ke sini untuk memakan ramen kesukaan kami, sekaligus menonton dan mendengarkan teriakan dari orang-orang yang sedang menaiki wahana jet coaster yang dapat terlihat meskipun dari luar area taman hiburan.
“Waah, Hanna, ya? Sudah lama tidak datang ke mari,” ucap bibi yang berjualan di tempat ini. Sebenarnya penjual ramen ini merupakan sepasang suami istri yang usianya kuperkirakan sekitar 40 tahunan. Aku sudah cukup dekat dengan mereka. Semenjak aku duduk di bangku senior high school, aku memang sudah jarang sekali datang kemari karena itu wajar saja jika mereka berkata demikian, tampak terkejut melihatku kembali datang ke kedai mereka.
“Iya, Bi. Aku juga sangat rindu makan di tempat ini.”
“Apa dia pacarmu?” tanya bibi penjual ramen sembari menunjuk ke arah Kyo yang berdiri menjulang tepat di sampingku.
Dengan malu-malu kuanggaukan kepala. “Iya, Bi.” Lantas kuputuskan mengatakan yang sebenarnya.
Wajah bibi penjual ramen tampak sumringah mendengar jawabanku, tak hentinya dia menatap wajah Kyo. “Waah, tampan sekali. Kalian pasangan yang serasi. Ayo, silakan duduk. Kalian pesan dua porsi, kan?”
“Iya, Bi. Tolong, ya, Bi.”
Bibi penjual ramen menghampiri suaminya dan bersiap-siap menyiapkan pesanan kami, aku pun mengajak Kyo untuk duduk. Namun, dia tetap berdiri dan masih terlihat raut terkejut di wajahnya.
“Duduklah Kyo, kau tidak pegal berdiri terus?”
“K-kau serius menyuruhku makan di tempat seperti ini?” tanyanya, dia menelisik kedai yang hanya ditutupi tenda kain ini, raut wajahnya terlihat jelas enggan untuk ikut duduk bersamaku.
“Memangnya kenapa?”
“Mana mungkin aku makan di tempat seperti ini.”
Aku tahu, bahkan sangat tahu dia pastilah tidak pernah makan di tempat seperti ini. Dia anak orang kaya yang tentunya selalu makan di restoran-restoran mewah. Namun, entahlah ... aku hanya ingin membuat Kyo bisa merasakan nikmatnya makan ramen di tempat ini. Aku yakin dia akan menyukainya karena ramen di kedai ini sangat lezat.
“Lho kenapa tidak duduk?” tanya bibi penjual ramen pada Kyo, yang kini sedang mengantarkan pesanan kami. Aku segera menarik tangan Kyo sehingga dia akhirnya duduk di sampingku.
“Terima kasih, ya, Bi,” ucapku tulus disertai senyum.
“Iya, selamat menikmati ramennya, ya.” Setelah itu dia pun pergi. Tanpa ragu aku melahap ramen yang sudah terhidang di depan mataku. Rasa lezat ini sangat aku rindukan. Aku melirik ke arah Kyo, dia terlihat sedang menatap ramen miliknya tanpa mencicipinya sedikit pun.
“Hei, kenapa tidak dimakan?” tanyaku mulai kesal. Apa dia tidak merasa tergiur melihat penampilan ramen dalam mangkuk yang begitu menggugah selera, terutama aroma dari ramen yang tanpa sadar membuat air liurku menetes dengan sendirinya? Benarkah Kyo tak merasakan apa yang kurasakan ini?
“Aku tidak pernah memakan makanan seperti ini dan di tempat yang kumuh seperti ini.” Kekesalanku telah mencapai batas. Kucoba menyuapinya agar dia mau mencoba ramen ini, aku yakin sekali setelah mencobanya dia akan ketagihan.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya heran melihat tanganku memegang sumpit dipenuhi mie ramen yang terulur padanya.
“Cepat buka mulutmu. Kau tidak akan sakit perut setelah makan ini. Makanan ini jauh lebih aman dibandingkan rokok dan alkohol yang sering kau konsumsi,” tegasku yang membuat dia akhirnya membuka mulutnya.
“Bagaimana? Enak, kan?”
Dia hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku. Lalu dia pun mulai melahap ramen yang terhidang di depannya. Seperti perkiraanku, dia pasti akan menyukainya.
***
Hari ini benar-benar hari yang paling membahagiakan untukku. Setelah seharian berjalan-jalan dengan Kyo, kini aku memiliki cukup banyak foto bersama dengannya di ponselku. Kami sedang melintas di depan pasar yang letaknya tidak terlalu jauh dari taman hiburan. Aku menghentikan langkah ketika melihat penjual aksesoris, aku pun menghampirinya.
Banyak cincin yang dijual di sini, bentuknya sangat sederhana. Aku menemukan sebuah cincin yang terlihat sederhana tapi unik. Cincin ini tidak memiliki hiasan apa pun tapi aku tertarik pada cincin ini karena dijual sepasang.
“Kau menyukai cincin itu?” tanya Kyo yang sedang berdiri di sampingku. Aku pun menjawabnya dengan sebuah anggukan.
“Apa kalian ingin mengukir nama kalian di cincin itu?” tanya seorang pria yang merupakan penjual aksesoris.
“Oh, bisa diukir nama kami, ya, Pak?” tanyaku antusias.
“Tentu saja.”
“Baiklah, tolong ukir nama kami di cincin ini,” pintaku sambil menyerahkan kedua cincin itu pada penjual aksesoris.
Setelah nama kami terukir di kedua cincin, kami pun memakainya. Aku mengenakan cincin yang terukir nama Kyo. Sebaliknya, Kyo memakai cincin yang terukir namaku. Kebahagiaan yang kurasakan hari ini tentu saja semakin bertambah.
“Kau memang aneh, cincin murah begini saja membuatmu sangat senang.” Aku tahu Kyo sedang menyindirku.
Aku mendengus karena memang hal sesederhana ini sudah cukup membuatku puas dan bahagia. “Tentu saja aku senang. Berjanjilah kau tidak akan melepas cincin ini, Kyo.”
“Haah? Baiklah jika itu membuatmu senang. Aku janji.”
Aku memberikan seulas senyum untuknya, lalu beralih menatap pada cincin yang kini melingkar di jari manisku. Sebuah cincin berwarna silver tanpa ada hiasan sedikit pun tapi terukir nama Kyo. Aku tidak akan pernah melepaskan cincin ini.
Kami melanjutkan jalan-jalan kami ketika hujan tiba-tiba turun dengan deras. Kami pun berlari mencari tempat untuk berteduh. Tempat ini sangat ramai membuat kami kesulitan mencari tempat untuk berteduh, akibatnya kami berdua berlari di bawah guyuran hujan sehingga kami basah kuyup. Kami pun memutuskan untuk berteduh di bawah sebuah pohon yang berdaun lebat.
“Kenapa tiba-tiba turun hujan?” kata Kyo terlihat kecewa. Aku mengingat ada sebuah saputangan di dalam tasku. Dengan saputangan itu aku menyeka air hujan yang membasahi wajah Kyo.
“Saputangan ini, kau masih menyimpannya?” tanyanya karena memang saputangan ini miliknya yang hingga detik ini aku simpan dengan baik dan selalu kubawa ke mana pun pergi.
“Tentu saja. Ini pemberianmu, tidak mungkin aku membuangnya.”
“Terima kasih Hanna.”
“Haah? Terima kasih untuk apa?” tanyaku bingung.
“Karena kau sudah membuatku sangat bahagia hari ini. Aku tidak pernah sebahagia ini.” Jantungku berdetak melebihi kapasitasnya ketika aku melihat senyumannya. Aku pun sangat senang karena dia merasakan hal yang sama denganku.
“Kenapa kau menatapku terus? Apa kau begitu terpesona pada ketampananku?” tanyanya yang membuatku kembali tersadar. Tanpa kusadari aku menatapnya seolah lupa cara berkedip sejak tadi, tentu saja aku sangat malu sekarang karena tertangkap basah olehnya.
“Kau memang tampan, Kyo. Seandainya saja kau tidak mengecat rambutmu. Aku yakin akan semakin terpesona olehmu.” Sejujurnya perkataan itu terlontar dengan sendirinya dari mulutku tanpa kusadari.
“Memangnya kau tidak suka rambutku? Bukannya keren, ya?” Dia memegang rambutnya sendiri yang dicat merah dan terlihat basah karena terguyur air hujan.
“Lebih keren jika rambutmu tidak dicat. Lagi pula, kenapa harus dicat merah?”
“Tentu saja karena aku suka warna merah.”
Sebenarnya hanya dengan melihat warna motor, helm dan rambutnya itu, aku tahu dia sangat menyukai warna merah.
“Itu melanggar peraturan sekolah,” sahutku, mengingatkan.
“Apanya?”
“Warna rambutmu. Mana ada siswa menengah atas diperbolehkan mengecat rambutnya?”
“Kau memang cerewet.”
Aku hanya tersenyum kecil melihat raut wajahnya saat ini, terlihat jengkel karena aku terus mengomentari rambutnya.
Tak lama hujan reda dan kami pun memutuskan untuk pulang. Ah, hari ini sangat menyenangkan. Ternyata seperti ini rasanya kencan pertama dengan kekasih. Aku jadi tidak sabar, kenangan indah seperti apa lagi yang akan kuukir bersama Kyo.