Sesuatu Yang Mengganjal Pikiran

1558 Kata
Apa yang kukhawatirkan benar-benar terjadi, setelah mengetahui hubunganku dan Kyo yang telah resmi menjadi sepasang kekasih, sikap teman-teman sekelasku menjadi sangat berbeda. Mereka terlihat enggan berdekatan denganku, terutama para gadis yang memang memuja sosok Kyo. Tatapan kebencian terlihat jelas dalam sorot mata mereka setiap kali melihatku, tapi saat aku balas menatap mereka, maka seketika mereka akan menghindar. Mereka mengulas senyum yang terlihat jelas menyiratkan kepalsuan. Mereka memang baik di depanku, tapi di belakang sudah bisa kutebak mereka pasti sering membicarakanku dan iri padaku yang bisa menjadi kekasih Kyo. Bahkan beberapa teman sekelas yang sempat mendekatiku, kini mereka kembali menjauh. Mereka akan menyapaku dengan ramah saat tanpa sengaja kami berpapasan, tapi tak ada lagi ajakan dari mereka untuk sekadar mengobrol atau makan siang bersama lagi seperti dulu. Intinya tak ada yang mau berteman denganku, mereka bersikap baik di depanku jelas karena takut dengan ancaman Kyo. Ngomong-ngomong tentang teman sekelas yang sejak dulu memusuhiku tentu saja jawabannya adalah Akemi. Sejauh ini dia tidak pernah menggangguku lagi. Walau tatapannya tetap sesinis biasanya dan berbeda dengan temanku yang lain, dia tidak pernah berpura-pura bersikap baik di depanku, yang pasti sekarang aku bisa belajar dengan tenang di sekolah karena Akemi tidak pernah membully-ku lagi. Tentu saja sekali lagi hal ini bisa terjadi berkat ancaman Kyo hari itu. Terhitung sudah satu minggu lebih aku diperlakukan seperti itu oleh teman-teman sekelas, awalnya aku merasa tak nyaman, tapi sekarang aku sudah mulai terbiasa menghadapi sikap mereka. Aku tengah berada di kelas, tapi hari ini pikiranku tak hentinya memikirkan Kyo. Aku bahkan tidak dapat konsentrasi pada pelajaran yang sedang kuikuti padahal ada seorang guru yang sedang menjelaskan pelajaran di depan. Penyebabnya karena hari ini aku belum melihat Kyo. Mungkinkah dia tidak masuk sekolah? Begitu waktu istirahat tiba, aku segera pergi ke tempat favorit kami sepeti biasa sambil membawa bekal makan siang yang sudah kusiapkan, berharap Kyo akan segera datang. Namun, setengah jam aku menunggu dan Kyo belum juga menampakkan sosoknya. Kucoba menelepon tapi tidak diangkatnya. Kukirimkan pesan padanya, tapi balasannya tak kunjung muncul di layar ponsel. Aku memutuskan untuk mendatangi kelas Kyo karena entah mengapa aku sangat khawatir padanya. Setibanya di kelas Kyo, aku juga tak melihat sosoknya. Aku mencari sosok Siky, tetapi dia pun tidak ada di dalam kelas. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rooftop, berpikir mungkin Kyo dan Siky sedang berada di sana mengingat rooftop merupakan tempat favorit mereka berdua. Bahkan meskipun aku sudah mencari ke setiap sudut di rooftop, aku masih belum menemukan sosok Kyo, Siky juga tidak ada di sini. Tempat lain yang terpikirkan olehku adalah cafe sekolah, sehingga aku bergegas menuju tempat itu. Di dalam cafe sekolah, aku melihat Siky sedang bersama teman-teman sekelasnya tapi tak terlihat sosok Kyo di sana. Tanpa menghiraukan tatapan semua orang di dalam cafe yang kini tertuju padaku, aku tetap melangkahkan kaki ke meja di mana Siky dan teman-temannya berada. “Hai, Siky,” sapaku ramah. Siky terkesiap, tampak terkejut karena melihatku. “Oh, Hanna. Ada apa? Tumben kau ke sini? Mau makan di sini padahal biasanya kau membawa bekal sendiri?” Aku menggelengkan kepala karena tentunya bukan untuk makan siang di café ini aku datang ke mari. “Apa kau tahu di mana Kyo? Seharian ini aku tidak melihatnya. Aku juga sudah mencarinya ke kelas kalian dan ke rooftop, tapi dia tidak ada,” tanyaku tanpa basa-basi terlebih dahulu. “Dia tidak masuk hari ini.” “Kenapa dia tidak masuk?” tanyaku antusias. Berdasarkan pemikiranku seharusnya Siky mengetahui alasannya karena dia sahabat dekat Kyo. “Aku juga tidak tahu, dia tidak mengatakan apa-apa padaku. Aku meneleponnya, tapi tidak diangkat.” Kekecewaan kurasakan ketika mendengar jawaban Siky. Aku juga semakin khawatir pada Kyo. Dia memang pernah tidak masuk sekolah cukup lama, tapi dia memberitahukannya padaku. Kenapa hari ini dia tidak memberi kabar? Bahkan pada Siky sekalipun. Berbagai pemikiran buruk mulai memenuhi kepalaku. “Siky, bisa kau beritahukan alamat rumah Kyo?” Saat itu terlihat jelas Siky sangat terkejut mendengar perkataanku. Dia terdiam cukup lama tanpa menanggapi pertanyaanku. Teeeeet ... Teeeeet ... Teeeeeet ... Terdengar suara bel yang menandakan waktu istirahat kami telah selesai. Siky beranjak bangun dari kursi diikuti oleh teman-temannya dan hampir semua siswa yang sejak tadi memenuhi cafe ini. “Maaf Hanna, aku harus kembali ke kelas.” Siky pergi tanpa sebelumnya menjawab pertanyaanku. Aku sempat berpikir untuk mengejarnya. Namun, aku putuskan untuk memintanya lagi nanti ketika pulang sekolah. Aku pun dengan terpaksa kembali ke kalasku. *** Seperti rencana awal, begitu bel tanda saatnya pulang berbunyi, aku bergegas menuju kelas Kyo. Aku akan kembali menanyakan alamat rumah Kyo pada Siky dan kali ini aku tidak akan menyerah sebelum berhasil mendapatkannya. Beruntung begitu tiba di depan kelas Kyo, pintu kelas itu masih dalam keadaan tertutup yang menandakan mereka belum menyelesaikan kegiatan belajar. Tak lama aku menunggu, pintu kelas itu terbuka dan siswa laki-laki berhamburan keluar dari kelas. Begitu aku melihat sosok Siky, aku segera menghampirinya. Siky terkesiap, jelas dia tidak menyangka aku tengah menunggunya. “H-Hanna, sedang apa kau di sini?” tanyanya berpura-pura tidak menyadari aku sedang menunggunya. “Menunggumu, tentu saja,” jawabku singkat. “Ada apa?” Sekali lagi dia berpura-pura seolah tidak menyadari alasanku menunggunya. “Aku rasa kau melupakan sesuatu, Siky. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi di cafe. Atau haruskah aku mengulangi pertanyaannya?” tanyaku menyindirnya. “Alamat rumah Kyo, ya?” Aku mengangguk tanpa ragu. “Tepat sekali,” jawabku girang karena akhirnya dia berhenti berpura-pura. “Aku rasa Kyo baik-baik saja, besok dia pasti masuk sekolah.” Aku tidak mengerti kenapa dia bersikap seolah-olah tidak ingin memberitahukan alamat rumah Kyo padaku. Sikapnya itu tentu saja membuatku curiga, sekaligus membuatku semakin mengkhawatirkan Kyo. “Aku mohon beritahu alamat Kyo. Aku sangat khawatir padanya. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Kemarin aku pergi dengannya dan dia baik-baik saja. Tapi hari ini tiba-tiba saja dia tidak masuk sekolah tanpa mengabariku.” “Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia memang sering tidak masuk sekolah. Mungkin dia sedang ada urusan,” ujarnya, terlihat jelas dia sedang berusaha membuatku berubah pikiran agar tidak meminta alamat rumah Kyo padanya. Namun, tentu saja aku tidak akan menyerah semudah itu. “Aku mohon Siky. Aku ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri kalau dia baik-baik saja. Kenapa kau tidak mau memberitahu alamat rumah Kyo? Sepertinya kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?” tanyaku sinis sambil memicingkan mata penuh curiga, seketika dia terlihat gugup dan salah tingkah. Mendapati sikap Siky seperti itu, tentu saja kecurigaanku semakin naik ke permukaan, sepertinya dia memang tidak ingin memberitahukan alamat rumah Kyo, tapi kenapa? “Bukan begitu. Aku hanya ...” “Jika memang tidak ada yang kau sembunyikan dariku, cepatlah beritahukan alamat rumahnya. Aku mohon Siky.” Aku menyatukan kedua tangan di depan d**a agar dia mengerti aku sangat berharap dia mau memberitahukan alamat rumah Kyo. Tentu saja aku melakukan ini berharap dia akan merasa kasihan padaku. Siky tertegun awalnya, masih terlihat ragu. Namun, karena aku yang terus memohon, dia pun mengembuskan napas pelan. Kutebak dia akhirnya menyerah dan memilih mengabulkan permintaanku. “Baiklah, aku akan memberitahumu, tapi tolong jangan kau katakan pada Kyo bahwa aku yang memberitahukannya padamu.” Dengan antusias aku mengangguk setuju, senang tentu saja karena berhasil membujuknya. “Baiklah, kau tenang saja, Siky.” Siky menuliskan alamat Kyo pada secarik kertas, aku pun segera menerimanya. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih dengan seramah mungkin padanya. “Hei, Hanna!” Saat aku siap melangkah pergi, Siky kembali memanggilku sehingga aku pun urung untuk pergi. “Ya, kenapa?” “Apa kau yang melarang Kyo mengikuti balapan?” tanya siky yang kujawab dengan sebuah anggukan karena memang benar aku yang melarangnya. “Hoo, pantas saja beberapa hari ini dia menolak ajakan untuk balapan, padahal sebelumnya dia tidak pernah menolak.” Mendengar perkataan Siky, aku merasa lega karena tampaknya Kyo benar-benar mengabulkan permohonanku. “Kau hebat juga bisa membuat Kyo menurut.” Aku mendengus pelan. “Aku hanya merasa balapan itu sangat berbahaya. Aku sangat menyayanginya karena itu aku melarang dia melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Sebenarnya, Siky, hal ini juga berlaku untukmu. Aku akan senang sekali jika kau pun berhenti ikut balapan. Jangan melibatkan dirimu dalam bahaya.” “Waah, aku terharu mendengar kau begitu peduli padaku.” Aku berdeham, kuharap Siky tidak salah paham dengan perkataanku ini. “B-bukan begitu, hanya saja kau itu sahabat Kyo. Itu artinya kau pun sahabatku.” Siky tersenyum mendengar ucapanku. Sebenarnya Siky memiliki senyuman yang manis, senyuman yang menambah ketampanannya, sekarang aku paham dia pun cukup populer di sekolah ini, walau tak sepopuler Kyo tentunya. “Oh, iya. Chika meminta nomor teleponmu. Sepertinya dia juga ingin bersahabat denganmu.” Mendengar hal itu tentu saja aku tidak mungkin menolaknya. Chika sangat baik, jika bisa berteman dengannya aku sangat senang sekali. “Oh, tentu saja. Aku juga ingin bersahabat dengannya, berikan saja nomorku padanya.” Tanpa ragu aku memberitahukan nomor teleponku pada Siky. Setelah itu, aku bergegas pergi. Sudah kuputuskan akan pergi ke rumah Kyo untuk memastikan keadaannya dan alasan dia tidak datang ke sekolah hari ini. Aku hanya bisa berharap semoga dia baik-baik saja. Selain itu, ada hal lain yang mengganjal pikiranku, Siky yang awalnya tak mau memberitahukan alamat rumah Kyo dan dia yang terlihat ketakutan sampai memintaku untuk tidak memberitahu Kyo bahwa aku mendapatkan alamat rumahnya dari Siky. Aku yakin ada yang tidak beres dengan masalah ini. Memangnya ada apa dengan rumah Kyo? Ya, sebentar lagi aku akan mendapatkan jawaban atas keanehan sikap Siky.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN