Sesampainya di alamat yang diberikan Siky padaku, aku tercengang menatap megahnya sebuah rumah yang dikelilingi oleh pagar besi yang sangat tinggi. Rumah itu berdiri kokoh bagaikan sebuah Istana. Selain itu, halamannya pun membentang sangat luas. Aku menyadari betapa kaya orang tua Kyo. Di depan pintu rumah Kyo yang megah, aku melihat ada dua orang pria bertubuh kekar dan memakai jas hitam sedang berjaga. Hebat sekali, itukah bodyguard rumah Kyo? Rumah Kyo memang bagaikan istana kerajaan sampai di depan pintunya pun disiapkan dua orang penjaga.
Aku semakin takjub ketika melihat di depan gerbang rumahnya ada dua pria bertubuh kekar dengan memakai jas hitam sedang berjaga, membuatku berpikir seketat itukah pengamanan di rumah Kyo? ketika aku menengadahkan kepala ke atas pagar besi, kamera cctv terlihat dipasang berderet di sepanjang pagar. Luar biasa sekali pengamanan di rumahnya.
“Apa yang sedang Anda cari, Nona?”
Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar membuatku terkesiap, salah seorang bodyguard yang berjaga di depan gerbang rumah Kyo kini sudah berdiri tepat di depanku.
Aku meneguk ludah, tiba-tiba merasa gugup karena pria itu menatapku penuh curiga dan selidik. Rasanya aku seperti seorang penjahat yang sedang dicurigai. “M-maaf, apa benar ini rumah Masakazu Kyo? Aku temannya, bisakah aku bertemu dengannya?” tanyaku pada pria bertubuh kekar itu.
“Siapa nama Anda?”
“Hanna,” jawabku singkat.
“Tunggu sebentar di sini, saya akan memberitahu tuan muda Kyo.”
“Baiklah.” Aku mengangguk setuju dan hanya bisa menuruti perkatannya.
Pria itu pun beranjak pergi. Tuan muda Kyo? Terdengar sangat keren di telingaku meskipun wajar saja jika dia dipanggil seperti itu. Melihat rumah Kyo yang megah bagai istana ini membuatku merasa minder. Aku tidak menyangka orang tua Kyo sekaya ini.
Cukup lama aku berdiri di depan gerbang, tapi sosok Kyo belum juga menampakan diri. Kemudian kelegaan tak terkira kurasakan ketika dari kejauhan aku lihat Kyo sedang berjalan ke arahku diiringi pria kekar yang tadi berbicara denganku.
“Hai, Kyo,” sapaku ketika dia sudah tiba di dekatku, tapi reaksinya setelah itu membuatku terkesiap. Dia memegang erat lenganku, lalu menarikku menjauhi bodyguard-nya yang berjaga di depan gerbang.
“Kenapa kau ke mari?” tanyanya dengan dingin. Ekspresi wajahnya terlihat jelas dia tidak suka melihat kedatanganku. Kenapa seperti ini? Padahal aku pikir dia akan senang karena aku datang menjenguknya.
“Kau tidak masuk sekolah dan setiap aku telepon kau tidak mengangkatnya. Pesanku juga tidak dibalas. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Kyo.”
“Aku tidak enak badan makanya tidak masuk sekolah.”
“A-apa kau sakit karena makan ramen kemarin?” tanyaku dengan perasaan takut yang kurasakan. Aku merasa tidak seharusnya mengajak Kyo makan ramen di tempat langgananku. Mungkin perut Kyo yang sudah terbiasa memakan makanan mewah dari restoran berkelas membuatnya tidak dapat menerima makanan murah yang dijual di pinggir jalan.
Kyo menggelengkan kepala. “Tidak, bukan karena itu. Aku hanya sedikit demam karena kehujanan kemarin.” Aku merasa lega setelah mendengar jawabannya, meskipun aku tetap merasa bersalah karena ajakanku untuk berkencan kemarin dia jadi sakit seperti ini.
“Tapi kau sudah baikan, kan? Aku khawatir kau tidak mengangkat teleponku seharian ini.”
“Maaf, seharian ini aku tidur, jadi aku tidak melihat ponsel.” Aku rasa bisa memaafkannya karena mengabaikanku hari ini dengan alasannya itu. Spontan aku mengangkat tangan kanan dan mendarat di kening Kyo, aku hanya ingin memastikan suhu tubuhnya karena mungkin dia sedang demam tinggi sekarang.
Namun, Kyo dengan cepat menyingkirkan tanganku dari keningnya. “Besok aku akan kembali ke sekolah, kondisiku sudah baik-baik saja. Jadi, Hanna, pulanglah. Maaf aku tidak bisa mengantarmu.”
“Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri. Sepertinya kau masih sedikit demam,” ucapku karena memang tubuhnya masih terasa hangat saat kupegang keningnya tadi.
“Tidak. Aku sudah baikan. Kau tidak perlu khawatir. Sekarang pulanglah.”
Aku terkejut Kyo tidak mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya, bukan berarti aku mengharapkannya tapi tidak ada basa-basi sedikit pun darinya seolah dia memang tak mengharapkan kedatanganku.
“Aku pulang dulu, kau lanjutkan istirahatnya. Maaf kalau kedatanganku mengganggumu, ya.” Aku tulus mengatakan ini, jadi tak enak hati karena mungkin Kyo merasa terganggu sehingga sikapnya secara terang-terangan menunjukan bahwa dia tak suka melihatku datang ke rumahnya. Aku pun berbalik badan dan mulai melangkah pergi.
“Tunggu Hanna!”
Dengan segera aku pun menghentikan langkah dan menoleh lagi ke arahnya. “Kenapa?” tanyaku heran.
“Berjanjilah lain kali kau tidak akan datang ke rumahku kecuali aku yang mengajakmu.” Aku yakin saat ini mataku sedang membulat dengan lebarnya, aku tidak pernah menyangka Kyo akan mengatakan ini. Apakah ini sebuah bukti tak terbantahkan bahwa dia memang tidak menyukai kedatanganku ke rumahnya? Aku kecewa sekali mendengarnya.
Aku hanya menganggukan kepala menanggapi perkataannya. Lalu aku pun kembali melangkah pergi meninggalkan Kyo dan rumah megahnya.
***
Aku hanya terdiam menyaksikan Kyo yang sedang menyantap makanannya dengan lahap di sampingku. Sebenarnya hari ini aku senang melihatnya masuk sekolah, tapi aku masih sedikit kesal padanya. Aku kesal karena dia melarangku datang ke rumahnya. Berbagai pemikiran negatif pun sempat memenuhi kepalaku. Mungkin dia malu mengajakku yang tidak sederajat dengannya ini masuk ke rumahnya yang mewah atau bisa jadi dia tidak berniat mengenalkanku pada orang tuanya. Padahal berbeda dengannya, aku ingin sekali mengajak Kyo ke rumahku untuk bertemu dengan ibu.
“Hanna, kenapa kau diam saja dan tidak memakan bekal makan siangmu?” tanyanya membuat pikiranku yang sempat melayang kini kembali tersadar.
“Aku tidak lapar,” jawabku ketus.
“Sini, aku habiskan makananmu.”
Tanpa meminta persetujuan dariku, dia mengambil bekal makan siangku dan menyantapnya dengan lahap.
Aku meringis melihatnya yang makan bagai orang kelaparan yang sudah beberapa hari tidak diberi makan. “Kau ini seperti orang kelaparan saja,” candaku, tidak mungkin kan dia kelaparan. Setiap hari pasti para pelayan di rumahnya menyiapkan makanan yang super mewah untuk Kyo dan keluarganya yang tinggal di rumah bagai istana kerajaan itu.
“Aku memang lapar. Lagi pula makanan buatanmu ini enak sekali. Aku menyukainya.” Kekesalanku sempat hilang mendengar pujiannya. Ya, aku senang dia menyukai makanan buatanku.
“Oh, iya. Hanna, kemarin siapa yang memberitahu alamat rumahku padamu? Apa itu Siky?”
Aku terkesiap mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba itu. Aku ingat kemarin Siky memintaku untuk tidak mengatakan pada Kyo bahwa dialah yang memberitahuku alamat rumahnya, karena itu saat ini aku sedang memutar otak untuk menjawab pertanyaannya.
“Bukan dari Siky. Dia tidak mau memberitahuku meskipun aku memohon seharian padanya,” jawabku bohong, harus menepati janjiku pada Siky yang sudah membantuku kemarin.
“Lalu kau tahu dari siapa?”
“Dari salah seorang teman sekelasmu, tapi aku juga lupa tidak menanyakan namanya. Hahaha .. jadi aku tidak tahu namanya.” Aku kembali berbohong.
Kyo memicingkan mata, entah dia mempercayai kebohonganku ini atau tidak. Aku memang sangat payah untuk urusan berbohong. Aku ragu Kyo mempercayai jawabanku.
“Huuh, bodoh sekali,” katanya sambil menyerahkan tempat bekal makan siang yang kini telah kosong. Secara bersamaan bel tanda waktu istirahat berakhir pun terdengar. Baik aku maupun Kyo bersiap-siap kembali ke kelas kami.
Namun, tiba-tiba aku mengingat perkataan ibu hari itu. Perkataan ibu yang memintaku mengajak Kyo ke rumah kami. Memang aku ragu apakah ibu masih mengizinkanku berpacaran dengan Kyo setelah melihat penampilannya yang urakan ini? Tapi sudah kuputuskan akan mempertemukannya dengan ibu. Aku juga ingin memberitahu Kyo, berbeda dengannya yang melarangku datang ke rumahnya, aku justru mengajaknya ke rumahku untuk bertemu ibu.
“Kyo, hari minggu nanti, apa kau bisa datang ke rumahku?”
Dia terdiam dan menatapku dengan raut wajah terkejut. “K-kenapa?” tanyanya bingung.
“Ibuku ingin bertemu denganmu.” Tanpa ragu aku memberitahunya alasan mengajaknya ke rumahku.
Kyo tertegun cukup lama seolah sedang menimbang-nimbang keputusan yang harus dia ambil. Hingga akhirnya dia mengulas senyum dan berkata, “Oh, baiklah. Aku pasti akan datang,” jawabnya sambil mulai melangkahkan kaki meninggalkanku, aku pun bergegas mengejarnya dan berjalan di sampingnya.
Hah, katakan ajakanku ini sangat nekat karena akan mempertemukan ibu dan Kyo. Apa pun yang akan terjadi nanti, apa pun reaksi ibu setelah melihat penampilan Kyo, sungguh aku sudah siap menghadapinya. Semoga tak ada hal buruk yang akan terjadi pada kami. Lagi-lagi untuk saat ini aku hanya bisa berharap dan berdoa.