“M-Maaf, aku tidak sengaja,” ucapku, memberanikan diri untuk meminta maaf pada orang itu. Tapi sepertinya dia marah besar karena kedua matanya berkilat marah disertai wajah yang memerah. Pria itu bangkit berdiri meski berulang kali hampir terjatuh lagi karena terlalu mabuk. Saat dia berhasil berdiri tegak lalu berjalan sempoyongan ke arahku, aku benar-benar ketakutan setengah mati.
“Punya mata itu pakai untuk melihat. Kau ini buta atau bagaimana?”
Pria itu berucap dengan kasar dan kini dia sudah berdiri tepat di depanku. Aroma alkohol seketika menguar dari mulutnya, aku tak nyaman dengan aroma itu karenanya aku melangkah mundur dan hal ini sepertinya membuat pria itu semakin marah.
“Mau pergi kemana kau, Hah? Setelah membuatku terjatuh, kau pikir bisa pergi dariku begitu saja.”
Pria itu mengangkat tangan kanannya dimana telapaknya sudah terkepal seolah hendak memukulku. Aku refleks berteriak disertai kedua mata yang terpejam karena tak sanggup melihat ayunan tangan pria itu yang sedikit lagi mengenaiku.
Anehnya, aku tak merasakan apa pun. Tak ada pula benda keras yang kurasakan mendarat di kepala, wajah maupun di bagian tubuhku yang lain. Aku pun bergegas membuka mata dan terkejut luar biasa menemukan seseorang tengah menahan kepalan tangan pria itu dengan mencengkeramnya erat. Pemilik tangan itu tidak lain adalah Kyo yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku. Aku bahkan tidak menyadari kedatangannya karena terlalu fokus pada pria mabuk itu.
“Heeh? Siapa kau, Hah? Jangan ikut campur urusanku. Wanita bodoh ini berani menabrakku. Aku harus memberinya pelajaran,” racau pria itu sembari berusaha melepaskan cengkeraman tangan Kyo pada tangannya.
Beberapa detik kemudian yang terdengar adalah ringisan kesakitan dari mulut si pria mabuk, rupanya Kyo mencengkeram tangannya semakin erat, bahkan sekarang memelintirnya seolah berniat mematahkan tulang tangan pria itu. Tentu aku terkejut melihatnya terutama saat suara teriakan pria itu kini membahana di lorong yang sepi ini.
“Coba saja kau berani memukulnya, aku akan mematahkan tanganmu ini.”
Suara Kyo terdengar berat dan sedikit menggeram, saat kulihat sorot matanya, dia memang terlihat marah besar. Apakah dia semarah ini karena melihatku nyaris dipukul pria mabuk itu? Bolehkah aku berpikir bahwa dia semarah ini karena tak suka melihatku disakiti pria itu?
“Ampun. Ampuni aku. Aku tidak akan mengganggunya lagi,” pinta pria itu, memohon agar Kyo tak melakukan seperti yang diancamkannya. Tapi sepertinya permohonan maaf pria itu sama sekali tak berpengaruh pada Kyo, karena tak ada tanda-tanda dia akan melepaskan cengkeramannya.
“Kyo, sudah cukup.” Aku yang menghentikannya karena aku tidak ingin masalah ini semakin diperbesar. “Aku yang bersalah. Dia benar, aku yang tidak sengaja menabraknya tadi.”
Kyo mendelik tajam padaku tanpa sedikit pun mengendurkan cengkeramannya. Si pria mabuk semakin berteriak histeris membuatku waswas, takut pihak keamanan tempat karaoke ini akan datang menghampiri kami.
“Kyo, aku mohon lepaskan dia.” Kali ini aku menarik tangan Kyo, dan berhasil karena akhirnya dia melepaskan cengkeramannya pada tangan pria mabuk itu.
“Jika aku melihatmu lagi di tempat ini, lihat saja, tulang-tulangmu pasti akan kubuat patah. Bukan hanya tulang tangan, tapi juga tulang kakimu agar tak bisa lagi berjalan.”
Untuk kedua kalinya Kyo mengancam, pria itu terlihat ketakutan, dia lalu berlari terbirit-b***t hingga jatuh berulang kali karena pengaruh alkohol yang membuatnya mabuk berat.
“Kau keterlaluan, Kyo. Tidak seharusnya kau mengancam dia seperti itu. Lihat, dia sampai ketakutan seperti itu.”
“Kau tidak tahu saja, orang itu memang sering membuat onar di sini. Sudah seharusnya diberi pelajaran.”
Mendengar ucapannya ini, aku pun dapat menyimpulkan sesuatu sekarang. Sepertinya Kyo dan teman-temannya memang sering mendatangi tempat ini.
“Ayo, kita kembali ke dalam. Sebenarnya kau sedang apa di sini? Ingin ke toilet?” tanya Kyo terlihat kesal.
Aku menggeleng tegas, “Aku pergi karena ingin pulang. Aku tidak mau masuk lagi ke dalam.”
Satu alis Kyo terangkat naik, “Kau ingin pulang, kenapa tidak mengatakannya padaku? Kenapa kau pergi tanpa meminta izin atau berpamitan padaku?”
“Aku tidak ingin mengganggumu karena sepertinya kau sedang sibuk dengan teman-temanmu. Terutama dengan Aya,” jawabku dengan kepala tertunduk. Menyebut nama Aya, aku jadi teringat lagi pada kata-kata wanita itu.
Suara decakan Kyo meluncur keras, “Persetan dengan mereka, seharusnya kau mengatakan padaku jika ingin pulang. Bukan mengendap-endap keluar seperti itu. Untung saja aku melihatmu menyelinap keluar tadi, jika tidak, entah apa yang sudah dilakukan orang gila tadi.”
Aku tersentak, sekarang mengerti alasan Kyo bisa ada di sini dan menolongku tepat waktu. Mungkin dia mengikutiku setelah melihatku keluar ruangan diam-diam.
“Jadi kau benar ingin pulang?”
Aku mengangguk, “Iya. Ini sudah terlalu malam. Aku takut ibu mengkhawatirkanku.”
“Bukankah tadi kau sudah meminta izin padanya?”
Sekali lagi aku mengangguk. Benar, tadi setibanya di tempat ini, aku langsung menghubungi ibu. Aku mengirimkan pesan dan mengatakan sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah teman. Karena hal itu aku merasa bersalah sekarang, merasa bersalah karena sudah membohongi ibu.
“Ibumu pasti mengerti walaupun kau pulang larut malam.”
“Tidak. Aku ingin pulang sekarang juga. Besok kita harus berangkat ke sekolah, aku tidak mau datang terlambat.”
“Tidak apa-apa sesekali datang terlambat,” ujar Kyo santai sembari menyengir lebar.
Dan detik itu juga aku mendelik tak suka, “Padahal kau tahu aku bisa menuntut ilmu di sekolah itu karena beasiswa. Aku tidak boleh melakukan kesalahan atau beasiswaku akan dicabut. Bahkan sekarang aku takut pihak sekolah mengetahui aku mendatangi tempat seperti ini. Bagaimana jika mereka berpikir aku bukan wanita baik-baik?”
Suara tawa Kyo tiba-tiba mengudara. Padahal aku sedang serius tapi sepertinya dia menganggap ucapanku ini sebagai lelucon.
“Aku serius, Kyo. Jangan samakan aku denganmu!” Aku sedikit membentak dan berhasil menghentikan tawanya, sekarang dia menatapku dengan ekspresi datar andalannya.
“Kalau kau tidak bisa mengantarku pulang, aku bisa pulang naik bus atau taksi.”
“Siapa bilang aku tidak bisa mengantarmu? Ya sudah, ayo pulang.”
Setelah mengatakan itu, Kyo melenggang santai begitu saja, meninggalkanku di belakang. Aku menghela napas dan tak memiliki pilihan selain mengikutinya.
***
Kyo tak berbohong, dia benar-benar mengantarku ke rumah. Namun aku meminta diturunkan cukup jauh dari rumahku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin ibu melihatku pulang diantar seorang pria. Terutama jika ibu sampai melihat penampilan urakan Kyo, aku takut ibu akan berpikir yang tidak-tidak tentang kami.
“Bukankah rumahmu masih jauh di depan sana?” tanya Kyo sembari menunjuk ke arah depan.
“Aku turun di sini saja. Aku takut ibu memarahiku jika melihatku diantar pulang seorang pria.”
“Haah? Masa kau akan dimarahi hanya karena pulang diantar seorang pria?”
Aku tak menjawab, hanya menundukan kepala karena memang kebenarannya seperti itu. Tak ada gunanya juga aku berbohong.
“Hei, Hanna.”
Dia tiba-tiba memanggilku, membuatku kembali mendongak dan memakukan pandangan padanya.
“Jangan bilang kau tidak pernah diantar pulang oleh seorang pria sebelumnya?”
“Memang belum pernah,” jawabku, tak mengelak.
“Apa pacarmu tidak pernah mengantarmu pulang?”
“Aku tidak punya pacar.” Sekali lagi kujawab dengan tegas, tanpa mengelak sedikit pun.
“Oh, sekarang kau tidak memiliki pacar ya. Tapi kau pasti pernah berpacaran kan sebelumnya?”
Aku menggeleng-gelengkan kepala berulang kali, “Tidak pernah. Aku tidak pernah berpacaran dengan siapa pun.”
“Tidak pernah meski satu kali pun?” tanya Kyo lagi sembari mengangkat jari telunjuknya membentuk angka satu.
“Aku selalu serius belajar dan bekerja, mana sempat memikirkan soal berpacaran.”
“Hoo, benar juga, kau ini bekerja paruh waktu di mini market itu, kan? Kenapa kau harus bekerja? Ayahmu memangnya kemana?”
Aku terenyak mendengar pertanyaannya ini. Toh, tetap kujawab juga. “Ayahku sudah lama meninggal. Saat aku duduk di bangku junior high school. Ibu yang selama ini bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami. Tapi aku tidak ingin merepotkan ibu lebih dari ini jadi aku bekerja paruh waktu untuk kebutuhan sekolah agar tidak perlu meminta pada ibu.”
“Waah, ternyata kau ini memang gadis baik-baik yang sangat sayang pada ibumu ya.”
Satu alisku terangkat naik, sedikit tersinggung mendengar ucapannya yang bagiku seperti sedang merendahkan. Di mataku sekarang, Kyo dan orang-orang yang biasa memandangku sebelah mata, tidak ada bedanya.
“Tentu saja aku gadis baik-baik. Jadi jangan samakan aku dengan mantan-mantan kekasihmu. Terutama teman-teman wanitamu tadi.”
Aku terenyak ketika Kyo tiba-tiba merangkul pinggangku, dia lalu mendekatkan mulutnya ke telingaku, entah akan melakukan apa. Yang pasti kedua lututku terasa lemas sekarang karena aroma maskulin Kyo yang memabukan begitu menusuk indera penciumanku.
“Kau, gadis yang berharga. Aku jadi semakin bersemangat untuk menjagamu,” bisiknya pelan di telingaku. “Kau tahu, Hanna. Entah kenapa aku senang mendengarmu belum pernah berpacaran sebelumnya.”
Aku menegang kali ini, apa maksudnya berkata demikian?
Hanya itu yang dibisikkan Kyo karena setelah itu dia melepaskan rangkulannya pada pinggangku dan tanpa mengatakan apa pun berjalan santai menuju motornya.
“Tunggu apa lagi? Kau bilang ingin pulang, kenapa masih berdiri di sana?”
Aku mengerjap-erjapkan mata, baru tersadar sejak tadi hanya menatapnya bagai orang bodoh dan kehilangan kesadaran. Aku bahkan melupakan niat awalku yang akan melangkah pergi menuju rumahku.
“Atau kau masih belum puas berada di dekatku? Masih ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu bersamaku malam ini?”
Aku mendengus keras mendengar ucapannya itu, “Jangan terlalu percaya diri. Siapa juga yang ingin berlama-lama denganmu.”
Aku pun berbalik badan dan melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.
“Sampai jumpa besok di sekolah, Hanna.”
Aku menghentikan langkah dan detik itu juga kembali berbalik badan. Namun yang kudapatkan adalah motor Kyo yang melesat pergi, meninggalkanku sendirian berdiri di sini sambil memegangi d**a kiriku yang berdetak bagai baru saja dikejar anjing galak. Jadi apa sebenarnya maksud Kyo berkata seperti tadi? Kenapa dia senang setelah mengetahui aku belum pernah berpacaran dengan siapa pun sebelumnya?
Sekali lagi aku bingung dengan sikap Kyo. Aku takut salah paham dan menyalahartikan sikap dan perkataannya. Bagaimana ini? Kenapa hanya dengan mendengar perkataannya tadi sudah membuat jantungku berdebar kencang seolah siap meledak?
Aku ... mungkinkah sudah jatuh cinta sedalam itu padanya? Jatuh cinta pada pria penuh misteri dan seorang berandalan sepertinya?
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, menyadari mulai sekarang harus berusaha menyingkirkan perasaan ini karena setelah melihat kegilaannya malam ini bersama teman-temannya, aku tahu dia bukan pasangan yang tepat untukku.
Lalu kulanjutkan langkah menuju rumah disertai otak kecil di dalam kepalaku yang tengah berputar untuk mencari alasan yang masuk akal jika ibu memberondongku dengan pertanyaan.
***
Ingatan kejadian semalam tak bisa luput dari pikiranku. Bahkan sampai saat ini aku masih belum bisa mempercayai semua yang aku lihat semalam, terutama setelah aku mengetahui kebenaran lain dari seorang Kyo.
Semalaman aku nyaris tak bisa memejamkan mata, karena selain tak bisa berhenti memikirkan perkataan Kyo sebelum kami berpisah, aku juga masih tak percaya Kyo sering mengikuti balapan motor liar, sering merokok dan mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Terlebih dia mungkin sering bermain dengan banyak wanita bayaran, tidak menutup kemungkinan dia sering melakukan hal di luar batas seperti teman-temannya yang b******u mesra dengan wanita di depan umum tanpa malu. Memikirkan semua prilaku buruk Kyo itu membuatku merasa tak tenang. Hatiku berdenyut sakit setiap membayangkan Kyo bermesraan dengan wanita lain, seperti saat kulihat dia bermesraan dengan Aya semalam.
“Hai, makanan ini enak seperti biasa.”
Perkataan Kyo yang tiba-tiba itu, membuatku terkesiap dan ingatanku tentang kejadian semalam hilang dalam sekejap dari pikiranku. Sebenarnya saat ini, aku dan Kyo sedang melahap bekal makan siang kami yang tentu saja aku siapkan sendiri sebelum berangkat sekolah tadi pagi. Aku menatap ke arah Kyo yang sedang menyantap makanannya. Dia yang sekarang ini memang sangat berbeda dengan Kyo yang aku lihat semalam. Sungguh aku tidak ingin lagi melihat sosok Kyo yang semalam.
“K-Kyo, apa setiap malam kau mengikuti balapan motor seperti semalam?” tanyaku. Hal ini memang mengganjal dalam pikiranku sejak semalam. Aku ingin tahu seberapa sering dia melakukan kegilaan seperti semalam.
“Begitulah,” jawabnya santai sambil tetap melahap makanannya.
“Pasti karena itu ya kau terlambat datang ke sekolah setiap hari?”
Kyo tiba-tiba tertawa padahal menurutku tak ada yang lucu dari pertanyaanku ini. “Iya. Aku selalu bangun kesiangan.”
Aku terdiam, haruskah aku mengatakan pemikiran dan perasaanku ini padanya? Aku tidak ingin membuatnya tersinggung, tapi aku pun tidak ingin dia menjadi berandalan seperti itu. Pergaulan dan kebiasaan hidup Kyo jelas sebuah kesalahan besar. Jika aku melarangnya, mungkinkah dia akan marah?
“Haah, kenyang sekali,” katanya sambil mengusap-usap perutnya. “Kau tidak memakan makananmu?” tanyanya heran sambil menatap ke arah makananku yang memang baru sedikit aku makan. Aku terlalu larut dalam pikiranku sehingga kehilangan selera untuk makan.
“Kau baik-baik saja kan, Hanna? Aku perhatikan dari tadi kau melamun terus.”
Kutatap wajah Kyo yang kini sedang menatapku. Aku sangat menyayangi Kyo dan aku sadar kebiasaannya itu hanya akan membuatnya celaka, bisa saja dia celaka jika terus mengikuti balap motor liar. Aku juga tak suka melihatnya sering merokok dan mengkonsumsi alkohol karena akan berakibat buruk untuk tubuhnya. Terlebih aku tak suka melihatnya sering bermesraan dengan sembarang wanita setiap malam. Bagaimana jika dia tertular penyakit para wanita panggilan itu? Entahlah, semua pemikiran buruk kini menari-nari di dalam kepalaku. Karena itu meskipun sempat ragu, akhirnya aku mengutarakan ketidaksukaanku ini.
“Kyo, maaf jika aku bicara seperti ini. Tapi aku ingin jujur padamu.”
Satu alis Kyo terangkat naik, “Haah? Apa? Kau serius sekali.”
Aku hanya tetap memandang lurus ke arah matanya tanpa menanggapi ucapannya.
Kyo tiba-tiba menghela napas panjang, “OK, OK. Katakan apa pun yang ingin kau katakan padaku. Aku akan mendengarkannya.”
“Aku tidak suka melihatmu ikut balapan motor seperti semalam. Itu sangat berbahaya. Kau bisa saja celaka seperti teman-temanmu. Konsekuensi terburuknya, kau bisa kehilangan nyawa. Aku tak mampu membayangkannya, aku benar-benar mengkhawatirkanmu karena aku sangat peduli padamu, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Aku menjeda ucapanku namun tak berani menatap wajahnya karena aku belum siap melihat reaksinya. Karena dia hanya diam membisu, aku pun kembali melanjutkan ucapan yang masih menggantung.
“Aku tahu ... aku tidak punya hak untuk melarangmu. Tapi jika kau peduli padaku, bisakah kau turuti permohonanku ini? Aku mohon berhentilah ikut balapan seperti semalam.”
Tiba-tiba saja kedua mataku berair dan tanpa kusadari air mata tak bisa kubendung lagi sehingga kini tengah mengalir membasahi wajahku.
Kyo berdecak, “Kau ini mudah sekali menangis ya, masa karena mengatakan itu saja kau menangis?” ucapnya sambil menertawakanku. Aku sangat lega karena tampaknya dia tidak tersinggung dengan ucapanku ini.
Aku kini memberanikan diri untuk menatap wajahnya, “Jadi bagaimana, Kyo? Apa kau mau mengabulkan permohonanku ini?”
“Hm, bagaimana ya? Biar aku pikirkan dulu.”
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku berharap dia akan mengabulkan permohonanku tapi sepertinya aku memang harus memberinya waktu untuk berpikir. Aku lega sekarang karena semalam sempat berpikir Kyo mungkin akan marah mendengarku mengatakan ini. Kenyataannya sungguh di luar dugaanku, dia menanggapinya dengan santai, tak terlihat marah atau tersinggung sedikit pun.
“Oh, iya. Kyo, selain itu aku baru tahu kalau kau suka merokok dan minum alkohol. Apa kau sering mabuk-mabukan bersama teman-temanmu seperti semalam?” Hal ini juga yang mengganjal pikiranku sejak semalam.
“Hm, tidak setiap malam. Aku ikut minum bersama mereka jika aku memenangkan balapan saja.”
“Apa orangtuamu tidak mempermasalahkanmu pulang dalam keadaan mabuk?”
Kyo terdiam, membuatku merasa bersalah karena telah menanyakan hal ini padanya. Aku sadar pertanyaanku kali ini mungkin terlalu berlebihan karena ini menyangkut urusan pribadinya dengan keluarganya.
“M-Maaf, Kyo. Seharusnya aku tidak menanyakan ini.”
Kyo tersenyum tipis, seketika sukses membuatku terpaku di tempat. “Tidak apa-apa. Hanya saja kau tahu kan aku ini siswa pindahan di sekolah ini?” Aku mengangguk karena aku tahu betul hal itu. Kyo baru beberapa bulan saja terdaftar sebagai salah satu siswa di sekolah ini. “Aku tinggal sendirian di sini karena orangtuaku tinggal di Tokyo.”
“Haah? Serius kau tinggal sendirian?” tanyaku refleks memekik kaget.
Kyo mengangguk tanpa ragu, “Ya. Aku tinggal sendirian di Hokkaido.”
Aku pun memilih diam karena sepertinya dia memang mengatakan yang sebenarnya. “Kyo, kau tahu kan merokok dan meminum alkohol itu sangat membahayakan tubuhmu?”
Kyo mendengus kasar kali ini, “Haah? Jangan katakan kau pun melarangku merokok dan meminum alkohol?” katanya seakan-akan dia bisa membaca pikiranku.
“Sebenarnya memang iya,” balasku disertai anggukan. “Aku mohon kau berhentilah merokok dan mabuk-mabukan. Bisakah kau pikirkan juga permohonanku ini?” ujarku sambil menangkupkan kedua tangan di depan d**a sebagai bentuk permohonan.
“Kau ini padahal bukan pacarku tapi permintaanmu banyak sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kau ini pacarku,” jawabnya.
Aku jadi terdiam, sepertinya aku memang sudah keterlaluan. Dia benar, padahal aku ini bukan pacarnya, kenapa aku bisa seberani ini mencoba mengatur hidupnya?
“Sudahlah. Lupakan permintaanku tadi,” kataku cepat-cepat meralat karena aku sadar posisiku yang tak punya hak sedikit pun untuk meminta banyak hal padanya, terlebih mengatur hidupnya.
“Hm, baiklah. Akan aku pertimbangkan.”
Seketika aku terbelalak. Aku yang awalnya sedang melanjutkan aktivitas makanku, kini kembali kutatap wajahnya.
“Benarkah kau akan mengabulkan permintaanku, Kyo?” Aku yakin wajahku sedang berbinar senang sekarang.
“Aku bilang tadi akan kupertimbangkan. Artinya aku tidak janji akan mengabulkannya.”
“Kalau begitu ada satu lagi permintaanku,” ucapku sembari menyengir lebar.
“Haah, masih ada lagi?” Kyo lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, tidak. Aku tidak mau mendengarnya.”
Dia beranjak bangun dari duduknya dan bermaksud pergi meninggalkanku. Namun dengan cepat aku menahannya dengan menangkap tangannya lalu kugenggam erat.
“Hei, dengarkan dulu. Ini bukan permintaan yang susah.”
Dia sama sekali tidak menjawabnya, dia hanya tengah menatapku sinis saat ini. Tapi aku tak gentar, kembali kulanjutkan ucapanku yang memang belum selesai. “Kau tahu kan peraturan sekolah ini sangat ketat tapi kau sering melanggarnya? Ya, walaupun aku heran para guru tidak pernah mempermasalahkannya. Aku jadi merasa ini tidak adil.”
Kyo mendesah pelan, “Lalu kau maunya apa?”
Inilah pertanyaannya yang kutunggu-tunggu karena itu begitu pertanyaan itu terlontar dari mulutnya, detik itu juga aku menyeringai lebar, “Bisakah Kyo berhenti melanggar peraturan sekolah ini?”
“Maksudnya?”
“Aku mohon jangan datang terlambat lagi ke sekolah. Aku yakin kau bisa melakukannya.” Aku kembali memberikan cengiran lebar disertai jemariku yang kubentuk menjadi huruf V, berharap kali ini pun dia tidak akan marah padaku.
“Banyak sekali permohonanmu. Sudah ya, aku mau kembali ke kelas dulu,” katanya sambil melepaskan genggaman tanganku pada tangannya.
“Tapi kau belum menjawabnya, kau akan memikirkannya juga, kan? Semua permohonanku ini akan kau pikirkan, kan?!” teriakku sebelum dia benar-benar menjauh.
“Belnya sudah berbunyi. Sudah ya, Hanna. Aku pergi ke kelas dulu.”
Dia pun berlari meninggalkanku tanpa menunggu responku. Aku hanya bisa tersenyum melihat sikapnya. Tapi aku lega karena tak terlihat raut kemarahan atau kekesalan di wajahnya meskipun sudah kuutarakan semua permintaanku yang keterlaluan itu.