CHAPTER 12

2588 Kata
Balapan itu berakhir dengan Kyo yang keluar sebagai pemenang. Suasana tampak riuh di sini karena semua orang bersorak senang. Mereka bertepuk tangan dan mengelu-elukan nama Kyo dengan lantang dan saling bersahut-sahutan. Mungkin di sini hanya aku yang tetap diam membisu tanpa melakukan apa pun sedangkan tatapanku tertuju sepenuhnya pada Kyo yang baru saja turun dari motor sambil melepas helmnya. Dia tersenyum lebar sambil memasang jari-jari tangannya membentuk huruf V, lalu bertos ria saat beberapa pria menghampirinya.  Dengan mata kepala ini aku juga melihat beberapa wanita menghampiri Kyo, mereka memeluk bahkan ada yang berani mengecup pipi Kyo sebagai ucapan selamat. Dan yang membuatku sebal karena Kyo tak menolaknya sedikit pun, dia justru ikut membalas pelukan mereka dan dengan senang hati mendekatkan wajah sehingga para gadis itu bisa mengecup pipinya sesuka hati mereka. Aku menggelengkan kepala karena ternyata Kyo tidak sebaik yang kukira.  “Hanna, kau tidak ikut mengucapkan selamat pada Kyo?”  Aku menoleh ke samping, pada Chika yang baru saja menanyakan itu padaku. Aku menggeleng perlahan, “Tidak. Lagi pula sepertinya Kyo sedang bersenang-senang.” “Mereka hanya mengucapkan selamat. Setelah ini baru mereka akan bersenang-senang.” “Apa yang akan mereka lakukan?” Chika mengedipkan sebelah mata, “Kau akan lihat sendiri sebentar lagi,” katanya.  Aku kembali memperhatikan Kyo dan teman-teman berandalannya, mereka masih tertawa sambil entah membicarakan apa karena aku tak bisa mendengarnya dari sini. Jarakku dan mereka terlalu jauh. Kendati demikian, Kyo yang sedang merangkul bahu salah satu wanita bisa kulihat dengan jelas di sini. Kyo terlihat begitu dekat dengan wanita itu, seorang wanita cantik bertubuh bagai lidi dengan mengenakan pakaian seksi yang memperlihatkan beberapa aset berharga miliknya. Melihat kedekatan mereka entah kenapa hatiku rasanya sakit sekali. Dan jika boleh jujur, aku ingin segera pergi dari tempat ini sekarang juga. Tapi tak ada satu pun kendaraan umum yang melintas kemari seolah tempat ini dikhususkan untuk mereka penyuka balapan liar. Lalu bagaimana caranya aku pulang ke rumah?  “Hanna, sepertinya sudah saatnya. Maaf, aku pergi duluan dengan Siky, dia sudah menjemputku,” kata Chika tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Siky yang sedang berjalan menghampiri kami. “Kalian mau pulang? Lalu aku bagaimana? Aku dengan siapa di sini?” Aku bertanya bertubi-tubi karena sungguh aku sedang kebingungan sekarang.  Di tempat ini hanya Siky dan Chika yang aku kenal, jika mereka meninggalkanku lantas bagaimana dengan nasibku? Padahal Kyo sepertinya lupa sudah membawaku ke tempat ini karena dia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Lagi pula, mungkin saja dia tak peduli lagi padaku setelah ada wanita cantik itu di sampingnya sekarang. Firasatku mengatakan mungkin wanita itu akan menggantikanku duduk di motor Kyo. Sekali lagi kutanyakan, bagaimana caranya aku pulang?  “Bukan pulang, tapi kita akan pergi ke tempat untuk merayakan kemenangan Kyo. Seperti yang kukatakan tadi, setelah ini kita akan bersenang-senang,” jawab Chika. “Hai, sayang. Maaf, ternyata malam ini aku gagal lagi.”  Atensiku kini tertuju pada Siky yang meminta maaf pada Chika karena dirinya tak berhasil memenangkan balapan. Apa-apaan ini, apa Chika memang setiap malam menemani Siky menonton balapan? Aku heran karena Chika tampak biasa bahkan mendukung kekasihnya mengikuti balapan liar yang sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawa. Jika itu aku, aku tentu akan melarang kekasihku mengikuti balapan yang tak jelas seperti ini. Tapi sepertinya Chika memang sangat mendukung karena sekarang saja dia meyakinkan Siky agar pria itu kembali berusaha di balapan berikutnya. Aku refleks menggelengkan kepala, semakin yakin aku salah karena sudah bergaul dengan mereka. Pola pikir kami tampaknya sangat berlainan.  “Hanna, kau tidak mengucapkan selamat pada Kyo?” Kali ini Siky yang bertanya padaku.  Aku menggeleng tegas, “Tidak,” jawabku. “Kenapa? Padahal aku yakin Kyo pasti senang jika kau memberikan selamat juga padanya. Walau bagaimana pun dia sudah berjuang keras agar bisa keluar sebagai pemenang. Aku yakin dia ingin memperlihatkan kemampuannya padamu.” Aku tersenyum miris merasa ucapan Siky sangat berlebihan. Mana mungkin Kyo berusaha memenangkan balapan ini karena ingin menunjukan kemampuannya padaku. Menurutku dia berusaha menang karena ingin dipuji wanita-wanita cantik tadi, terutama wanita yang hingga detik ini masih dia rangkul mesra seolah wanita itu kekasihnya.  “Siky, wanita itu siapa? Apa dia kekasih Kyo?” tanyaku sambil menunjuk dengan dagu ke arah wanita yang bahunya dirangkul Kyo. “Oh, itu Aya. Benar dia pacarnya Kyo.” Yang menjawab adalah Chika karena sepertinya dia juga cukup tahu banyak tentang Kyo. Detik itu juga aku menundukan kepala walau sudah kutebak hal ini tetap saja hatiku sakit setelah mengetahui wanita itu memang benar kekasihnya.  “Lebih tepatnya mantan kekasih. Setahuku mereka baru putus.” Aku seketika mendongak setelah mendengar jawaban Siky. “Mereka putus?” tanyaku memastikan telingaku tak salah mendengar. Siky mengangguk tegas, “Ya. Sekitar dua minggu yang lalu. Sebelum Kyo pergi ke Tokyo, dia memutuskan hubungannya dengan Aya.” “Oh, mungkin karena dia sudah memiliki kekasih baru lagi sekarang?”  Pertanyaan yang dilontarkan Chika sama persis seperti yang ingin kutanyakan pada Siky.  Siky mengangkat kedua bahunya, “Entahlah. Dia belum cerita padaku memiliki kekasih baru. Atau mungkin ada seseorang yang sedang diincarnya karena itu dia memutuskan hubungannya dengan Aya.”  Saat mengatakan itu Siky tiba-tiba mengedipkan sebelah mata padaku. Apa maksudnya itu?  “Hanna, kami berangkat dulu ya. Yang lain juga sudah mulai berangkat.” Aku mengikuti arah yang ditunjuk Siky, dan benar saja beberapa orang sudah mulai meninggalkan tempat ini satu demi satu. “Sebenarnya kalian akan pergi kemana?” “Tentu saja bersenang-senang. Untuk merayakan kemenangan Kyo.” Aku memutar bola mata karena Chika pun tadi memberikan jawaban yang sama seperti Siky barusan. “Maksudnya kalian akan bersenang-senang dimana?” “Oh, kalau itu nanti juga kau akan tahu. Sudah ya, kami berangkat duluan.” Siky menggenggam tangan Chika, berniat membawanya pergi dan detik itu juga aku gelagapan di tempatku berdiri. “Tunggu, Siky. Jika kalian pergi, lalu aku bagaimana di sini?”  Siky dan Chika saling berpandangan seolah bingung mendengar perkataanku ini.  “Bukankah kau datang ke sini bersama Kyo?” tanya Siky. Aku hanya mengangguk karena memang benar aku datang dengannya tadi. “Kalau begitu kau akan pergi bersamanya lagi.” “Tapi ...” aku melirik ke arah Kyo yang masih terlihat sibuk dengan teman-temannya. Bahkan kini dia sedang memeluk wanita bernama Aya itu dari belakang, sesekali mendekatkan mulut ke telinga wanita itu lalu entah membisikkan apa karena setelahnya Aya tertawa, yang membuatku geram luar biasa di sini. Bagaimana bisa dia bermesraan dengan wanita lain tepat di depan mataku? Rasanya aku ingin menyeret Kyo agar menjauh dari wanita yang baru kuketahui merupakan mantan kekasihnya. Walau di mataku mereka terlihat masih pasangan kekasih yang sedang menjalin hubungan asmara.  “... Kyo sepertinya sedang sibuk,” tambahku. “Tidak. Dia hanya sedang menerima ucapan selamat dari mereka. Dia pasti akan menghampirimu sebentar lagi.” Aku tersenyum sinis mendengar ucapan Siky ini, rasanya mustahil Kyo akan menghampiriku. Aku yakin sekali dia lupa padaku. “Mungkin dia lupa aku ada di sini.”  Alih-alih merasa iba dan menanggapi serius keluhanku, mereka berdua justru menertawakanku sekarang.  “Kyo tidak mungkin melupakanmu, Hanna. Dia yang membawamu ke sini. Sudah ya, kami pergi dulu.” “Sampai bertemu di tempat hiburan, Hanna,” pamit Chika sambil melambaikan tangan padaku.  Aku ingin kembali menghentikan mereka tapi kali ini mereka mengabaikanku dan berjalan begitu saja sambil saling merangkul mesra, meninggalkanku bagai orang bodoh berdiri sendirian di sini.  “Kyo, kami duluan ya!” teriak Siky sebelum dia dan Chika melesat pergi karena keduanya sudah duduk manis di atas motor sport hitam milik Siky.  Kyo tak menyahut, pria itu hanya mengangkat satu tangannya sambil mengacungkan ibu jari. Lalu tiba-tiba Kyo menoleh padaku membuatku menegang di tempat karena tertangkap basah aku sedang memperhatikannya sedari tadi.  Kyo tiba-tiba melepaskan kedua tangannya yang melingkar di bahu Aya, setelah bertos ria dengan teman-teman berandalannya, dia melangkah pergi. Dan sungguh aku terkejut karena dia sedang berjalan menghampiriku sekarang. Ternyata yang dikatakan Siky memang benar, Kyo tidak melupakan keberadaanku di sini.  “Maaf membuatmu menunggu lama. Ayo, kita juga pergi,” kata Kyo sambil menarik tanganku tanpa permisi agar mengikuti langkahnya. “Kita mau kemana?” “Bersenang-senang. Kau lihat tadi aku menang balapan, kan?” Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat, entah kenapa rasanya aku ingin menolak pergi. Aku takut Kyo akan membawaku ke tempat yang lebih mengerikan dari tempat ini.  “Aku tidak ingin ikut. Aku pulang saja, Kyo. Antarkan aku pulang.”  Kyo tiba-tiba menghentikan langkah lalu berbalik menghadapku. “Jangan dulu pulang. Sebentar saja ikut dengan kami. Tidak mungkin kan aku tidak datang padahal itu perayaan kemenanganku.” “Tapi ini sudah malam. Aku takut ibu mencariku.” “Kau hubungi dulu ibumu. Katakan padanya apa pun agar dia tidak mencemaskanmu.” “Kau menyuruhku berbohong?” Kyo mengangkat kedua bahunya, “Terserah kau. Berkata jujur pun tidak masalah. Katakan kau akan pergi bersenang-senang untuk merayakan kemenangan seorang teman yang baru saja  menang balapan motor,” katanya sambil menyengir lebar tanpa merasa bersalah.  Tentu saja aku tidak akan menurutinya karena ibuku pasti syok berat jika mengetahui aku bergaul dengan berandalan-berandalan ini. Padahal ibu selalu mewanti-wanti agar aku tidak salah bergaul di saat di zaman sekarang pergaulan bebas dan salah sudah merajalela di mana-mana.  “Sudah. Ayo, cepat kita pergi.” Kyo kembali menarik tanganku dengan paksa. “Tapi aku belum memberitahu ibu.” “Nanti saja kalau kita sudah tiba di sana.”  Dan setelah itu aku tak bisa berkutik selain pasrah mengikuti Kyo. Saat dia naik ke motornya, aku pun ikut naik dan kini sudah duduk manis di belakang.  “Pegangan yang kuat ya karena kita ketinggalan mungkin aku akan sedikit mengebut.”  Belum sempat aku merespon, Kyo menjalankan motornya begitu saja, dan dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya karena dia menjalankan motornya dengan kecepatan mengerikan. Aku bahkan nyaris terjengkang ke belakang beruntung refleks kedua tanganku cukup cepat sehingga aku bergegas melingkarkan tangan di pinggangnya, aku memeluknya seerat mungkin sambil memejamkan mata, takut luar biasa karena Kyo mengendarai motor seolah sedang ikut balapan seperti tadi.  Sekarang aku benar-benar cemas memikirkan kemana Kyo akan membawaku pergi. Terlebih hiburan seperti apa yang mereka katakan untuk bersenang-senang merayakan kemenangan Kyo. Aku harap mereka tidak melakukan hal gila dan menyeretku ikut bergabung dengan mereka. Ya, semoga saja.   ***    Apa yang kutakutkan benar-benar terjadi, ternyata Kyo membawaku ke tempat yang seharusnya tidak kudatangi. Dia membawaku ke sebuah tempat karaoke yang cukup terkenal di Hokkaido. Di sana mereka memang bersenang-senang. Mereka bernyanyi ditemani beberapa wanita cantik yang sengaja mereka sewa untuk menemani semalaman ini.  Di atas meja terhidang berbagai makanan beserta minuman keras yang menguarkan aroma tak sedap di indera penciumanku. Mereka mabuk-mabukan di sini bahkan ada yang tebar kemesraan, tak merasa malu dan tak peduli meskipun banyak orang di sini. Namun seolah mereka tak ingin ikut campur dengan urusan orang lain, tak ada yang melarang pasangan m***m itu untuk tak bermesraan secara berlebihan di sini. Nyatanya beberapa pasangan m***m kini dengan bebas berciuman, berpelukan bahkan melakukan hal yang lebih intim dari itu. Jadi inikah arti dari sebuah pergaulan bebas yang sering diwanti-wanti ibu agar aku tak terjerumus ke dalamnya?  Aku tak melakukan apa pun, hanya duduk manis di samping Kyo yang sedang terlibat obrolan seru dengan teman-temannya. Sebenarnya aku tak nyaman duduk di sini, selain karena aku merasa diabaikan dan tak paham arah pembicaraan mereka, asap rokok yang mengepul dari mereka yang sedang merokok termasuk Kyo, mulai mengganggu pernapasanku. Seandainya ada seseorang yang bisa kuajak pergi saja dari ruangan ini. Aku teringat pada Chika dan kupikir tidak ada salahnya untuk mencoba mengajaknya pergi. Aku lantas menoleh ke sebelah kiri dimana kulihat tadi Chika dan Siky duduk di sana. Namun seketika aku memalingkan wajah karena yang kutemukan adalah mereka berdua sedang bermesraan. Berciuman intens tak ada bedanya dengan pasangan lain.  Aku menundukan kepala sambil kesepuluh jariku saling meremas, aku ingin segera pergi saja dari tempat terkutuk ini.  “Hei, Kyo. Aku penasaran sejak tadi, gadis di sampingmu itu, dia siapa? Pacar barumu?”  Aku yang sedang menunduk ini pun refleks menoleh ke arah sumber suara, pada sosok Aya yang bertanya sambil memicing penuh curiga padaku. Aku tahu dia sedang menelisik penampilanku yang mengenakan pakaian serba tertutup, berbeda dengannya yang mengenakan pakaian seolah kekurangan bahan.  “Dia, Hanna. Temanku di sekolah,” jawab Kyo. “Oh, aku pikir pacar barumu. Tumben sekali kau membawa seorang teman wanita ke acara seperti ini?” Aya kembali bertanya. “Dia penasaran kemana aku biasanya pergi jika malam hari karena itu aku mengajaknya.”  Aya mengangguk-anggukan kepala dan tak lagi melontarkan pertanyaan. Aku menghela napas panjang, pada Aya, Kyo menjawab begitu jujur padahal aku ingat saat beberapa temannya bertanya tentangku, Kyo menjawab seolah aku kekasihnya. Ah, mungkin dia berkata jujur pada Aya karena tak ingin wanita itu salah paham pada hubungan kami yang memang hanya sebatas teman. Aku jadi ragu yang dikatakan Siky tadi benar, aku justru berpikir mereka masih menjalin hubungan. Mereka pasti belum putus.  Aku menghela napas dan tiba-tiba tenggorokan terasa begitu kering. Aku mengedarkan tatapan ke arah meja namun tak ada satu pun minuman yang bisa kuminum karena yang terhidang di sini hanya minuman keras dan beralkohol. Tatapanku lalu tertuju pada sudut ruangan di dekat pintu keluar, di sana ada tempat air putih. Aku pun beranjak bangun berniat untuk mengambil air itu.  Sesampainya di sana tanpa ragu aku menenggak air putih hingga nyaris tandas hanya dengan sekali tegukan saking keringnya tenggorokanku ini.  “Hei, kau dan Kyo tampak dekat?”  Aku tercekat tentu saja karena suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Aku berbalik badan dan sedikit tersentak karena terkejut menemukan Aya sudah berdiri di hadapanku. Apa dia mengikutiku ke sini?  “Kami hanya teman biasa,” jawabku. “Benarkah? Tapi aku meragukannya. Baru sekarang aku melihat Kyo mengajak teman wanitanya ke acara seperti ini.” Aku menggelengkan kepala karena aku juga tak tahu alasan Kyo mengizinkanku untuk ikut. “Aku tidak tahu. Aku hanya bertanya kemana dia pergi setiap malam, tiba-tiba dia mengajakku ke tempat balapan dan ke sini.” “Apa kau mencintai Kyo?”  Kini kedua mataku terbelalak, apa maksud pertanyaannya ini? Kenapa dia tiba-tiba bertanya demikian?  “Aku dan Kyo sempat berpacaran.” “Siky bilang kalian sudah putus.” Aku menyela dengan cepat dan terlihat dia mendelik tak suka padaku. “Memang benar. Kyo sudah memutuskan hubungan kami tapi jujur saja aku belum bisa menerimanya.” Aku mengernyitkan dahi, lantas apa tujuannya mengatakan ini padaku? Aku tidak mengerti dengan sikap wanita bernama Aya ini.  “Aku masih sangat mencintai Kyo dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya dariku. Aku akan membujuknya untuk kembali berpacaran denganku karena itu aku harap kau tidak mengganggunya.”  Oh, sekarang aku tahu tujuannya mengikutiku sampai kemari, rupanya dia ingin memperingatkanku untuk tidak mendekati Kyo.  Aku mendengus pelan, “Jangan khawatir. Seperti yang Kyo katakan tadi, kami hanya teman di sekolah.” “Bagus kalau begitu.” Aya kini memperhatikan penampilanku, dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Lagi pula jika aku perhatikan kau memang tidak mungkin kekasih Kyo. Karena ya, kau bukan tipe dia. Kau terlihat polos dan lugu sedangkan Kyo menyukai wanita yang dewasa dan agresif.”  Aya mengulas senyum, bukan senyum ramah melainkan senyum mencibir karena dia secara terang-terangan mencemoohku. Setelah mengatakan kata-kata pedas itu, dia melenggang pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sedikit pun meski ucapannya sangat melukai hatiku.  Aku melirik sekilas pada Kyo yang sedang tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya. Siky dan Chika sudah tak ada lagi di kursi mereka mungkin mereka pergi ke tempat yang lebih tertutup agar tak ada yang mengganggu kemesraan mereka. Beberapa pasangan lain mulai melakukan tindakan yang lebih gila hingga membuatku malu sendiri melihatnya. Suasana di sini pun sangat ribut karena beberapa orang bernyanyi dan terdengar tak karuan. Alunan musiknya pun terlalu kencang hingga rasanya memekakan telinga. Cukup sudah, kesabaranku sudah habis karena itu aku membuka pintu yang kebetulan berdiri kokoh di dekatku, lalu tanpa ragu melenggang pergi.  Aku berjalan cepat dengan kepala tertunduk karena aku ingin segera keluar dari gedung ini. Dan tampaknya itulah kesalahan terbesarku karena tanpa sengaja aku menabrak seorang pria yang berjalan sempoyongan karena sepertinya sedang mabuk. Pria itu jatuh terjengkang karena bertabrakan cukup kencang denganku. Saat aku ingin meminta maaf, kuurungkan niat itu karena perasaan yang melandaku sekarang adalah rasa takut dan cemas melihat sorot mata pria itu yang tampak begitu marah padaku.  Sekarang yang bisa kulakukan hanya merutuki kecerobohanku karena berjalan tanpa melihat ke depan. Entah masalah apalagi yang akan menimpaku setelah ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN