"Ini kenapa ada lebam-lebam begini? Kenapa ada bekas menghitam juga di kakinya Mbak Indah? Ibu sudah lama bekerja di sini, kan? Pasti tahu kalau ada sesuatu. Ayo jawab!"
Aku menahan langkah Bu Imas yang membimbing Mbak Indah menuju kamar mandi.
"Saya tidak tahu apa-apa, Mbak. Saya baru bekerja di sini. Baru masuk dua bulan."
"Dua bulan? Tapi tadi Ibu menyebut Mbak Indah depresi sejak awal kehamilan? Artinya Ibu kenal lama dong?"
"Enggak, saya tahu itu semua dari Pak Yudi. Mbak bisa tanya-tanya nanti sama Bapak kalau orangnya sudah pulang."
Kuamati kedua mata Bu Imas. Pandangannya meyakinkan, sama sekali tak terlihat jika ia berbohong.
"Ya sudah kalau begitu. Saya minta maaf," ucapku akhirnya.
Bu Imas tak menjawab. Ia melanjutkan langkah membimbing Mbak Indah ke dalam kamar mandi.
"Saya mau keluar sebentar, Bu. Mau ambil tas di depan," ucapku setelah menyadari sesuatu. Mumpung Bu Imas ada di kamar mandi bersama Mbak Indah. Aku harus cepat-cepat menutup kembali pintu belakang, juga membereskan bekas kawat yang tadi kugunakan.
***
Berlalu meninggalkan kamar Mbak Indah. Aku bergegas menuju pintu belakang rumah. Melewati jalan yang sama seperti tadi. Sambil mengamati sepanjang jalan yang kulalui, entah kenapa perasaanku jadi tak enak. Serasa ada yang mengawasi setiap langkahku.
Aku berhenti tepat di ruang tengah. Interior rumah ini benar-benar berbeda dengan dua tahun yang lalu. Waktu pertama kali aku mengantar Mbak Indah bersama Emak dan Bapak ke sini. Seminggu setelah ia menyandang status sebagai istri Mas Yudi.
Aku mengamati sekeliling. Di ruang tengah ini ada sebuah rak tv cukup besar. Di bawahnya terpasang karpet bulu warna coklat. Tanpa meja atau kursi. Kuperhatikan dinding di ruang tengah. Tampak warna cat yang sedikit kusam bahkan sebagian sisinya terkelupas.
Kedua mataku terhenti pada hiasan di dinding. Ada tiga pigura besar berisi lukisan wajah manusia, juga terdapat tiga potong hiasan kepala rusa yang menggantung di sana. Penasaran, kuperhatikan dengan seksama wajah-wajah dalam bingkai itu. Tiga perempuan dengan sanggul di kepala, memakai kebaya warna hitam yang seragam. Meski tampilannya mirip, tapi wajah mereka jelas saja berbeda. Ekspresi mereka datar. Tak ada senyum, tak ada binar, tak ada ....
Degh!
Jantungku seakan berhenti berdetak. Kedua mata membulat sempurna. Kutelan saliva kuat-kuat. Rasanya hawa dingin menyergapku dari arah belakang. Lidah mendadak kelu menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
A-apa aku tak salah lihat?
Sedetik yang lalu lukisan wajah perempuan bersanggul yang terletak di tengah tampak berkedip dua kali. Aku mengerjapkan mata. Memastikan lagi bahwa pandanganku yang salah. Ya, bagaimana mungkin sebuah foto dapat berkedip? Itu tidak masuk akal.
Kuseret langkah kaki dan membalik badan meninggalkan ruang tengah, tak mau menoleh ke belakang, kakiku ikut gemetar serasa ada yang meniup tengkuk leher. Cepat-cepat menuju belakang rumah. Merapikan kawat dan pintu yang terbuka. Sebelum Mas Yudi datang dan Bu Imas curiga yang tidak-tidak. Selain itu, aku juga takut lama-lama seorang diri. Rumah Mas Yudi, kenapa jadi horor begini.
***
Usai menutup pintu belakang. Aku kembali ke dalam kamar Mbak Indah. Tak berani lagi mengamati rumah Mas Yudi seperti tadi. Meski banyak kejanggalan yang kutemukan, tapi aku mencoba bersikap realistis. Lagipula, sekarang tujuanku hanya satu. Membawa Mbak Indah keluar dari rumah ini. Bagaimanapun caranya.
"Ibu sudah selesai dimandikan. Saya mau bersih-bersih rumah dulu, ya, Mbak," ucap Bu Imas setelah mengikat rambut Mbak Indah.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
Bu Imas berlalu meninggalkan kamar. Menyisakan aku dan Mbak Indah berdua saja. Kami duduk di bibir ranjang. Kakakku itu diam dengan pandangan kosong. Kuamati wajah Mbak Indah yang tirus. Ada kantung berwarna hitam di bawah matanya.
Mbak Indah memakai daster warna merah bata. Rambutnya sudah kering, Bu Imas mengikatnya ke belakang dengan rapi. Suasana menjadi sangat hening. Aku masih diam. Mengamati keadaan kakakku yang memprihatinkan.
Pelan, kurangkul bahunya. Ada rasa pedih yang tak tertahan di sudut hati. Bagaimana jika Emak dan Bapak tahu keadaan Mbak Indah yang seperti ini? Bapak yang terkena stroke, Emak yang punya penyakit jantung, tentu akan sangat syok mendengar kabar tentang Mbak Indah.
Tak terasa, bulir bening meluncur bebas di pipiku. Aku memang secengeng ini.
"Mbak ...," panggilku sambil meraih tangan kiri Mbak Indah.
"Pulang."
"Eh?"
Aku mengerutkan kening. Kudengar Mbak Indah baru saja berkata pulang. Benar kan, dia tidak seperti yang Bu Imas katakan. Aku yakin kakakku tak depresi. Mungkin ia sedang berpura-pura saja. Pasti begitu.
"Pulanglah Intan. Di sini bukan tempatmu," ucap Mbak Indah lagi sambil menatap ke arahku. Sorot matanya tak berubah. Masih sayu. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Padahal baru saja ia dimandikan.
"Mbak jangan ngelantur. Aku ke sini buat jemput kamu. Ayo pulang ke rumah Emak. Di sini Mbak nggak aman. Kamu bisa bicara lancar begini, katakan! Ada apa sebenarnya?"
"Nggak ada apa-apa. Kamu yang nggak aman. Pulanglah."
Mbak Indah membuang pandangan. Ia mundur, sedikit naik ke atas kasur. Kedua kakinya dilipat.
"Intan bakal pulang kalau Mbak Indah juga pulang!" ucapku tegas.
Mbak Indah tak menyahut lagi. Ia bersikap aneh. Memainkan jarinya sendiri. Lalu terdengar suara cekikikan dari bibirnya. Melihat kakakku yang berubah-rubah seperti ini, lama-lama aku yang jadi setres sendiri.
Duakh! Duakh!
Astagfirullah!
Aku berjingkat kaget. Belum juga memahami bagaimana kejiwaan kakakku. Tiba-tiba saja terdengar seperti suara pukulan dari arah lemari yang terletak di sisi kiri ranjang. Aku menoleh cepat. Rasa penasaran menyambangi diri. Terlebih saat suara itu terdengar semakin kencang.
Duh Gusti, apalagi ini?
Aku beranjak dari kasur lantas berjalan menuju lemari yang terdengar berisik. Kuenyahkan pikiran jauh-jauh tentang hantu. Siang-siang begini mana ada yang seperti itu. Mungkin itu suara tikus yang terjebak!
Duakh! Duakh!
Duakh! Duakh!
Suara dari dalam lemari semakin keras. Kuulurkan tangan perlahan sambil menahan napas. Mencoba meraih gagang pintu lemari yang tingginya lebih dariku itu.
"Jangan dibuka!"
Degh.
Suara itu. Suara yang tidak asing di telingaku. Bukan Mbak Indah atau Bu Imas, tapi ....
"Mas Yudi?"
Bersambung ...