"Mbak, ayolah kita pergi dari sini. Jangan menolak lagi! Kita lewat pintu belakang sebelum Mas Yudi masuk rumah!"
Kubantu Mbak Indah berdiri. Kakakku itu justru menepis.
"Kamu nggak tahu apa-apa, Intan," ucapnya dengan bibir bergetar. Pandangannya tak teratur. Ia seakan menghindar setiap kali bersitatap denganku.
"Apanya yang nggak tahu apa-apa? Mas Yudi itu nggak bener. Mbak diikat kayak gini, tadi juga ada perempuan bareng Mas Yudi. Jangan diam dan pasrah aja, Mbak!"
"Kamu ... kamu yang nggak ngerti keadaannya, Intan. Maaf, tolong jangan memaksa."
"Memaksa? Mbak! Ya Allah, sadarlah!"
"Mbak bisa mengatasinya sendiri."
"Apanya yang mengatasi sendiri? Jangan nyeleneh!"
Sumpah, aku frustrasi melihat Mbak Indah yang kukuh tak mau kuajak pergi. Apa dia sudah kehilangan akal sampai ingin tetap bertahan dengan keadaan seperti ini? Apa yang sudah dilakukan Mas Yudi sampai membuat Mbak Indah tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Ya Allah ....
Jangan biarkan hidup kakakku hancur.
"Mbak ... ayo pulang!"
Kuraih tangannya, mencoba untuk terus membujuk. Belum juga berhasil membujuk kakakku. Tapi suara gerak putaran anak kunci dari arah pintu membuat diri ini berjingkat kaget.
Mati aku! Bagaimana jika itu benar Mas Yudi?
"Mbak! Ayo, Mbak!"
Jantungku berdegub tak beraturan. Tak sabar, aku berdiri dan menyeret tangan Mbak Indah sedikit kasar.
Ctak!
Krieeeet!
Astaga!
Napasku seketika tercekat di tenggorokan.
Pintu berhasil terbuka membuat jantungku seakan berhenti berdetak mendengar deritnya. Kugerakkan kepala ke arah sumber suara.
Degh!
Waktu seakan berhenti menjeda. Aku terkejut bukan kepalang. Sosok yang baru saja membuka pintu pun tampak terkejut melihatku. Dia bukan Mas Yudi. Melainkan seorang perempuan berwajah matang, memakai setelan lengan panjang dan celana kain warna hitam. Ia juga memakai kerudung instant.
Kucoba menelan saliva meski begitu susah.
"Mbak siapa?" tanya perempuan itu.
"Sa-saya--"
"Hahahahahaha! Hahahahahahahaha!"
Belum juga aku selesai memperkenalkan diri. Suara tawa Mbak Indah tiba-tiba saja meledak memenuhi ruang tamu. Lalu tak lama, ia menangis seorang diri. Tanganku masih memeganginya. Ia tak melawan, tapi juga tak menepis.
Keadaan macam apa ini?
"Eh, Mbak maling, ya? Kenapa bisa masuk ke sini? Lewat mana tadi?" tuduhan perempuan di depan pintu membuat lamunanku seketika buyar. Ia memperhatikanku dari atas kepala sampai kaki. Kugelengkan kepala cepat-cepat.
"Bukan, Bu. Saya adiknya Mbak Indah dari Surabaya. Lihat saja, wajah kami mirip kan? Saya nyelonong masuk karena melihat kakak saya tadi diikat tangan dan kakinya. Terus mulutnya juga dilakban!" terangku tak kalah meyakinkan.
"Oh benarkah? Jadi, Mbak keluarganya Bu Indah? Maaf saya menuduh yang bukan-bukan. Bapak juga tidak memberitahu kalau mau ada tamu." Perempuan itu tampak tak enak hati.
Huft, syukurlah. Ternyata tak sampai curiga macam-macam.
"I-ibu siapa?" tanyaku.
"Saya Bu Imas. Biasa bersih-bersih dan mengurusi Ibu kalau Pak Yudi sudah pergi."
"Mengurusi Ibu?"
"Iya, Bu Indah. Eh tapi, kok Mbak tidak tahu kalau Bu Indah sedang maaf depresi berat?"
"A-apa? Depresi?"
Pegangan tanganku pada Mbak Indah seketika mengendur dan terlepas. Kakakku itu kembali duduk di bawah. Kali ini berjongkok menghadap dinding. Kenapa mendadak aneh begini? Tadi masih baik-baik saja. Sepertinya ada yang janggal.
Lalu, tadi Bu Imas berkata Mbak Indah depresi? Di mana letak depresinya? Sejak bertemu tadi komunikasi kami lancar. Tidak ada tanda-tanda kalau sedang depresi berat. Meski menolak diajak pulang, tapi tidak menjadi bukti bahwa kakakku sedang depresi.
"Iya. Bu Indah mengalami depresi berat sejak awal kehamilannya. Dia bisa menyakiti dirinya sendiri kalau tak diikat, bahaya," terang Bu Imas dengan sorot mata meyakinkan.
"Hah? Mbak Indah, hamil?"
"Iya."
Tapi ....
Bukankah tadi Mbak Indah menyebut kalau dia tidak hamil?
Aku menatap nanar pada kakakku itu. Benarkah Mbak Indah sedang depresi? Seingatku tadi Mas Yudi menyuruh-nyuruhnya? Mana ada orang depresi bisa melakukan pekerjaan? Aku tak percaya.
"Tapi bukan dengan cara seperti itu juga! Saya tidak percaya!" ucapku ketus.
"Tak percaya ya tak apa, saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu saja. Atau apa perlu saya telepon Pak Yudi biar Mbak mengerti."
Rencana bagus! Kuanggukkan kepala cepat.
"Iya, tolong beritahu Pak Yudi kalau ada adiknya Bu Indah datang. Kalau saya yang menghubungi tak pernah diangkat soalnya."
"Oh, begitu. Baik, Mbak."
Kulihat Bu Imas mengangguk. Ia lantas mengeluarkan ponsel yang kebetulan sama persis dengan milik Emak di rumah.
Kualihkan pandangan ke arah Mbak Indah. Aku baru teringat belum memberi kabar pada Emak bahwa aku sudah sampai. Kondisi hatiku sedang tak bagus, jadi kupilih menunda saja memberi kabar kedatanganku sampai keadaan sudah membaik.
"Saya sudah memberitahu Pak Yudi. Mungkin dua jam lagi beliau datang. Saya mau izin membersihkan Ibu dulu, ya."
Bu Imas berjalan ke arah Mbak Indah. Baguslah jika Mas Yudi segera pulang, aku bisa menginterogasi langsung pada iparku itu.
"Biar saya bantu juga ya, Bu," pintaku sambil membimbing langkah Mbak Indah. Hati ini berkecamuk. Masih tak dapat kucerna keadaan dengan baik. Mencoba memilih untuk tak percaya bahwa Mbak Indah depresi, tapi kenyataan ini sungguh memilukan sekali.
Sambil berjalan, kuedarkan pandangan menyisir setiap ruangan. Banyak sekali yang berubah di rumah Mas Yudi. Dulu perabot yang dimilikinya tak sebanyak sekarang. Bahkan ada guci-guci antik berjajar di sekeliling ruang tamu. Tadi aku tak memperhatikan saat lewat pintu belakang. Selain panik, tujuanku hanya satu yaitu membawa Mbak Indah pergi secepatnya dari rumah ini.
Aku membantu bu Imas melucuti satu persatu pakaian Mbak Indah. Membalutnya dengan handuk dan dibawa ke kamar mandi. Kuperhatikan keadaan kakakku itu. Kedua mata terhenti tepat di bagian lengan kiri Mbak Indah. Ada noktah kebiruan, seperti luka lebam habis dipukul. Aku mengamati lebih detil di bagian lengan satunya.
Ya Allah, bukan hanya satu. Ternyata ada beberapa luka lebam di sana. Kuperhatikan lagi ke arah kakinya, kali ini bukan luka lebam kebiruan, melainkan lingkar warna hitam yang tampak jelas di pergelangan kedua kakinya.
Bersambung ....