2. Mbak Indah?

873 Kata
Dua kali aku mengetuk pintu dan mengucap salam, tapi tak terdengar sahutan dari dalam. Kuberanikan diri mengintip ke arah jendela yang tertutup. Barangkali tirainya tersingkap dan aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Degh! Perkiraanku tak salah. Jantung ini seakan berhenti berdetak saat kedua mata berhasil menangkap sosok Mbak Indah di ruang tamu. Ia sedang duduk di atas lantai sudut ruangan dengan tangan terikat ke belakang. Sementara mulutnya ditutup dengan lakban. Astagfirullah! Keterlaluan sekali Mas Yudi! Kutepuk-tepuk jendela dengan kencang sambil berteriak memanggil nama kakakku itu. "Mbak! Mbak Indah!" Kepala Mbak Indah bergerak mencari-cari, ia menatap ke arahku. Keningnya berkerut dengan dua alis bertaut di tengah. Pandanganku dan Mbak Indah bertemu, hanya terhalang oleh jendela kaca berbingkai kayu. Allahu Rabbi. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kakakku itu tampak sayu, wajahnya sembab, badan begitu ringkih dengan perutnya yang sedikit membuncit. Ya Allah .... Dadaku seketika sesak. Apakah Mbak Indah sedang hamil? Tapi, kenapa tega sekali Mas Yudi menyakiti kakakku hingga seperti itu. "Mbak ... pulang, Mbak ..." Air mataku luruh tanpa bisa kukendalikan. Keadaan Mbak Indah sungguh memprihatinkan. Tak ingin membuang waktu, aku bergegas mencari sesuatu untuk membuka pintu. Sial! Dikunci dari luar. Mana bisa aku masuk! Tak peduli biarpun ada yang memergokiku. Aku berjalan memutar, menuju sisi kiri rumah, tempat di mana aku bersembunyi tadi. Ada jalan setapak menuju bagian belakang rumah Mas Yudi . Kuperiksa satu per satu. Mencari pintu atau jendela yang tak dikunci. Sayangnya semua tertutup rapat dan tak bisa dibuka. Haruskah kupinta bantuan tetangga sekitar rumah Mas Yudi? Ah, nanti malah timbul masalah baru. Tapi, jika kudiamkan saja tentu hal ini tidak akan membantu. Aku berpikir keras sambil mengamati bentuk jendela rumah Mas Yudi. Tak lupa mengintip setiap ruangan yang ada jendelanya. Ingin sekali kupecahkan kacanya, tapi tetap saja itu tidak akan berubah. Masih tak bisa masuk sebab ada teralis jendela besi yang terpasang. Aku berjalan lagi ke arah pintu belakang. Menghitung sebanyak tiga langkah mundur, lalu berlari kencang membenturkan diri ke arah pintu. Satu kali dobrakan! Dua kali! Tiga kali! Aku berhenti sejenak untuk mengatur napas. Tubuhku tak cukup kuat untuk membuka pintu belakang ini. Oh ayolah Intan, kamu pasti bisa membukanya! Aku berpikir keras sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada gulungan kawat di dekat tiang jemuran. Aku baru teringat sesuatu. Cepat kuraba leher sendiri, melepas peniti yang kugunakan untuk memakai kerudung. Dulu, aku pernah mengikuti simulasi kebakaran yang diadakan oleh kantor. Saat terjebak di dalam ruangan, aku bisa menggunakan peniti untuk membuka pintu yang terkunci. Aku menelan saliva. Mencoba mencari lubang kecil sambil mengintip. Sial! Kenapa tidak terlihat? Aku yakin sekali waktu itu bisa melakukannya saat berada di .... Aaarrgh! Kuusap wajah kasar. Aku lupa bahwa penggunaan peniti bisa dilakukan jika terjebak di dalam ruangan. Sementara ini? Aku ada di luar! Tak mau putus asa. Aku mencoba cara lain saja. Menuju tiang jemuran, mengambil gulungan kawat yang tersimpan di bawahnya. Kutekuk ujung kawat sehingga bagian ujungnya dapat mengait. Lalu memasukkan ujung pengait ke celah antara kusen dan tepi pintu. Dengan satu tangan memegang gagang pintu dan yang lain memegang kawat, pelan kuputar gagang pintu dan menarik kawat bersamaan. Bismillah, semoga Allah beri kemudahan untuk ini! Aku menahan napas. Berusaha sangat keras dan hati-hati. Ctak! Mataku membulat sempurna. Pintu berhasil terbuka. Sepertinya aku akan sangat berterima kasih pada Pak Zulfan, beliau yang memaksaku untuk ikut simulasi kebakaran waktu itu. Aku bergegas masuk ke dalam rumah Mas Yudi lewat pintu belakang. Menuju ruang tamu di mana Mbak Indah sedang berada di sana. "Mbak!" seruku begitu tiba. Mbak Indah menatap nanar. Ia mengerjap berkali-kali, mungkin terkejut melihat aku bisa berada di sini. Cepat kuambil ponsel dari dalam tas. Membuka aplikasi kamera. Mengambil gambar Mbak Indah yang sedang terikat. Sebagai salah satu bukti jika nanti sewaktu-waktu aku membutuhkannya. Setelah mengambil beberapa gambar. Kulepas ikatan tangan dan kaki Mbak Indah. Lalu membuka lakban yang menutup mulut kakakku itu. "Intan ...," lirihnya terdengar serak. Aku memeluk erat Mbak Indah. Bisa kurasakan dengan jariku kondisi tubuhnya yang tinggal tulang. Mbak Indah menangis tanpa suara. Bahunya berguncang. Ya Allah, dadaku semakin sesak melihat keadaannya. "Ayo pergi dari sini, Mbak. Kita pulang ke rumah Emak," ajakku. Mbak Indah melepas pelukan. Ia mengusap air mata di wajahnya dengan bahu daster yang ia kenakan. "Ayo pulang. Kita kabur dari sini. Mumpung Mas Yudi belum datang," ajakku lagi. Mbak Indah menggeleng. Membuatku refleks mengerutkan kening. "Kenapa, Mbak?" Mbak Indah meraih tanganku, lalu menyentuhkannya di perut yang membuncit. "Apa karena anak? Oh ayolah, Mbak, jangan jadi bo-doh untuk alasan itu. Lihat! Apa yang sudah ia perbuat padamu. Masihkah pantas dia disebut suami?" Mbak Indah menggeleng. Kedua matanya berair. Kuperhatikan lebih seksama, kakakku itu seperti kesulitan untuk bicara. "Katakan, Mbak. Kenapa? Ayo kita pulang le rumah Emak. Jangan khawatir soal anakmu, aku bisa bantu membiayai hidupnya nanti. Kita pulang sekarang! Jangan menolak lagi!" desisku berapi-api. "Tapi--" "Tapi apa?" "Mbak nggak lagi hamil, Intan." Degh! "A-apa? Terus, ini apa, Mbak?" Aku menyentuh perut Mbak Indah yang membuncit. Dia menggigit bibir bawah. Ekspresinya itu tampak kebingungan. "Mbak Indah sakit?" tanyaku langsung. Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Mbak Indah masih diam membisu dengan ekspresi yang sama, sampai terdengar dari arah luar sebuah bunyi derit pintu pagar yang digeser. Astagfirullah, apakah itu Mas Yudi? Kenapa dia sudah kembali ke sini?! Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN