Hampir setengah tahun Mbak Indah menghilang tanpa kabar. Nomornya tidak aktif, semua akun medsosnya lenyap tak berbekas. Kupikir akun f*******: dan Watsappku diblokir, tapi saat kuperiksa dengan akun lain, tetap saja profil Mbak Indah tak bisa kutemukan. Sepertinya sengaja dinonaktifkan.
Kakakku itu biasanya tak seperti ini. Hatiku resah. Emak dan Bapak pun kepikiran hingga susah tidur selama berhari-hari. Mbak Indah adalah kakak perempuanku satu-satunya. Dua tahun yang lalu ia menikah dengan Mas Yudi. Pria asal kota Semarang.
"Perasaan Emak nggak enak, Nduk. Nomornya nggak aktif. Yudi juga sama. Ditelepon Emak nggak pernah diangkat."
Emak menunjukkan ponselnya yang diikat dengan karet gelang. Ponsel itu adalah pemberian dari Mbak Indah sebelum ia menikah dengan Mas Yudi.
"Mungkin lagi sibuk, Mak."
"Sesibuk-sibuknya Mbakmu itu, pasti ngasih kabar ke Emak."
"Nggak ada pulsa mungkin."
"Halah, Yudi kan pengusaha. Beli pulsa lima ribu aja masak nggak bisa."
"Atau bisa aja hapenya ilang, Mak."
"Hilang? Kan bisa ngasih kabar dari nomer Yudi, lagian ini setengah tahun, Nduk. Hati Emak nggak tenang. Gimana kalau ada apa-apa sama Mbakyumu itu."
Aku menghela napas dalam, Emak masih ngeyel dengan feelingnya yang buruk. Demi meredam gelisahnya, kujanjikan untuk mengunjungi rumah Mas Yudi saja.
"Yasudah Intan lihat keadaan Mbak Indah saja ke sana. Intan ambil cuti dulu, Mak. Nggak mungkin kan kalau cuman sehari di sana. Palingan dua sampai tiga hari Intan di rumah Mas Yudi."
"Emak ikut, ya."
"Kalau Emak ikut, siapa yang bakal rawat Bapak?"
Emak mengembus napas putus asa. Bapak yang menderita stroke, tentu saja tidak bisa jika harus ditinggal sendiri di rumah.
"Emak tenang aja, pasti nanti Intan kabarin kok. Doakan aja, semoga Mbak Indah baik-baik di sana."
***
Setelah mengurus cuti selama dua hari, akhirnya aku bersiap berangkat menuju rumah Mas Yudi di kota Semarang. Ini kedua kalinya aku melakukan perjalanan ke rumah kakak iparku itu. Pertama kalinya saat mengantar Mbak Indah, satu minggu setelah hari pernikahannya digelar.
Aku membawa satu tas ransel berisi potongan pakaian dan sekotak kardus berisi oleh-oleh untuk Mbak Indah. Sejak meninggalkan rumah tadi aku baru teringat sesuatu. Akun watsapp Mas Yudi masih aktif, tapi tak pernah kulihat ia membuat status. Sepertinya sengaja diprivasi. Kulihat riwayat pesan yang ada. Sudah lama pesan yang kukirim tak pernah berubah centangnya, tetap abu tak berubah biru. Padahal statusnya sedang online. Menyebalkan sekali bukan?
Tadinya aku ingin memberitahu bahwa akan datang ke rumahnya, tapi melihat ada yang aneh, aku sengaja tak memberi kabar pada Mas Yudi bahwa sedang berada di perjalanan menuju kota Semarang.
***
Empat jam lebih perjalanan kutempuh dengan menaiki Bus SRC. Bus ini berangkat dari Surabaya ke Semarang lewat Mojokerto, Jombang, Kertosono, Nganjuk, Caruban, Madiun, Ngawi, Gendingan, Sragen, Solo, Kartasura, Boyolali, Salatiga, Bawen, Ungaran. Perjalanan yang cukup melelahkan. Beruntungnya aku duduk bersebelahan dengan seorang perempuan juga. Sehingga tak canggung jika ingin terlelap barang sebentar.
Begitu tiba di kota tujuan. Aku langsung menaiki angkutan umum menuju kompleks perumahan Mas Yudi. Aku ingat dengan baik di mana rumah kakak iparku itu. Jadi tak sampai nyasar karena salah alamat.
Aku berdiri di sebuah rumah bercat warna putih. Ada sebuah pohon mangga berbuah lebat tumbuh di sisi kiri halaman. Di depannya terdapat sebuah mobil warna merah. Punya siapa? Setahuku Mas Yudi tak punya mobil. Ataukah sedang ada tamu?
Aku memperhatikan ke sekeliling, sepi. Perlahan kulangkahkan kaki mengendap ke arah Rumah Mas Yudi. Pagarnya yang terbuka separuh, membuatku mudah menjangkau halaman rumah iparku itu.
"Lelet banget, sih! Cepetan Indah! Sudah terlambat ini! Dasar keong!"
Degh!
Aku mendengar suara teriakan dari arah jendela dekat pintu. Itu adalah suara Mas Yudi. Dia, kenapa kasar sekali?
Aku berjalan memutar ke sisi kiri. Meninggalkan halaman depan, penasaran dengan apa yang terjadi di ruang tamu kakak iparku itu. Kutajamkan pendengaran untuk menguping.
"Emang lelet istrimu itu. Bisa-bisa aku ketinggalan rapat pagi ini karenanya."
"Sabarlah Dik, sebentar lagi kok."
"Heran, istri model begitu masih aja dipertahanin!"
"Bukan mau mertahanin, tapi kamu sendiri kan tahu. Tidak bisa cerai semudah itu."
"Ish, kesal!"
Suara seorang perempuan menyahut. Ya Allah, ini tidak benar. Jantungku nyaris mencelos keluar mendengar percakapan mereka barusan. Di antara suara-suara yang sedang bicara, kenapa Mbak Indah tak sedikitpun berbicara.
Aku mundur ke belakang, merapatkan diri ke dinding. Suara gaduh dari ruang tamu begitu mendominasi. Entah apa yang terjad di dalam. Feeling Emak tak salah. Mbak Indah sedang tidak baik-baik saja.
Lama tak ada perbincangan lagi. Sampai akhirnya terdengar suara pintu ditutup rapat. Aku menahan napas. Bisa kupastikan Mas Yudi dan perempuan tadi keluar dari rumah. Kuberanikan diri mengintip sedikit.
Kulihat dengan dua mataku sendiri, Mas Yudi sedang berjalan menuju mobil. Di sampingnya ada perempuan yang menggamit lengannya. Kurang ajar sekali! Aku tak akan tinggal diam melihat kakakku diperlakukan seperti ini.
Kuperhatikan lebih seksama. Kening berkerut saat melihat perempuan di sisi kiri Mas Yudi. Kupicingkan kedua mata agar lebih fokus. Mengamati detil paras perempuan itu.
Bentuk mata.
Bentuk hidung.
Bentuk bibir.
Tatanan rambut.
Astaga! Apakah aku tidak salah melihat? Perempuan itu tampak sangat jauh lebih tua dibanding Mas Yudi. Apa iparku itu sedang tidak waras sampai berselingkuh dengan perempuan tua itu?
Begitu mobil menghilang dari halaman rumah Mas Yudi. Aku bergegas cepat menuju pintu utama. Mengetuk pintu rumah, melihat langsung bagaimana keadaan Mbak Indah sekarang. Hatiku resah, kenapa dari tadi kakakku itu tak terdengar bersuara.