Winter bersin-bersin, berulang kali, keras-keras. Untung saja ini di tengah hutan dan tak ada tetangga. Kalau ada, bisa-bisa mereka berdatangan karena suara bersin laki-laki di rumah seorang gadis sepertiku.
Dia bergerak dari arah dapur ke dekat perapian, duduk di depanku dan melepas masker. “Tunggu sebentar. Buburnya sebentar lagi jadi, kok. Kamu istirahat saja.”
Aku mendecih. “Coba lihat siapa yang bicara. Kamu yang harusnya istirahat. Orang bodoh mana yang hujan-hujanan malam hari?”
Dia bersin lagi. Kali ini, hidungnya mengeluarkan lendir. Dia segera mencabut tisu dari atas meja dan menyekanya.
Aku berdiri. “Biar aku yang masak buburnya. Diamlah di sini dan hangatkan tubuhmu.”
“Tapi, aku tidak—“
Pip pip. Penyangkalannya terbungkam oleh bunyi termometer tembak yang kuarahkan pada dahinya. “39 derajat, masih bilang nggak apa-apa? Gantian aku yang merawatmu, oke? Aku juga yang repot kalau kamu sakit parah.” Aku mengomelinya seraya bergerak ke arah dapur.
“Apanya yang ‘sebentar lagi jadi’?” Aku bergumam sendiri, melihat panci dan beras masih berada di tempatnya. Dia pasti menahan pusing dari tadi, hingga tidak bisa berbuat apa-apa.
“Jangan khawatir. Meski telur dadar gosong, tapi aku biasa buatkan bubur untuk Mama.” Aku membuka lemari es dan mulai mengacak isinya. “Tidak ada abalone. Gimana kalau kerang dara saja?”
Hening. Tidak ada yang menjawabku. Aku menoleh dan mendapatinya terpejam di depan perapian. Kuletakkan bahan-bahan makanan, menghampiri dan duduk di sofa depannya. Senyumku terbit. Bagaimana bisa dia kembali saat seharusnya dia mencemaskan dirinya sendiri? Malam-malam, hujan-hujanan. Dia kembali untukku. Harusnya aku terbebani karena mungkin dia akan bersembunyi lagi di sini, dua atau tiga hari ke depan. Namun, entah mengapa aku merasa lega. Aku tenang melihatnya mempunyai tempat untuk pulang.
Dia terbatuk dalam tidurnya. Aku mematung, takut satu gerakan saja mengganggu tidurnya. Namun, dia benar-benar pulas. Tidur tenang seperti bayi. Wajah dan hidung yang memerah membuatnya terlihat lucu. Mirip tokoh kartun.
Aku berdiri, berjalan mengendap-endap. Namun, tiba-tiba, dia memanggilku.
“Anna.”
Aku menoleh lalu tertegun mendapatinya masih memejam. Dia mengigau? Dengan aku di dalam mimpinya?
“Anna,” ulangnya lagi, dengan suara lirih dan parau. “Buburnya jangan gosong, hmm? Aku takut sakit perut.”
Sialan. Aku mengepalkan tangan, mengeratkan rahang—menahan diri untuk tidak mendatangi meninjunya. Ingat, Anna, dia sedang sakit. Ingat, dia kembali untukmu. Sabar, sabar….
**
“Juli, kamu tidak makan siang?”
Aku tersentak. Septia, teman sekelas, menghampiri mejaku dan mengajak ke kantin. Sejak tadi aku melamun. Winter seperti hantu yang bergentayangan dalam pikiranku. Apa dia masih demam? Apa dia makan buburnya atau bahkan takut untuk mencicipinya? Seharian aku tidak fokus. Tubuhku di sekolah, tapi pikiranku tertinggal di rumah.
Aku menggeleng, beralasan belum lapar. Septia beranjak pergi, tapi aku menahannya. “Di sini, toko herbal di mana, ya?” Aku bertanya.
Septia berpikir sejenak. “Sepertinya ada satu di belakang sekolah. Kenapa, kamu sakit?”
Bukan aku. Tapi, buronan di rumahku.
Aku menggeleng untuk menjawabnya dan untuk mengenyahkan jawaban gila yang nyaris saja kuluncurkan. “Cuma mau cari vitamin, kok. Musim hujan sebentar lagi, kan?”
“Oh.” Septia mengangguk-angguk. “Mau kuantar sepulang sekolah?”
“Tidak,” sahutku, cepat. “Aku sendiri saja. Thanks.”
“Oke.”
**
Saat melewati gang sepi di sebelah sekolah untuk mencari toko herbal, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. Lissa Irishara.
“Hai. Mau lihat sesuatu yang seru?”
Dengan kening mengernyit, aku mencoba memahami situasi. Sedang apa dia di gang sepi begini?
“Lihatlah.” Lissa menggeser tubuhnya agar aku bisa melihat seseorang di pojok gang. Aku menyipit berusaha mengenali seseorang itu. Seorang gadis dengan tubuh basah kuyup, menunduk kuyu dan layu. Dia mendongak dengan tetesan air mengalir dari poni. Sari. Yasari Jasmine.
Aku berlari menghampirinya, tapi Lissa menahanku lalu menaruh sikunya di bahuku dan berbisik. “Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan kalau mau tenang bersekolah di sini?” Dia mengunci mulutnya dengan gerakan tangan seperti menarik ritsleting. “Anggap kamu tidak melihat apa-apa. Lagipula, hubungan kalian tidak sebaik dulu, kan?”
“Gila kamu, ya?” Aku melewati, menabrak bahunya dan segera meraih Sari. “Kamu tidak apa-apa?”
Sari. Kusam dan menyedihkan. Tubuh basah kuyup itu membuatnya semakin terlihat menyedihkan. Aku mendelik ke arah Lissa. Apa yang dia lakukan padanya?
Aku meraih wajah Sari, ingin melihat matanya. Namun, ketika pandangan itu terangkat menatapku, sorot matanya sama sekali tidak kuduga. Benci dan sinis.
“Jangan ikut campur. Urus hidupmu sendiri.”
“Sari….”
Aku kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu padaku?
Lissa menyela di antara kami, membuat Sari berada di belakang pundaknya. “Pergi sajalah, Juli.” Dia tersenyum mengejek dan menekankan pada nama ‘Juli’. “Aku sama Sari cuma main, kok.”
“Apa ini seru bagimu, Liss? Apa penggemarmu tahu, sifat aslimu seperti ini? Model ternama apanya! Kamu cuma anak nakal yang suka cari perhatian!”
“DIAAAAM!” Lissa berteriak dan menutup telinga. Lalu, dia membelalak padaku. “Jangan coba-coba, Anna. Aku juga punya rahasiamu. Mau kubuat seisi dunia tahu? Heh?”
Aku tertohok, melirik Sari yang menatap tajam dan ikut menunggu reaksiku. Kukepal jemari tangan kuat-kuat. Dari semua orang di dunia, mengapa Lissa Irishara yang menggenggam rahasiaku?
“Diam, kan? Sudah kubilang, cemaskan dirimu sendiri, Anna. Tinggalkan kami. Seperti dulu. Bukankah sejak dulu kamu selalu memikirkan diri sendiri?”
Dulu, saat aku pergi meninggalkan Sari di hari pemakaman ibunya. Dulu, saat Lissa merundungnya. Aku menunduk dan tidak berani menatap Sari lagi. Lissa benar. Aku harusnya mencemaskan diri sendiri. Pelaku penusukan dan seseorang yang melindungi buronan di rumahnya. Ada yang lebih parah dari ini?
Aku berbalik pergi dengan kepala tertunduk, tanpa rasa hormat. Maaf, Sari. Aku memang pengecut.
**
“Winter, bisakah kamu pergi? Tinggalkan rumah ini. Aku tidak mau terlibat denganmu lagi.”
Akhirnya, aku mengatakannya. Tepat di depannya. Aku tidak bisa lagi seperti ini. Harus kuurai masalahku satu-satu.
“Aku ingin sekolah, menggambar dan mencari uang dengan tenang. Jadi, bisakah kamu pergi?”
Winter bergeming dalam keadaan meringkuk di sofa. Tidur? Padahal aku yakin beberapa detik yang lalu, saat aku menatapnya berulang kali untuk memberanikan diri, dia masih bergerak.
Untuk memastikannya, aku mendekat dan menekan pipinya dengan telunjuk. Astaga, panas sekali! Segera kuraba seluruh wajahnya. Tanganku rasa terbakar. Termometer menunjukkan angka 40 derajat. Ya, Tuhan… aku bisa gila! Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit.
Aku mondar-mandir, menggigiti kuku. Tak ada satu pun cara terlintas dalam pikiranku. Lalu, tiba-tiba, sebuah tangan menarikku. Winter menjulurkan tangan dari balik selimutnya dan menarikku jatuh. Di atas tubuhnya.
“Hei!” Aku meronta, tapi malah terjatuh ke sampingnya lalu di memeluk. Sangat erat dan tak bisa kulepas.
“Winter, jangan macam-macam. Aku akan menelepon polisi dan—“
Ancamanku terpangkas oleh gigil yang amat hebat. Winter gemetar. Tubuhnya bergetar hebat.
“Dingin,” keluhnya, dengan mata terpejam.
Aku mematung, membeku dalam pelukannya. Lalu, perlahan, aku mengeluarkan tangan dalam dekapannya untuk memeluknya. Aku beringsut naik agar bisa mendekapnya. Tidak terpikirkan apa-apa olehku. Aku hanya takut… seseorang pergi lagi. Seperti Mama. Dia tampak sekarat, seperti Mama.