Hari ketiga. Winter akan pergi. Media masih memberitakannya di mana-mana dan detektif-detektif amatiran bermunculan karenanya. Beberapa orang yang menguatkan dugaan bahwa benar Winter membunuh Jonathan, berusaha mengaitkan kematian itu dengan pertengkaran keduanya yang terjadi setahun lalu, saat Jonathan melarang Winter pergi ke klub malam karena syuting keesokan harinya.
Saat itu, Jonathan berkomentar di foto Winter pada sebuah klub malam. Intinya, Jonathan menyuruh Winter pulang. Winter membalasnya dengan ketus. “Jangan berlagak peduli. Yang penting saldo rekening aman, kan?”
Kata orang-orang, Jonathan sakit hati dan hubungan mereka renggang sejak itu. Jonathan yang berasal dari kalangan bawah—sama seperti Winter, sebenarnya dan hanya lulusan SMP merasa tersinggung hingga selalu mengungkit-ungkit kejadian itu tiap kali terpantik suatu masalah. Katanya.
Versi Winter, itu hanya candaan. “Aku cukup tahu batas untuk menjaga perasaannya, kok. Jarang sekali candaan kami keluar batas. Akan sulit memperbaiki hubungan yang telanjur retak, kan? Aku menghormati Jojo. Dia lebih dari sekadar ‘lulusan SMP’ bagiku.”
Dan Jonathan adalah satu-satunya yang Winter miliki. Dia terlalu bergantung hingga tidak tahu harus apa saat ini. Ketika kutanya ke mana tujuannya setelah ini, dia mengendikkan bahu. Tidak tahu.
“Sepertinya aku akan menguras seluruh tabungan untuk kabur ke luar negeri. Kudengar, ada orang yang melakukan pekerjaan ‘itu’. Tahu, kan? Yang membuat identitas palsu untuk paspor dan tiket pesawat.”
Aku tertegun saat semalam Winter mengatakan itu. Situasi yang mirip denganku, kan?
“Kalau itu, aku bisa minta Romeo untuk membantumu.”
“Apa yang mau kamu katakan padanya? ‘Bisakah kamu membantu seorang buronan yang pernah tinggal bersamaku untuk kabur ke luar negeri?’” Winter menutup ucapannya dengan tawa hambar. Aku menyipit sebal lalu berpaling dan menghela napas. Benar sekali, itu mustahil.
Pagi ini, aku memikirkannya. Ke mana dia akan kabur?
Ujung pensil patah saat aku melamun dan menekannya terlalu kuat di atas buku sketsa. Burung hinggap pada dahan pohon akasia dan berkicau, lalu sambil menatapnya dari kejauhan, aku memejam, membayangkan rupanya. Burung pipit hijau muda dengan totol hitam di sayap kanan dan paruhnya tampak tersenyum saat dirinya bernyanyi. Kuletakkan dia di atas kertas. Dalam gambarku.
Winter, cowok yang menguap di dekat jendela, menarik pandanganku. Dia baru bangun setelah sekitar sejam aku menggambar di luar.
“Apa ini?” tanyanya, saat kuserahkan kertas gambarku padanya. Dia mendapat jawaban dengan membukanya. Cowok itu menatap gambar dan pohon akasia secara bergantian demi membandingkan kemiripannya, lalu dia menggaruk dagu dan keningnya mengernyit. “Tidakkah gambarmu lebih bagus dibanding aslinya?”
Aku menyikutnya. “Tumben, ada kata-kata baik yang keluar dari mulutmu. Efek mau pergi, ya?”
Dia menutup kertas itu dan tatapannya memintaku percaya. “Sungguh. Kamu tuh berbakat.”
Aku bersedekap dan membusungkan d**a. “Tentu. Siapa dulu?”
Dia memasang ekspresi jijik. “Aku menyesal mengatakannya.”
Pagi terakhir kami, pecah oleh tawa yang membuat hatiku berdesir. Mataku berpusat padanya. Malaikat Maut Tampan. Apa aku akan merindukannya?
“Nah, kita sarapan apa hari ini?” Dia menggosok-gosokkan tangannya seraya melangkah mendekat ke arah meja makan. Lalu, dia berdiam di sana dengan tangan memegang kepala kursi. “Tunggu, aku tidak salah lihat, kan?”
Dia meragukan benda-benda yang tergeletak di atas meja makan. Bahan-bahan, lebih tepatnya. Aku akan memanggang kue kering.
“Kamu mau meracuniku, ya?”
“Enak saja!” Aku mendekati dan menyenggolnya. Kutatap bahan-bahan itu dengan berlagak. “Aku ini Ratu Kukis, tahu. Meski tidak bisa membuat masakan, tapi aku jago memakai oven dan mixer.”
Winter pucat dan tampak khawatir.
**
Warna pucat di wajahnya menular padaku sekitar dua jam kemudian.
“Hei, ini pasti karena kuenya, kan? Kamu memasukkan apa ke dalamnya, sih?”
“Sialan. Ini karena aku meminum teh dua kali berturut-turut, tahu!”
Asam lambung naik dan membuat maagku kambuh. Nastar dan segelas teh manis di meja menjadi tersangka yang disebut-sebut Winter. Dia yakin sekali aku keracunan kue, padahal aku seharusnya tidak meminum teh lagi setelah semalam meminumnya.
“Untung aku hanya menggigitnya sedikit. Sejak awal perasaanku tidak enak.”
Aku berjalan membungkuk ke arah rak dapur seraya meringis dan meremas perut. Setelah mengacak obat, aku melirik Winter, khawatir menjalari pikiranku. Tidak kutemukan antasida di dalam kotak obat.
“Kamu ingin aku pergi ke apotik?” Dia menebak tatapanku.
Tidak mungkin. Aku bertolak mencari ponsel. Entah Rara atau Romeo yang bisa membantuku. Namun, kalau mereka ke sini….
“Jangan cemaskan aku. Aku bisa pergi sekarang. Telepon saja mereka agar merawatmu di sini.”
Lama-lama, napas terasa berat. Kondisi lambungku memang sudah parah. Di Korea, aku pernah dilarikan ke IGD karena asam lambung memanjat paru-paru dan membuatku sesak napas akut. Dalam bingkai pandangan yang perlahan memburam, aku masih bisa melihat Winter membuka pintu dan pergi. Ya, Tuhan… dia bisa ke mana saat terang benderang seperti ini?
**
“Sudah bangun?” Rara di depan mata begitu aku terbangun. Aku beringsut duduk dan menyibak selimut seraya meringis sebab nyeri masih teraba di sekitar perut.
“Maaf, aku lupa menaruh antasida di kotak obat.” Wanita berkacamata bulat dengan poni keriting itu berdiri di sebelah ranjang, lalu membungkuk sedikit, menyodorkan segelas air putih yang hangat waktu kugenggam.
Aku meneguknya setengah lantas memberikannya kembali. “Romeo pasti memarahimu, ya?”
Rara menggeleng. “Sudah biasa. Lagipula, aku memang salah. Padahal dia sudah memintaku mengurus semuanya untukmu di sini.”
Cahaya petir masuk lewat jendela yang menghadap pohon akasia. Hujan menderu-deru, tumpah begitu saja dari langit. Winter… berteduh di mana dia?
“Aku sudah buatkan bubur dan jamu kunyit. Romeo bilang kamu minum kunyit setiap kali sakit maag.”
Aku mendengar ucapan Rara, tapi tidak terlalu memikirkannya. Aku kasihan kepada Winter. Setidaknya dia bisa pergi setelah hujan reda.
“Kamu bisa kutinggal sendiri?”
“Ya, pergilah. Terima kasih, Ra.”
Rara memberiku tatapan khawatir, tapi aku tersenyum demi meyakinkannya. “Kumakan buburnya nanti. Aku mau minum jamunya dulu. Herbal diminum saat perut kosong, kan?”
“Baiklah. Tunggu, kuambilkan, ya.”
Aku menahan lengannya dan berdiri. “Tidak usah, aku ke bawah saja. Tolong nyalakan perapian saja untukku.”
“Oke.” Wanita itu mengacungkan jempolnya.
Rara pergi setelah sebuah ranting terbakar hangus. Aku mengantarnya lantas bergeming di balik pintu setelah Rara menutupnya. Bunyi berdebam adalah suara terakhir yang kudengar. Senyap memelukku. Hanya deru hujan dan gemeletuk kayu di perapian. Ruangan lengang dan dinding-dinding yang dingin membuatku merasa hening. Aku pasti cukup mencemaskan Winter hingga merasa tak keruan seperti ini.
Sepuluh menit… dua puluh menit… aku nyaris tertidur karena tercenung di depan perapian. Tiba-tiba, pintu diketuk.
Aku menyibak selimut lantas berlari membuka pintu. Dia berdiri di hadapanku dengan tubuh basah kuyup. Bukannya memikirkan diri sendiri, cowok itu meraih tanganku lalu memijit-mijit antara ibu jari dan telunjuk. Seperti yang biasa Mama lakukan tiap kali asam lambungku naik.
“Kalau sakit maag, pijat bagian sini. Terasa sakit, tapi setelahnya tidak. Pernapasanmu juga akan jauh lebih lega.”
Aku tertegun dan nyaris kehilangan kata-kata. “Kamu… kamu kembali cuma untuk melakukan ini?”
Dia tersenyum lebar hingga gigi-giginya terlihat. Entah mengapa aku merasa lega.