Mata Batin

1710 Kata
Dunia ini dibuat dalam dua lapisan alam, yaitu alam nyata dan alam ghaib. Pertama, alam nyata merupakan dunia yang dirasakan melalui panca indera oleh semua orang atau disebut dunia makhluk hidup. Yang kedua bernama alam ghaib, alam tak kasat mata yang dihuni makhluk penebar teror, ini disebut dunia orang mati. Kedua alam tersebut hanya dipisahkan kabut tak kasat mata yang membuat makhluk di alam nyata tak mampu mengetahui adanya makhluk ghaib di sekitarnya. Namun hal itu tak berlaku bagi beberapa orang yang terpilih, mereka mampu membuka mata batin, baik secara alami maupun dengan bantuan makhluk dari alam ghaib meskipun memiliki konsekuensi tertentu. Manusia spesial yang mampu membangkitkan mata batinnya sering dikenal sebagai indigo. Hal ini dikaitkan dengan aura mistis berwarna keunguan atau indigo yang dipancarkan dari orang tersebut. Kemampuan indigo ada yang muncul sejak kecil, ada pula yang kemampuannya muncul tiba-tiba setelah mengalami suatu masalah atau tekanan berat dalam hidupnya. Namun untuk kasus ini, biasanya karena mereka pada dasarnya memiliki keturunan dari kakek atau tetua yang juga indigo atau memiliki ilmu khusus. Ya, kemampuan indigo bisa didapatkan dari keturunan orang sakti atau dukun, meskipun orang indigo tersebut tidak menginginkannya. Kasus kedua tersebut terjadi padaku, kisah ini tentangku, Rian Budi Santoso yang sering dipanggil Rian. Sejak kecil aku hanya seperti anak-anak pada umumnya. Aku tidak mencolok dibanding teman lainnya dan bukan anak yang nakal. Aku terus berusaha belajar untuk bisa lulus dengan nilai yang baik. Di sisi lain, efek dari perceraian kedua orang tuaku beberapa waktu lalu menjadikanku korban bully verbal oleh teman-teman di sekolah. Setelah perceraian kedua orangtuaku, Babe menjadi sosok yang kasar baik perkataan maupun jadi ringan tangan jika aku melakukan sedikit kesalahan, sedangkan ibuku sudah tak pernah memberi kabar bahkan nomornya sudah tidak aktif lagi. Tanpa kusadari aku berubah menjadi sosok yang lebih pendiam. Ketika hari Ujian Nasional tiba, aku yang selama ini selalu belajar hingga lembur malam, terlalu banyak beban pikiran dan kondisi kesehatan fisikku yang terus menurun, akhirnya mengalami demam tinggi. Meskipun demikian, aku terus berusaha menganggapnya bukan masalah dan hanya mengonsumsi obat penurun demam yang hanya memiliki efek sementara. Ujian kali ini terasa sangat berat dibanding ujian yang lainnya. Namun aku bertekad harus menyelesaikan dan membuktikan bahwa aku mampu menjadi orang yang sukses meskipun statusku sebagai anak broken home. Berkat ijin dan pertolongan Tuhan, pada akhirnya aku mampu menyelesaikan satu persatu ujian dengan baik. Ucok selalu menemaniku setiap kali istirahat setelah ujian dan mengantarku pulang sampai di rumah. Sedangkan teman yang lain tidak peduli padaku yang bahkan sudah berwajah pucat setiap hari. “Kupikir kali ini kamu harus ke rumah sakit deh, Yan. Wajahmu pucat sekali” Ucap Ucok yang dari kemarin khawatir terhadap kesehatanku. “Tenang saja, aku masih bisa tahan kok. Lagi pula besok sudah hari terakhir ujian. Aku harus selesaikan sekolahku. Aku gak mau kalau ujian ulang di tahun depan hanya karena demam seperti ini. Itu berarti aku orang yang gagal” “Tapi kan kesehatanmu itu lebih penting ,Yan. Tuh, sekarang aja dahimu masih terasa panas” Ucok mencoba cek panas dengan menyentuh dahiku. Wajahnya terlihat penuh iba. “Tenang aja Cok. Kalau nanti aku bener-bener gak kuat, aku bakal minta tolong sama kamu. OK?” Aku mencoba tersenyum dan menepuk pundak Ucok. “Hmm. OK janji ya, tapi jangan tunggu sampai semuanya terlambat. Kalau sampai ada apa-apa, ku panggilkan Ambulance sekalian” Ucok terdengar serius. Aku mengangguk. Aku bersyukur memiliki sahabat yang pengertian dan mau membantu tanpa pamrih seperti dia. Untunglah hari itu ujian berakhir tanpa ada kendala kecuali tubuhku semakin terasa lelah dan lemas, Ucok menemaniku hingga pulang ke rumah. Kemudian di hari terakhir setelah aku menyelesaikan semua ujian, Aku pingsan di depan pintu dan kemudian guru kelas membawaku ke UKS. Aku baru bisa sadar setelah pingsan selama 30 menit. “Dimana ini?” Tanyaku setengah sadar. “Ini di UKS. Pak Agus yang membawamu kesini setelah selesai Ujian tadi. Kamu demam tinggi” Jawab dokter jaga. “Coba duduk, demammu masih ada meskipun sudah lebih rendah daripada sebelumnya. Untuk sekarang, minumlah obat Paracetamol penurun demam ini kemudian istirahat lagi” Lanjutnya. “Baik dok” Aku mengonsumsi obat itu meskipun di tasku juga masih ada obat yang sama. Aku selalu membawa obat itu dan selalu mengkonsumsinya sebelum ujian dimulai agar bisa melawan demam yang kualami. Dokter jaga itu memeriksa panas di dahiku, lalu menggelengkan kepalanya. “Kamu ini masih muda. Jangan sia-siakan kesehatanmu. Kalau nanti malam demammu masih belum turun, sebaiknya kamu segera ke rumah sakit saja” “Iya baik dok” aaku kembali tiduran di kasur pasien, kepalaku masih terasa pusing, bahkan langit-langit UKS seperti berputar-putar. Setelah beristirahat 15 menit, demamku memang masih ada tetapi aku merasa sudah bisa beraktifitas, pusing di kepala juga sudah hilang. Tok…tok..suara ketukan dari luar pintu UKS, ternyata Ucok datang menjenguk. Ia mendekatiku. “Gimana keadaanmu sekarang?” Tanyanya. “Sudah mendingan, tapi masih sedikit lemas sih. Hehe” Wajah Ucok terlihat kasihan padaku, “Ku antar ke Rumah Sakit ya? Nanti ku kabari Babemu” “Jangan Cok! Aku benar-benar sudah gak apa-apa. Ini sudah biasa bagiku. Tenang bro” “Tapi kan-” Aku menepuk pundaknya dan tak membiarkan Ucok berargumen panjang lebar. “Aku sekarang sudah sehat kok. Antar aku pulang ya, Cok. Takutnya nanti kesorean sampai rumah” Sudah jelas kalau aku masuk ke rumah sakit, pasti butuh biaya banyak dan Babe yang sekarang ini bukanlah orang yang bisa diajak kerjasama terutama jika berkaitan dengan uang. Pilihanku satu-satunya adalah menahan rasa sakit ini selama mungkin. Ucok mengangguk. Kami berpamitan dengan dokter jaga. “Kalau demamnya nanti malam masih belum turun, sebaiknya segera ke rumah sakit saja” Ujar dokter jaga. “Siap dok, terimakasih atas bantuannya” Ucok mengantarku sampai rumah, ternyata Babe belum pulang. Akupun langsung menuju kamar untuk istirahat, rasanya demamku kambuh lagi. Aku tak sempat mandi maupun ganti baju, yang kubutuhkan saat ini hanya menutup mata yang semakin terasa berat ini. Malam harinya, aku masih demam tinggi, aku terbangun karena mimpi buruk hingga kasurku basah oleh keringat. Lalu dengan berjalan sempoyongan, aku menuju dapur untuk mengambil air minum. Ada babe sedang menonton TV di ruang tamu. Sekilas muncul ide, aku ingin memberinya kesempatan agar ia berlaku selayaknya ayah kandung yang memperhatikan putra satu-satunya. Akupun mendekatinya. “Be, kayaknya Rian demam. Badanku rasanya meriang semua dan keringat dingin” “Kamu sih kebanyakan begadang. Sudah remaja kok gak bisa merawat badan sendiri, jadi sakit-sakitan kan?” Ucap Babe dengan ketus, tanpa menoleh kepadaku sedetik pun. Sepertinya menonton TV lebih penting daripada anaknya yang sekarat ini. “Be…” “Kalau sakit ya minum obat terus istirahat. Jangan manja, kamu itu sudah dewasa” kata Babe dengan nada kesal. Perasaanku berkecamuk, ternyata Babe memang sudah tidak peduli lagi padaku. Kepalaku tiba-tiba kembali pusing, aku memutuskan kembali ke kamar untuk beristirahat. Setelah minum obat, aku coba memaksakan diri untuk tidur. Ternyata aku tidak bisa tidur. Pikiranku melayang tak jelas. Ku coba mengambil HP dan menelpon ibu, tapi tak tersambung karena nomornya sudah tidak aktif. Sejak kasus perceraian itu, nomor ibu sudah tidak aktif dan aku tak tau beliau berada dimana saat ini. Aku meletakkan HP di dadaku, tak terasa bulir bening mengalir dari ujung mata ini. “Bu…Rian lagi sakit Bu. Ibu dimana sekarang? Rian rindu…” Aku menahan berbagai rasa sakit dalam satu waktu. Aku sakit hati dari perilaku Babe, Rindu kasih sayang ibuku, beban pikiran hasil Ujian Nasional dan sakit fisik yang saat ini kurasakan. Ini merupakan beban yang kurasa sangat berat, hingga terlintas pikiran ingin mengakhiri hidupku yang merana ini. Tubuhku semakin terasa lemas bagai termakan dan tenggelam oleh demam. Tuhan, jika memang engkau berkehendak, ambil saja nyawaku ini. Aku sudah tak tahan lagi. Babe berubah jadi makin tak peduli, ibu telah lama memutuskan hubungan kami, teman-temanku menjauhi, dan aku tak yakin dengan hasil ujianku nanti. Tuhan, jika aku memang harus hidup dalam kehinaan. Tolong bantu aku menerima kenyataan. Ubahlah agar aku bisa kuat menghadapi segala tantangan. Engkau tahu di ujian hidupku ini aku sudah mencapai titik bosan. Maka buatlah hidupku nantinya penuh warna saja sekalian. Setelah mengeluh, aku mulai merasa kantuk yang amat berat, kemudian ku menutup mata. Di tengah malam, tubuhku terasa tidak nyaman seperti ada yang menindih. Ada aliran angin yang menerpa padahal seingatku sudah menutup jendela rapat-rapat. Aku coba membuka mata dan bangun dari tidurku. Di pinggir dipan terlihat ada sosok kakek yang menyeramkan. Ia mengenakan jubah serba hitam, berambut putih gimbal dengan memegang tongkat kayu dengan ukiran ular berkepala dua. Spontan aku terkejut. “Si-Siapa kamu?” Suaraku tidak keluar. Kakek itu menoleh ke arahku, pupil matanya berwarna putih pucat kemudian ia tersenyum padaku. Wajahnya sangat pucat dan menyeramkan sekali. Dengan situasi aneh yang ku hadapi itu, aku coba berteriak lagi. “Setaaann!!” tetapi anehnya suaraku masih hilang, Tak ada pilihan lain selain kabur dari kamar itu. Aku segera berlari keluar tetapi pintunya tak bisa dibuka padahal aku yakin tak pernah mengunci pintu. Aku berusaha menggedor-gedor sekuat tenaga, berharap Babe mendengar dan datang membantu. Tiba-tiba dari belakangku, aku diterjang hawa dingin yang membuatku merinding dan bulu kuduk ini berdiri. Di belakangku, ada kakek misterius tadi. Aku tidak berani menoleh, hanya bisa gemetar ketakutan di depan pintu. Terdengar barang-barang di kamarku bergetar, beberapa barang terjatuh dari tempatnya. Kakek itu berjalan semakin mendekat lalu menepuk pundakku dari belakang. Seketika tubuhku terasa lemas dan terduduk di lantai. Dag…dig..dug…aku bisa mendengar suara jantung ku melaju cepat. Aku segera menutup mata, berharap kakek itu akan menghilang setelah nanti aku membuka mata. Tak ada yang terjadi setelah itu, suasana di kamar menjadi hening. Aku juga sudah tak merasakan hawa dingin seperti sebelumnya. Aku yang penasaran pun mencoba memberanikan diri untuk membuka mata lagi. Alangkah terkejutnya diriku, kakek itu masih berdiri di depan mata, seperti memang sengaja menunggu reaksiku. Sekali lagi ku coba berteriak tetapi suaraku masih tak bisa dikeluarkan. Kemudian kakek itu menggenggam kepalaku dan mengucapkan suatu mantra aneh yang tak terdengar jelas “มาสายลมและปกป้องลูกหลานของฉันจากภยันตรายที่มองไม่เห็น”. Seketika kamarku didatangi angin kencang yang memporak-porandakan ruangan padahal jendela sejak awal tertutup rapat. Buku-buku dan kertas berterbangan di langit-langit kamar. Benar-benar situasi mistis yang pertama kalinya ku alami. Tiba-tiba aku yang sejak tadi sudah kelelahan dan ketakutanku memuncak, akhirnya pingsan. Apakah Aku akan mati hari ini? Aku bahkan belum mencapai puncak kesuksesanku untuk membuktikan ke Babe dan Ibu bahwa aku bisa sukses meskipun dari keluarga brokenhome.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN