Pagi telah tiba, aku terbangun dengan panik. Aku mengira telah mati semalam. Tapi begitu kuperhatikan sekeliling kamar, kondisinya seperti biasa, tidak ada bekas kekacauan angin semalam. Saat ini jam dinding menunjuk pukul 6 pagi. Terdengar suara orang hiruk pikuk lalu lalang di jalanan karena hari minggu saatnya orang-orang keluar rumah untuk berolahraga atau bersepeda santai.
“Buset, apa semalam aku hanya mimpi ya?” aku menggaruk-garuk kepala, bingung atas kejadian menyeramkan yang kualami semalam.
Aku turun dari dipan dan mencoba memeriksa ruangan untuk memastikan kejadian semalam itu hanya mimpi buruk atau benar-benar nyata. Secara hati-hati, aku menunduk untuk memeriksa kondisi di bawah dipan. Aman, dipan kosong, selanjutnya kubuka lemari baju yang ada di samping dipan dengan hati-hati. Aman, pakaian nya masih tertata rapi, dompet tebalnya juga masih ada di pinggir lemari ditemani anak kecil kurus yang bertelanjang d**a. Aku pun lega dan kembali menutup lemari.
Beberapa saat kemudian aku menyadari ada kejanggalan tadi. “Eh tunggu...anak kecil disamping dompet?”
Aku segera membuka lemari lagi untuk memastikan yang dilihat tadi. Ternyata benar, di samping dompetnya memang ada sosok anak kecil seukuran telapak tangan. Anak kecil yang sejak tadi duduk sambil menunduk itu tiba-tiba balik menatapku yang bengong di depannya. Kami saling pandang sejenak. Sedetik kemudian aku dan anak kecil itu berteriak bersamaan.
“Aaaa! Tuyul!” Karena terkejut, aku membanting pintu lemari dan segera keluar kamar. Tak ada pilihan lain, aku segera menggedor-gedor kamar Babe dengan panik. “Be! Tuyul Be! Ada tuyul di dalam lemariku! Be!”.
Kemudian Babe keluar kamar hanya dengan mengenakan kaos singlet putih dan sarung hitam yang lusuh, “Ngapain kamu berisik pagi-pagi gini? Hoam”
“Ada tuyul di dalam lemariku Be. Beneran!” aku masih merasa ketakutan tak jelas.
“Ngomong apa kamu? Kamu ini lagi mengigau atau lagi pake obat terlarang? Mana ada tuyul pagi-pagi gini, kamu kebanyakan nonton film hantu. Sudahlah, babe masih ngantuk nih. Hoam”, kemudian Babe yang tak peduli pun mau masuk lagi ke kamar tetapi segera kutarik tangannya.
“Beneran be, dia ada di samping dompetku di dalam lemari tadi. Bentuknya kayak anak kecil gak pake baju. Rian gak bohong Be. Beneran ada!”, Aku berusaha meyakinkan Babe yang biasanya sudah tak peduli padaku. Tapi tak ada orang lain lagi di rumah itu yang bisa diajak bicara tentang masalah ini kecuali Babe.
“Ha~h...ada-ada aja. Dasar penakut. Kamu itu dari dulu terlalu dimanja ibumu dari kecil, jadinya begini. Sini biar Tuyulnya kuusir. Awas kalau nanti ternyata gak ada”, Babe terdengar kesal, lalu mengambil sapu dari dapur kemudian memasuki kamarku. Sedangkan aku sempat mengambil kemoceng di dapur lalu berdiri di belakang Babe.
“Mana? Yang lemari ini?” Babe menunjuk lemari di pojokan ruangan.
“I-iya yang itu Be. Ati-ati Be” Aku membenarkannya. Kemudian Babe membuka lemari, tetapi tak ada hal yang aneh disana. Aku bingung, tuyul itu sudah tidak ada di tempatnya tadi.
“Mana? Gak ada tuyulnya” Babe masih meragukan perkataanku, putra satu-satunya. Ia terlihat bertambah kesal.
“Tadi ada di pojokan itu Be, samping dompet”, kucoba membela diri.
“Mana? Gak ada tuh...Coba kamu lihat sendiri.” Babe mundur selangkah, membiarkanku memeriksa lemariku sendiri.
Ku coba beranikan diri untuk kembali memeriksa isi lemari tetapi memang tidak ada sesuatupun yang aneh. Babe menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dengar ya Rian...kamu itu sekarang sudah dewasa, mau kepala dua. Bukan seperti ini cara mencari perhatian orang tuamu, harusnya kamu tunjukkan dengan prestasi. Lalu buat orangtua bangga, bukan dengan cara ini” kata Babe dengan nada intonasi yang menahan amarah.
“Tapi Rian gak bohong Be. Tadi memang ada Tu-“, Aku masih ingin membela diri sekali lagi tetapi sebelum selesai bicara, Babe memotong ucapanku. Ia memukulkan gagang sapu ke tembok karena kesal dengan gangguan yang ia dapat di pagi hari.
Brak!!
“Rian! Babe gak mau dengar lagi. Besok-besok jangan kamu ulang yang kayak gini lagi. Kalaupun beneran ada tuyul, selesaikan sendiri. Toh tuyul gak bisa ngapa-ngapain kita manusia, bisa apa dia kecuali maling duit?” Bentaknya.
Kepalaku tertunduk membenarkan logika Babe, “...Iya Be..”
“Udah jam segini, sana mandi terus lakukan hal yang positif, masak sarapan sana untuk Babe. Babe pagi ini mau berangkat ke kondangan teman kerja. Jangan kamu ganggu lagi. Paham?” Babe keluar dari kamar dengan kesal sambil membanting pintu kamarku.
Kemudian aku merenung atas kejadian pagi itu.
“Memang benar kalau hal semacam ini biasanya gak nyata. Tapi rasanya benar-benar sakit hati ketika kita tidak dipercaya orang tua sendiri.” Aku hanya bisa mengelus d**a atas kemalangan yang kurasakan. Akupun bersiap mandi dan memasak sarapan untuk Babe.
Hari-hariku berubah 180 derajat menjadi luar biasa mencekam. Setelah kejadian mistis yang kualami waktu itu, aku semakin sering melihat makhluk-makhluk menyeramkan di sekitar perumahan. Sosok wanita berpakaian putih yang duduk di dahan pohon sambil tertawa di tengah malam, makhluk bertubuh manusia namun dipenuhi rambut hitam, maupun orang bertubuh besar yang memiliki kulit warna hijau, yang kesemuanya hanya bisa dilihat olehku. Selama ini aku selalu menghindari mereka dan pura-pura menganggap mereka tak ada, untunglah mereka tak menggangguku. Tapi aku tak bisa mengendalikan bulu kudukku yang otomatis berdiri tiap berada di sekitar mereka.
Setelah UN, kami memiliki waktu libur, beberapa siswa menyiapkan inagurasi kelas XII atau berkumpul dengan teman-teman sebelum perpisahan sekolah. Sedangkan waktu libur ini kuhabiskan di rumah saja. Kalaupun pergi hanya seperlunya misalkan belanja, bahkan aku menolak pertemuan kelas dengan alasan kurang enak badan.
Sesekali Ucok berkunjung ke rumahku. Meskipun ia sahabatku, aku merasa tak bisa menceritakan kemampuan baruku ini. Babe yang orangtua kandungku saja mengatakan aku aneh atau gila, apalagi jika aku bicarakan ke Ucok yang hanya teman sekolah. Kemudian tak terasa dua minggu telah berlalu, saatnya kami kelas XII mengambil ijazah kelulusan.
Aku kini terbiasa berangkat ke sekolah menggunakan Ojek Online (Ojol). Hal ini dikarenakan motor yang biasa ku gunakan untuk berangkat ke sekolah telah diambil ibu sebagai harta gono-gini dari perceraian. Kini aku sedang menunggu Ojol di halaman rumah. Seperti biasa, aku memasang headset dengan setting lagu favoritku dari grup Band “Noah”. Sedangkan Babe sudah berangkat duluan karena ada apel pagi.
Tak lama kemudian, Ojol datang menjemputku dan kami pun langsung berangkat agar tidak telat ke sekolah. Ini pertama kalinya aku ke sekolah semenjak mata batinku terbuka, maka aku tentu saja menyiapkan mental sebelumnya. Perjalanan biasanya membutuhkan waktu 20 menit, namun kali ini ada situasi yang sedikit berbeda.
Ketika kami berhenti di perempatan, di sampingnya ada suatu rumah tua gaya Belanda. Selama ini aku melewati jalanan ini biasa saja, namun kali ini bulu kudukku berdiri. Aku melihat ada nenek-nenek berpakaian “kemben” hitam adat Jawa yang sedang duduk di atas batu besar di halaman rumah itu. Aku penasaran, mencoba memastikan sosok itu manusia atau yang lain. Pandanganku fokus ke nenek itu, nenek itu membalas menatapku kemudian tersenyum ramah sekaligus menyeramkan.
“I-itu manusia kan?”
“Gimana mas? Gak denger” Tanya ojol itu yang mendengar gumamku samar-samar.
Aku menoleh padanya, “Eh, gapapa Pak, itu lo, ada nenek-nenek di rumah sebelah itu, serem banget”
“Nenek?” Ojol itu menoleh ke rumah tua di samping kami, mencoba mencari nenek yang kumaksud.
“Itu lo pak, nenek yang sedang duduk di atas batu besar”, Aku kembali menoleh ke rumah tua tadi tapi nenek itu sudah tidak ada disana. "Apa mungkin dia sudah masuk ke dalam rumah?" pikirku.
“Setahu saya, rumah yang disitu sampai sekarang masih belum ada penghuninya mas. Masih kosong” Jelas pak ojol.
“Tadi saya lihat ada nenek-nenek duduk di atas batu besar itu pak”
“Iya apa mas? Jangan-jangan...jangan-jangan ya mas” Ucap pak Ojol dengan nada rendah seperti mau menakutiku.
“Weh Pak. Jangan nakut-nakutin lah pak. Masih pagi gini”
“Haha. Mas...mas, ya mana mungkin ada setan pagi-pagi gini. Mungkin disana memang ada nenek tukang kebun yang kerjanya bersihkan rumah itu mungkin mas”
“Nah bisa jadi seperti itu ya pak” Aku membela pendapat Pak ojol untuk menenangkan diri dari pikiran negatif yang membayangiku. Ku coba menoleh lagi ke rumah kosong itu karena penasaran. Kali ini aku melihat nenek tadi sekali lagi, tetapi ia sedang duduk di atas cabang pohon jambu mete yang rindang di halaman itu.
“Loh kok bisa nenek itu duduk di dahan pohon setinggi itu? Bagaimana cara dia memanjatnya?” pikirku dalam hati.
Nenek itu dari jauh terlihat balas menatapku yang sedang menatapnya bertengger di atas pohon. Ia menjulurkan tangannya ke arahku, seperti ingin menawarkan jambu mete di tangannya. Sekali lagi aku merasakan hawa dingin dan tubuhku merinding melihat si nenek misterius itu.
Untungnya, lampu traffic light berubah hijau, kamipun melanjutkan perjalanan ke sekolah. Aku hanya bisa menganggap kejadian itu tak pernah ada, meskipun jantungku masih berdegup kencang. Kemudian untuk mengalihkan pikiran negatif, aku mengeraskan alunan musik dari HP. Sepanjang perjalanan aku menutup mata dan berdoa sebanyak-banyaknya.
Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju kelas. Suasana di halaman dan lorong sekolah begitu ramai. Hari itu tidak ada pelajaran, hanya penyampaian nilai ujian, penyerahan ijazah, dan persiapan inagurasi perpisahan kelas XII sehingga semua orang terlihat lebih santai daripada biasanya meskipun sudah mendekati waktu bel masuk.
Begitu masuk ke dalam kelas, aku disambut oleh Dita, si preman cantik di kelas yang bahkan ketua kelas tak mampu mengaturnya. ‘Waduh, anak broken dah sampai rupanya. Ternyata masih hidup ya. Kemana aja kamu, kok baru kelihatan batang hidungnya?”
Dita ini dari dulu selalu usil padaku. Ia selalu mencari-cari kesalahanku untuk bisa bertengkar dengannya. Ia selalu membuatku kesal. Ku yakin kali ini dia akan menghina dan merendahkanku seperti biasa. Sayangnya aku hanyalah seorang siswa biasa dengan latar belakang brokenhome. Maka, aku tak bisa dengan mudahnya membuat masalah dengan Dita. Aku harus bisa menahan amarah yang semakin lama semakin sulit ku pendam dan entah kapan akan meledak.