Bab 1 : Lamaran Mendadak?
Bekerja dengan banyak orang, ke pusat perbelanjaan, taman hiburan atau tempat keramaian lainnya. Bagi banyak orang hal seperti itu adalah sesuatu hal yang sangat menyenangkan dan bisa menghilangkan rasa stres dan penat seharian setelah bekerja.
Sayangnya, hal itu tidak berlaku untuk lelaki tampan yang sedang berjalan di tengah keramaian dalam pusat perbelanjaan di kota. Perasaan jijik, risih dan kesal adalah gambaran yang tepat untuk kondisi hatinya saat ini.
Dipandang, di bicarakan oleh banyak orang adalah resiko baginya yang selalu menjadi pusat perhatian karena pesonanya yang bertebaran setiap kali dia melewati siapapun. Apalagi kalangan wanita yang tidak ada yang mampu bertahan dari pesona lelaki bermata coklat itu.
Kakinya memasuki sebuah toko pakaian mewah, bermerek ternama untuk bertemu dengan seseorang. Seorang wanita berlari kearahnya tepat setelah dia memasuki butik,.
"Sayang! Akhirnya kamu datang juga!" Wanita itu memeluk erat dirinya.
Lelaki itu langsung melepaskan pelukan wanita itu karena merasa risih. "Jangan memanggilku dengan panggilan itu. Sudah ku katakan aku tidak suka!"katanya dengan nada datar.
Wanita itu mendengus sebal. "Iya, iya. Kamu selalu begitu banget sama calon sendiri!" Dia memprotes sebal."Ayo... aku tunjukin kamu beberapa gaun yang sudah aku pilih tadi, Zayn!" Wanita berstatus tunangannya itu menariknya ke dalam butik.
Zayn. Begitu biasa orang memanggilnya. Lebih tepatnya Zayn Alderic Altaf.
Dia melihat antara bingung dan pusing dengan semua pakaian yang di tunjukan oleh kekasihnya.
"Aku bingung. Semuanya bagus, bungkus saja semua!"
Perempuan bermata hitam pekat itu mengerucutkan bibir kesal. Kekasihnya itu benar-benar cantik walau hanya memakai polesan simpel saja.
Tentu saja karena dia adalah Amera, si super model dengan bayaran ratusan juta satu kali take foto saja. Menakjubkan sekali!
Semua orang menganggap mereka adalah pasangan paling serasi bahkan sempat di nobatkan dalam pasangan terhitz dalam majalah populer, Rich couple.
Dia di nilai adalah pasangan yang paling pantas bersanding dengan Zayn Alderic Altaf itu.
"Zayn, plis deh jangan bersikap menyebalkan. Kamu harus bantu aku pilih gaun untuk acara ulang tahun Mami! Aku ini tunangan kamu, Zayn."
"Ya." Jawabnya singkat. Dan mengikuti Amera yang membawanya duduk di sofa menunggu Amera berganti pakaian sampai beberapa kali sampai dia bosan dan menahan kekesalannya karena menunggu.
Sungguh, waktunya sangat berharga dan dia tidak suka menunggu.
"Cukup! Sudah itu saja. Gaun itu pantas untukmu!"
"Seriusan ya ini?"tanya Amera tampak tak suka dengan pilihan Zayn.
Ya, bagaimana lagi. Zayn hanya memilih asal karena dia sudah bosan menunggu.
"Kau yakin yang ini Zayn?"
"Ya. Kau cantik memakai apapun."ujar Zayn dengan ekspresi dingin.
Amera langsung tersenyum mereka. Jarang jarang Zayn memujinya dan tentu dia senang ketika Zayn berkata begitu. "Baiklah, Pelayan tolong bungkus yang ini!"
Pelayan datang dan membungkus gaun berwarna baby pink dengan diamond bertebaran di pingang dan juga di bagian atasnya.
Harganya pun tak tanggung-tanggung fantastisnya. 700juta hanya untuk satu gaun, dan itu bukan hal yang besar bagi seorang Zayn Alderic Altaf.
"Bisa kita pergi sekarang?"
Amera langsung menatap Zayn, dengan memasang wajah imut, "Ke toko CHANNEL ya!" Dahi Zayn berkerut mendengarnya. "Koleksi tas CHANNEL mu bukankah sudah ada 4 rak dirumah?"
"Itu masih kurang, Zayn! Aku tuh model harus punya stok tas banyak supaya gak bosen dan fress kalau foto shoot."
"Terserahmu saja."
Zayn akhirnya mengantarkan Amera ke toko yang diinginkannya. Saat ada di depan pintu toko Zayn berkata, "Masuklah sendirian. Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Kalau sudah selesai telpon saja aku!"
"Oke say__ Upsss... Okey Zayn!"Amera langsung meralat panggilannya ketika Zayn sudah menatap nya dengan raut tak suka. Amera sudah masuk dan berekelana dengan tas-tas bermereknya. Sedangkan Zayn melangkah menjauh untuk menelepon asisten kantornya.
Setelah selesai menelepon, dia mendengar suara tawa yang begitu mengejutkan hatinya. Untuk pertama kalinya dia merasa aneh ketika mendengar suara itu.
Ketika dia mencari sumber tawa itu ternyata tepat berada di belakangnya. Suara tawa itu berasal dari pintu gudang yang terbuka lebar. Dengan dua orang wanita yang saling bercengkrama dan tertawa bersama di dalamnya.
"Si Juned Gilak kali ya, masak ntraktir aku tapi kagak Bawak duit! Emang dasar modus ye dia tuh!"
"Anjir! Seriusan loo? Hahhahah... trus gimana jadinya?" Balas temannya.
"Ya gimana. Kagak tega aing cuyy..., Mana mukanya melas banget kek kucing kehilangan induk..."
"Kucing? Kucing garong kali... HAHHAHAHA!"
"Bangke banget! Ngorek dalam cuyy 100 ribu. Hikss...Bisa makan indomiehe 1 bulan makk!"
"Bahhahaha... satu bulan? Nggak kriting tuh usus?"
"Kriting...kriting dah! Lumayan currly usus 100 ribu kan... Hahahaha!"
"GILAK LO!" keduanya tertawa bersama sembari menyusun tas-tas ke dalam keranjang.
Sedang Zayn menyaksikan semuanya dengan mata mengerjap. Antara merasa risih, berisik, namun sedikit menetramkan menyaksikan kegiatan mereka. Terutama dengan wanita yang memiliki senyum paling manis yang pernah dilihatnya selama ini.
Sampai ketika kedua gadis itu keluar dari gudang dan berpapasan dengan Zayn. Keduanya menunduk sopan, namun Zayn malah memalingkan wajahnya dan berdiri kaku di sana.
Ketika gadis yang dia dengar tawanya tadi melewatinya. Mata Zayn seolah tertarik untuk menatapnya lagi dan lagi.
Sampai tanpa sadar kakinya mengikuti mereka berdua yang ternyata memasuki toko tas yang sama dengan tempat Amera berada.
"Ssst... Tuh cowok ngikutin kita apa gimana sih?"bisik temannya.
Gadis itu mengintip ke belakangnya dan benar saja pria itu tepat berjalan di belakangnya. "Hussstt... Ada aja kamu! Mungkin dia nemenin pacarnya kali!"
"Ya gak gitu Sya. Tuh cowok dari tadi gue perhatiin curi-curi pandang sama Lo!"
Gadis bernama Syaza itu hanya mengedikan bahu tak acuh mendengar ucapan temannya. Dia berbelok arah, ke pojok ruangan untuk menyusun tas.
Zayn berhenti di tempatnya. Dan merasa terbodoh ketika menyadari di mana dia berada. "Kenapa aku bisa ke sini?" Dia sendiri bertanya-tanya. Matanya kembali mencari-cari sosok wanita berjilbab biru muda itu yang ternyata sudah berada jauh darinya.
Amera yang melihat Zayn, langsung menghampirinya. "Zayn! Tuhh, bener kan kamu gak bisa jauh-jauh dari aku."ujarnya pede.
Zayn hanya diam tak menanggapi nya. Dia melirik sekilas tangan Amera yang bergelayut manja padanya. Tak lama pelayan membawa beberapa tas pilihan Amera. "Nona, ini semua tas yang anda inginkan!"
Amera meliriknya tak berminat. "Aku bosan dengan model itu. Apa kalian tidak punya keluaran terbaru?"
"Se-sebentar nona! Kami punya satu yang baru saja datang pagi tadi. Biar kami ambilkan."
"Ya... ya ... Ambilkan!"serunya angkuh. "Kemari Zayn, duduk saja!" Dia menarik Zayn untuk duduk. Pelayan itu memanggil nama seseorang, "Syaza! Kemari sebentar!"
"Iya mbak!" Sahutan itu membuat Zayn seketika menoleh dan mendapati wanita tadilah yang datang. Lagi-lagi Zayn terdiam, memperhatikan Syaza dengan ekspresi dinginnya.
Sayangnya gadis itu terlalu fokus dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari jika sedang diperhatikan pria tampan. "Baik mbak," sepersekian menit sosok itu lagi-lagi menghilang dari pandangan Zayn.
"Kemana dia?"tanyanya spontan. Memicu perhatian pelayan itu dan juga Amera.
"Kenapa tuan?"
"Ada apa Zayn?"
Tanya keduanya bersamaan. Zayn kembali terdiam, dan berkata. "Tidak. Bukan apa-apa!"
Tidak lama kemudian, Syaza kembali datang dan mengantarkan tas pesanan Amera. Ketika Amera sudah berdiri dan ingin mengambil tas itu, Zayn tiba-tiba berkata. "Batalkan saja!"
"Apa Zayn? Kamu tidak suka tas nya?"
"Bukan tas nya. Tapi pertunangan."
"Iya... Iya kita kan sudah bertunangan dan sebentar lagi menikah."
"Itu di batalkan. Pernikahan kita di batalkan!"
"Huuhhh? Apa maksudmu Zayn!"pekik Amera menarik tangan Zayn dan memutar tubuh pria itu untuk menghadapnya. "Aku bilang pernikahan kita di batalkan!"
"Kamu bercanda ya! Tidak lucu Zayn!"
Zayn menatapnya dengan ekspresi yang begitu serius, "Apa aku terlihat bercanda?"
"Kamu gila Zayn! Pernikahan kita 2 Minggu lagi dan kamu mau membatalkannya! Kenapa Zayn!"
"Aku akan menikahi wanita lain!"
Woww.....
Sontak kalimat dari Zayn Alderic Altaf itu menjadi pusat perhatian semua staf dan pengunjung toko bahkan Syaza sendiri sampai tertegun di tempatnya sambil memeluk tas mewah itu.
"Ambyar hati mbaknya! Tega amat nih cowok!"bisik hatinya.
Beberapa orang mulai berbisik-bisik membicarakan mereka dan ada yang mengeluarkan ponselnya untuk merekam kejadian langka si model papan atas dan juga pengusaha muda ternama yang selalu di elu-elukan sebaagai pasangan yang serasi itu
"Beuhh... Jadi tranding topik nih! Fix bakal masuk lambe turah nih!"gumam Syaza menatap ngeri kerumunan orang yang sedang berperan sebagai netizen budiman di sana.
"Menikahi Siapa, Zayn! Sejak kapan kamu punya wanita lain?!" Ujar Amera marah.
"Dari awal aku memang tidak ingin menikah dengan mu!"
Syaza pun ikut berdialog sendiri merasa penasaran. "Nah lohh, ayoloh siapa! Kepo kan? Aku juga kepo... Wkwkkwk undian berhadiah nih yang jadi cewek barunya!"
Syaza tekikik geli dengan pemikirannya sendiri. Sampai ketika jari telunjuk pria itu mengarah kepada tempat atau orang yang salah. "Dia! Aku akan menikahinya!" Tunjuk Zayn tepat di depan wajah Syaza.
"EHHH... AYAM! KOK AKUUUUUU?!"pekik Syaza keras. Semua mata memandang ke arahnya. "Enak aja tuh jari asal nunjuk! Gila nih orang. Huaaa papa... Syaza bakal di bully netizen ini... Huaaaa...!"
"Apa kamu bilang! Kamu itu harusnya nikah sama aku Zayn!"pekik Amera kesal. "Siapa yang ingin menikah denganmu? Aku ingin menikah dengannya." Zayn langsung menatap Syaza yang masih terbujur kaku.
Amera tercengang di buatnya. "Kamu bilang apa Zayn?! Kamu gila mau menikahi pelayan toko! Kamu hanya akan menikah denganku."
"Itu keputusanku."
Syaza yang baru mendapat kesadarannya kembali, tidak tahu harus berkata apa dan memilih untuk pergi diam-diam. "Gila... Gilaa! Nih cowok ganteng tapi gila apa gimana sih!"
Baru selangkah kakinya pergi, suara lelaki itu menahannya. "Aku ingin menikah denganmu. Kenapa kamu pergi?"
Syaza mengerjapkan matanya, dia berbalik menatap pria itu. "Anu, maaf tuan. Sepertinya kepala anda terbentur sesuatu ya."
"Maksudmu?" Zayn menatapnya dingin.
"Anda gila Tuan! Saya tidak ingin menikah dengan anda!"
Mata Zayn membulat mendengar gadis itu mengatainya. Syaza pergi begitu saja sedangkan Amera menarik tangan Zayn keluar dari sana.
Para netizen budiman pun riuh melihat sepasang kekasih atau lebih tepatnya akan menjadi mantan kekasih yang fenomenal itu keluar setelah mengabadikan momen mereka dan mempostnya di medsos.
Syaza masih cenat cenut hatinya akhirya memutuskan untuk menyendiri di pojok. "Siapa sih yang nggak seneng dapat lamaran mendadak dari cowok tampan. Tapi yang bener aja dong! Dilihat dari reaksi orang kayaknya bukan orang biasa dah! "
Kepala Syaza dipenuhi aura hitam pekat memikirkan nasib buruk yang menimpanya setalah ini. Syaza menghantukan kepalanya ke tembok dengan penuh frustrasi. "Begini amat hidupmu, Sya."belum lagi selesai dirinya berkeluh kesah.
Sebuah suara di belakang membuat bulu kuduknya merinding, seakan banyak tatapan aneh tertuju padanya. "SYAZAA! "
Syaza berbalik badan dengan gemetar. Wajahnya berubah meringis melihat manajer, bahkan semua karyawan menatap dirinya seperti rendang padang siap santap.
"Ambyar dah! Bakal kena interogasi nih, hikss... "
#Bersambung....