Siang itu, di dalam kamar Violeta. Gadis itu masih bergelung dalam selimut. Sementara sang papa sejak tadi berteriak-teriak membangunkannya. Pria itu benar-benar sangat emosi melihatnya.
“Vio, bangun! Ini udah jam 10 siang, tapi kamu masih tidur. Kamu bolos kuliah lagi, Vio? Tiap malam kerjaanmu hanya pergi dugem bareng teman-temanmu. Tapi giliran siang waktunya kuliah, kamu selalu bolos. Mau jadi apa kamu ini, Vio?!” Suara Vito, sang papa terdengar melengking.
Violeta bukannya bangun, tetapi dia justru menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Vito semakin murka melihat tingkah sang putri, lalu ditariknya selimut tersebut dengan kasar.
“Vio! Jangan membuat papa semakin murka! Bangun! Papa akan mencabut semua fasilitas kamu, Vio! Terserah kamu mau gimana juga, papa udah gak peduli!” Vito menarik kaki Violeta hingga terjatuh dari ranjang.
Brugh!
Nyawa Violeta yang belum sepenuhnya kumpul karena sedang tidur, membuat gadis itu sangat terkejut. Dia memegangi pinggangnya yang terasa sakit akibat jatuh dari ranjang.
Ditatapnya wajah sang papa yang kini sedang menatapnya dengan nyalang. Hingga perhatiannya kini tertuju pada sosok wanita muda yang cantik dan seksi yang sedang berdiri sambil bersedekap d**a di ambang pintu. Wanita itu tersenyum lebar mengejeknya.
Emosi Violeta langsung memuncak. Ia pun bangkit seraya membalas tatapan sang papa. Bibirnya terangkat dan tersenyum meremehkan, sehingga hal tersebut semakin memancing emosi Vito.
“Semenjak Papa nikah sama Mak Lampir ini, Papa menjadi sangat berubah terhadapku. Papa selalu mencari-cari kesalahanku setiap hari. Papa selalu marah-marah padaku setiap hari!” Deru napas Violeta terdengar menggebu-gebu.
“Kenapa Papa gak peka sama aku? Aku kayak gini gara-gara Papa yang lebih memprioritaskan wanita ini daripada aku, putrimu, Pa! Papa pilih kasih! Papa lebih mencintai dan menyayangi dia daripada aku!” Suara Violeta bergetar.
Mata Vito memerah mendengar ucapan sang putri yang semakin berani dan membangkang terhadapnya. Sebagai orangtua, dia sungguh sangat kecewa atas sikap Violeta yang tak menghormatinya.
Selama ini Violeta selalu menghormatinya, tetapi semenjak dia menikah lagi, putrinya itu berubah total dan menjadi pembangkang.
“Vio, cukup! Kamu udah kelewat batas, gak ngehormati papa sebagai orangtuamu. Dan satu hal lagi yang harus kamu tau, bahwa dia sekarang udah jadi mama kamu!” Suara Vito pun bergetar. “Kalau kamu tetap keras kepala kayak gini, lebih baik kamu pergi dari rumah ini! Papa udah gak mau lagi punya anak kayak kamu yang gak bisa diatur!”
“Aku gak sudi menganggap dia sebagai mamaku. Mamaku cuma satu dan udah meninggal! Papa udah dipelet sama w************n ini. Papa disetir sama dia karna dia mau nguasai seluruh harta Papa. Tapi kenapa Papa gak sadar juga?!”
Plak! Plak!
Dua buah tamparan mendarat dengan sempurna di kedua pipi Violeta. Ya … Vito menampar putri tunggalnya tersebut karena sudah lepas kendali. Dan ini merupakan kali pertama dia sampai main tangan terhadap sang putri.
Air mata kini membanjiri wajah Violeta. Dia memegang pipinya yang terasa sakit dan panas akibat tamparan yang dilayangkan oleh sang papa. Bahunya bergetar, isak tangis kini memenuhi ruangan kamarnya.
Hatinya sungguh sangat sakit karena papanya tega menamparnya hanya demi membela istri baru, apalagi kata-kata yang dilontarkan oleh sang papa yang mengusirnya dari rumah, sungguh sangat menyakitkan.
“Terima kasih atas tamparan ini, Pa. Baik, mulai sekarang aku akan pergi dari rumah ini sesuai yang Papa inginkan!” Setelah mengatakan itu, Violeta pun bergegas keluar.
Violeta menuju garasi dan mengeluarkan sebuah motor gede yang direntalnya, lalu membawa motor itu dengan kecepatan tinggi dengan masih mengenakan pakaian tidur.
Dia pergi tanpa membawa apa pun dari rumah. Dengan berlinangan air mata, Violeta mengendarai motor dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kini, dirinya benar-benar sudah menjadi gembel yang tak memiliki apa-apa, sebab semua fasilitasnya telah dicabut oleh sang papa.
Violeta yang sedang mengendarai moge dengan kecepatan tinggi itu, kini melewati sebuah Sekolah TK. Namun, fokusnya teralihkan ketika dirinya hampir saja menabrak seorang anak kecil yang tiba-tiba melintas di jalan.
Jantungnya seakan lepas dari tempatnya karena sangat syok. Ditatapnya tubuh bocah yang hampir ditabrak, anak itu sedang menangis ketakutan. Violeta merasa bersalah, lalu segera menghampirinya.
“Kamu gak apa-apa kan? Maafin tante ya, karna hampir membuatmu celaka. Tadi tante —”
“Mama ….”
Violeta terhenyak, karena anak kecil tersebut tiba-tiba langsung memeluknya sambil menangis. Dan yang lebih mengejutkan lagi karena ternyata bocah tersebut adalah Berlin, anak yang bertemu dengannya tempo hari di taman dan selalu memanggilnya mama.
Belum hilang rasa keterkejutannya, tiba-tiba dia dikejutkan lagi atas kehadiran Bram, papa dari Berlin yang kini sedang berjalan ke arahnya. Bram langsung mengambil alih tubuh mungil sang putra.
“Berlin, Sayang. Kamu kenapa, Nak? Kenapa nangis?”
Bram memeluk sambil menghapus jejak-jejak air mata Berlin. Lalu matanya tertuju pada Violeta yang menunduk. Tak lama kemudian, Violeta mengangkat wajah hingga matanya bersirobok dengan mata elang milik Bram.
Kening Bram mengernyit, matanya menyipit menatap lekat kedua pipi Violeta yang memerah dan terdapat bekas telapak tangan. Ia menyadari dengan apa yang telah terjadi, lalu ia bangkit sambil memapah tubuh Violeta menuju mobilnya.
Semenjak pertemuan mereka tempo hari di mana Bram menawarkan kerja sama dengan Violeta, yaitu dengan menikah kontrak, dan gadis itu memberikan persyaratan yang di luar dugaannya, sehingga dirinya belum memberikan keputusan.
Kini, mereka kembali dipertemukan. Namun, dalam suasana dan keadaan yang berbeda, karena Bram bisa menerka tentang apa yang tengah terjadi pada Violeta pada saat ini.
“Nona, pipimu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu? Ayo, ikut aku. Aku cuma mau ngomong hal penting aja, gak ada maksud lain.” Bram bertanya sekaligus mengajak Violeta.
Violeta tak langsung menjawab, tapi dia terlihat sedang berpikir. Memiliki perasaan curiga karena waspada, tentu saja, sebab dia tak mengenal Bram dengan baik. Namun, karena keadaannya pada saat ini sedang tidak baik-baik saja, maka dia harus memikirkannya terlebih dahulu.
‘Apa sebaiknya aku ikut aja dulu sama si Om piktor ini. Aku pengen tau aja, apa yang mau dia omongin. Hmm … kayaknya boleh juga nih, kalo aku manfaatin dia.’ Violeta membatin. ‘Apalagi keadaanku sekarang lagi kayak gini, udah gak punya apa-apa. Aku udah diusir sama Papa.’
Akhirnya, Violeta pun menyetujui untuk ikut dengan Bram. Wajah Berlin berbinar-binar karena Violeta yang dianggap sebagai mamanya itu mau ikut bersama mereka. Motor yang direntalnya sudah dibawa oleh anak buah Bram.
Selama dalam perjalanan, Berlin tiada henti duduk di pangkuan Violeta dan bergelayut manja. “Mama, Berlin kangen Mama. Berlin sayang Mama.”
Violeta merasa sangat risih atas sikap Berlin. Apalagi bocah itu sejak tadi menempel terus di dadanya hingga terlelap dengan begitu nyenyak. Dengan susah payah Violeta berusaha melepaskan tangan Berlin dari pinggangnya, tetapi tangan anak itu memeluk dengan sangat erat.
‘Iiihhh … ini bocah tengil bener-bener nyebelin banget, sih! Emang ke mana sih mamanya, kok anaknya malah sibuk ngaku-ngakuin aku sebagai mamanya gini, huh!’ Violeta menggerutu di dalam hati.
Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di sebuah villa di dekat danau. Pemandangannya sangat indah, sejuk, dan asri. Bram menggendong Berlin, lalu diletakkan di kamar.
Setelah itu, dia menemui Violeta yang sedang duduk sambil menikmati minuman dan makanan yang telah disediakan. Tanpa merasa malu-malu, dia makan dengan lahap karena perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
Bram menatapnya seraya tersenyum tipis. Dia tak merasa ilfil sedikitpun, tetapi justru merasa senang melihatnya yang makan dengan begitu lahap. Violeta sudah selesai dengan acara makanny dan dia baru menyadari jika sejak tadi Bram sedang menatapnya.
“Hmm … Om, thanks ya, makanannya. Oh, iya, Om mau ngomong apa?” Violeta duduk dengan tegak.
Bram menghela napas, lalu ia pun duduk dengan tegak. Kedua tangannya menopang dagu seraya matanya tak luput dari wajah cantik gadis barbar di hadapannya.
"Begini, Nona. Aku mau membahas tentang kerja sama yang pernah aku bahas tempo hari, yaitu nikah kontrak, kita nikah kontrak. Kamu jadi ibu sambung putraku. "
“Jawabanku masih sama, Om. Aku setuju nikah kontrak sama kamu dan jadi ibu sambung anakmu. Tapi syaratnya seperti yang aku bilang waktu itu, separuh hartamu jadi milikku, 50 persen hartamu jadi milikku!”