Violeta terbangun dari pingsannya. Matanya mengedari ruangan yang berwarna putih. Keningnya mengernyit dan matanya menyipit, ia tengah berusaha mengingat apa yang terjadi. Pandangannya beralih fokus ke arah pintu ketika mendengar ada suara seseorang yang masuk. Ternyata Bram yang masuk sambil menggendong Berlin. “Sayang, syukurlah kamu udah bangun. Maaf, aku meninggalkanmu seorang diri, karna tadi Berlin laper dan pengen beli makanan di kantin.” Bram menurunkan Berlin, lalu memeluk Violeta. “Mama, maafin Berlin, ya. Gara-gara Berlin, Papa jadi ninggalin Mama sendiri.” Wajah Berlin memelas. Violeta tersenyum, dia sangat bahagia mendapati perhatian lebih dari suami dan anaknya tersebut. “Gak apa-apa kok, Sayang. Berlin sama Papa nggak ada yang salah, kok. Jadi gak perlu minta maaf. Sini,

