Bab 21

958 Kata
Setelah berhasil membuat Titan melupakan ingatannya kepada Thalia, Eric kembali ke dalam toilet, dia mencari Thalia, namun Thalia tiba-tiba ada di pojokan tersungkur tak berdaya, dia terlihat berantakan dan habis dipukuli. Eric melihat sekitar, tidak ada siapapun di toilet ini, pelakunya pasti sudah pergi. Eric lalu menggendong Thalia, membawanya ke rumah sakit. Kaki Eric melangkah dengan sedikit berlari, dia membawa Thalia ke UGD. Dengan rasa gelisah dan ketakutan sesuatu terjadi kepada Thalia, Eric menunggunya di dalam ruang tunggu. Tangannya basah berkeringat, dia benar-benar takut jika terjadi sesuatu dengan Thalia, kepala Thalia berdarah bagian bawah. “Dek, pasien bernama Thalia harus segera dioperasi, dia mengalami perdarahan di bagian kepala dalam, kita harus segera mengoperasinya. Silahkan hubungi keluarganya ya,” ucap dokter. Eric mengangguk lalu merogoh sakunya, dia baru ingat handphonenya tertinggal di dalam cafe. Eric seketika panik, dia tidak tau nomor orang tua Thalia, jika dia pulang dia pasti akan terlambat, Eric lalu mencari ruang kosong, dia hendak menggunakan kekuatan telepatinya kepada nyonya Bella. “Nyonya Bella, Thalia sedang kristis, dia mengalami perdarahan di kepalanya dan harus dioperasi, anda harus cepat ke rumah sakit. Rumah sakit Fortazela.” Bella yang sedang menyulam seketika menghentikan sulamannya ketika mendapatkan pesan telepati dari Eric, segera bangkit dari duduknya, dia mengganti bajunya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh sampai di rumah sakit. Bella sangat khawatir dengan keadaan Thalia, gadis itu masih muda dan rapuh. Berulangkali Bella menghubungi Smith, namun tidak diangkat. Smith masih sibuk dengan rapat perusahaan yang sangat memusingkan kepalanya, dia sendiri sedang memikirkan bagaimana bisa mendapatkan peningkatan laba yang signifikan. Perusahaan Smith di bidang kosmetik, merk dagangnya berhasil dikalahkan oleh perusahaan pesaing dari Korea Selatan. Kalau sudah seperti ini, untuk memperluas jaringan dan target pasar, Smith harus segera cepat menangani perusahaannya yang ada di Asia. Bella menancap gasnya, tidak peduli beberapa mobil mengklaksonnya, dia terus memikirkan tentang Thalia. Bella sangat khawatir dengan anaknya, bagaimana bisa Bella terluka seperti itu. Bella berlari sesampai di rumah sakit, dia segera menandatangani persetujuan atas operasi Thalia. Kini Bella dan Eric sedang duduk di ruang tunggu operasi. Menunggu lampu merah menjadi hijau. “Bagaimana bisa Thalia terluka seperti itu?” tanya Bella. Dia sangat mengkhawatirkan putrinya. Dia menatap tajam Eric, bagaimana bisa Thalia terluka sedangkan Eric baik-baik saja. “Saat itu kita sedang di cafe ice cream, Thalia ke kamar mandi, dan saat aku masuk memanggilnya, aku melihat dia sudah tergeletak berlumuran darah.” Eric mengucapkan dengan gelisah, merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Thalia. Dia menyesal menyuruh Thalia menunggu di kamar mandi. “Bagaimana bisa? Apa tidak ada orang yang melihat kejadian ini?” tanya Bella. Eric menggeleng lagi. Dia belum sempat kembali ke cafe ice cream itu. “Yasudahlah, semoga pelakunya tertangkap. Ayo Eric, kita berdoa untuk Thalia terlebih dahulu.” Bella dan Eric mengadahkan tangannya, meminta doa kepada Tuhan agar operasi Thalia berjalan lancar. Dua jam kemudian ruangan operasi terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan operasi itu. Dahinya sedikit berkeringat, ada bekas darah menempel di baju sisi kanannya. Dia menatap bergantian Eric dengan Bella. Bibirnya menyunggingkan senyum di balik masker, dia mengucapkan operasi Thalia berjalan dengan lancar. Gadis itu akan sadar sebentar lagi. Dokter lalu membawa Bella menuju ruangannya, ada yang ingin dia bicarakan mengenai Thalia. “Maaf, apa benar anda ibu Thalia?” tanya dokter itu sembari memberikan sebuah botol minum untuk disuguhkan kepada Bella. “Iya, benar. Ada apa dok?” tanya Bella. “Tidak ada apa-apa, tapi saya rasa dilihat dari bekas luka dan juga memar di bagian wajah Thalia, saya menduga anak ibu telah menjadi korban kekerasan. Saya yakin pelaku menggunakan garpu besi untuk melukai anak ibu. Saya melihat ada bekas guratan garpu di bagian leher, saya sarankan ibu segera melaporkannya ke polisi,” ucap dokter. Bella mengangguk berterima kasih kepada dokter lalu keluar ruangan. Eric masih gelisah di dalam ruang tunggu, dia masih menerka-nerka siapa pelaku yang sudah berani berbuat hal ini kepada Thalia. “Eric, ayo kita masuk nak, kita lihat Thalia,” ucap Bella mengajak Eric masuk ke dalam melihat Thalia. Gadis manis itu masih terlelap. Eric terkejut ketika Thalia tidak menggunakan lagi gelang duyungnya. Pantas saja Thalia tidak bisa menggunakan sihir apapun untuk melawan pelaku itu. Kini Eric bersumpah dia tidak akan jauh sejengkal saja dari Thalia dan dia juga akan menangkap pelaku yang mencoba membunuh Thalia. Eric lalu pamit kepada Bella, namun Bella mencegahnya. “Eric, tunggulah di sini, Thalia pasti akan mencarimu nanti. Kamu mau pergi kemana?” tanya Bella khawatir. “Maaf nyonya Bella, tapi aku hendak mencari bukti siapa yang sudah berani mencelakai Thalia, aku hendak pergi ke cafe tadi lagi,” ucap Eric. Namun Bella mencegahnya, dia menyuruh Eric duduk. “Maaf aku merepotkanmu, tetapi aku khawatir denganmu Eric, tenanglah dulu di sini, aku akan melaporkan ke polisi nanti dengan suamiku, diluar berbahaya, apalagi jika ada orang yang mengetahui  jika kamu adalah duyung. Duyung adalah makhluk dunia yang indah, semua manusia mengincar Eric, hidup di dunia ini kamu harus berhati-hati.” Eric menghela nafasnya kasar, dia sangat memahami Bella khawatir dengannya. “Iya benar juga apa yang anda ucapkan nyonya Bella, saya akan menunggu saja di sini,” ucap Eric. Tak lama terdengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa, Smith membuka pintu ruangan rawat inap, hatinya teriris ketika melihat Thalia tergeletak di ranjang rumah sakit. "Bagaimana bisa Thalia terluka seperti ini?" ucap Smith mengusap kepala anaknya, Bella di sampingnya mengusap pundak Smith, dia bisa melihat Smith yang terluka melihat Thalia. Eric menjadi merasa bersalah karena dia tidak bisa melindungi Thalia dengan baik. "Maaf ... nyonya Bella dan Tuan Smith,"  ucap Eric menunduk. Bella menepuk pundak Eric dan trsenyum. "Tidak apa-apa Eric, ini bukan salahmu, oh ya panggil kita om dan tante saja ya, anggap kami ini orang terdekat kamu," ucap Bella. Eric tersenyum tipis dan tersenyum manis kepada Bella. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN