Bab 22

1112 Kata
Mereka bertiga menanti Thalia bangun, kini tinggal Eric yang ada di rumah sakit. Eric memutuskan tinggal di rumah sakit untuk menunggu Thalia. Sedangkan Bella dan Smith pagi ini mereka hendak langsung ke kantor polisi menanyakan kejadian mengenai Thalia. Eric dengan senang hati menunggu di rumah sakit, sedari tadi matanya tidak lepas memandang Thalia. Semalaman dia hanya tidur sebentar lalu memandangi Thalia lagi. Dia sangat merasa bersalah karena tidak menjaga Thalia dengan baik. Kemarin malam kata dokter Thalia akan segera sadar, tapi hingga pagi ini juga Thalia masih belum sadar. Dua orang suster dan dokter datang mengetuk pintu, mereka berdua masuk sembari membawa alat pengukur tensi dan stetoskop, serta satu buku tentang catatan kemajuan kesehatan Thalia. Seusai mereka memeriksa keadaan Thalia, mereka mengatakan Thalia baik-baik saja, efek obat bius memang belum selesai. Eric merasa lapar, namun dia tidak mau meninggalkan Thalia sedetik pun, akhirnya dia memilih memakan mie kemasan, untungnya Bella sudah menyiapkan beberapa makanan untuk Eric. Mereka kini benar-benar sangat dekat dan seperti keluarga. Bella dan Smith juga berjanji akan pulang untuk melihat keadaan adik Eric. Eric menatap mie instan di hadapannya, orang-orang bilang dengan memakan mie instan, hidupmu bisa terasa nikmat. Eric ingat, dulu orang tuanya selalu melarangnya memakan mie instan, tetapi Eric biasanya dulu kecil suka sekali memakannya dengan diam-diam. Sorot matanya yang tenang sedang fokus meracik mie dalam kemasan itu. Aromanya membuat para cacing di perutnya memprotes untuk segera diisi. Eric berjalan perlahan menuju ke samping Thalia, menatap wajah cantiknya sembari makan. “Thal, cepetan bangun dong. Kamu enggak mau makan mie ini sama aku?” ucap Eric. Dia mencoba tegar tidak menjatuhkan air matanya, dadanya terasa sesak dan terluka melihat Thalia yang hanya diam tergeletak di atas ranjang. Eric menggosokkan kedua tangannya, dia merasa suhu udara semakin dingin. Eric menyudahi makannya, padahal masih ada separuh mie instan. Lidahnya tidak bisa mengecap rasa apapun, hambar. Dia sangat terluka saat ini melihat Thalia yang masih belum sadar. Eric membuang makananya, dia menatap Thalia dengan seksama, tangannya meraih tangan Thalia, menggenggam lembut tangannya, mengecupnya dengan pelan. “Kumohon Thalia, cepatlah bangun.” Sejenak Eric terlintas dalam benaknya menggunakan sihir untuk menyembuhkan Thalia. Eric belum pernah melakukan hal ini kepada siapapun sebelumnya, dia agak meragu jika sihirnya akan bekerja. Dia menarik nafasnya, memegang erat gelang yang dia miliki, dia memegang tangan Thalia. Memejamkan matanya dan mengucapkan mantra sihir. Seketika Thalia terbangun, dia mengerjapkan matanya. Eric sangat bahagia bisa melihat Thalia kembali sadar. Dia segera memeluk Thalia. “Eric?” ucap Thalia bingung. Dia menatap sekeliling, mencari tau keberadannya. “Akhirnya kamu bangun,” ucap Eric senang. Dia mengusap pipi Thalia. “Tunggu, ada apa denganku?” Thalia melihat tangannya yang di infus dan kepalanya yang diperban. Sihir Eric sepenuhnya bekerja, Thalia tidak lagi kesakitan, tidak ada luka dalam tubuhnya, bahkan semua bekas luka Thalia telah menghilang. Eric sangat senang melihat Thalia, dia bersyukur Thalia bisa sembuh total. Thalia ingat dia kemarin ditusuk oleh seseorang yang tidak dia kenal, Thalia tidak ingat bagaimana wajahnya, tapi yang dia ingat orang itu mempunya tato bergambar bunga mawar di lengannya. Dari bentuk tubuhnya, Thalia yakin yang menyakitinya adalah perempuan. Dia mengambil gelang Thalia. “Apa kamu ingat siapa yang sudah melakukan ini kepadamu?” tanya Eric menatap Thalia serius. Thalia menggeleng, dia lupa siapa yang melakukan hal ini kepadanya, dia tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup masker. “Tidak, tapi aku yakin sekali bahwa dia itu perempuan.” Thalia menatap sendu Eric, dia tidak tau kenapa hal ini bisa terjadi kepadanya, kesalahan apa yang telah dia perbuat sampai dia dilukai seperti ini. “Lalu dimana gelangmu? Kenapa tidak melawannya dengan sihirmu?” tanya Eric. “Justru itu, gelangku lah yang dia curi, bagaimana ini, aku harus bagaimana Eric? Aku tidak mungkin bisa kembali ke lautan tanpa gelang itu.” Thalia menunduk cemas, dia bisa saja akan mati jika terus-terusan di darat. Kulitnya bisa mengering, jika dia tidak mendapatkan sinar bulan di dalam air. Air lautan seperti nutrisi untuknya, Thalia harus kembali saat purnama tiba. “Tenanglah, aku akan mencoba mencari siapa pelakunya.” Eric memeluk Thalia sangat erat. Orang tua Thalia baru saja kembali dari kantor polisi, mereka begitu bahagia melihat Thalia sudah terbangun. Sorot mata mereka dari sendu berubah menjadi bahagia, apalagi ibunya, Bella langsung memeluk Thalia ketika melihat anaknya sudah sadar. Thalia seperti harta yang paling berharga bagi Bella dan Smith, Bella bersyukur dia bisa bertemu dengan anak kandungnya kembali setelah belasan tahun. Eric pamit untuk menuju cafe, dia melihat jalanan di sekitar rumah sakit, ada yang mencurigakan baginya, seorang wanita dengan masker hitam, topi hitam. Wanita itu menunggu di depan rumah sakit, sangat mencurigakan gerak geriknya. Eric mengikuti wanita itu, dia kembali masuk ke dalam rumah sakit mengikutinya, dia terhenti tepat di depan ruang rawat inap Thalia. Satu hal yang menarik perhatian Eric, sesuatu yang dia genggam, gelang Thalia. Eric mengejar gadis itu. “HEI!” teriak Eric. Gadis itu menoleh ke belakang, dia membulatkan matanya saat melihat Eric, dia segera berlari, Eric mengejarnya. Sayangnya gadis itu berlari lebih cepat dan menghilang begitu saja. Eric yakin dia bukan hanya manusia biasa, dia bisa menghilang dalam hitungan detik. Eric tergesa-gesa kembali ke ruangan Thalia. “Seseorang yang membunuhmu, dia bukan manusia,” ucap Eric menatap Thalia dan kedua orang tuanya. Mereka sangat terkejut mendengar hal itu. “Bagaimana kamu bisa tau Eric?” tanya Bella. Eric mengatakan apa yang baru saja terjadi, dia ingat betul bagaimana gadis itu bisa menghilang dengan cepat. Eric khawatir jika gadis itu bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Dia lalu segera pergi dan meminta Bella menjaga Thalia dan jangan sampai ditinggal. Eric menuju cafe ice cream kemarin, dia sangat yakin pasti ada jejak kedatangan gadis itu di cctv. Saat Eric meminta melihat cctv, tidak ada apapun di sana, bahkan kejadian penusukan Thalia dan bekas darah Thalia di toilet itu tidak ada. Semua yang dilakukan oleh pelaku seolah sudag direncankan dan sangat bersih. Eric mengerang kesal tidak menemukan pelaku yang dia cari. Namun satu hal yang Eric bingung, siapa lagi yang memiliki sihir selain para duyung? Kalaupun mereka adalah duyung, kenapa harus menyakiti Thalia, Eric sangat mengetahui aturan para duyung, mereka tidak diperbolehkan melukai satu sama lain. Eric lalu memejamkan matanya, menggunakan kekuatannya untuk mencari tau pelakunya, sayangnya dia tidak bisa menemukan apapun. *** Alrez yang baru saja istirahat dari menjaga lautan seketika terbangun, dia bisa melihat dengan jelas ada yang mencoba melukai Thalia, namun Alrez tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dia lalu pergi menghadap ratu duyung, meminta izin untuk mencari Thalia. Ratu duyung memperbolehkan kepergian Alrez, namun hanya sampai rembulan purnama. Dia lalu berjalan menuju rumah Thalia, berulang kali mengetuk pintunya, tidak ada yang membukakan. DI mata batinnya, Alrez jelas melihat jika Thalia kini berada di rumah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN