Alrez akhirnya melangkahkan kakinya menuju rumah sakit, dia tidak tau letak rumah sakit dimana Thalia dirawat, tapi Alrez mencoba mengikuti instingnya. Setelah dia menanyakan kamar rawat inap Thalia kepada resepsionis, senyumnya mengembang, dia bersyukur mengunjungi rumah sakit yang benar. Alrez lalu segera menuju ruangan Thalia setengah berlari. Dia melihat ada dua pasang suami istri yang sedang berbincang dengan Thalia di kamar. Alrez mengetuk pintunya, tersenyum menatap Thalia.
“Halo,” sapa Alrez. Dia menyalami Smith dan Bella.
“Alrez, bagaimana bisa kamu di sini? Apakah Eric yang memberi tahumu?” tanya Thalia.
“Tidak, aku mengetahuinya dari telepati,” ucap Alrez. Kalimat itu terdengar agak absurd didengar oleh Smith dan Bella, meski mereka mengetahui tentang duyung tetapi hal mistis dan magic seperti itu masih sangat sulit dipercaya. Keduanya tertawa kecil mendengar Alrez.
“Ayah, ibu, dia Alrez, duyung penjaga lautan Karibia,” ucap Thalia.
Bella dan Smith mengangguk, mereka lalu membiarkan Thalia berdua dengan Alrez. Keduanya menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perut mereka. Alrez lalu duduk di samping Thalia.
“Sudah makan?” tanya Thalia. Alrez menggeleng. Thalia lalu mengambil makanan di nakas, dia mencari snack, membukanya dan memberikan kepada Alrez.
Alrez menyerngitkan dahinya, dia melihat dengan seksama snack yang dipegang oleh Thalia, seumur hidupnya, dia belum pernah memakan snack itu. Bulat, ada beberapa lubang di atasnya, ada lapisan krim keju di tengahnya. Entah rasanya bagaimana, Alrez tidak tau, di lautan dia terbiasa bisa hidup tanpa makan, sedangkan di dunia ini dia harus mengisi perutnya saat menjadi manusia.
“Cobalah, percaya padaku, ini akan enak di lidamu.” Awalnya Alrez meragu untuk mencoba memakannya, dia takut keracunan atau sesuatu terjadi kepadanya, dia terbiasa tidak memakan apapun kecuali rumput laut, itupun kalau dia terkena racun saat berenang.
Alrez meragu untuk memakan biskuit di hadapannya, tetapi Thalia tersenyum dan mengatakan, “Aku jamin kamu ketagihan.”
Alrez lalu menggigit dengan satu gigitan, dia seketika berbinar, matanya seolah-olah bersinar ketika merasakan biskuit itu. Lidahnya merasa seperti memakan sesuatu yang fantastis. Alrez dengan senang hati menikmati setiap gigitan biskuit itu. Pertama kali dia merasakan sesuatu yang lezat seperti ini.
“Enak,” ucap Alrez. Dia tersenyum senang, dia melahap sekaligus biskuit di tangannya.
“Iya, itu namanya rasa keju,” ucap Thalia tersenyum.
“Agak asin dan gurih. Oh ya kemana Eric?” tanya Alrez, dia mencari melihat sekeliling mencari Eric.
“Eric sedang menyelidiki pelaku yang mencoba membunuhku. Entah dia ada dimana sekarang.” Thalia tiba-tiba tatapannya berubah menjadi sendu, dia memikirkan keberadaan Eric, apakah dia baik-baik saja saat ini. Masih belum ada kabar dari Eric.
“Pelakunya apa kamu mengingatnya?” tanya Eric.
“Tidak, tapi aku sangat yakin seratus persen bahwa dia adalah seorang perempuan. Aku ingat matanya menatap tajamku, dia seolah memiliki dendam yang aku tidak tau apa, dia tidak mengatakan apapun dan menusukku begitu saja. Aku tidak bisa melawan, dia sangat kuat, gelangku sudah di tangannya, dia menusukku lalu meninggalkanku begitu saja. Kepalaku bagian belakang dan pundakku yang ditusuk, tapi untung saja aku masih sembuh dan baik-baik saja.”
Alrez terkejut dengan ucapan Thalia, dia tidak menyangka ada orang sekejam itu dengannya. Dia yakin orang itu pasti sengaja mengincar sesuatu dari Thalia.
“Selain gelangmu, apa yang dia cari?” tanya Alrez.
Thalia menggeleng tidak tau, seingat Thalia hanya gelangnya yang dicuri. Alrez lalu bangkit, dia hendak pamit pergi menyusul Eric. Dia yakin orang itu memiliki kekuatan magis.
“Tidak, Alrez tunggu! Aku takut di sini sendirian, setidaknya tunggulah orang tuaku kembali, aku tidak memiliki sihir lagi untuk melawan apapun.”
Alrez menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menatap Thalia. Dia tau betul Thalia tidak memiliki kekuatan apapun lagi. Gadis itu sangat rapuh, dia tidak bisa melakukan bela diri. Alrez akhirnya kembali duduk, dia menunggu di samping Thalia.
“Baiklah, aku akan menunggu orang tuamu datang.”
Alrez menatap Thalia dengan seksama, tanpa sihir, Thalia tidak bisa bertahan hidup di sini.
“Apa kata dokter? Apa kamu sudah sembuh sepenuhnya?” tanya Alrez sembari mengambil biskuit lagi.
“Iya, bahkan dokter merasa aneh, bekas jahitan, bekas lukaku semuanya sudah sembuh,” ucap Thalia.
Alrez terkejut mendengar hal itu, kalau Thalia cepat sembuh saat terluka berarti Eric telah menggunakan sihirnya di dunia ini. Seharusnya Eric tidak melakukan hal itu, manusia lain akan curiga dengan keadaan Thalia. Bahkan hal itu bisa membahayakan nyawa Thalia. Alrez tidak habis pikir apa yang Eric lakukan, kenapa dia melakukan sihirnya dengan gegabah.
“Satu hal yang seharusnya Eric tau, dia tidak boleh sembarangan menggunakan sihirnya, dia tidak bisa melakukan hal ini Thalia. Semua orang akan curiga kepadamu, ini bisa membahayakan dirimu. Cobalah berpikir logis, bagaimana bisa manusia sembuh dalam waktu satu hari? Ketika kamu ada di dunia manusia, maka jadilah manusia, bersikaplah normal. Jangan mengandalkan sihir di sini.”
Alrez nampak memerah wajahnya, dia sangat marah dengan Thalia dan juga Eric. Mereka sembarangan menggunakan sihir di dunia manusia.
“Berarti apakah aku tidak boleh menggunakan sihirku?” tanya Thalia.
Alrez menarik nafasnya, dia menatap Thalia dengan tatapan penuh arti, walau Thalia tidak bisa mengartikannya.
“Itulah mengapa, aku selalu mengatakan tempatmu ada di lautan, bukan di sini. Tempatmu yang aman dan telah ditakdirkan untukmu adalah lautan, bukan daratan. Aku tau kita separuh manusia dan duyung. Tapi apakah para manusia akan menerima kita jika tau kita separuh manusia dan duyung? Mereka tidak akan bisa hidup berdampingan dengan kita, kamu harus memilih menjadi duyung atau manusia.”
Thalia menutup matanya sembari menghela nafas, pembicaraan ini membuat dia pusing, dia ingin hidup di daratan, dia ingin hidup bersama orang tuanya.
“Kamu tau kan jika aku anak nyonya Bella dan tuan Smith? Mereka adalah orang tua kandungku. Aku benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupku untuk tinggal bersama mereka. Aku ingin mereka ada di sampingku selamanya.”
Alrez tersenyum kecil mendengarnya.
“Kamu ingin menjadi manusia yang hidupnya hanya singkat? Kenapa kamu tidak ingin hidup abadi saja?”
“Tidak, aku sangat ingin menjadi manusia, karena dengan waktu singkat itu aku memiliki kenangan indah dengan orang yang aku cintai,” ucap Thalia. Alrez sepenuhnya terkesima dengan pemikiran Thalia, dia memikirkan letak kebahagiaannya.
“Baiklah kalau itu maumu. Kembalilah ke lautan setelah mendapatkan gelangmu, mintalah ratu duyung menjadikanmu manusia seutuhnya.”
Thalia tersenyum mendengar ucapan Alrez, dia bahagaia Alrez sepenuhnya memahami perasaannya. Meski harus berpisah selamanya dengan Alrez, Thalia merasa lebih bahagia hidup bersama orang tuanya sendiri.