Setelah orang tua Thalia kembali, Alrez lalu pergi mencari keberadaan Eric. Dengan mudah Alrez menemuinya dengan telepati. Kini mereka berdua duduk di taman, menikmati sejenak hembusan angin, sibuk dengan pikiran masing-masing. Alrez masih merasakan cemburu jika Thalia sepenuhnya jatuh ke tangan Eric. Namun bagaimanapun juga dia harus bisa mengesampingkan perasaannya, Alrez tidak boleh egois seperti ini. Apapun yang akan dia hadapi, yang terpenting Thalia bahagia.
“Ric, ada yang ingin aku sampaikan.” Alrez lalu menatap Eric tajam.
“Ya? Kamu sudah mengucapkan hal itu ribuan kali lalu terdiam lagi. Ada apa sebenarnya? Katakan saja, aku tidak mungkin membunuhmu setelah mengucapkan sesuatu.”
Alrez menarik nafasnya, menatap Eric sungguh-sungguh.
“Aku mencintai Thalia lebih dari apapun, jadi jika kamu menyakiti Thalia, aku tidak akan tinggal diam.”
Eric tersenyum dan menepuk pundak Alrez, dia juga masih belum tau perasaan Thalia kepadanya. Eric masih bimbang dan tidak mengerti bagaimana perasaan Thalia kepadanya, bahkan Eric masih belum berani menyatakan cintanya.
“Sama, aku juga sangat mencintai Thalia sepenuh hatiku. Aku belum tau perasaan Thalia, hanya saja aku yakin jika dia pasti memiliki perasaan yang sama denganku, dari cara Thalia menatapku, aku tau dia sayang dan cinta kepadaku,” ucap Eric dengan rasa percaya dirinya. Alrez mengangguk, memang benar apa yang dikatakan Eric. Sekarang Alrez yakin Thalia akan bahagia di samping Eric selamanya, dia tidak perlu lagi khawatir atau takut terjadi sesuatu dengan Thalia.
“Baiklah, aku harap kamu bisa berperilaku baik dengan Thalia, jangan sampai kamu menyakitinya.”
Eric mengangguk, “Iya, aku sangat mencintainya. Tidak mungkin aku akan melukai Thalia.”
Alrez lalu mengajak Eric untuk kembali mencari pelakunya, dia sangat yakin pasti pelakunya berkeliaran di sekitar Thalia.
“Kamu sudah makan?” tanya Eric, dia menunjuk kedai pizza di samping kiri jalan.
“Sudah, tadi aku makan biskuit saat di rumah sakit.”
Eric tertawa keras menatap Alrez, biskuit? Apakah benda kecil itu termasuk makanan?
“Aku yakin tidak lama lagi kamu akan merasakan lapar, ayo ikut aku. Setidaknya kita harus mengisi perut sebelum beraksi.”
Eric mengajak Alrez untuk makan pizza, ini pertama kalinya bagi Eric memakan pizza. Saat memasuki kedai pizza ini, dari awal dia sudah merasakan keroncongan, perutnya seketika terasa lapar. Aromanya membuat dia terbuai, perutnya seketika berbunyi. Rasa lapar yang belum pernah dia rasakan membuat dia takjub, ternyata ini yang rasanya lapar, ada sesuatu yang membuat dia merasakan agak menderita jika tidak makan.
“Woah, ini namanya pizza?” tanya Alrez. Eric mengangguk, dia lalu memberikan sepotong untuk Alrez.
“Cobalah.”
Saat Alrez memakan satu gigitan pizza, dia sangat senang memakannya, dia begitu bahagia menikmati setiap gigitannya. Perlahan tapi pasti rasa lapar itu mulai menghilang. Rasa hausnya juga menghilang ketika dia meminum milkshake dingin.
Eric menoleh ke samping kanan, dia curiga kepada wanita yang menggunakan topi dan masker hitam. Dari bentuk tubuhnya Eric yakin gadis itu yang telah mencelakai Thalia. Eric lalu berdiri, berjalan menuju wanita itu. Dia berjalan perlahan selagi wanita itu duduk, namun rupanya wanita itu panik, dia berdiri lalu berlari keluar kedai pizza. Eric memanggil Alrez dan segera mengejar gadis itu. Lagi-lagi gadis itu berlari begitu cepat. Alrez berlari di samping Eric, mereka berdua saling mengejar, melewati gedung-gedung pencakar langit, beberapa orang hampir saja tertabrak jatuh. Alrez menambah kecepatannya, dia memperbesar langkahnya. Sedangkan Eric, dia tiba-tiba menaiki motor entah milik siapa.
“PAK, SAYA PINJAM DULU!” teriak Eric. Dia lalu mengegas motor harley itu dengan kecepatan penuh. Rupanya kali ini gadis itu tidak bisa lagi menggunakan kekuatannya untuk menghilang, dia mencoba bersembunyi, namun dia telah terkepung oleh Eric dan Alrez.
Alrez maju melangkah lalu memegang kedua tangannya, sedangkan Eric melepaskan topi dan masker yang gadis itu kenakan. Awalnya Alrez tidak mengenali wajahnya, namun saat dia memperhatikan dia mengenalinya.
“Oh God, Chloe? Apa yang kamu lakukan di sini? Yaampun,” ucap Alrez gemas, dia meraih tangan Chloe dan melihat dia memegang gelang yang Thalia gunakan.
“Kamu mengenalnya?” tanya Eric.
Alrez mengangguk, tentu saja mengenalnya, siapa yang tidak mengenal Chloe, duyung yang bekerja sebagai pelayan ratu.
“Bagaimana bisa kamu di sini? Apa kamu yang menusuk Thalia?” tanya Alrez dengan tatapan tajam. Chloe hanya bisa membisu, dia terdiam bingung harus menjawab apa atas kesalahannya. Chloe merasa dia bersalah melakukan hal itu kepada Thalia.
“JAWAB AKU!” bentak Alrez yang membuat Chloe mundur selangkah. Dia tidak berani mengatakan apapun di depan Alrez. Dia hanya terdiam, meneteskan air matanya. Semakin Chloe diam, Alrez semakin geram, dia hendak memukul Chloe, namun Eric mencegahnya.
“Sebaiknya kamu mengakui kesalahanmu langsung di depan Thalia. Aku tidak menyangka sesama duyung bisa saling melukai.”
Alrez lalu membawa Chloe, takut dia kabur pergi, Alrez mengikatkan tangan Chloe dengan tangannya. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Chloe.
“Kenapa kamu melakukan ini sih?” ucap Alrez gemas. Chloe sudah keterlaluan dengan Thalia, kenapa dia melukai sesama duyung.
Eric mengembalikan motor yang dia pinjam lalu mereka bertiga berjalan menuju rumah sakit, sedari tadi Chloe hanya menunduk menyesal, tangisnya tidak berhenti, dia sangat menyesal dengan apa yang telah dia perbuat. Namun dia tidak bisa melakukan hal lain selain menyakiti Thalia. Dia sangat menyanyangi Thalia, tapi dia terpaksa melakukannya.
Thalia melihat Chloe yang datang, dia sangat senang melihat Chloe.
“Yaampun Chloe! Kamu juga datang menjengukku?” tanya Thalia dengan mata berbinarnya, dia sungguh bahagia temannya datang.
“Dia yang melukaimu,” ucap Eric. Thalia terkejut dengan ucapan Eric, dia tidak menyangka jika Chloe yang melakukan hal ini kepadanya. Dilihat dari sisi manapun, setelah Thalia mengamati dengan seksama, bentuk tubuh penjahat itu memang sama dengan Chloe. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia alami.
“Benar kamu yang melakukan Chloe?” tanya Thalia. Chloe lalu mengangguk kecil dia menunduk lemah menatap Thalia dengan perasaan takut.
“Maaf Thalia, sungguh aku memang jahat. Maaf, aku minta kamu mengampuni semua perbuatanku.” Chloe lalu bersujud, Thalia hanya bisa memalingkan wajah dan menghela nafasnya.
“Kenapa kamu melakukan semua ini? Padahal kamu tahu jika aku sangat menyanyangimu juga. Kenapa kamu seperti ini? Apa ada orang yang menyuruhmu atau memaksamu?” tanya Thalia.
Chloe menggeleng, dia melakukan ini karena kemauannya sendiri. Dia sangat malu untuk mengakui alasan dia melakukan semua ini. Apalagi dia telah tertangkap basah oleh Alrez. Sungguh Chloe sangat malu dan menyesal dengan apa yang dia lakukan. Namun nasi telah menjadi bubur, mau tak mau Chloe harus mengakui kesalahannya.