Senin adalah hal yang paling dibenci oleh beberapa murid, namun tidak dengan Thalia, ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di sekolah. Tempat yang belum pernah ia kunjungi. Kehidupan manusia bagi Thalia sangat menyenangkan. Jauh berbeda dengan kehidupan duyung yang hanya bernyanyi dan menjaga lautan. Thalia melambaikan tangannya pada Smith dan Bella, mereka hanya mengantar Thalia sampai di depan gerbang sekolah. Dengan langkah penuh semangat Thalia masuk ke dalam sekolah, dia mengeratkan tas punggungnya dan berjalan dengan riang. Satu lagu yang dia nyanyikan sembari berjalan, membuat menyita perhatian beberapa murid, tidak hanya itu. Bunga, kupu-kupu dan capung menyambutnya dengan senang hati. Semesta mengetahui siapa Thalia sebenarnya, namun tidak dengan manusia biasa.
Bel berbunyi, membuat Thalia bergegas masuk, awalnya dia merasa malu, pertama kali dia masuk kelas, para murid memperhatikan dia. Thalia memang nampak berbeda, seolah dia gadis paling cantik di kelas. Matanya yang jernih, bersinar berwarna coklat hazel, kulitnya juga putih bersinar, hidungnya mancung. Wajah Thalia adalah idaman para kaum wanita. Seketika hening tercipta saat Thalia memasuki kelas.
“Halo Thalia, selamat datang di kelas ipa, silahkan perkenalkan dulu dirimu di depan kelas.” Seorang guru mempersilahkan Thalia memperkenalkan diri. Saat berdiri di depan kelas, Thalia dapat melihat dengan jelas semua murid, termasuk lelaki yang kemarin bermain basket dengan angka punggung sembilan. Eric. Lelaki itu tidak terlalu memperhatikan Thalia, dia sibuk menatap jendela kelas.
“Halo, perkenalkan namaku Thalia.” Thalia nampak gugup, namun dia mencoba tersenyum manis. Semua laki-laki seperti terhipnotis dengan kecantikannya. Beberapa ada yang bersiul, beberapa lagi ada yang menatapnya kagum.
“Thalia, silahkan duduk di pojok kanan.”
Guru itu menunjuk tempat duduk tepat di samping Eric, entah kenapa jantung Thalia berdegup cepat saat dia semakin dekat jaraknya dengan Eric.
“Permisi, aku duduk di sini.” Thalia mengucapkan dengan hati-hati dan lembut. Dari raut wajahnya saja Thalia bisa menafsirkan sifat Eric yang pendiam dan dingin.
Eric tak menjawab, dia hanya menggeser bangkunya. Thalia akhirnya duduk di samping Eric, dia lalu memperhatikan gurunya memberikan penjelasan materi. Tentu saja sangat mudah bagi Thalia menyerap ilmu yang gurunya ajarkan, dia duyung yang cerdas, dapat menghafal semua dengan cepat dan menjawab dengan mudah. Apalagi tentang ilmu alam, bisa jadi Thalia menjadi juara satu di semester ini.
Saat istirahat tiba, Thalia hanya duduk diam, sedangkan Eric menelungkupkan wajahnya pada kedua tangannya di atas meja. Thalia meliriknya, nafas Eric sangat teratur, dia seperti tidur dengan tenang. Dua murid perempuan menghampirinya, mereka berniat berkenalan dengan Thalia.
“Hai, nama kamu Thalia? Perkenalkan, aku Teresia.”
“Aku Jeane.”
Thalia tersenyum mengangguk, mereka berdua duduk di depan Thalia, menatap Thalia dengan tatapan kagum.
“Kamu benar-benar cantik ya dilihat dari dekat. Kamu berasal dari mana?”
Thalia tidak bisa menjawab, tidak mungkin dia mengatakan dari lautan Karibia.
“Aku ... dari ... rumah,” jawab Thalia meringis. Dia tak tau harus menjawab. Jeane tertawa kecil dengan ucapan Thalia.
“Kamu sangat lucu, iya benar juga. Pasti dari rumah. Maksud kita, kamu murid pindahan dari mana?” tanya Jeane.
Thalia tidak tahu harus menjawab apa, “Itu rahasia,” ucap Thalia tersenyum. Jeane dan Teresia akhirnya mengajak Thalia untuk ke kantin.
Melihat banyak manusia yang bergerombolan memesan makanan, membuat Thalia pusing. Dia memilih pamit pergi dan enggan makan. Dia menyusuri lorong sekolah, ada satu pintu yang membuatnya sangat tertarik. Begitu dia membukanya, dia takjub dan jatuh cinta pada tempat ini. Ruangan penuh dengan rak buku. Entah kenapa dia sangat menyukai perpustakaan ini.
“Permisi, bolehkan aku membaca buku di sini?” tanya Thalia kepada penjaga perpustakaan.
“Tentu saja boleh, kau bahkan boleh meminjamnya dan membawa pulang, tapi maksimal hanya tiga buku yang boleh kau bawa. Apa kamu Thalia? Murid baru di sini?”
“Iya, benar, perkenalkan, namaku Thalia.”
Penjaga perpustakaan itu lalu mempersilahkan Thalia untuk masuk ke dalam dan menelusuri rak buku. Thalia sangat tertarik dengan buku bersampul merah di atasnya. Sayangnya dia tidak bisa mengambilnya. Thalia memperhatikan sekitar, sepi. Tidak banyak murid yang ada di sini. Dia menggunakan sihirnya untuk mengambil buku itu. Detik kemudian buku itu jatuh ke tangannya. Thalia sangat senang bisa mendapatkan buku yang dia mau.
“Bagaimana bisa buku itu melayang lalu jatuh ke tanganmu?” tanya Eric. Thalia terkejut dengan ucapan itu, dia berbalik dan menatap Eric dengan tegang.
“Apa? Melayang? Tidak, buku ini tidak melayang. Aku mengambilnya sendiri. Kamu mungkin salah lihat.”
Dengan wajah cueknya Eric mengendikkan bahu lalu meninggalkan Thalia. Sungguh Thalia sangat takut dengan apa yang Eric lihat, dia merasa ketahuan. Thalia lalu mengikuti Eric, duduk di sampingnya.
“Eric, aku benar-benar tidak melayangkan buku itu, aku hanya mengambilnya.” Thalia mencoba membuat Eric yakin.
“Semakin kamu mencoba membuatku yakin, semaki besar kemungkinan kebenaran bahwa kau yang melayangkan buku itu.” Eric menatap Thalia sekilas lalu kembali fokus dengan bukunya.
Thalia menutup mulutnya, dia lalu membaca buku yang dia baca. Tentang dongeng putri duyung, dia tertawa sendiri membaca dongeng tentang dia sendiri. Ada beberapa hal yang sangat konyol baginya, duyung yang akan berubah kakinya dengan sirip jika terkena air. Tidak, hal itu salah. Thalia hanya akan berubah menjadi duyung jika bulan purnama telah tiba. Ada hal lain yang menurutnya lucu, ketika mencium manusia, duyung akan bisa berubah menjadi manusia. Cerita dongeng itu menarik menurut Thalia.
Dia lalu menatap Eric di sampingnya, penasaran dengan tanggapan manusia tentang duyung.
“Apa kamu mempercayai duyung?” tanya Thalia menatap Eric yang fokus membaca buku pelajaran fisika.
“Tidak, semua itu hanya mitos. Aku tidak tertarik dengan hal yang tidak bisa dijelaskan dengan fisika.”
Thalia menopang dagunya dengan kedua tangannya.
“Kenapa kamu tidak percaya? Duyung itu makhluk yang sangat baik dan dia menjaga lautan.”
Eric menghela nafas, dia menutup bukunya.
“Aku membaca buku di perpustakaan untuk mencari ilmu, bukan berbincang denganmu.”
Eric bangkit berdiri lalu meninggalkan Thalia yang masih duduk di meja perpustakaan. Thalia tersenyum sendiri menatap Eric yang semakin menjauh. Sangat berbeda dengan lelaki lainnya, Eric sama sekali tidak tergoda dengan kecantikannya, ketika lelaki lain sibuk menggoda Thalia, Eric malah cuek dan mengacuhkannya. Thalia menjadi semakin terpikat dengan Eric.