Bab 4

1054 Kata
Kehidupan manusia bagi Thalia bukanlah sesuatu yang sulit, dia sangat mudah beradaptasi di sini. Thalia mengikuti langkah kaki Eric, lelaki di depannya sangat menarik baginya, pendiam dan juga dingin. "Kenapa mengikuti aku?" tanya Eric menatap Thalia tajam, menghentikan langkahnya tiba-tiba. Membuat Thalia menabrak punggung Eric tiba-tiba. "Em.. tidak, aku hanya mengikuti arah kakiku melangkah." Eric menghela nafas lalu memutar, dia berjalan jauh lebih cepat dari sebelumnya, setengah berlari menjauhi Thalia. Gadis itu tertawa kecil melihat Eric yang berlari, dia ikut mengejar Eric, namun kakinya tanpa sengaja terpeleset, lututnya tergores dengan tajamnya kerikil aspal lapangan. Dia mengaduh kesakitan, ini pertama kalinya Thalia melihat darah segar keluar darinya. Pertama kali seumur hidupnya dia merasakan goresan luka. Thalia menangis, merasakan perih, baginya rasa ini jauh lebih perih dari sengatan ubur-ubur. "Yaampun, kamu kenapa bisa jatuh?" ucap Eric menunduk. Dia membantu Thalia berdiri, namun gadis itu masih menekuk lututnya, tidak bisa berdiri. "Kamu bisa bangun?" tanya Eric melirik luka Thalia yang terlihat agak parah. "Sakit," lirih Thalia sembari menangis. Eric tak punya pilihan lain selain menggendong Thalia. Tentu saja sikap Eric sangat menonjol, menarik perhatian para siswi yang menatapnya di lorong. Thalia bisa melihat wajah Eric sangat dekat, tangan dia terulur menyentuh rahang Eric. "Manis," ucap Thalia. Eric meliriknya sebentar lalu meletakkan Thalia di ranjang UKS. Dia bergegas mencari alkohol dan obat merah serta kapas. Dokter jaga juga pasti sedang istirahat, pantas saja jika UKS kosong, hanya ada mereka berdua. Thalia sedari tadi menutupi lukanya dengan rok yang dia kenakan. Dia tidak terbiasa melihat darah yang bercucuran. Thalia juga tidak tau harus apa. Biasanya jika di lautan dia tidak pernah terluka. "Sini kakimu," ucap Eric. Sungguh dalam hati Eric sebenarnya tidak ingin mengakrabkan diri karena Thalia. Tapi karena dia tau Thalia mengikutinya sampai terjatuh, dia merasa bersalah. Thalia memperhatikan dengan seksama tangan Eric yang mengambil kapas lalu membasahinya dengan alkohol, perlahan membersihkan lutut Thalia. Gadis itu mengaduh pelan karena kesakitan. "Tahan, salahmu sendiri sih mengikuti aku berlari," ucap Eric. Thalia memberengutkan wajahnya, dia menatap Eric yang masih fokus dengan obat merah di tangannya. "Aku hanya ingin berteman denganmu," ucap Thalia. "Aku enggak pernah mau punya teman. Merepotkan." Eric langsung menjawab dengan cepat. "Kenapa? Padahal kan aku tulus ingin berteman," ucap Thalia. Eric menghela nafas lalu menatap tajam Thalia. Setelah usai mengobati Thalia, dia pergi begitu saja keluar dari UKS. Melihat sikap dingin Eric, Thalia menjadi bingung, kenapa Eric bisa seperti itu. Baru saja Thalia hendak keluar dari UKS, tiga orang siswi masuk ke dalam dan mendorongnya hingga membuat Thalia terjatuh. Gadis itu merintih kesakitan karena kepalanya terbentur meja. "Lo gue peringatin, jangan deket-deket sama Eric!" ucap salah satu siswi dengan name tag Jesline. Thalia bingung dengan mereka yang mengancamnya, apa salahnya jika dekat dengan Eric? "Memangnya kenapa kalau aku berteman dengan Eric? Apa aku salah?" tanya Thalia. Jesline maju selangkah, mencengkram kerah baju Thalia, menampar gadis tak bersalah itu. "KARENA ERIC HANYA MILIK GUE!" Thalia merintih kesakitan karena pipinya yang ditampar, dia tidak ada pilihan lain selain menggunakan kekuatan duyungnya, dia menggenggam gelang mutiaranya, mencoba mengayunkannya, namun tidak berhasil. Dia mencobanya lagi, namun gagal. Mungkin karena ini di daratan, kekuatannya terbatas. Jesline dan dua temannya tersenyum miring menatap Thalia tajam. "Paham?" tanya Jesline. Thalia mengangguk pasrah pelan, dia sama sekali tidak memberontak. Sungguh dia ketakutan melihat mereka bertiga yang menyerang dia. Setelah mereka pergi, Thalia berjalan lemas menuju kelasnya lagi. Jesline—siswi yang tidak Thalia kenal, namun Thalia bisa jelas mengingat wajahnya. Di kelas pun dia tidak melihat adanya Jesline, mungkin siswi kelas lain. Thalia heran, dia tidak melakukan apapun tapi dibenci seperti ini. Dia duduk lemas di samping Eric, Thalia mengambil air mineral dan meneguknya sampai habis. Hal yang paling membuat Thalia heran, kenapa kekuatan magisnya tidak berguna di daratan? "Pipi kamu kenapa merah?" Eric melihat seksama wajah Thalia, pipi gadis itu memerah, terlihat jelas ada bekas tangan di sana. "Oh, enggak papa." Thalia menjawab singkat dan menunduk. Dia mengingat bagaimana Eric bersikap dingin tadi. Thalia meremas kuat botol air mineral yang dia pegang sampai membuat kukunya memutih. Sungguh dia kesal dengan Jesline. Kenapa harus menyuruhnya menjauh dengan Eric. "Eric, ada satu hal yang ingin aku tanyakan, apa kamu mengenal Jesline?" tanya Thalia menatap Eric penuh tanya. Eric terdiam sejenak, mengingat-ingat nama itu, sepintas kenangan masuk ke dalam pikirannya. Jesline, siswi yang pernah menyatakan cinta kepadanya beberapa minggu yang lalu. Tidak hanya itu, dia juga selalu ada saat Eric berlatih basket. "Hmm, aku tau kenapa?" "Dia pacarmu? Atau kekasihmu?" tanya Thalia. Eric tertawa keras mendengar pertanyaan Thalia. Jesline? Kekasihnya? Tentu saja tidak, Eric malah geli melihat siswi yang mencoba menggodanya terus menerus seperti itu. "Bukan, dia hanya penggemarku." Thalia memutar bola matanya, Eric kini menampakkan wajah angkuhnya. Entah kenapa dia terlihat sangat menyebalkan saat ini. Thalia mendengkus, dia menelungkupkan wajahnya di antara lengan diatas meja. Rasanya membingungkan, kenapa bisa dia dibenci sampai ditampar seperti itu. Bahkan jika Jesline menyukai Eric, bukannya seharusnya Thalia juga memiliki hak untuk mendapatkan Eric. *** Kelas telah usai, Thalia melangkahkan kaki keluar, dia membulatkan matanya ketika melihat seorang lelaki yang dia kenal berdiri di gerbang. Lelaki yang sangat dia takutkan. Alrez, salah saty duyung laki-laki yang bertugas menjaga lautan, dia heran kenapa Alrez bisa ada di sini. Thalia berbalik, kembali masuk ke dalam kelas. Refleks karena panik, dia menarik Eric untuk ikut masuk kembali. "Eh? Ada apa?" tanya Eric ikut bingung melihat Thalia yang panik. "Sssst, tunggu di sini sebentar, jangan keluar." Eric menghela nafas dan mengangguk, dia melihat Thalia. Sejenak dia menikmati kecantikan Thalia, mata, hidung, bibir, seolah dewi yang sempurna dimata Eric. Thalia sangat cantik. "Eric, berikan aku jaketmu!" Thalia menarik jaket Eric lalu mengenakannya. Dia lalu bersembunyi dengan memeluk Eric, menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Eric. Alrez memasuki setiap kelas, dia mencari Thalia, kabar Thalia yang menghilang satu bulan ini membuat dia harus ke daratan. Saat Alrez membuka pintu ruang kelas Thalia, Alrez segera menutup kembali karena tidak menyangka ada siswa yang asik berpelukan. "Kamu takut dengan lelaki tadi?" tanya Eric kepada Thalia. Alrez nampak seperti lelaki seumuran mereka, namun jauh memiliki level kekuatan yang lebih unggul daripada Thalia, tentu saja itu karen Alrez duyung penjaga. "I-iya, sudah aman?" tanya Thalia, dia menatap mata Eric ketakutan. Eric seketika terpaku, seolah tersihir dengan kecantikan Thalia. Dia berusaha keras menguasai dirinya. Berusaha untuk tidak terlalu lama terhanyut oleh kecantikan Thalia. "Iya, su-sudah a-aman."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN