Bab 5

1014 Kata
"Pria tadi siapa?" tanya Eric sembari membukakan minuman kaleng untung Thalia. "Namanya Alrez, dia penjaga ..., dia berbahaya, kalau saja melihatku dia mungkin akan menangkapku dan aku tidak akan boleh lagi di sini." Eric tak sepenuhnya memahami maksud Thalia, namun dia hanya mengangguk untuk menyudahi pembicaraan. Eric hendak pamit berdiri, namun tangan Thalia mencegahnya. "Kemana?" tanya Thalia dengan wajah bingung. Rasanya dia ingin berlama-lama dengan Eric. "Aku harus pulang, kamu tidak pulang?" tanya Eric. Dia mengambil tas, mengenakan di punggungnya. "Tidak, aku ingin jalan-jalan lebih lama, aku sudah pamit dengan ayah ibuku untuk pulang malam. Aku sebenarnya ingin keliling berjalan-jalan." Thalia lalu mengikuti Eric, melangkahkan kaki keluar kelas. Gelang mutiaranya bersinar, dia tersenyum sendiri. Gelang yang dia curi, menyimpan sejuta rahasia sihir. Apapun yang Thalia mau bisa terwujud, bahkan jika Thalia mau berteleportasi, gelang itu akan bekerja. "Eric, kamu mau melakukan sesuatu denganku?" tanya Thalia dengan senyum manisnya. Eric tak tahan jika terus menerus melihat wajah Thalia yang menggemaskan, sangat berbahaya bagi kesehatan jantungnya. "Kemana?" tanya Eric mengerutkan keningnya. Thalia tidak menjawab, dia hanya tersenyum, dia melangkah mendekat, memegang erat tangan kanan Eric. Ir a donde queiro Eric tidak memahami apa yang Thalia katakan, namun seketika dia seperti masuk ke dalam putaran angin berwarna putih, membuat dia sedikit pusing. Dalam sekejap, dia kembali berdiri, dia menatap sekeliling, berada di wahana taman bermain. "Di-dimana kita?" tanya Eric sembari masih memegangi kepalanya. Dia merasakan pusing dan mual karena efek teleportasi itu. "Kita? Lihatlah, kita berada di taman bermain sepertinya, ayo kita mencoba wahana di sini," ucap Thalia gembira, tangannya tak mau melepas tangan Eric. Teman lelakinya semakin bingung, apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana bisa dia sampai di tempat ini? "Thalia, kita dimana sebenarnya? Bagaimana kita bisa sampai di sini?" ucap Eric panik. "Tenang Eric, kita masih di kota yang sama, aku sedang menggunakan teleportasi tadi. Apa kamu pusing?" tanya Thalia. Eric menggeleng, saat ini bukan lagi pusing, tapi dia masih shock atas apa yang terjadi. Sesulit apapun Eric menebak, dia tak kunjung menemukan jawabannya. Dia semakin bingung dengan apa yang terjadi, Thalia lalu mendekat dan berbisik kepada Eric. "Ini rahasia kita, aku punya kekuatan magis, aku ini duyung," ucap Thalia tersenyum. Perasaan apa yang mendorong Thalia untuk mendekati Eric, dia tidak tau, hanya saja dia ingin semakin dekat dengan Eric. Thalia menarik Eric mengecup pipinya pelan, membuat lelaki itu terkejut. "Apa yang kamu lakukan??" "Itu adalah ciuman sebagai tanda, jika hanya kamu yang aku sayangi." Mereka berdua lalu berjalan masuk ke wahana bermain, Thalia begitu takjub, dia tidak pernah kesini sebelumnya. Thalia begitu bahagia berlarian kesana kemari, memainkan setiap wahana yang ada. Sampai keduanya kelelahan. Eric mengajak Thalia untuk duduk di food court, dia memesankan makanan kepada Thalia. "Apa ini pertama kalinya kamu ke wahana bermain?" tanya Eric. Thalia mengangguk, matanya tidak lepas dari roller coaster yang bergerak cepat. Dia ingin bermain lagi, dan lagi. Sedangkan Eric merasa heran, bagaimana bisa Thalia sama sekali tidak pusing padahal sudah naik sebanyak tiga kali. "Sudah, kenapa kamu menatap roller coaster terus? Makanlah, apa kamu tidak pusing naik roller coaster?" tanya Eric. Thalia menggeleng, menatap Eric dengan tatapan berbinar. "Tidak, justru aku sangat senang, naik roller coaster membuat aku merasa terbang, aku suka sekali di sana." Mereka berdua berjalan menuju pulang, uang mereka habis. "Aku tadi apa salah dengar ya? Kamu mengatakan kepadaku jika kamu seorang duyung?" tanya Eric. Thalia mengangguk membenarkan ucapan Eric. "Iya, aku memang duyung, aku duyung lautan Karibia, aku yakin kamu pasti pernah mendengarku, mendengar cerita tentang duyung," ucap Thalia. "Aku memang pernah mendengar cerita duyung itu, tapi jujur saja, menurutku semua itu hanyalah khayalan penulis," balas Eric. Thalia tertawa, wajar saja jika Eric tidak akan percaya dengan ucapan Thalia, gadis itu cukup memahami. "Tapi kamu melihat sendiri kan? Sihirku bekerja membawa kita ke wahana permainan?" Eric mengerjapkan matanya sejenak, dia membenarkan apa yang diucapkan Thalia, benar apa adanya, Thalia memang bisa menggunakan sihirnya untuk membuat mereka ke tempat wahana bermain. "Iyasih, aku masih merasa ini semua hanyalah mimpi," ucap Eric. "Tidak, ini bukan mimpi," balas Thalia cepat. Dia mencubit tangan Eric, membuat lelaki itu meringis kesakitan. Thalia tertawa melihat Eric. Lucu dan menggemaskan. Sebenarnya Thalia telah menyalahi aturan, banyak aturan yang dia langgar. Dia bahkan pergi menggunakan gelang kerjaan tanpa pamit kepada siapapun. Thalia mencurinya begitu saja. Entah berapa lama dia bisa bertahan di daratan, Thalia tidak tau, dia hanya ingin bersama Eric. Sepertinya dia merasakan apa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, jatuh cinta. Thalia terpukau dengan Eric. Manusia yang baik hati dan terlihat menggemaskan. Eric juga mengagumi Thalia, sayangnya dia tidak bisa jujur dengan perasaannya. Eric terlalu gengsi menyatakan perasaannya. Lagipula dia hanya manusia biasa yang harus bekerja keras demi kedua adiknya. "Ini rumah kamu?" tanya Thalia ketika mereka berhenti di depan rumah. Eric mengangguk, Thalia membulatkan matanya, dia tidak menyangka jika rumahnya dengan Eric begitu dekat. Rumah mereka saling berhadapan. "Itu rumahku," ucap Thalia menunjuk rumag bercat biru berpagar cokelat. Eric melongo tidak percaya. "Kau anak Mr. Smith dan Mrs. Bella?" tanya Eric. "Iya, semenjak menjadi manusia di sini, aku menjadi anak angkat mereka," ucap Thalia. "Oh, begitu. Sudah malam Thalia, masuklah." Thalia mengangguk melambaikan tangannya kepada Eric, namun dia berbalik, berlari menuju Eric, menarik kerahnya dan mengecup pipinya lagi. "Terima kasih Eric," ucap Thalia bersemu merah lalu berlari masuk ke dalam rumah. Eric hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Dia pergi dengan teleportasi, dia mendengar pengakuan Thalia bahwa dia adalah duyung. Semua itu membuat Eric bingung. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Eric tidak bisa memejamkan matanya, dia melihat jendela kamarnya, di sana dia bisa melihat kamar Thalia. Lama dia memandangi kamar Thalia, tak lama Thalia menyibakkan gorden dan menyapa Eric, melambaikan tangannya. Seketika Eric malu tertangkap basah memperhatikan Thalia, dia segera menutup gorden kamarnya. "Duyung? Apa benar ada?" ucap Eric pada dirinya sendiri. Eric lalu memutuskan mencari tau lewat internet, satu hal yang dia baca, jika bulan purnama, duyung akan menampakkan siripnya. Bulan purnama akan tiba seminggu lagi. Eric mengusap wajahnya kasar, kalau memang benar Thalia adalah duyung, dia akan membuktikannya. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN