Bab 26

1295 Kata
Eric dengan Thalia bersamaan kembali ke lautan, mereka hendak bertemu dengan ratu duyung. Meminta penjelasan mengenai berubah menjadi manusia seutuhnya. Thalia sangat menginginkan menjadi manusia, dia ingin sekali hidup dengan tenang di daratan. Eric menaiki mobilnya, mengingat apa yang telah dikatakan oleh Alrez, dia tidak boleh menggunakan sihirnya sembarangan. Sebenarnya bisa saja dia melakukan teleportasi dengan Thalia, namun menikmati perjalanan panjang seperti ini sangat menyenangkan bagi Eric. Mereka telah sampai di pantai, keduanya berjalan menuju sisi paling kanan, sisi yang tidak ada siapapun di sana. Eric dan Thalia mulai berenang, Dion melihat mereka berdua yang berenang lalu meneriaki mereka. “HEI! Jangan berenang, sedang ada badai!” teriakan Dion rupanya tidak didengar oleh mereka, Dion lalu menyelam dan mengikuti mereka, dia hendak mencegah mereka untuk berenang karena khawatir akan hanyut dalam lautan. Dion mengerjar mereka, berenang ikut menyelami sangat dalam. Namun dia seketika terkejut dengan apa yang dia lihat, dengan jelas dia melihat sirip indah, dia melihat mereka berubah menjadi duyung, Dion ketakutan. Dia lalu berbalik dan kembali ke bunker rumahnya. Dia melangkahkan kakinya dengan gemetar, bibirnya bergemelatuk ketakutan. Dion duduk di depan pintu bunker, dia tidak sanggup membuka pintu. Masih bisa jelas dia melihat sirip2 duyung itu, dia terkejut dengan apa yang dia lihat.  Dia tidak menyangka benar-benar melihat duyung. Titan keluar dari bunker hendak mencari udara segar, dia terkejut saat pintu bunker sulit dibuka. Dia mendapati Dion yang duduk di depan pintu bunker dengan wajah pucat pasi. “Hei, kenapa Dion? Ada apa denganmu? Kenapa kau melamun begitu?” tanya Titan panik. Dia memegang wajah Dion pucat pasi dan tubuhnya basah. Titan membantu Dion masuk ke dalam bunker, memberikannya handuk. Dion mengusap wajahnya yang basah, dia menatap kedua temannya Dia menceritakan kepada dua sahabatnya tentang apa yang dia lihat. Namun Albert sama sekali tidak percaya dengan apa yang Dion katakan. Di jaman modern seperti ini mana mungkin ada duyung yang masih  berkeliaran di lautan. Rasanya mustahil untuk percaya dengan apa yang Dion ucapkan. Sedangkan Titan, awalnya dia tidak mempercayai dengan yang Dion katakan, namun melihat kesungguhan tatapan mata Dion, dia menjadi percaya. Apalagi Titan melihat Dion tadi gemetaran dan pucat pasi. "Sungguh kamu melihatnya?" tanya Albert lagi yang dijawab anggukan mantap oleh Dion. Dia sungguh tidak percaya jika ada duyung di dunia ini. "Aku melihatnya, sirip mereka berkilauan." Albert lalu mengangguk mencoba percaya meski ada keraguan. Dion lalu bangkit, dia mengambil canvasnya, melukis apa yang tadi dia lihat. Sembari menunggu Dion melukis, Albert dengan Titan memasak bersama. "Kau percaya dengan duyung?" bisik Albert. Titan mengangguk sembari mengocok telur, dia menambahkan sedikit garam dan merica. Potongan daun bawang lalu menuangkan campuran itu ke atas teflon. "Well, aku percaya makhluk seperti itu ada. Kau ingat saat kita mendaki atau camping di tengah hutan?" Titan mengucapkannya sembari mengurak arik telur di hadapannya. Aromanya membuat perut Dion dengan Albert keroncongan. Sedangkan Albert sibuk membuangi sisik ikan. Dia sangat sibuk mencabuti duri ikan. Dion tidak bisa jika memakan ikan yang berduri. Dia selalu teledor dan sering tersedak duri ikan. Oleh karena hal itu Albert selalu dengan sabar mengeluarkan semua duri ikan. "Iya, aku ingat." Ingatan Albert seketika terlempar pada kenangan beberapa tahun yang lalu saat mereka merayakan kelulusan, mereka mendaki gunung bersama dan berniat piknik. Saat di tengah perjalanan pendakian, Albert terpisah sendirian di gunung. Dia lalu melihat kedua temannya yang sedang berbincang di dalam gua, namun saat memasuki gua itu, tidak ada siapa-siapa. Hal itu membuat Albert ketakutan dan kembali ke pos penjaga. Semenjak saat itu Albert enggan lagi mau mendaki, ada trauma mendalam baginya untuk pergi menjelajahi alam. "Kalau kamu masih ingat, berarti harusnya kamu bisa percaya jika makhluk duyung itu benar adanya." Titan mengucapkan dengan sungguh-sungguh. Seusai telurnya matang, dia meletakkannya di piring, terdengar bunyi dentingan saat spatula beradu dengan piring. "Tapi aku lebih percaya jika mereka tinggal di dunia pararel." Albert menaikkan alisnya. "Begitukah? Tapi menurutku sebaliknya, dimesi dunia kita dengan gaib sangat tipis. Mungkin saja mereka bisa menembus ke dunia kita," balas Titan sembari mengambil beberapa bumbu untuk dia blender. Mereka hendak memasak ikan bumbu kari. Suara blender elektrik yang begitu keras membuat perbincangan mereka terhenti. Albert enggan meneruskan diskusi ini, dia merasa jengah dan malas untuk berurusan dengan gaib. Keduanya akhirnya fokus kembali memasak, Albert mengalihkan topik pembicaraan menjadi tentang pekerjaan Dion yang baru. Dion telah diterima di perusahaan desain, sejak dulu Diob terkenal ahli menggambar dan melukis apapun. Dia bahkan menjadi seorang kartunis saat belum memiliki pekerjaan. Namun Dion sering bermalas-malasan mengerjakan komik digitalnya, akhirnya Albert memaksa dia untuk bekerja di kantor agar mendapatkan uang bulanan. Aroma kari ikan yang lezat membuat perut mereka kelaparan. Ada satu yang dilupakan, mereka lupa memasak nasi, biasanya Dion yang bertugas menyiapkan piring dan memasak nasi. Namun rupanya Dion sangat asik melukis, matanya tidak lepas dari lukisannya meski mencium aroma masakan yang lezat. Titan akhirnya mengalah, dia memasak nasi. Mereka bertiga sudah seperti keluarga yang kompak tinggal dalam rumah bunker bersama. Mereka seperti saudara yang melengkapi satu sama lain, terkadang jika mereka bertengkar, mereka selalu ingat kehangatan atau kenangan yang menyatukan mereka. Titan menyajikan makanan diatas meja makan, dia lalu menatap Dion yang wajahnya tertutup sebagian oleh kanvasnya. "Hei, hentikan dulu melukisnya, ayo kita makan." Dion seolah tidak teralihkan pandangannya. Indra lainnya selain penglihatan dan peraba seolah tertutup, dia sangat fokus melukis. "Dion makanlah terlebih dahulu," ucap Albert. Dion masih tak menjawab. Kepalanya masih sibuk membayangkan duyung yang dia lihat. Dia sangat yakin duyung itu sepasang. "HEI!" panggil Titan dengan nada lebig tinggi, membuat Dion akhirnya menatapnya. "Nanti saja, aku masih fokus melukis. Tanganku terlanjur kotor." Albert menghela nafasnya, dia sangat memahami Dion. Dia tak akan beranjak dari tempatnya jika tidak menyelesaikan gambarannya. Akhirnya Albert mengalah, dia mengambil dua piring lalu duduk di samping Dion. "Kau tau, aku sudah seperti ibumu saja. Selalu khawatir denganmu. Makanlah Dion, kau tadi menyelami air laut, aku tidak mau kau jadi sakit." Albert menyuapkan makanan kepada Dion. Sedangkan Titan tertawa melihat kelakuan Albert yang begitu romantis dan perhatian. Dion pun tidak banyak komentar, dia membuka mulutnya, membiarkan Albert menyuapinya. Mata Albert beralih pada yang Dion lukis, seketika dia terpana dengan lukisan setengah jadi milik Dion, begitu bagus dan indah dilihat. Albert belum pernah melihat Dion melukis seperti ini, benar-benar terlihat nyata, di setiap sisiknya begitu detail warnanya, hijau bercampur biru dengan warna merah di sisi kanan, warnanya berkialauan. Persis dengan apa yang Dion lihat sebenarnya. Sayangnya Dion tidak terlalu jelas melihat bagaimana wajah duyung itu, hanya terlihat dari samping. "Woah, kau sangat berbakat, sungguh ini lukisan terbaik yang pernah aku lihat," puji Albert. Dion hanya tersenyum tipis mendengarnya, dia merasa agak kecewa karena tidak melihat secara langsung wajahnya. "Bagaimana jika ini dijual? Aku yakin kamu akan mendapatkan ribuan dollar!" ucap Albert. Dion tertawa menanggapinya. "Tidak mungkin, aku tidak mungkin bisa mendapatkan ribuan dollar, ini hanya lukisan biasa," ucap Dion. "Bagaimana jika bisa? Kau mau aku membuktikannya? Selesaikan cepat lukisanmu, aku akan membantumu menjualnya." Seketika ide bagus terlintas di kepala Albert untuk menjual lukisan Dion dengan harga jual tinggi. Titan meletakkan piringnya dan mencucinya, seketika sekelebat ingatan membuat dia mengerjapkan matanya. Dia ingat seorang gadis yang dia tak sengaja tangkap masuk ke dalam jaring. Namun Titan ragu apakah ingatannya itu hanyalah mimpi ataukah yang sebenarnya. Titan mencoba acuh dan kembali mencuci piringnya. * Thalia merasakan ada sesuatu yang melihatnya dari belakang, namun ketika dia menoleh ke belakang sudah tidak ada apa-apa. "Ada apa Thalia?" tanya Eric menatap Thalia. "Tidak, aku merasa ada yang memanggil lalu membututi kita," ucap Thalia. Eric lalu menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di sana kecuali para ikan dan terumbu karang. "Tidak ada, mungkin kau salah dengar." Keduanya lalu bergandengan tangan dan kembali masuk ke lautan yang lebih dalam. Menuju istana negeri duyung, kedatangan mereka sangat disambut hangat oleh ratu duyung. Eric bahagia bisa bertemu ibu kandungnya kembali. Dia memeluk erat ratu duyung, sangat menyayangi ibunya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN