Bab 27

1067 Kata
Albert tersenyum miring ketika hendak menjual lukisan Dion, seketika dia memiliki ide untuk menjual lukisan cantik ini. Dia menjualnya di pasar kota sembari menceritakan rumor mengenai keberadaan duyung. “Ayo silahkan dibeli lukisannya, ini lukisan terbaik. Ini adalah lukisan duyung asli, duyung Karibia, memiliki sirip cantik seperti ini. Mereka nyata dan benar-benar ada, pelukisnya sendiri yang melihat duyung ini, ayo-ayo silahkan dibeli.” Tak disangka ucapan Albert di pasar mengundang banyak orang, mereka menanyakan kebenaran keberadaan duyung itu, beberapa orang lainnya ikut bergosip membenarkan adanya duyung itu. Seseorang menggunakan tudung dengan tato di tangannya datang, dia menatap Albert dengan serius. “Berapa harga lukisan ini?” tanyanya kepada Albert. “Hanya dua ribu dollar,” ucap Albert. Lelaki itu menyentuk lukisan milik Dion, dia menyentuh gambarannya. Raut wajah lelaki itu nampak serius di balik tudung. Albert sendiri tidak yakin kenapa lelaki itu bisa sangat serius melihat lukisan duyung itu. “Aku membelinya,” ucap lelaki misterius itu. Dia mentransfer uangnya ke rekening Albert, sangat banyak, tidak hanya dua ribu dollar, tetapi tujuh juta lima ratus ribu dollar. Harga yang sangat fantastis. “Bayaranku tidak hanya lukisan ini, bawa aku dimana kau melihat duyung itu,” ucapnya dengan seram. Albert dengan senang hati membantu lelaki itu menemukan duyung, meski Albert tidak begitu yakin, tetapi dia meminta bantuan Dion. Saat hendak membawa lelaki misterius itu ke dalam mobil, Dion menarik lengan Albert. “Kau yakin kita bawa dia ke pantai?” tanya Dion meragu. “Iya, yakin. Sudahlah ikuti saja, kita sudah kaya raya sekarang. Kita tidak perlu lagi tinggal di pinggir pantai, berkat lukisanmu, kita bisa memiliki rumah, bahkan kita bisa menggunakan apapun yang kita mau,” ucap Albert dengan mata berbinar. Sedari tadi Titan masih terdiam karena shock dengan apa yang dia alami, dia benar-benar melihat lukisan Dion laku dengan harga yang sangat mahal. Belum pernah ada dalam sejarah lukisan bisa terjual sangat mahal seperti itu. Lukisan itu benar-benar membawa keberuntungan bagi mereka. Titan hanya takut lelaki itu menipunya. Dia meminjam handphone milik Albert, mengecek kembali uang dalam tabungannya, benar-benar tujuh juta lima ratus ribu dollar. Titan melihatnya sampai hampir saja pingsan. Mereka bertiga sangat kaya raya saat ini, Titan menatap lelaki misterius ini, dia heran bagaimana bisa ada orang kaya seperti dia. “Namamu siapa?” tanya Titan kepada lelaki misterius itu. “Leveau, panggil saja Lev.” Dia menoleh ke samping, menatap Titan dan tersenyum. Entah kenapa Titan merasakan aura lelaki itu sangat berbeda, dia merasa ada aura hitam menikam pada lelaki misterius itu. Titan memperhatikannya dari atas sampai bawah, setidaknya lelaki itu tidak membawa benda tajam yang menakutkan. Sesampainya di pantai, Dion langsung menceritakan dimana dia melihat duyung, dia mengatakan melihat langsung ada duyung saat Dion menyelam di sisi kanan pantai. Mereka bertiga membawa Lev untuk beristirahat di bunker kecil mereka. “Boleh aku memiliki bunker kalian? Aku ingin melihat duyung itu secara langsung. Kalian pergilah dari sini, ini tempatku sekarang,” ucap Lev kepada mereka bertiga. “Oh tentu saja boleh, kau boleh memiliki bunker ini, silahkan kau ambil dan tinggali saja tempat ini.” Dion, Albert dengan Titan segera mengemasi barang mereka, tidak begitu banyak barang mereka, dengan cepat mereka segera berpindah rumah. Hari itu juga, mereka bertiga berpindah rumah di tengah kota. Secara kebetulan Albert mendapatkan rumah tepat di samping rumah Eric. Lev meminta mereka bertiga meninggalkan bunkernya, tinggal dia di sini sendirian. Dia lalu berjalan keluar dan menatap lautan, dia sangat yakin malam ini duyung itu akan datang. Entah apa yang Lev ucapkan, bibirnya bergerak-gerak memuja lautan. Mengucapkan kalimat mantra yang tidak dimengerti manusia awam. “Woah, aku lelah sekali. Aku tidak menyangka kita bisa memiliki rumah besar ini.” Dion terperangah dan terharu dia bisa mendapatkan rumah. Akhirnya dia tinggal di rumah. Uang hasil jual lukisan, mereka bagi tiga. Mereka sangat bahagia mendapatkan uang banyak. “Tapi aku merasa aneh, kenapa ya Lev membeli lukisanku begitu saja? Kenapa dia mau membeli lukisan yang harganya fantastis?” tanya Dion bingung. Hari sudah malam, dia merenung di depan rumah, sibuk memikirkan alasan yang pas mengapa Lev membeli lukisannya dengan harga yang mahal. Padahal kalau Dion perhatikan lagi, lukisannya biasa saja. “Sudah, mungkin saja lukisanmu itu sangat berharga dan dia menyukainya, atau mungkin Lev itu seorang pengoleksi lukisan, harga mahal itu menunjukkan dia sangat mengapresiasi karyamu,” ucap Titan tersenyum bangga kepada Dion. Berkat Dion, mereka bertiga bisa menjadi kaya raya dan memiliki banyak uang. “Begitu kah? Tapi aku hanya curiga kepadanya dan merasa aneh.” “Sudah-sudah tidak perlu dipikirkan, ayo kita makan pizza dulu,” ucap Albert dengan penuh semangat. *** Hari sudah menjadi larut malam, perasaan Dion semakin gelisah, dia semakin merasa ada yang janggal dengan Lev. Dia berpikir keras kenapa bisa Lev berbuat seperti itu. Dion akhirnya memutuskan untuk kembali ke lautan, dia tidak menaiki mobil, tetapi menggunakan motor harley yang baru saja dia beli. Dia pamit kepada Albert dan Titan hendak ke mall berjalan-jalan, tetapi sebenarnya dia pergi ke pantai. Dion menggunakan kecepatan penuh menuju pantai, dia tidak peduli berapa banyak mobil yang mengklaksonnya karena mengebut. Dion hanya penasaran kenapa Lev berniat sekali mencari duyung itu. Dion memarkirkan motornya jauh dari pantai, dia lalu berjalan perlahan menuju pantai. Dia melihat Lev yang duduk di bebatuan seperti menunggu sesuatu. Beberapa menit kemudian, dari kejauhan, Dion melihat duyung itu kembali. Dia melihat Lev sangat antusias menunggu mereka datang. Dion bisa melihat dari semak belakang jika Lev menyiapkan jaring besar. Dion membulatkan matanya, Lev ternyata ingin menangkap dua duyung itu. Dia menjadi gelisah, entah kenapa dia tidak setuju jika duyung-duyung itu ditangkap. Eric dengan Thalia sama sekali tidak merasakan curiga jika ada yang mengawasi mereka. Gelang kerajaan dan sihir mereka telah diambil, mereka berdua memutuskan untuk menjadi manusia, ratu duyung merestuinya, dengan syarat mereka tidak akan lagi memiliki sihir. Saat mereka naik ke atas daratan, Lev segera mengeluarkan jaringnya, menangkap mereka berdua. Eric dan Thalia berteriak meminta tolong, namun sayangnya malam begini tidak ada yang menolong mereka. Lev lalu menyuntikkan sesuatu di pundak Eric dan Thalia yang membuat mereka pingsan, Dion hendak membantu membebaskan Eric dan Thalia, namun dia masih berpikir dua kali. Melihat Lev yang begitu lihai melakukan aksi penculikan, dia sangat yakin jika Lev profesional seperti ini.  Dion memilih untuk menceritakan semua ini kepada Titan dan ALbert, meminta bantuan mereka sebelum nyawa Eric dan Thalia terancam mati. Dion sempat memfoto Lev yang mengeluarkan jaringnya dan menangkap mereka, dengan foto bukti ini mereka bisa melaporkan ke polisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN