Sehari sebelumnya saat Thalia dan Eric sampai ke kerajaan duyung, mereka menyampaikan niat mereka yang ingin menjadi manusia seutuhnya. Ratun duyung agak sedih mendengar keinginan mereka karena mungkin dia tidak akan melihat anaknya lagi. Eric dan Thalia pada akhirnya diperbolehkan untuk hidup di daratan atas restu ratu duyung. Namun sejatinya, Thalia yang merupakan keturunan duyung, dia tidak akan bisa menjadi manusia seutuhnya. Ibunya—Bella bisa menjadi manusia seutuhnya karena mendapatkan berkah batu Aquamarine. Saat jaman itu banyak sekali duyung yang mengincarnya dan banyak yang menjadi manusia. Hal itu membuat populasi duyung menurun dan sedikit yang menjaga ekosistem di laut. Oleh karena itu batu Aquamarine disimpan oleh Poseidon, disembunyikan di daratan dan tidak ada yang mengetahuinya. Satu-satunya jalan bagi Thalia untuk bertahan menjadi manusia, setiap akhir bulan saat bulan purnama tiba, dia harus datang ke lautan dan berendam. Meski tidak lagi berubah menjadi duyung, namun Thalia harus datang ke lautan agar kulitnya tidak bersisik. Sulit bagi Thalia menjalani hidup seperti ini, dia akan merasa lelah jika harus terus kembali ke lautan setiap bulannya. Selain takut ketahuan dengan manusia, hal itu juga membuat hidupnya menjadi rumit.
Eric tidak mau hanya menyerah dengan keadaan, dia sangat optimis dan yakin jika bisa membawa Thalia menjadi manusia seutuhnya, dia yakin bisa mencari batu Aquamarine itu untuk membuat dia dengan Thalia bisa bersatu lagi. Eric sangat mencintai Thalia, dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri akan melakukan apapun untuk Thalia, dai bersumpah melindungi dan mewujudkan keinginan Thalia segenap jiwa raganya. Eric hanya ingin perasaan cintanya dengan Thalia terwujud. Mereka ingin hidup seperti manusia normal biasanya, menikah, mempunyai anak dan hidup bahagia sampai ajal yang memisahkan.
Kekuatan magis Thalia dan Eric juga sudah dihilangkan oleh Ratu duyung, mereka hanya diberkahi kalung mutiara biru. Kalung itu berguna untuk memanggil bantuan jika dalam situasi terdesak. Eric sebagai keturunan Poseidon, dia tetap memiliki sihir, namun sihirnya tidak akan aktif ketika ada di daratan, dia hanya bisa menggunakan sihir murni di dalam lautan.
Keduanya kembali ke daratan, mereka kembali setelah ratu duyung selesai melakukan upacara peresmian pelepasan dua duyung dengan sihirnya. Eric masih bisa berubah menjadi duyung sesuka hatinya karena dia memang keturunan Poseidon. Sayangnya petaka tiba saat mereka melangkahkan kaki mereka ke daratan, tiba-tiba kaki mereka tersangkut oleh jaring dan terikat. Mereka terkejut ketika ada orang yang melakukan hal ini kepada mereka. Keduanya tak mengenal siapa lelaki di hadapannya ini.
Leveau, penyihir yang sangat suka mengkoleksi hal-hal mistis. Dia sengaja menunggu datangnya duyung, dengan bantuan Dion, Albert dan Titan dia berhasil menangkap Thalia dan Eric.
“Siapa kamu? Lepaskan kita!” teriak Eric. Lev takjub dengan apa yang dia lihat, dia tidak menyangka jika duyung bisa berbicara layaknya manusia biasa.
“Apa kalian benar duyung?” tanya Lev. Dia berjongkok mendekati Thalia dan mengusap pipinya. Lev terpesona dengan kecantikan Thalia. Matanya lalu turun ke kalung Thalia, kalung itu indah dan bersinar, Lev langsung melepas kalung milik Thalia. Dia tersenyum dan membawa kalung itu di dalam sakunya. Eric terus berteriak, sama halnya dengan Thalia. Sayangnya sihir Eric tidak bisa dia gunakan ketika sudah di daratan begini, dia sama sekali tidak berkutik. Berusaha keras melawan dan keluar dari jaring, namun hasilnya sia-sia, jaring-jaring yang digunakan Lev sangat tebal dan sulit untuk dilepaskan.
Tangan Eric sampai berdarah ketika berusaha menyobek jaring-jaring itu. Merasa berisik dengan Eric dan Thalia, Lev menyuntikkan obat tidur ke dalam tubuh Eric dan Thalia, seketika keduanya pingsan dan tak berdaya. Lev lalu menyeret mereka membawa ke dalam bunker dan mengikat mereka dengan erat.
Dion tidak tega melihat Eric dan Thalia yang tersiksa seperti itu, dia lalu kembali dan mengebut untuk pulang. Biasanya untuk pulang membutuhkan waktu tiga puluh menit, tetapi kali ini Dion sangat cepat dan lewat jalan tikus, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.
“ALBERT! TITAN!” teriak Dion, dia masuk ke dalam rumah, kedua temannya sedang asik bermain playstation bersama.
“Hei, ada apa? Kita sedang fokus.” Titan masih tidak mengalihkan pandangannya dengan video games yang dia mainkan.
“Duyung itu telah diculik oleh Lev!” ucap Dion yang seketika membuat kedua sahabatnya itu menghentikan permainannya. Mereka terkejut Dion mengucapkan hal itu. Dion lalu menceritakan semua yang terjadi, kedua sahabatnya terkejut dan heran bagaimana bisa Lev senekat itu.
“Bagaimana? Apa kita bisa membantu mereka?” tanya Dion. Rencananya jika sahabatnya tidak membantu, Dion akan melaporkan hal ini ke polisi, bagi Dion hal ini sudah kelewatan dan termasuk kriminal, apalagi Lev menyuntikkan sesuatu yang membuat mereka pingsan.
“Baiklah, ayo!”
Mereka bertiga mengendarai motor, menembus kemacetan dan sampai ke pantai pukul dua malam, mereka diam-diam mengepung bunker, Dion yang pertama memancing agar Lev keluar. Dia mengetuk pintunya. Ketiga orang ini sudah menyiapkan berbagai peralatan sederhada, termasuk Dion dia membawa linggis dan palu di tangannya. Lev membukakakn pintu, melihat Dion yang datang dia sama sekali tidak curiga.
“Hei, ada apa kembali lagi? Apa ada yang tertinggal?” tanya Lev. Dion tersenyum dan menggeleng, dia maju selangkah dan segera menendang keras kemaluan Lev. Dia lalu memukul pundak Lev sampai membuatnya pingsan. Titan dan Albert segera masuk untuk menyelamatkan Eric dan Thalia. Dion segera menelpon polisi dan mengikat Lev.
Empat puluh menit kemudian polisi datang, mereka datang lalu menahan Lev. Dion menghela nafasnya lega, akhirnya dia bisa menyelamatkan dua duyung ini. Dion ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, siapa sangka ternyata Lev adalah buronan polisi, dia diduga sebagai penipu dan pembunuh hewan peliharaan orang. Dia terkenal psikopat. Namun Leveau ternyata juga penyihir. Dia menggunakan mantranya dengan berbagai cara, sayangnya semua itu gagal. Dia memejamkan matanya, memanggil fairy yang selama ini dia pelihara untuk mengincar duyung dan menyelamatkannya dari sel tahanan.
“Terima kasih sudah menyelamatkan kami,” ucap Eric tersenyum.
Albert mengangguk dan memperhatikan Eric dan Thalia secara bersamaan, dia masih penasaran apakah kedua orang ini adalah duyung atau bukan. Mereka merasa aneh karena keduanya tidak memiliki sirip dan bisa berjalan di lautan.
“Apa kalian benar duyung?” tanya Albert. Tentu saja Thalia dan Eric mengatakan tidak.
“Maaf, sepertinya anda salah orang, kami hanya berenang di malam hari.”
Titan masih tidak percaya jika keduanya bukan duyung. Siapa yang mau berani berenang kecuali jika keduanya memang sedang bulan madu. Namun jika dilihat-lihat lagi, mereka berdua nampaknya seperti anak sekolahan. Tidak mungkin jika mereka sedang berbulan madu, usia mereka saja belum matang untuk menikah.
“Kalian masih pelajar kan?” tanya Titan.
Thalia mengangguk, Eric hanya bisa diam, niat berbohong tapi dia pun tak pandai membohongi orang.
“Katakan saja kepada kami, kita bukan orang jahat, kita akan mengantar kalian pulang, dimana rumah kalian?” tanya Albert.
“Iya kita memang duyung, tapi kita sudah menjadi manusia sekarang. Tolong rahasiakan ini, rumah kita di gang sana,” ucap Eric.
“Wah, kita tetangga? Oh God, kenapa dunia ini sempit sekali, kalau kalian benar duyung, apa bisa kalian menceritakan kehidupan kalian? Aku ingin melakukan riset dan mendengar kisah kalian, tidak perlu sekarang bisa lian kali nanti.”
Eric dan Thalia dengan senang hati membantu mereka sebagai tanda terimakasih karena Albert dengan Titan sudah menolong mereka. Mereka berempat akhirnya pulang dan kembali untuk istirahat. Dion juga sudah pulang setelah dimintai keterangan.
***
Dion memiliki firasat yang aneh, entah kenapa dia merasakan akan terjadi sesuatu lagi dengan Eric dan Thalia. Lev tidak mungkin berhenti sampai di sini saja, Lev pasti akan melakukan sesuatu untuk menangkap duyung itu lagi. Entah apa yang Lev incar lagi, Dion tak tau pasti. Padahal jelas Eric dan Thalia telah berubah menjadi manusia.
Bella sangat khawatir kepada Thalia, dia memeluk erat anaknya. Pasti sulit perjuangan Thalia di usia muda yang harus memperjuangkan hidupnya menjadi manusia seutuhnya, Bella mengingat bagaimana dia dulu saat muda dan jatuh cinta pada Smith, mereka harus saling berjuang mendapatkan batu Aquamarine untuk bisa mengubah mereka menjadi manusia seutuhnya. Kehidupan mereka sangat bahagia di awal, mereka sangat senang memiliki seorang bayi, namun sayangnya mereka melahirkan bayi yang memiliki sirip, bayi itu Thalia. Bella dan Smith terpaksa mengirim Thalia kembali ke lautan, tidak mungkin Thalia bisa hidup di daratan dalam waktu lama.
“Apa kamu baik-baik saja Thalia?” tanya Bella mengusap kepala anaknya. Smith berjalan mendekati Albert dan Titan, dia berterima kasih karena telah menyelamatkan keduanya.
“Tidak apa-apa ibu, aku baik-baik saja, hanya sedikit shock,” ucap Thalia.
Smith berbincang sebentar dengan Albert dan Titan, mereka berdua menjelaskan siapa Lev itu. Dia adalah penyihir yang terkenal di Balkan. Entah bagaimana bisa sampai di kota ini, mungkin karena ini kesalahan Albert yang menceritakan keberadaan duyung yang sebenarnya di selat Karibia. Mereka semuanya menjadi berbondong-bondong mencari duyung. Sedangkan Albert tadinya hanya berniat menjual lukisan Dion malah menjadi masalah besar bagi Thalia dan Eric.
“Jadi Lev masih hidup?” tanya Smith menatap Albert dan Titan secara bergantian. Mereka mengangguk, tentu saja Lev masih hidup, dia hanya dipenjara karena kasus kriminal. Penyihir di jaman sekarang tidak lagi seperti dulu, jika saja mereka tertangkap akan digantung dan dibunuh. Rupanya Lev selalu berhasil kabur sejak ratusan tahun lalu. Hal yang membuat Smith geram dia telah melukai Thalia. Sesaat kemudian, Thalia baru menyadari jika kalungnya menghilang, dia mengatakan hal itu kepada Smith. Tentu saja didengar oleh Eric, Albert dan Titan. Tidak ada jalan lain, Eric harus kembali ke kerajaan duyung untuk kembali meminta sihirnya aktif di daratan. Dia tidak bisa hidup dengan nyawa terancam seperti ini. Eric lalu berjalan ke kamar Thalia, dia membutuhkan ruang kosong untuk melakukan telepati dengan ratu duyung.
Sayangnya, telepatinya tidak sampai ke lautan, terlalu jauh. Eric lalu meminta Albert dan Titan untuk mnegantarnya ke pantai, meminta pertolongan mereka untuk melindungi Eric jika terjadi bahaya lagi. Saat ini pantao sedang di segel dan tidak boleh ada orang yang masuk. Eric menghela nafas pasrah, dia tidak bisa langsung kembali ke lautan saat ini, haya satu hal yang berkelana di pikiran Eric untuk melakukan pertahanan diri, mengikuti pelajaran bela diri.