Bab 32

1079 Kata
Ethan memejamkan matanya kembali, anehnya dia bisa melihat keberadaan kakaknya dan apa yang kakaknya lakukan saat ini. Dia terkejut melihat kakaknya yang terjebak di dalam gua di dekat pegunungan. Entah apa yang sudah terjadi, namun Ethan bisa melihat dengan jelas kakaknya berusaha berteriak meminta tolong. Saat itu juga Ethan bangun, Titan masih berjaga di ruang tamu sembari melihat sepak bola. “Kak, aku melihat semuanya, aku tau dimana kak Eric,” ucap Ethan. “Hah? Apa maksudmu? Tidurlah Ethan, kau mungkin terlalu lelah, percayalah kepadaku, kakak kamu pasti baik-baik saja. Dia memiliki kemampuan yang hebat dan tak terduga.” Ethan menghela nafasnya, dia merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh Titan. Hal besar apa yang sedang terjadi saat ini, kekacauan apa yang terjadi sampai kakaknya dicari oleh penyihir. Saat ini Ethan tidak bisa diam saja, bahkan mencoba tenang saja tidak bisa, dia memilih untuk mencoba menguatkan diri. Ethan memegang tangan Titan, dia memejamkan matanya, sesuatu yang pernah dia lakukan saat terlambat sekolah, teleportasi. Seketika dalam waktu sedetik mereka berdua berada di pegunungan. Dingin, Ethan hanya menggunakan piyama, sedangkan Titan menggunakan kaus dan celana jeans. “WHAT? Apa yang terjadi? Bagaimana kita ada di sini?” ucap Titan panik karena melihat sekelilingnya yang mirip dengan hutan, dia khawatir jika mereka tidak bisa kembali. “Tenang kak, kita baru saja teleportasi. Kita ada di dekat dimana kak Eric berada.” Titan bergemetar takut saat ini, namun tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali mengikuti Ethan. Mereka mencari sumber suara teriakan Eric, keduanya kini berada di depan gua besar yang tertutup. Ethan mencoba membukanya, namun rupanya ada segel sihir di sana. “Apa yang kau lihat?” tanya Titan memiringkan kepalanya. Dia melihat dengan jelas mata Ethan memperhatikan pepohonan rimbun di samping. Ethan melihat gua besar itu, namun manusia awam seperti titan tidak bisa melihatnya. Dia tidak melihat apapun saat ini. “Kau tidak melihatnya? Ini gua besar, gua ini dilindungi sihir, aku harus menghancurkannya.” Ethan berusaha keras melakukan pembukaan segel sihir gua itu. Titan tidak bisa melihat apapun, namun dia bisa melihat cahaya putih dan hijau yang Ethan keluarkan dari tangannya. Dia sangat takjub dengan apa yang dia lihat, awalnya Titan tidak percaya bahwa penyihir itu ada, namun kini dia melihat sendiri, di hadapannya ada penyihir. “Hei! Ada apa di sini?” tanya Albert tiba-tiba datang. Ethan masih tidak menoleh, dia fokus membuka sihir yang menyegel gua. “Ethan? Kau juga penyihir?” tanya Dion. Titan lalu meraih tangan mereka berdua dan mengajak mereka mundur. Ethan memejamkan matanya, serangan kecil akan sia-sia. Dia mengumpulkan semua energinya menjadi satu, melepaskan ledakan sihir. Bulatan seperti bola berwarna merah besar menyatu, membuat segel sihir itu seketika sirna. Kini gua tempat Eric berada terbuka. Tanpa pikir panjang, Ethan segera masuk, namun seekor ular berbisa mematuk kakinya. Dion membunuh ular itu dengan pistolnya. Dua teman lainnya membantu Ethan. Dia terluka, wajahnya mulai pucat, bisa ular itu mulai bekerja untuk membunuh Ethan. Eric dan Chloe segera keluar saat melihat ada kilasan cahaya di bagian kanan gua, mereka berlari dan terkejut melihat semua teman mereka berkumpul. Mata Eric tertuju pada Ethan yang sangat lemas, nafasnya tersengal. “Apa yang terjadi pada adikku? Aku kan sudah bilang, jangan sampai dia kemari. Kenapa kalian membawanya?” ucap Eric panik. Albert menjelaskan bahwa Ethan terkena bisa ular. Eric menghela nafasnya kasar dan sangat panik. Dia akhirnya membawa adiknya menuju rumah sakit terdekat. Dokter segera memberikan suntikan anti bisa kepada Ethan, tak lama adiknya memejamkan mata. “ETHAN!” teriak Eric panik. Dokter mengatakan Ethan masih bisa diselamatkan, kemungkinan besok dia baru bisa tersadar. Eric duduk di bangku bersama Chloe dan tiga serangkai (Albert, Dion dan Titan.) Sedari tadi dalam hatinya Titan selalu menggerutu kesal, dia menyalahkan dirinya sendiri, andai saja dia tidak gegabah, tidak membiarkan Ethan pergi, pasti saat ini Ethan akan baik-baik saja. Menyesal hanya satu-satunya hal yang muncul di saat seperti ini. “Maaf,” ucap Titan dengan lemah. “Tidak apa-apa, tapi apa kalian yang membuka pintu gua itu?” tanya Eric. “Tidak, yang bisa melihat gua yang tertutup itu hanyalah Ethan. Dia bisa melihat gua itu disegel dengan sihir, awalnya aku tidak percaya, tapi aku melihat dengan jelas jika Ethan mengeluarkan cahaya sihir dari tangannya untuk membuka segel.” Eric membulatkan matanya hampir saja tidak percaya, jika Ethan mewarisi sihir, sama dengannya, itu artinya Ethan juga anak titisan dari Poseidon. Sama dengan dirinya. *** Thalia meronta saat tubuh seluruh tubuhnya terikat, dia baru saja sadar dari pingsannya. Dia melihat ke samping, Alrez masih pingsan. Thalia merasa sangat lemah tubuhnya, sekujur kulitnya memar dan tak berdaya. “Alrez, bangunlah. Alrez!” teriak Thalia. Dia melihat sekeliling, tidak ada siapapun di sini. Thalia kini berpindah tempat lagi untuk ketiga kalinya. Semuanya seperti telah direncanakan, dia tidak tau kali ini dia dimana. Terakhir kali Thalia ingat dia disekap di pegunungan dan memancarkan cahaya putih untuk meminta pertolongan. Sayangnya kini dia telah berpindah entah dimana. Ruangan ini seperti kapsul, dindingnya semuanya putih, hanya ada satu pintu kecil yang terlihat. Thalia mengerang kesal saat tidak bisa membuka pintunya. Kaki dan tangannya terikat, dia tidak bisa bergerak. Bahkan mulutnya disumpal dengan kain. Thalia lalu maju ke depan, dia melihat Alrez yang masih terbaring tak sadarkan diri. Dia bersusah payah menggeser tubuh Alrez dengan keadaan tangan dan kaki terikat. “MMmmmphh!!” Thalia mencoba berteriak membangunkan Alrez. Lelaki itu sama sekali tidak bergerak. Hingga Thalia menggunakan kakinya untuk mengguncang bahu Alrez. Lelaki itu terbangun dan menatap Thalia, keadaannnya sama dengan Thalia, tubuhnya terluka dan memar. Alrez lalu mencoba melepaskan ikatannya, namun gagal. Dia tersiksa dengan keadaannya saat ini. Sihir yang dia gunakan tidak berhasil. Gelang dan kalungnya telah diambil oleh entah siapa. Mereka berdua belum sempat mencari tau siapa pelaku yang melakukan ini semua kepada mereka. Saat mereka disekap, kepala mereka ditutupi kain hitam. Mereka tidak tau mereka dimana saat ini. Alrez lalu mengerjapkan matanya, meminta Thalia menatapnya dengan lekat. Satu-satunya cara untuk berkomunikasi saat ini hanya melalui mata mereka. “Thalia, coba kau ingat kita ini ada dimana?” tanya Alrez. Thalia menggeleng tidak tau. “Aku merasakan guncangan pelan, apakah kita berada di atas kapal? Bisakah kau keluarkan lagi energimu? Cahaya putih yang kau keluarkan pasti bisa membuat Eric mencarimu.” “Tidak, aku tidak bisa, aku sangat lemah dan lemas. Aku butuh istirahat dan makan.” Baru saja Alrez akan membalas ucapan Thalia, namun Thalia sudah memejamkan kembali, dia sudah pingsan. Kali ini Alrez yang berusaha menelepati Eric, dia berharap kali ini benar-benar berhasil dan Eric bisa menyelamatkan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN