Bab 31

1060 Kata
Chloe sementara menginap di rumah Bella, besok mereka akan merencanakan mencari Thalia kembali. Dia tidur di kamar Thalia, saat tengah malam tiba, dia mendengar ada seseorang memanggil namanya. Chloe lalu membuka pintu balkon dan menatap ke luar langit, cahaya putih bersinar di suatu daerah, cahaya itu sangat terang muncul dari suatu daerah, Chloe memincingkan matanya, melihat lebih jauh, dia melihat pegunungan, dia yakin mungkin itu mercusuar dari Thalia. Chloe lalu masuk ke dalam rumah Eric, beruntungnya kekuatannya sudah kembali pulih, dia merasa siap untuk bertarung setelah beristirahat. Chloe menyelinap masuk ke kamar Eric. Dia lalu membangunkan Eric yang masih tertidur pulas, dia mengguncang bahu Eric, lelaki itu mengerjapkan matanya dan menatap Chloe, dia terkejut Chloe ada di kamarnya. “Hei cepatlah bangun, aku rasa aku tau dimana tempatnya. Thalia telah memberikan kita tanda, ayo kita menuju ke tempat Thalia.” Eric menggosok matanya yang masih mengantuk, pengembalian energinya terasa sangat melelahkan. Salah satu adik Eric, Ethan berjalan naik ke kamar Eric. “Yaampun kak, siapa dia? Kenapa kau menyembunyikannya di kamar? Kau mulai nakal ya,” ucap Ethan mengembungkan pipinya. “Bukan, dia itu teman kakak, dia membangunkan kakak. Ethan, tolong jaga Michael dan Fabio ya,” ucap Eric menatap Ethan—adiknya yang berusia kelas satu SMA. Ethan mengangguk dan membiarkan kakaknya pergi. Dia tidak tau apa permasalahan kakaknya, namun raut wajah Eric terlihat sangat serius dan sangat khawatir akan terjadi sesuatu. Ethan menutup pintu rumah lalu ke kamar Michael dan Fabio. Mereka berdua kembar, wajahnya sangat mirip. Anehnya, wajah Ethan mirip dengan Eric namun wajah Fabio dan Michael sama sekali tidak ada kemiripan dengannya. Ethan merasa lapar, dia turun menuju dapur dan memasak mie instan. Tak lama dia mendengar suara gaduh, tepat di pintu rumahnya, dia berlari keluar dan melihat ada seorang laki-laki menggunakan jubah hitam, menyeramkan namun wajahnya tak terlihat, dia menunduk di balik tudung jubahnya. “Katakan, dimana Eric?” ucap lelaki itu. Ethan menyerngitkan dahinya, dia tidak tau kenapa ada yang mencari kakaknya tengah malam begini. Meski begitu dia bisa merasakan ada aura tidak menyenangkan yang keluar dari tubuhnya. Ethan bisa merasakan ada sesuatu yang janggal, dia sangat menakutkan. “KATAKAN KEPADAKU DIMANA ERIC!” bentaknya, dia menarik paksa Ethan untuk keluar, namun Ethan secara refleks memukulnya. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari telapak tangannya, cahaya berwana merah hingga membuat lelaki itu tersungkur. Ethan lalu mengarahkan tangannya kepada lelaki itu, membuat dia terbelit dengan tali tambang. Satu hal yang membuat Ethan tersenyum senang, dia selama ini berhasil mengontrol sihirnya, dia sukses membuat dirinya bisa membuat apapun yang dia mau. Kemampuan Ethan ini baru dia sadari sejak setahun yang lalu, dia ternyata bisa melakukan sihir. Namun kemampuannya ini dia sembunyikan dari siapapun. Tidak ada yang mengetahuinya bahkan Eric sekalipun. Lelaki itu berdiri, melepaskan ikatan dari Ethan dengan mudah. “Wow, ternyata kau sama-sama Mages sepertiku, well kau mau beradu sihir denganku?” tawarnya menatap licik Ethan. Dia membuka tudungnya, Ethan bisa melihat dengan jelas wajahnya, ada goresan luka di bagian pipi kirinya. Ethan tidak tau jika ternyata lelaki di hadapannya sangat berbahaya, dia mempersiapkan diri untuk berduel, sebelumnya dia belum pernah melakukan hal ini. Bahkan bisa dibilang dia masih belum bisa mengendalikan sihirnya dengan sempurna. “Siapa kau? Jangan macam-macam denganku.” Ethan mundur selangkah, sampai menabrak pintu rumahnya. Tatapan lelaki itu kini sangat menakutkan, membuat hati Ethan bergetar takut. Lelaki itu tersenyum miring lalu menggunakan sihirnya untuk mencekik Ethan. Adik Eric itu kehilangan nafasnya, dia merasa sesak, berusaha melawan, namun dia sudah kalah telak. Hingga sesuatu terjadi, entah apa yang terjadi, namun air di kolam renangnya semua seketika membuat putaran p****g beliung, datang menyerang lelaki itu. Membuatnya melepaskan Ethan dan menyerang lelaki itu. Poseidon benar-benar marah ketika melihat anaknya disiksa seperti itu. Entah suara dari mana, tapi Ethan mendengar bahwa dia harus berlari ke rumah tetangganya. Dia menggedor rumah Titan, tak lama Dion keluar dengan keadaan masih mengantuk. “Ethan? Ada apa?” tanya Dion sembari menahan menguap. “Tolong kak, di rumah ada penjahat,” ucap Ethan. Dion membulatkan matanya dan langsung mengambil pistol, dia mengejar lelaki itu, menembakkan pistolnya, peluru itu tepat mengenai pundak lelaki itu. Dia lalu berlari dan menghilang, entah kemana. Dion berhenti mengejar dan terkejut dengan apa yang dia lihat. “Aku rasa dia penyihir,” ucap Ethan kepada Dion. “Yaampun, pantas saja dia menghilang begitu saja. Astaga, dimana aku tinggal sekarang? Kenapa ada beberapa hal aneh terjadi? Kenapa ada penyihir, duyung, dan lainnya? Kota apa ini?” ucap Dion frustasi mengusap kepalanya dengan pusing. “Kak, tenanglah. Mereka semua memang ada, kita diciptakan oleh Yang Maha Kuasa. Terima kasih sudah membantuku, tapi aku merasa tidak tenang, malam ini apa kau mau tidur di rumahku? Menemaniku, karena kakakku dengan wanita asing itu sudah pergi entah kemana,” ucap Ethan. “Eric pergi? Astaga Ya Tuhan, kenapa dia tidak mengatakan kepadaku, kemana kakakmu pergi?” tanya Dion panik. Ethan hanya mengendikkan bahunya, dia tidak tau pasti kemana kakaknya pergi. “Sekilas aku mendengar mereka pergi ke sana,” ucap Ethan menunjuk pegunungan yang tinggi jauh di sebelah barat. Dion lalu menyuruh Ethan masuk ke dalam rumah, dia lalu memanggil Titan dan Albert. Dia meminta Titan menjaga Ethan dan kedua adiknya. Sedangkan dia dengan Albert pergi ke daerah pegunungan, menyusul Eric. Albert jago bela diri dan bisa menggunakan pistol dengan ahli, beda halnya dengan Titan. “Kau tinggal dengan dua adikmu? Mereka masih tidur?” tanya Titan kepada Ethan. “Iya, mereka tidur terlelap, kalau anda mau tidur, silahkan saja gunakan kamar kak Eric,” ucap Ethan. Titan menggeleng, dia memilih tidur di ruang tamu sembari menonton netflix. Ethan ikut duduk di samping Titan. Dia menatap Titan dengan seksama. “Apa kau manusia biasa?” tanya Ethan. Titan menjawabnya dengan anggukan sembari meminum cola. “Yakin kau hanya manusia biasa?” tanya Ethan. Bab 31 “Iya, yaampun bocah ini. Aku manusia, bukan penyihir, jadi jangan takut kepadaku. Sungguh aku manusia biasa.” Ethan tertawa kecil lalu rebahan dengan santai, entah kenapa saat ada orang dewasa tinggal serumah dengannya dia merasa aman. Satu ingatan yang membuat Ethan merasa aneh, bagaimana bisa dia ditolong oleh pusaran air? Lalu kenapa dia mendengar suara aneh tadi yang menyuruhnya kabur. Ethan lalu hendak keluar rumah namun dicegah oleh Titan. “Hei, mau kemana? Tetaplah di dalam rumah. Kondisi saat ini sedang rawan.” “Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa seorang penyihir mencari kak Eric?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN