Mimpi

1006 Kata
Setelah seminggu bergalau ria karena memikirkan siapa orang yang akan dijodohkan dengannya. Aruna kini harus pulang ke kampung kembali memenuhi perjanjiannya dengan sang ibu. Memasuki awal tahun ia harus segera mendapatkan calon suami atau pacar. Akan tetapi, ia tidak bisa memenuhinya maka ia harus menerima perjodohan ini. Tapi tunggu, Aruna tidak akan terima jika orang yang akan dijodohkannya itu tidak masuk kriteria yang ia inginkan. Maka ia akan kabur pas dihari pernikahannya itulah rencananya. Maka dari itu sebelum perjodohan itu disahkan maka ia harus bertemu terlebih dahulu dengan orang yang akan di jodohkannya. Drtt drrt drtt. Suara ponsel Aruna berdering pertanda ada panggilan masuk. Aruna yang kini sedang dalam perjalanan pulang menggunakan angkot pun melihat siapa yang menelpon dirinya.  My love Tertera disana Aruna yang melihat itu segera mengangkatnya. "Assalamu'alaikum. Halo," salam Aruna ketika sudah mengangkat panggilan tersebut. "Runa sekarang ada dimana? Jadi pulang kan?" tanya ibu runa disebrang telpon. "Jadi. Sekarang lagi di jalan naik angkot," ucap Aruna sambil menguap. Karena hari masih pagi dan Aruna tidak ingin naik ojek karena ongkosnya yang sangat mahal dari jarak pasar sampi ke rumah. Karena lumayan perbandingannya jika dia ikut mobil pasar ia hanya perlu ongkos sepuluh ribu tapi jika menggunakan ojek ia akan membayar tiga puluh ribu. Satu sifat Aruna yang selektif masalah uang walaupun selisihnya seribu itu akan disebut lumayan. "Ya Sudah kalau begitu kamu hati hati dijalan. Oh iya Ayuna sudah pulang dari pesantren sekarang ada di rumah." Beri tahu ibu Aruna jika adiknya yang dipesantern ada di rumah. "Yuna ada di rumah Bu. Emang gak di lockdwon?" tanya Aruna bingung. Bukannya sekarang masih pandemi Corona. "Engga, kalau masih di lockdown mana mungkin aku ada di rumah." Jawab Ayunan di seberang telepon. Mengambil alih percakapan. "Ya udah, tutup aja telponnya. Aku lagi dijalan nih." "Ya udah aku juga mau lanjut nyuci, dah dipanggil." "Ok. Assalamu'alaikum." "Waalikumsalam"  Panggilan pun terputus dan tak terasa kini Aruna sudah sampai di pertigaan gang menuju pulang ke kampungnya hanya tinggal menunggu mobil pasar yang akan ia tumpangi untuk pulang. "Kiri pak." Stop Aruna.  Setelah beberapa menunggu mobil pasar yang ditunggu Aruna tak kunjung datang, hingga satu jam kemudian. Ada seseorang yang menghampiri Aruna untuk menawarkan untuk naik ojek. "Neng pulang kemana biar sama abang aja. Tenang aja tarifnya murah kok." Aruna yang melihat penampilan tukang ojek tersebut bergidik ngeri, sungguh tukang ojek itu memiliki badan yang sangat besar ia tidak yakin jika ia naik ojek bersama Abang tersebut akan kebagian tempat untuk duduk. "Tidak, pak terimakasih saya akan naik mobil saja. Lagipula uang saya tidak cukup untuk naik ojek sampai ke rumah," tolak Aruna. "Gak papa neng, ntar bisa dibayar dirumah separuhnya. Lagipula kalau jam segini mobil pasar udah gak ada," tawar tukang ojek itu kepada Aruna. Memaksa. "Tidak bang, terima kasih." Aruna yang tidak ingin berbicara lagi dengan tukang ojek pun berjalan ke depan disana ada sebuah warung kecil. Mungkin jika ia berjalan kesana tidak akan banyak tukang ojek yang mengejarnya, yang saling berebutan penumpang. Dan baru saja ia sampai di warung, tiba-tiba saja sebuah motor berhenti dihadapannya. "Maaf bang saya sudah bilang, saya gak akan ngojek uang saya gak cukup," ucap Aruna pada motor yang ada dihadapannya itu. "Maaf saya tidak berniat mengojek saya memang hanya ingin berhenti saja dan membeli minuman." Aruna yang mendengar itu mersa malu sektika. "Maaf mas, saya kira tukang ojek. Abisnya saya dari turun angkot sampai sini banyak yang nawarin untuk naik ojek." Jelas Aruna, yang hanya dibalas lirikan mata oleh orang yang disebut tukang ojek oleh Aruna. "Saya gak nanya. Bisa minggir." ujar pria jangkung yang masih memakai helm sehingga wajahnya tak terlihat jelas, karena pria jangkung itu tidak hanya memakai helm tetapi juga memakai masker. Pria jangkung berpenampilan rapih yang dikira tukang ojek oleh Aruna.  Dasar Aruna, tidak bisa membedakan mana profesi tukang ojek dan bukan. Rutuk Aruna dalam hati Mendengar nada dingin itu seketika Aruna teringat akan orang yang menegurnya waktu memasukan bakso kedalam mangkuknya. Tapi Aruna segera sadar akan posisinya yang berada di pas tempat penyimpanan minuman di warung kecil tersebut pun menggeser badannya. Sambil menganggukan kepalanya sebagai tanda silahkan. Dan menghentikan lamunannya. "Hm hm." Gumam pria jangkung tersebut. Aruna yang mendengar hal itu mengalihkan pandangannya, kepada pria jangkung itu. "Apalagi, aku rasa tidak menghalangi jalanmu," ujar Aruna. Sambil melirik ke kanan dan ke kiri melihat posisinya. Pria jangkung itu hanya melirik Aruna sekilas dan kembali menaiki motornya, lalu melajukannya dengan kencang, sehingga Aruna yang melihat itu hanya bisa mencibir dalam hati. Sungguh pria sombong dan menyebalkan, ia berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan pria seperti itu. Setelah menunggu beberapa menit mobil yang ditunggu tunggu Aruna pun datang, Aruna yang melihat itu bisa bernafas lega karena uang jatah ojeknya selamat, dan bisa ia pakai untuk membeli tiga buah mangkuk bakso. "Akhirnya ada juga mobil, kata tukang ojek udah gak ada, ternyata ada, ah sudahlah lebih baik ia segera masuk," gumam Aruna. Tak membutuhkan waktu yang lama, sekitar satu jam dari pasar sampai ke rumah Aruna akhirnya sampai dengan sisa bau mobil yang di naiknya membuat Aruna pusing, sungguh Aruna tidak terbiasa. "Akhirnya kamu nyampe juga Run, dari tadi ditungguin loh," ucap Ayuna mengambil alih tas Aruna yang digendongnya. "Udah jangan banyak ngomong dulu aku pusing nih gara-gara ikut naik mobil. Pasar tadi, rasanya aku mau muntah. Uek!" Aruna segera berlari ke arah kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, namun hanya ada cairan bening yang terlihat karena Aruna berangkat tadi tidak sarapan terlebih dahulu. "Lebay, gitu doang udah mabok," ejek Yuna. "Mobil tadi bau banget sumpah jir." Umpat Aruna. Yang kini sudah berbaring lemah tidak berdaya diruang tengah rumah. "Runa kamu udah datang?" ujar ibu Aruna yang baru saja datang dari luar. Entah darimana. "Hmm." Aruna hanya bergumam sebagai respon. "Runa kenapa Yun?" Tanya sang ibu kepada Ayuna. "Mabok dia bu. Pulang tadi, naik mobil pasar katanya bau sampai Runa tepar," terang Yuna. Ibu Aruna yang mendengar itu melirik Aruna sekilas, lalu ke dapur membuatkan Aruna teh manis hangat untuknya. "Ya udah nih Run, minum dulu." Perintah sang ibu. Aruna segera duduk dari berbaringnya dan menerima teh buatan ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN