Galau

1002 Kata
Sungguh, bila sudah berhadapan dengan kak Iman Aruna harus ekstra sabar dengan semua mulut cabe nya. Ingin sekali ia bilang kalau perkataan ka Iman itu menyakiti perasaannya. Walaupun dia terbiasa di bully seperti itu tapi tetap saja yang namanya perempuan. Pasti kalau perasaannya tersentil akan sakit. Seperti perkataan kak Iman yang kadang membuat Aruna sedih dan juga mengingat tentang masa lalunya yang sampai saat ini menjadi alasan kuat kenapa Aruna enggan untuk berdekatan dengan laki-laki. "Lagian ngapain juga lo tolak harusnya lo terima dan bersyukur ada yang mau sama lo. Itu juga karena pelet kali sama lo." Selalu ada jawaban dan hinaan yang terlontar dari mulut Iman untuk Aruna. "Aduh ngapain melet orang kaya gitu tanggung banget. Nih kalau Aruna mau, Aruna bakal melet cowoknya yang ganteng yang kaya banyak duitnya. Bukan yang seperti itu." Desis Aruna tak suka dengan perkataan Iman yang menyebutkan bahwa dia menggunakan pelet agar seseorang menyukainya. "Dasar cewek mata duitan!!" Gas, Iman kepada Aruna. "Gak masalah karena cinta gak cukup kalau duit gak ada. Dan liat aja nanti, Aruna gak akan nikah kecuali sama cowok yang disebutkan Runa tadi liat aja. Semua di tempat kerja ini akan Aruna undang semua." balas Aruna, kepada Iman dengan gaya meletakan tangannya di pinggang dan menatap Iman dengan sinis. "Duit-duit mulu, halu aja dulu lo sampai gila ha ha ha," ujarnya dan meninggalkan Aruna bersama temannya. Setelah perdebatan Aruna dan Iman selesai kini Dira dan Lastri kembali bersuara ketika sebelumnya mereka hanya cekikikan melihat perdebatan keduanya. "Udah lah Runa, mending kamu terima aja perjodohannya," saran Dira. "Iya, siapa tau calon yang dijodohkan kamu itu ganteng sesuai dengan kriteria yang kamu inginkan. Ganteng putih juga tinggi, " hibur Lastri. "Aku udah ketemu sama orangnya waktu pulang kemarin. Orangnya kurus banget dan mirip ka Iman sifatnya. Aku gak suka hu hu hu." Aruna kembali merengek ketika mengingat orang yang akan dijodohkan dengannya. Dira dan Lastri yang melihat dan mendengar itu hanya bisa diam tanpa suara. Mereka juga bingung karena kriteria Aruna itu sangat langka bayangkan saja ganteng tinggi putih, pacar mereka saja tidak seperti itu. Memang katanya pacar Dira itu ganteng tapi dia gak tinggi. Dan begitu juga dengan pacar Lastri, yang kulitnya melebihi Aruna. Dan pada akhirnya Aruna menyerah akan takdir dan mau tidak mau dia menerima perjodohan yang telah ditentukan. Tapi dia harus memilih jodoh yang ia sebutkan tadi untuk membungkam mulut cabe j****y itu. Ia berjanji ia hanya akan menikah dengan pria yang ia sebutkan kriterianya. Dan itu harus. Aruna tidak ingin dicap bermulut besar jika itu tidak terjadi. Mau di taruh dimana muka Aruna jika suaminya itu jelek pendek item dekil. Pasti Aruna akan malu maka dari itu Aruna akan membuat sebuah rencana jika calon yang di pilihkan untuk dirinya tidak sesuai. Maka sebelum Aruna pulang ke kampung nanti Aruna harus banyak berdo'a dan juga sholat tahajud biar jodoh yang diinginkan Aruna selama ini inginkan terjadi. "Aruna kamu kenapa diem terus. Sariawan ya?" tanya Dira. "Ih Dira. Jangan mancing nih. Runa itu lagi puasa sekarang," jawab Aruna. "Puasa lah bukannya tadi makan bakso satu mangkok tambah nasi satu kotak." ujar Dira heran pasalnya Aruna sudah menghabiskan satu mangkuk bakso dan juga nasi. Tapi kenapa tadi bilangnya puasa. Dira kan jadi bingung. "Aruna itu bukan puasa makan tapi puasa ngomong. Jadi Aruna mau jadi anak baik dulu hari." "Idih emang bisa dih." "Bisalah makanya. Hari ini Dira jangan ajak Aruna ngobrol dulu. Runa mau jadi anak kalem dulu hari ini." balasnya dan teman Aruna yang lain mendengar itu pun mentertawakan tingkah Aruna yang selalu ada saja. "Aruna, emang kalau hari ini jadi anak kalem jodohnya bisa berubah ya?" tanya Lastri. "Bisa dong. Karena jodoh itu cerminan diri kita sendiri. Makanya hari ini Runa mau jadi anak kalem biar nanti pas ketemu jodohnya kalem juga." "Hahaha. Aruna harusnya kamu itu jangan kerja di sini. Ikutan kompetisi stand up komedi aku yakin pasti bakal menang." ucap Ramdani. "Ih bang Rami, Aruna itu enggak lagi ngelawak. Ini itu serius jadi udah sekarang jangan ngajak Aruna ngobrol," ucap Aruna. Dan semua orang yang mendengar itu pun menggelengkan kepalanya. Aruna itu omdong. Ngomong doang. Katanya mau puasa ngomong tapi setelah beberapa jam kemudian ia akan bertanya tentang ini dan itu. Jadi semua orang sudah paham dengan itu. "Ya Allah berikanlah Aruna jodoh yang sering Aruna sebutkan ya. Plis soalnya kalau enggak kesampaian Aruna nanti di kira tukang halu lagi. Emang sih Aruna itu suka banget halu. Haluin Angga yunanda jadi suami Aruna, yang jelas itu tidak akan pernah terjadi. Tapi Aruna mau rikeus jodoh Aruna setidaknya harus mirip ya Allah." batin Aruna sambil melamun. "Aruna. Masih kepikiran ya?" tanya Dira yang tampaknya memperhatikan Aruna. "Iya Dira. Gimana gak kepikiran coba sekarang aja jantung Aruna itu udah dak dik dug. Kayak jagung popcorn. Ya Allah gimana coba ini." curhatnya. "Ya udah dari pada kamu pusing mending nikah sama kakak aku aja gimana?" "Hari ini Aruna tidak  ingin lagi bercanda Dira," "Ok-ok terus kamu mau gimana?" "Aruna juga gak tau." Dan acara mode diam Aruna pun berlangsung sampai dirinya pulang kerja. Dan hal itu adalah mode diam Aruna terlama semenjak ia bekerja. "Aruna harus gimana ya Allah." gumam Aruna selama di sepanjang jalan. Tak berhenti Aruna, berpikir apa yang harus di lakukannya. Apa harus dirinya mengikuti orang tuanya atau melakukan rencana seperti di drama Korea yang sering di lihatnya. Menyewa orang buat jadi pacarnya. Tapi masalahnya adalah Aruna tidak sekaya itu untuk menyewa seseorang. Dirinya sendiri pun berkerja hanya untuk perutnya sendiri. "Ouhh ya ampun, ternyata kalau di pikirin terus ternyata pusing juga ya." "Suhu badan Aruna juga naik." Aruna pun menyentuh keningnya. "Sepertinya kalau di kompres pake uang satu juta turun kali ya. Tapi Aruna cuman punya uang seribu koin, cuman bisa pake kerok." Kemudian Aruna, pun menempelkan uang koin itu di keningnya. Sambil menatap langit di kamarnya. "Angga yunanda kalau kamu yang jadi jodohnya Aruna. Aruna gak akan mikir dua kali, jangankan tiga bulan. Besok pun jadi." cetus Aruna. Ia terus saja membayangkan jika dirinya yang menjadi jodoh Angga yunanda hingga akhirnya mimpi menjemput Aruna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN