lupa

1047 Kata
Tak terasa waktu begitu cepat, waktu yang telah ditentukan oleh ibu Aruna semakin dekat. Akan tetapi Aruna sampai saat ini masih terlihat santai dan bersenang-senang bersama temannya. Bermain tanpa mengingat perjanjian yang telah di buat bersama sang ibu, hingga satu minggu akan habis Aruna baru mengingatnya. "Aduh guys aku lupaaa!" teriak Aruna heboh. "Ada apa Aruna?" Dira ikut panik. "Aku lupa!" Beri tahu Aruna sambil memukul keningnya. "Lupa apa? Gak bawa uang atau makan?" tanya Lastri. "Aduh Las, makan aja yang ditanyain," ujar Dira kepada Lastri. "Ya kan Aruna orangnya pelupa apalagi masalah makanan," terang Lastri, dan kembali menatap Aruna yang saat ini tengah cemas. "Duh gimana nih," cemas Aruna, sambil mengigit ujung kukunya dan berjalan ke sana kemari seperti strikaan. "Duh Runa yang jelas dong bicaranya jangan buat kita panik," ujar Dira ikut resah. "Aku baru ingat masalah perjanjian yang dibuat sama ibu tentang aku yang harus ngenalin calon suami atau pacar sama ibuku pulang kampung akhir taun ini. Gimana dong Las, Dir. Tolongin aku Kasih ide," rengek Aruna kepada keduanya. "Ajak aja ka Iman ke rumah. Wajahnya lumayan kok kalau diajak kondangan." saran Lastri yang masih saja bercanda disaat seperti ini. "Engga mau, Lastri...," tolak Aruna sambil menggelengkan kepalanya. "Beli aja di lazada kalau engga di s****e," ucap Dira ikutan bercanda. "Dira serius ih." rengek Aruna. "AHA, aku punya ide gimana kalau kamu download apk. Tan -Tan aja siapa tau dapet jodoh dari sana," ide Dira. "Gak mau, gimana kalau kebeljo," tolak Aruna. "Ya udah kamu nyewa aja, kaya di novel tuh pura-pura gitu," ide Lastri. "Kalau disuruh nikah gimana? bisa berabe Lastri. Nanti ketahuan kalau cuman pura-pura. Terus kalau nyewa mau bayar pake apa? sekarang aja uangnya gak ada, abis kemarin bikin volg ke kebun raya. Tapi gak jadi videonya." cerita Aruna. "Wish ke kebun raya gak ngajak-ngajak." "Itu ngedadak ke sananya," jelas Aruna malas. "Emang kriterianya harus gimana? coba sebutkan, siapa tau teman aku ada yang masuk kriteria kamu," ujar Dira, kembali ke topik permasalahan Aruna. "Ok, aku jelasin secara ditail. Jodoh yang aku inginkan itu. Dia harus tinggi, minimal 170 cm. Karena aku pendek maka aku harus nyari yang tinggi buat merubah keturunan. Dan maksimal 175 cm gak boleh lebih. Nanti kalau tinggi tinggi kaya jerapah. Akunya kan pendek kasihan aku. Terus berat badannya gak boleh kurang dan gak boleh lebih dari 50 sampai 55 kg," Aruna mendeskripsikan calon yang dia inginkan. "Kurus dong kalau berat badannya segitu," ucap Lastri. "Ih engga itu proposional tau," kata Aruna tak terima. "Udah sekarang dilanjut," lerai Dira."Tampang gimana?" lanjutnya. "Hidungnya harus mancung," ucap Aruna dengan wajah berpikir sambil mengingat jodoh impiannya. "Kulitnya?" "kulitnya, gak boleh terlalu putih nanti dikiranya. Coklat dan vanilla. Harus sama kaya aku tapi lebih putih sedikit." Ditail Aruna mendeskripsikan warna kulitnya. "Lanjut," perintah Dira. "Kaya gimana ya ah, kaya kamu Dira kulitnya gitu putihnya sedikit biar nanti kalau punya anak gak terlalu kemanisan kalau coklat sama coklat. Kan kalau coklat ada susunya sedikit kan jadi mocha banyak yang suka, walaupun tetap banyak yang lebih suka coklat." "Udah," ucap Dira. "Belum, masih ada. Dia harus punya. Pekerjaan minimal gajinya UMR dan..." Jeda Aruna. "Dan...apa?" Tanya Lastri. "Dan kalau dia gak kerja minimal dia punya usaha. Dan yang paling penting adalah dia se Iman dan paham sama agama." Aruna selesai menyebutkan kriteria jodoh impiannya. Seperti memesan kopi. "Ok dari semua kriteria yang kamu sebutkan aku tau darimana kamu bisa mendapatkan jodoh impian kamu." ucap Dira sambil menaik turunkan alisnya. "Oke dimana?!!" tanya Aruna dengan semangat 45. "Kan kamu bilang mau nyari jodohnya kaya vanila biar nanti kalau punya anak jadi moccha," ulang Lastri. "Yups." Aruna membenarkan. Dengan semangat yang tinggi karena mengira temannya memiliki ide. "Nah kamu harus pergi ke Starbucks dulu." ujar Dira. Aruna yang mendengar penuturan Dira seketika menjadi bingung apa hubungannya jodohnya dengan Starbucks. Apa mungkin yang kerja di Starbucks itu gajinya udah UMR. "Hah. Ngapain ke Starbucks?" Tanya Aruna. "Beli vanilla sama moccha." Jawab Dira. "Buat apa beli ke sana jauh jauh. Mana harganya mahal juga." Potong Aruna. "Belum selesai Runa," tegur Lastri "Oh, Oky lanjut." Aruna angkat tangan. "Kamu juga mau yang paham agama juga kan?" ulang Dira. Dan dibalas anggukan Aruna. "Nah setelah kamu beli kopi vanila dan moccha. Kamu pergi ke mesjid dan kasih tuh kopinya sama imam mesjid lalu ajak nikah deh sama kamu. Kan lengkap ada vanilla sama moccha dan coklatnya kamu. Gimana? ide aku bagus kan." Lastri menjelaskan idenya sambil menaik turunkan aslinya. Sedangkan Aruna yang mendengar itu menatap kedua temannya dengan datar dan berkata,"gak jelas banget..." Setelah mengatakan itu bahu Aruna merosot tertunduk lemas. "Emang iya. Itu juga deskripsi jodoh yang kamu sebutkan gak jelas Aruna," ucap Dira jengkel dengan tingkah temannya itu. "Kita tuh gak paham sama kriteria yang kamu inginkan. Darimana coba kita nyari cowok yang kriterianya kaya mesen kopi. Jangan ini lah jangan itulah," tatap Lastri kepada Aruna yang saat ini terlihat lesu. "Lagian bukannya kemarin kamu bilang jodohnya mau kaya bapak kamu ya kenapa berubah jadi kaya kopi sekarang," ucap Dira "Ouh iya. Lastri kamu punya taman kaya gitu gak?" tanya Dira kepada Lastri. Dan mengabaikan Aruna yang kini terlihat jengkel pada mereka. "Kaya apa?" Lastri merasa bingung dengan pertanyaan ambigu Dira. "Kaya bapaknya Aruna," terang Dira. "Mana tau, pernah ketemu juga gak pernah. Emang bapaknya Aruna kaya gimana?" tanya Lastri penasaran seberapa gantengnya bapaknya Aruna sehingga Aruna mengidamkannya. "Kata Aruna ganteng putih tinggi," jelas Dira singkat. "Kalau ada juga mana mau sama dia." Sambar Iman. Yang tiba-tiba saja datang dari belakang seperti kebiasaannya yang suka mencuri pembicaraan Aruna bersama temannya. Mencari bahan bully untuk Aruna. "Pasti ada lah," balas Aruna sambil menaikkan dagunya keatas. "Iya mau, pasti karena kasihan liat lo yang gak laku. Ha ha ha," tawa ka Iman. "Kata siapa Aruna gak laku?" tanya Aruna kepada Iman. "Kata gue barusan, lo budeg ya," balas Iman. "b**o kok dipelihara." lanjutnya. "Stop ya, kak Iman bilang Aruna gak laku, kak Iman gak tau aja di kampung Aruna itu ada yang suka sama Runa yang jelas dia ganteng banyak yang ngejar-ngejar dia tapi Runa tolak, karena apa? Runa sadar kok Runa siapa." balas Aruna. "Dan satu hal lagi Aruna itu nyari pasangan yang gak punya mantan. Karena cinta Aruna itu tulus buat suami Aruna nanti dan jangan pernah bilang kalau yang dapetin Aruna itu gak beruntung," lanjut Aruna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN