Cocok?

1106 Kata
"Aihh cie yang udah liburan pulang kampung mana nih oleh-olehnya," gurau Dira, pada Aruna yang sudah sampai di tempat kerja. Setelah melewati perjalanan panjang dari rumah ke tempat kerjanya. "Nih." Aruna memberikan satu pelastik kecil buah salak. Kepada Dira. "Bagi sama yang lain," lanjut Aruna yang merasa lelah pun segera duduk di samping Dira sambil memainkan hp. "Makasih Runa," ucap Dira kemudian membagikan salak tersebut kepada teman temannya. "Gimana rasanya yang abis liburan?" tanya Dira sambil mengupas buah salak. "Stress,"balas Aruna singkat. Dira yang mendengar itu mengerutkan dahinya. "Hah, stress maksudnya gimana?" Dira meminta penjelasan. "Nanti aje deh aku cerita sekarang masih cape." jawab Aruna malas. "Ouh, oke. Kalau begitu kita absen dulu bentar lagi juga masuk." Ucap Dira. Aruna pun segera meletakkan ponselnya di tempat loker dan bersiap untuk foto absen. **** "Aruna kamu kenapa sih dari tadi bawaannya kaya yang galau aja?" tanya Lastri teman seprofesi Aruna selain Dira. "Tau ah, aku juga gak tau kenapa rasanya lemes banget." Jawab Aruna mencibirkan bibirnya. "Bukannya abis pulang kampung harusnya fresh dong," ujar Lastri. "Fresh apanya yang ada mumet otak aku. Selama dua hari libur gak ngapa-ngapain. Cuman di rumah aja dengerin petuah ini itu dari ibuku. Ahh Las. aku tuh kesel banget sama ibuku. Masa dalam jangka tiga bulan aku udah harus punya calon suami minimal pacar. Kalau enggak, aku mau dijodohin sama anak pak lurah." Cerita Aruna tentang permasalahan yang membuatnya galau. Lastri yang mendengar curhatan Aruna seketika tertawa. Haha "Ya udah gih sama ka Iman aja gak papa kalian kan cocok tiap hari bertengkar mulu." Sambar Dira. Sambil cekikikan. "Apa apaan sih, gak la yau, gak mau. Ka Iman itu bukan kriteria jodoh yang aku impikan. kurus kerempeng kaya cabe kriting gitu." tolak Aruna. Menyebutkan bahwa ka Iman adalah bukan jodoh impiannya. "Idih, gak ngaca lo badan tinggal sisa tulang doang bilang gue kaya cabe kriting segala. Diri sendiri gak nyadar. Lagipula siapa juga yang mau sama lo." Tiba-tiba tiba saja ka Iman sudah ada di belakang Aruna dan mendengar apa yang dikatakan Aruna barusan. "Ngapain disini sih ganggu aja." Usir Aruna yang ketauan sedang menjelek- jelekanya. "Udah Aruna biarin aja, sekarang kita lanjut." Pinta Lastri. "Engga ah males kalau udah ada dia." Balas Aruna. Iman yang melihat mood Aruna sedang buruk pun meninggalkan Aruna dan teman-temannya yang kini sedang memajang barang barang yang baru saja di turunkan dari gudang. *** Setelah kepergian ka Iman, semuanya kembali sibuk pada kerjaan masing-masing masing sampai waktunya tiba istirahat. Namun, sampai saat ini moodnya masih dalam keadaan kesal tidak seperti sebelumnya ceria. Di tempat istirahat.... "Runa kenapa sih, ayo dong kita cerita lagi siapa tau mood kamu balik lagi kita bicarakan cowok cowok ganteng K-Pop sehun, Chanyeol, atau kita bicarakan cowok cowok ganteng yang ada di novel wattad. ayo biasanya juga semangat." Ajak Dira mencoba menghibur. Tapi Aruna masih sama terlihat lesuh. "Aaaa.... Aku kesel-kesel Las. Dira. Aku bener bener kesel. Aku harus gimana coba biar ibu gak jodohin aku sama anak pak lurah itu." Rengek Aruna kepada keduanya. "Cup, cup. Runa jangan sedih kan masih ada kita tar aku bantu, mau ga sama Kaka aku tapi dia gak bisa nyangkul juga pengangguran tapi tenang aja dia ganteng kok." Hibur Dira. "Engga mau .... Hiks hiks." Masih dengan raut sedihnya. "Lo kenapa Runa udah gila lo." Tiba-tiba saja sudah ada ka Iman di hadapan mereka. "Astaghfirullah ada Saiton," ucap Aruna menghentikan tangis boongannya.  "Lo bilang gue Saiton lo iblisnya." Balas Iman. "Bodo amat. Gak peduli, lagian ngapain sih dari tadi ikutan mulu." Jengah Aruna dengan sikap ka Iman yang selalu mengganggunya dengan hinaan yang dibaluti candaan itu. Gaj tau aja,. Padahal Aruna sering sekali merasakan sakit hati atas perkataanya.  "Nah, mulai kan selalu aja. kalian kalau ketemu bertengkar mulu. Ah ka Iman bukannya dari kemarin nyariin Runa mulu ya." Kata Lastri menggoda, "Tuh, kangen dia," lanjut Dira ikut menggoda. "Eh, kata siapa gue kangen sama dia. Orang kalau gak ada dia tuh sepi gak ada bahan buat di bercandaan kaliankan pada baperan orangnya," sanggah Iman padahal dalam hatinya apa yang di katakan oleh Lastri dan Dira ada benarnya. Ada setitik rasa dalam dirinya rindu untuk Aruna.  "Cieulah, padahal bilang aja rindu apa masalahnya. Iya gak Lastri," ujar Dira meminta persetujuan Lastri. "Bener banget. Haha." Lastri pun mentertawakan keduanya. "Aku, kalau mereka berdua jodoh, akan ketawa paling besar," ucap Dira membayangkan Aruna dan juga Imab berjodoh. "Gue kalau mereka berdua jodoh gue bakal kasih hadiah kompor." Rizki, tiba-tiba datang dan langsung saja nimbrung. "Tuh denger kalian bakal dapat kado kompor dari Rizki maknanya kalian harus jodoh iya gak," alih Dira kepada Aruna. "Engga mau, kata bapak aku. jodoh aku itu ganteng bukan kaya kak Iman kurus kering. Lagian dalam kamus Aruna gak ada ya, yang namanya sering bertengkar jadi jodoh. Contohnya, aku punya musuh dari kelas satu SD sampai SMK gak ada tuh yang namanya cinta-cintaan, begitu juga dengan sekarang dan itu tidak akan pernah terjadi jadi. Kalian jangan ngedo'ain yang gak bener." Protes Aruna. Menolak dijodoh-jodohin dengan ka Iman. Bagi Aruna pantang untuk dirinya jika harus berjodoh dengan orang yang sudah menyakiti hatinya. Dan Aruna akan membuktikan ucapannya.  "Yah, ditolak lo sama Aruna. Haha," ledek Rizki pada iman diselangi tawa. "Gak masalah, gue gak rugi ini ditolak sama dia. Yang ada gue langsung sujud syukur hari ini juga beruntung gue bukan jodohnya. Bisa rusak nanti keturunan gue kalau sama dia." Kak Iman mulai dengan bercandaannya yang sedikit banyak melukai hati Aruna. Akan tetapi Aruna yang sudah terbiasa mulai membalas. Dan pecahlah tawa mereka yang mendengarnya. "Kata siapa kalau dapat jodohnya Aruna jadi rusak kata siapa?" tanya Aruna, kepada Iman sambil memicingkan matanya. Setelah meredakan tawanya. "Kata gue lah siapa lagi." Ujar Iman. "Ham Hamm. Gak tau aja kalau nanti yang dapat jodohnya Aruna malah bagus. Nanti kalau punya anak imut, lucu juga manis kaya gulali," puji Aruna pada dirinya. Aruna akan selalu mengatakan itu bila Iman sudah dalam mode hujatannya. "Bukan gulali tapi coklat pait." Dan sekali lagi tawa mereka terdengar yang melihat perdebatan antara iman dan Aruna. "Ya ampun, kak Iman jangan gitu dong sama istri sendiri kasihan." Sambar Lia admin keuangan di toko Aruna saat ini bekerja. "Gak peduli," balas Iman. "Eh, jangan gitu ntar Aruna nangis loh," goda semua orang kepada Aruna. "Udah-udah semuanya bubar. Bentar lagi masuk." Aruna menghentikan semua obrolan tak berbobot itu apaan Aruna nangis dengan perkataan tidak berbobot itu. Enggak ya. Dan setelah percakapan itu pun semuanya kembali ke pekerjaannya masing-masing. Hingga waktu istirahat telah habis dengan obrolan yang tak berfaedah itu. Dan kini semua telah kembali ke formasinya masing-masing seperti tugas Aruna Dira dan Lastri di bagian market. Mereka harus segera turun karena pergantian shift satu akan pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN