Dua hari telah berlalu, kini Aruna harus kembali ke Jakarta untuk bekerja. Dan Aruna pun telah siap untuk pergi. Akan tetapi sang ibu yang masih kangen mencoba menahan Aruna untuk tidak pergi.
"Runa udah deh berhenti aja kerja, ngapain kerja kalau gak ada hasilnya." ujar sang ibu yang tak rela atas kembalinya Runa ke Jakarta bukan masalah gaji. Itu hanya alasannya saja.
"Ouh, ayolah bu ...." Aruna pun menunjukkan wajah memohonnya agar ibunya tidak membahas tentang dirinya yang akan kembali bekerja.
"Ya ya, jangan pernah tunjukkan wajah seperti itu." titah ibu Wianah sambil mengibaskan tangannya. Karena ketika sang putri menunjukkan wajah seperti itu wianah akan selalu kalah.
"Tapi kamu ingatkan pesan ibu," lanjut ibu Aruna. Mengingatkan tentang apa yang sudah di bicarakannya.
"Iya," balas Runa dengan malas, karena selama dua hari di rumah. Aruna selalu dijejali dengan petuah-petuah yang sangat membosankan. Bayangkan saja, selama dua hari ini ia dipaksa mandi kembang, minum air do'a dari ini itu. Kemudian, sang ibu membuat sebuah perjanjian dimana akhir taun nanti ia harus berhenti bekerja dan mendatangkan calon menantu untuk dibawa pulang ke rumah. Lah emang waktu tiga bulan lama apa? tentu saja itu adalah waktu yang sangat singkat. Darimana ia harus mencari pria idamannya jika dikasih waktu tiga bulan. Sedangkan Aruna hanya diam di tempat kerja dan rumah pamannya untuk ia singgah.
Andai saja hidupnya itu seperti di novel-novel . Mungkin, ia akan mencari seseorang yang bisa dijadikan pacar pura-puranya nanti. Bila waktu yang telah ditentukan ia tak bisa membawa calon. Minimal pacar itu kata sang ibu. tapi kenyataannya. Aruna itu hidup di dunia nyata, yang kehidupannya seratus persen lebih kejam dari pada di novel-novel yang pernah ia baca. Lagi pula jika ia harus menyewa pacar-pura mau dibayar pake apa? Pake daun. Ya, walaupun ia bekerja tapi gaji yang didapat tak sebanding dengan kehidupan yang harus ia jalani, jika ingin menabung saja, ia harus menahan untuk tidak jajan atau berbelanja pakaian.
Miris bukan, ia bekerja tapi tak ada hasilnya. terkadang ada satu hal lain yang membuatnya enggan untuk pulang. Yaitu, cibiran tetangga yang selalu beranggapan jika ia bekerja tentunya memiliki ini itu. Tapi faktanya baju yang dipakai pun masih yang lama. Padahal mereka tidak tau berapa gaji yang ia dapatkan dan itu hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari hari. Ouh, sudahlah jangan membicarakan omongan tetangga yang selalu benar, kita kembali ke topik utama.
"Kalau begitu Aruna pamit dulu ya Bu. Pak. do'akan aku agar selamat di perjalanan nanti dan mendapatkan apa yang aku inginkan." Aruna memeluk sang ibu.
"Iya tentu saja ibu selalu mendoakan anak-anak ibu agar berhasil. Ingat pulang nanti harus ada." Namun sepertinya ibu Wianah tidak akan bisa pernah berhenti atau puas untuk mengingatkan Aruna. Dan hal itu membuat Aruna menatap sang ayah.
"Bapak ...." Aruna mengalihkan pandangannya kepada sang ayah untuk meminta pembelaan.
"Yah Aruna. Minimal tahun yang akan datang kamu harus sudah mendapatkan jodoh. Harus sudah berumah tangga." Petuah sang ayah.
Aruna yang mendengar hal itu dibuat lemas seketika. Kini ayah yang suka membelanya malah beralih pihak kepada sang ibu. Aruna hanya bisa mengerucutkan bibirnya tak terima apa yang dikatakan sang ayah. Karena ketika sang ayah sudah berkata seperti itu maka, mau tidak mau itu pasti akan terjadi. Entah ia yang membawa calon sendiri atau dijodohkan.
Sekarang Aruna hanya bisa berharap ada sebuah keajaiban. Ibunya akan lupa dengan perjanjiannya.
"Bapak .... Tapi Aruna kan masih kecil .... Jangan nikah dulu lah aku kan pengen sekolah lagi," protes Aruna.
"Dari dulu kamu ini ingin sekolah lagi tapi giliran Bapak mau daftarin kamu gak mau," ujar sang ayah.
"Kan itu beda pak. Aku gak mau kalau sekolah pertanian," elak Aruna.
"Lagian Aruna, badan segede ini masih di bilang kecil. Emangnya mau segede apalagi Hem. Lihat teman sebaya kamu. Si ikah, dia udah nikah dan punya anak. Liat tuh si Devi usianya jauh di bawah kamu udah punya anak juga. Lah, kamu, boro-boro nikah pacaran aja gak pernah. Coba kamu ingat. Pernah gak ajak satu aja, teman sekolah kamu datang ke rumah untuk main atau ngajak kamu main. Gak ada satupun. Kamu masih normalkan?" selidik sang ibu.
Dan Aruna yang mendengar hal itu terkejut.
"Astaghfirullah Al adzim ibu .... Jelas lah aku masih normal, liat si Lee min ho aja aku suka," belanya pada diri sendiri.
"Runa janganlah ketinggian seperti itu, orang kaya kita itu mana bisa menggapai mereka jangan seperti itu," Kata ibu Wianah tidak suka dengan sikap Aruna.
"Iya ibu Aruna tau. Aruna cuman bilang kalau Aruna itu masih normal masih suka yang ganteng-ganteng." Balas Aruna. Sepertinya apa yang Aruna katakan membuat ibunya salah paham.
"Udah pokoknya jangan lupa. Awas aja nanti ibu telpon masih belum ada yang dekat juga. Mau ibu bawa ke rumah si uwa buat di obatin bila perlu diruqiah biar lupa sama si leho leho itu." Aruna yang mendengar hal itu menganga. Apa sampai segitu parahnya ia dimata sang ibu.
"Ya ampun ibu dari tadi makin ngaco aja udah bilang anaknya gak laku, gak normal. Sekarang, mau di ruqyah ibu kira aku kerasukan jin," jengkel Aruna.
"Lagian ngapain ngimpiin orang yang derajatnya lebih tinggi dari kita, kita itu harus sadar liat diri sendiri emang kita cantik, emang kita bagus. Udah jangan pernah berharap mendapatkan jodoh idaman kamu itu. Harus tinggi lah putih berpendidikan, kaya. Emang ada yang mau sama kamu mikir, ada yang mau aja kita harus bersyukur dan menerima." Nasihatnya.
"Ya ya ibu oke. Udah Aruna pamit. Assalamu'alaikum," salam Aruna karena sudah tak tahan dengan ocehan sang ibu.
"Tunggu Aruna!" baru saja Aruna berada di teras rumah sang ibu sudah memanggil kembali.
"Apalagi Bu," jawab Aruna masuk kembali ke dalam.
"Apa ada yang ketinggalan?" tanya ibu Aruna memastikan karena sifat Aruna yang ceroboh itu.
"Coba periksa kembali." Aruna yang mendengar hal itu kembali memeriksa barang barangnya dan benar saja handphone nya tertinggal.
"Hp ketinggalan...." Cengir Aruna.
"Tuh kan, kamu sih selalu ingin buru buru. Sekarang ditaruh dimana hpnya?"
"Kayaknya tadi di meja deh," ucap Aruna.
"Nih." Sang Ayah memberikan ponsel kepada Aruna.
"Terimakasih bapak."
"Ya udah kalau begitu Runa pamit." lanjutnya.
"Eh tunggu," cegah ibu Aruna.
"apalagi Bu."
"Air do'a yang dari si uwa udah dimasukin ke tas kan?" Ibu Wianah mengingatkan.
"Udah," balas Aruna, bukanya ibunya yang memasukan air itu kedalam tasnya sendiri biar gak lupa. Lalu sekarang kenapa malah bertanya. selalu saja air itu yang diingat. Batin Aruna.
"Bagus kalau begitu. Pak, antarkan Runa." Pinta ibu Aruna kepada ayahnya
"Aduh ibu ngapain di anter Aruna udah gede kok. " Risih Runa dengan semua perhatian ibunya.
"Ayo Runa." Ajak sang ayah.
"Gak usah pak, Runa bisa sendiri lagian Runa udah gede kok. Masa naik ojek dianter segala malu lah Pak," tolak Aruna.
"Katanya masih kecil," sindir sang ibu.
"Udah bu itukan beda lagi. Kalau masalah menikah aku masih kecil tapi kalau berangkat kerja aku udah gede."
"Sama aja."
"Udah ah, kapan Runa berangkatnya kalau debat terus sama ibu," lerai sang ayah.
"Bener tuh pak." Aruna menyeringai senang.
Dan pada akhirnya
"Assalamualaikum." Aruna pamit dan kini Aruna benar-benar pergi. Setelah mengucapkan salam Aruna pergi dengan keputusan diantar ayah naik ojek.
****
Liburan yang sangat menyebalkan. Harusnya liburan itu membuat pikiran kita menjadi lebih rileks, bukan menjadi stress seperti yang Aruna rasakan seperti ini. Salahnya juga, memilih liburan pulang ke rumah. Padahal Aruna sudah tau akan seperti apa jika pulang. Ditambah ia mendapatkan keinginan dari sang ayah menambah beban pikirannya.
Ets, tapi sifat Aruna ya Aruna. Santai dan cuek mungkin sehari dua hari semua itu akan menjadi beban pikiran baginya. Tapi, tidak untuk kedepannya. Ia akan lupa semua itu sampai waktu yang di tentukan telah tiba. Lalu bagaimana reaksinya jika saat waktu itu telah tiba.