Setelah pulang dari tempat kerja, kini Aruna mengistirahatkan badannya terlebih dahulu sambil bermain handphone. Namun, ketika ia membukanya sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari sang ibu. Aruna yang melihat itu langsung saja menelpon balik.
"Assalamualaikum." Salam Aruna ketika panggilan telah tersambung.
"kapan kamu akan pulang?"
"Nanti kalau udah libur."
"udah punya pacar belum?"
"Belum."
"Ya ampun Aruna. Tapi udah ada yang dekat kan."
"Belum juga."
"Pokoknya nanti pulang ibu mau, cowok yang nganter."
"Iya nanti sama tukang ojek."
"Runnaaa, jangan bercanda! ibu serius. Jika, kamu seperti itu terus ibu akan menjodohkan kamu dengan anak pak lurah," ancam ibu Runa di sebrang telpon.
"Oh ayolah Bu, usiaku belum setua itu. Umurku saja baru dua puluh tahun. Lagian ngapain juga jodoh-jodohin pokoknya gak mau."
"Pokonya kamu pulang! libur kerja nanti. Awas aja kalau engga!" titahnya.
"Iya- iya aku pulang. ya udah bye tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."
Kemudian Aruna pun langsung memutuskan panggilan tersebut. Tanpa balasan ucapan salam dari sang ibu.
Ck!
Aruna hanya bisa berdecak kesal, selalu seperti ini. Ia hanya akan di telpon dan ditanya, apa sudah punya pacar apa belum? selalu seperti itu. Oleh ibunya. Padahal ia masih ingin menikmati masa mudanya. Bermain bersama teman barunya.
Ya walaupun ia sudah lama bekerja di sana, tapi ia baru akab bari baru-baru ini. Sebenarnya bukan hari ini saja ia ditelpon dan ditanya apa ia sudah punya pacar atau belum. Tapi terkadang setiap kali di telpon sejak ia bekerja. Dan hal itu membuat Aruna malas bertukar kabar bersama sang ibu. Dan lebih memilih baca cerita yang di sukanya.
Tiga hari kemudian ....
Jadwal libur Aruna telah tiba, ia memutuskan untuk pulang ke kampung bertemu sang ibu yang telah lama tak ia jumpai. Sekitar dua bulan yang lalu.
Dua bulan adalah waktu yang lama bagi Aruna. Karena biasanya setiap bulan ia akan bertemu sang ibu. Baik sang ibu yang datang ke tempatnya atau dirinya yang pulang ke kampung.
Dan setelah menempuh perjalanan tiga jam dari Jakarta ke Bogor Aruna pun sampai di kampung halamannya.
"Assalamu'alaikum," salam Aruna ketika telah sampai di rumahnya.
Selalu ada perubahan ketika ia pulang. seperti kali ini ia melihat begitu banyak bunga yang berjejer di sepanjang jalan menuju rumahnya ia sudah yakin jika ini semua adalah hasil karya ibunya. Karena, ketika ia pulang kampung dua bulan yang lalu halaman rumahnya masih berjejer dengan tanaman talas dan juga ubi.
"Waalikumsalam. Akhirnya putri cantik ibu pulang." Sambut ibu Aruna yang kini sedang memegang peralatan masak. Dan ketika mendengar salam, ibu Aruna langsung saja menyusul ke pintu utama, meninggalkan masakannya.
"Ibu baru saja bikin kripik buat kamu, ternyata sudah datang ayo masuk. Pasti capek. minum apa mau makan dulu?" lanjut ibu Aruna, Wianah. Ia sangat antusias melihat kedatangan putrinya yang sangat di nantikan kepulangannya.
"Udah Bu nanti saja. Lagipula aku bukan tamu, apa-apa harus di layani. Aku bisa ambil sendiri, lagian letak dapurnya masih sama kan." balas Aruna.
"Ibu cari siapa?" tanya Aruna, ketika melihat ibunya kebelakang seperti mencari seseorang.
"Kamu pulang sendiri, pesanan ibu mana?" Ibu Wianah balik bertanya kepada Aruna.
Aruna yang mendengar itu seketika merasa bingung. Ia merasa ibunya tidak memesan apapun bahkan sang ibu tau kalau dia adalah orang yang sangat pemalas jika harus bawa oleh-oleh. Menurutnya itu sangat merepotkan apalagi pulang naik angkot.
"Perasaan ibu ga minta oleh-oleh," jawab Aruna.
"Kamu ini, lupa? bukankah ibu bilang pulang kali ini bawa calon pacar kek, teman deket gitu yang penting cowok." Rasa antusias ibu Aruna mendadak hilang dan meninggalkan Aruna di teras rumah sendiri.
"Aku pulang tadi sama cowok kok."
ibu Aruna yang mendengar hal itu kembali tersenyum.
"Mana?" Dengan semangat ibu Aruna kembali menyusul Aruna ke teras.
"Udah pergi," balas Aruna santai, lalu masuk kedalam rumah mencari minum. Sungguh dari tadi ia merasa sangat haus tapi sang ibu malah membordirnya dengan beberapa pertanyaan yang sangat menyebalkan baginya.
"Loh, kok gak di kasih masuk dulu?" tegur ibu Wianah menyusul Aruna ke kamarnya
"Ya kan dia harus kerja, Bu."
"Tapikan setidaknya kasih minum dulu ajak istirahat dulu, ngobrol sama ibu."
"Tukang ojek suruh masuk?"
Ibu Wianah yang mendengar hal itu di buat kesal."Runaaa..."
"Kan sesuai permintaan ibu, pulang sama cowok. Ya aku pulang sama tukang ojek lah. Yang penting cowok kan."
Ibu Wianah yang mendengar ha itu hanya bisa menghela nafas jengkel. Kalau saja bukan anaknya pasti sudah dipites. Lalu ibu Aruna pun memutuskan meninggalkan putrinya ke dapur untuk melanjutkan membuat keripik pisangnya
***
"Runaaa!!" Panggil sang ibu dari dapur, baru saja Aruna akan memejamkan matanya harus tertunda karena mendengar teriakkan ibunya dari dapur.
"Iya!!" Jawab Aruna dari kamar, seharusnya ia tidak boleh melakukan hal itu jika orang tua memanggilnya maka dengan cepat ia harus segera menghampirinya. Karena itu sangat tidak sopan.
"Kesini!"
Dengan males Aruna bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri sang ibu.
"Apa?" tanya Aruna ketika sudah ada di dapur.
"Sekarang kamu masak. Ini kripiknya udah beres sekarang kamu masukin toples, lalu masak nasi. Jangan di Magicom Bapakmu tak menyukainya. Jadi masaknya pake seeng." ( Sejenis pemasak nasi tradisional seperti panci tapi bentuknya lebih tinggi. )
"Ibu mau kemana?" Tanya Aruna ketika melihat ibunya sudah siap akan pergi.
"Ibu mau pergi ke rumah si uwa dulu, kamu tunggu disini." Aruna yang mendengar itu mau tak mau memasak nasi menggunakan seeng. Sebenarnya ia sangat malas masak nasi menggunakan seeng, alat masak tradisional itu. Bukannya ia tak bisa. Hanya saja, masak menggunakan seeng itu sangat ribet tidak sepraktis menggunakan rice cooker. Memang rasa nasinya berbeda. Dan lebih enak dimasak menggunakan seeng daripada rice cooker.
Hari sudah sore, waktu adzan ashar sudah berkumandang. Acara memasak Aruna telah selesai kini ia akan bersiap untuk mandi setelah pulang dari kota hujan. Ia tak mandi. Melainkan langsung beristirahat dan dilanjutkan memasak nasi.
Dan tak lama kemudian, ibu Aruna pun sudah kembali.
"Runa." panggil sang ibu.
"Ya." Jawab Aruna menghampiri sang ibu. Yang kini sedang duduk menyiapkan sesuatu entah apa.
"Mau mandikan," ujar sang ibu lalu menyerahkan air yang terisi beberapa macam bunga kepada Aruna.
Aruna yang melihat itu menaikan alisnya sebelah heran.
"Air apa ini? Untuk apa." tanya Aruna kepada sang ibu.
"Udah sebaiknya kamu pake aja. Jangan lupa minum dulu terus kamu pake mandi, bismillah ya."
Aruna yang melihat air yang di campur dalam botol itu bergidik ngeri sungguh ia harus minum air keruh itu mana mentah terus ada bunga-bunganya lagi.
"Bu, pake mandi aja ya gak usah minum jijik tau." tawar Aruna.
"Enggak, minum sekarang! Ibu liatin. Nurut aja apa, biar ada yang suka sama kamu," perintah ibu Aruna.
"Maksud ibu aku gak laku, harus pake. Minum air segala, mandi kembang pula." Protes Aruna, karena secara tidak langsung ibunya mengatakan ia tidak laku.
"Udah jangan protes itu air do'a susah ibu minta itu sama si uwa."
"Tapi dikit aja ya." Aruna menuruti permintaan ibunya untuk meminum air itu sekaligus ia pakai untuk mandi.
Hal ini adalah salah satu alasan mengapa dua bulan yang lalu Aruna tidak pulang ke rumah sebab Aruna paling malas untuk pulang ke rumah karena akan selalu seperti ini di suruh meminum air do'a yang ia sendiri tidak tau apa manfaatnya. Ibunya selalu bilang kalau air ini bukan hanya sekedar untuk membuat ia segera dapat jodoh tapi juga air doa ini untuk menjaga keselamatannya saat jauh dari orang tua.
Aruna yang tak tau apa apa menurut saja apa kata ibunya. Ia tidak ingin menjadi anak durhaka atau lainnya karena tak menuruti apa kata orang tua. Dan juga kata kata sang ibu yang membuatnya takut. Jika hidupnya tidak akan bahagia. Jika tak patuh. jelas Aruna hal itu tidak ingin terjadi kepada hidupnya seperti Kaka kakaknya yang suka melawan.